Browsing by Author "B.R. Prawiradiputra"
Now showing 1 - 3 of 3
Results Per Page
Sort Options
- ItemAgronomi Dan Pemanfaatan Centrosema Pubescens(Balai Penelitian Ternak, 2005) E. Sutedi; Sajimin; B.R. PrawiradiputraUntuk meningkatkan dalam usaha peternakan diperlukan adanya peningkatan ternak dengan pengelolaan yang cukup baik, namun usaha tersebut tidak terlepas dari ketersediaan hijaun pakan ternak yang berkesinambungan baik musim hujan maupun musim kemarau. Untuk itu perlu dilakukan pemilihan bibit yang yang unggul, salah satunya tanaman Centrosema pubescens yang merupakan tanaman dari jenis Leguminosa. Yang berasal dari Amerika selatan, yang mempunyai umur panjang yang bersifat merambat dan memanjat, batang agak berbulu dan panjang mencapai 5 m, berdaun tiga berbentuk elips, bunga berbentuk kupu-kupu berwarna violet keputihan-putihan buah berbentuk polong panjang mencapai 9-17 cm, relatif tahan terhadap kekeringan, Hama dan penyakit serta mudah tumbuh pada berbagai tipe tanah, drainase yang jelek, dan perkebunan. Centrosema termasuk tanaman legum yang mudah berbunga, berbiji serta dapat dipakai sebagai tanaman campuran dengan tanaman semua jenis rumput maupun sebagai tanaman sisipan pada padang pengembalaan. Tanaman Centrosema juga dapat meningkatkan kualitas hijaun terutama pada kandungan protein.
- ItemAgronomi Rumput Benggala (Panicum Maximum Jacq) Dan Pemanfaatannya Sebagai Rumput Potong(Balai Penelitian Ternak, 2005) Sajimin; E.Sutedi; N.D. Purwantari; B.R. PrawiradiputraRumput Panicum maximum Jacq yang telah dikoleksi di Kebun Raya Bogor sejak tahun 1865 dalam Kebun Tanaman (Cultuurtuin) tapi sampai sekarang tidak sepopuler rumput gajah. Tahun 1974 Program Hijauan Pakan Ternak, Balitnak mengintroduksi kembali dari berbagai negara, hingga sekarang 8 kultivar yang ada didalam koleksi yaitu cultivar Gatton, Guinea, Riversdale, Natsuyutaka, Hamil, Natsukaze, T58 dan Petrie. Hasil penelitian yang telah dikarakterisasi sifat agronominya digunakan rumput potong. Produksi bahan kering hijauan, nilai gizi, palabilitas dan kecernaan mendekati rumput gajah dan kelebihannya, rumput P.maximum lebih tahan terhadap kekeringan dibanding rumput gajah. Produktivitas yang optimum dicapai pada interval potong yaitu 30 – 40 hari dan setelah umur tersebut tanaman menuju fase pertumbuhan generatif dan tidak bertambah produksi daunnya. Produksi bahan kering mencapai 36,70 t ha -1th-1 dengan nilai palatabilitas pada ternak domba 46 % dan konsumsi per ekor sebanyak 537,84 g sedangkan pada Pennisetum purpureum 346,6 g. Morfologi tanaman memiliki batang yang kecil sehingga hampir semua dapat dimakan ternak. Peningkatan produksi dapat dilakukan dengan penggunaan pupuk kandang tanpa pupuk kimia yang mempunyai efektifitas produksi hingga pemotongan ke empat dengan interval potong 6 minggu. Penanaman rumput ini pada lahan miring juga dapat mengurangi laju erosi yang sekaligus penyedaan hijauan pakan serta meningkatkan produktivitas lahan.
- ItemLeucaena: Taxonomi, Adaptasi, Agronomi Dan Pemanfaatan(Balai Penelitian Ternak, 2005) N.D. Purwantari; B.R. Prawiradiputra; SajiminLeucaena spp merupakan tanaman pohon yang multiguna. Tanaman ini merupakan tanaman leguminosa pohon yang paling produktif dibanding yang lain, kualitas hijauannya tinggi, tahan kekeringan, tumbuh dengan variasi iklim yang luas, batangnya mempunyai kualitas yang tinggi untuk kayu bakar, bahan pembuat furnitur, pulp, bijinya dapat digunakan untuk aksesori, di daerah tertentu biji sebagai makanan manusia. Species L. leucocephala mempunyai beberapa kendala didalam pemakaiannya, antara lain ketersediaan plasma nutfah yang relatif sempit untuk produser, tidak tahan terhadap hama kutu loncat (Heterospsylla cubana), tidak tahan terhadap tanah yang terlalu asam (<5), suhu dingin, ketegaran benih rendah, produksi biji yang tinggi berpotensi sebagai gulma. Beberapa species lain yang kurang “popular” dari genus Leucaena telah diketahui mempunyai ketahanan yang tinggi terhadap hama kutu loncat antara lain L. collinsii, L. diversifolia, L. esculenta, L. pallida. L. diversifolia juga telah diketahui sebagai jenis yang tahan terhadap suhu dingin dan tanah asam. L. esculenta dan L. pallida mempunyai ketegaran biji yang tinggi. Beberapa hibrid telah diperoleh untuk ketahanan terhadap kutu loncat, adaptasi pada kondisi tanah asam, suhu dingin. Adanya beberapa hibrid yang tahan kutu loncat, produksi tinggi tetapi produksi biji sedikit atau terjadinya segregasi yang tinggi pada populasi generasi berikutnya bila diperbanyak dengan biji, maka perbanyakan vegetatif merupakan salah satu alternatif. Sampai saat ini perbanyakan dengan bahan vegetatif masih terus dikembangkan untuk dapat diaplikasikan pada skala besar. Sosialisasi species Leucaena yang kurang dikenal kepada pengguna perlu dipertimbangkan.