Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Arief Harsono"

Now showing 1 - 2 of 2
Results Per Page
Sort Options
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Peluang Pengembangan Kedelai pada Areal Pertanaman Ubi Kayu di Lahan Kering Masam
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2013-11-19) Arief Harsono; Subandi
    Ubi kayu dibudidayakan paling luas pada lahan masam dan umumnya ditanam secara monokultur. Pengembangan kedelai secara tumpang sari dengan ubi kayu, khususnya di Sumatera dan Kalimantan, merupakan upaya strategis karena: (a) saat ini areal tanaman ubi kayu di dua pulau tersebut cukup luas (sekitar 430.000 ha) dan terus meningkat, (b) pada areal pertanaman ubi kayu, setiap tahun minimal dapat ditanami satu kali kedelai dengan pola tumpang sari ubi kayu + kedelai, ubi kayu + kedelai /+ kacang tanah, atau ubi kayu + kacang tanah/+ kedelai; (c) pertanaman tumpang sari tersebut selain menghasilkan ubi kayu cukup tinggi, juga mampu menghasilkan kedelai dan kacang tanah cukup memadai, sehingga meningkatkan keuntungan usahatani. Teknologi untuk mendukung keberhasilan pola tumpang sari ubi kayu + kedelai tersebut telah tersedia, terdiri dari ameliorasi tanah menggunakan dolomit, penambahan pupuk organik kaya hara “Santap-M” dan pupuk hayati rhizobium strain “Illetrisoy”. Praktek tumpang sari ubi kayu + kedelai, di samping meningkatkan luas panen kedelai juga mampu memperbaiki kesuburan tanah pada areal tanam ubi kayu.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Strategi Pencapaian Swasembada Kedelai melalui Perluasan Areal Tanam di Lahan Kering Masam
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2008-12) Arief Harsono
    Produksi kedelai di Indonesia mencapai puncaknya pada tahun 1995 dengan luas panen 1,48 juta ha dan produksi 1,52 juta ton. Setelah itu luas panen terus menurun dan pada tahun 2007 tinggal 31% dengan produksi hanya 592 ribu ton. Kebutuhan kedelai untuk konsumsi dalam negeri pada tahun 2007 mencapai 1,94 juta ton, sehingga kekurangannya harus dipenuhi melalui impor cukup banyak. Pada tahun 2020, penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 278 juta jiwa dan konsumsi kedelai per kapita 9,46 kg/tahun, sehingga dibutuhkan 2,6 juta ton kedelai. Apabila produktivitas nasional kedelai 1,3 t/ha, untuk me- menuhi kebutuhan kedelai pada tahun 2020 diperlukan areal tanam 2,0 juta ha. Areal panen kedelai di Indonesia pada tahun tersebut apabila tidak ada program khusus yang direspon petani hanya akan mencapai 500 ribu ha. Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri diperlukan perluasan areal tanam yang cukup besar. Di Indonesia terdapat lahan kering masam yang cukup luas dan potensial dikembangkan untuk usahatani kedelai. Di Lampung, misalnya, tersedia lahan sekitar 164 ribu ha, namun kedelai harus bersaing dengan ubi kayu yang pangsa pasarnya sudah terjamin atau bersaing dengan jagung atau padi gogo. Untuk itu, agar kedelai dapat berkembang dan tidak terjadi kompetisi penggunaan lahan, sebaiknya diterapkan pola tanam tumpang sari ubi kayu baris ganda jagung atau padi gogo-kedelai, jagung-kedelai monokultur atau padi gogo- kedelai monokultur. Agar kedelai dapat memberikan hasil yang memadai di lahan masam perlu digunakan varietas toleran tanah masam, pemberian amelioran berupa dolomit dan pupuk kandang serta pemupukan NPK. Dengan teknologi tersebut, kedelai yang ditanam secara monokultur di lahan kering masam dapat memberi hasil sekitar 2,0 t/ha dan yang diusahakan secara tumpangasari 1,0 t/ha. Untuk dapat berkembang baik di lahan kering masam, kedelai juga memerlukan perbaikan harga dan sistem agribisnis kedelai, mulai dari hulu (penyediaan sarana produksi dan alsintan) hingga hilir (pengelolaan pascapanen dan tata niaga kedelai).

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback