Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Agusli Taher"

Now showing 1 - 4 of 4
Results Per Page
Sort Options
  • No Thumbnail Available
    Item
    Pemanfataan Timbunan Fosfat di Lahan Sawah
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) Agusli Taher
    Para pakar menyebutkan bahwa unsur fosfat merupakan kunci kehidupan, karena terlibat pada hampir semua proses metabolik. Bagi petani, pupukfosfat identik dengan "pupuk buah". Makin banyąk P diberikan, akan makin tinggi hasil yang dicapai. Persepsi tersebut, diduga menjadi salah satu penyebab tidak logis dan tidak efisiennya penggunaan P di beberapa daerah di Indonesia, terutama di lahan sawah intensifikasi. Selama periode 1972-86, penggunaan pupuk TSP di Indonesia sebesar 29%/tahun. Pada tanaman pangan bahkan mencapai 31,4%/tahun. Angka ini merupakan yang tertinggi di dunia. Situasi tersebut diduga menjadi faktor utama yang mendorong makin membengkaknya sawah-sawah yang berkadar P tinggi di Indonesia. Di Jawa, luas sawah berkadar P tinggi, sedang, dan rendah masing-masing mencapai 1,45; 1,66 dan 0,54 juta hektar. Hal yang sama juga dilaporkan di Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah. Rekayasa teknis makin perlu disiapkan dalam rangka pemanfaatan timbunan P. Inovasi "penambangan P" ini akan berdampak ganda. Pertama, mampu meningkatkan efisiensi pemupukan P dan sekaligus pendapatan petani pada sawah-sawah berkadar P tinggi. Kedua, bila teknologi tersebut dapat diimplementasikan, maka sawah-sawah baru dan komoditas strategis pada agroekosistem marginal akan mempunyai peluang yang lebih besar untuk mendapatkan masukan pupuk P sesuai dengan kebutuhan. Kondisi ini akan mendorong makin kompetitifnya sistem usahatani antar agroekosistem.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Pengelolaan Lahan Sawah Bukaan Baru untuk Budi Daya Padi
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) Burbey; Agusli Taher
    Pencetakan sawah baru sebagian besar dilakukan di lahan kering yang umumnya didominasi oleh tanah mineral masam seperti Ultisol dan Oksisol. Pemanfaatan lahan ini untuk sawah menyebabkan meningkatnya ketersediaan besi yang setelah melampaui batas tertentu menimbulkan keracunan pada tanaman padi. Keracunan ini di samping disebabkan oleh tingginya tingkat ketersediaan besi, juga dirangsang oleh kekahatan unsur hara seperti P, K, Ca, Mg, dan Zn. Keracunan besi menyebabkan terbatasnya pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman dan menurunkan hasil 25-50%. Pengelolaan lahan sawah bukaan baru dapat dilakukan dengan pemakaian varietas toleran keracunan besi, pemberian bahan organik, pemupukan P dan K lebih tinggi, pemupukan kalium dengan 2 atau 3 kali pemberian pada 0, 30 dan 60 hst, dan pengaturan sistem drainase yaitu mengeringkan lahan selama I minggu dengan interval 1 atau 2 minggu setelah tanam, serta pengolahan tanah yang intensif dan pengompakan tanah.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Sumbangan pemikiran bagi pembangunan pertanian di Irian Jaya
    (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 1991) Achmad Dimyati; Kedi Suradisastra; Agusli Taher; M. Winugroho; D. D. Tarigan; A. Sudrajat
    Pembangunan di wilayah Indonesia Bagian Timur (IBT) relatif masih jauh tertinggal bila dibandingkan dengan pembangunan di wilayah Indonesia Bagian Barat (IBB). Ketertinggalan tersebut mencakup hampir semua sektor, termasuk pertanian. Padahal wilayah IBT mempunyai sumberdaya alam yang cukup potensial untuk digali dan dikembangkan bagi pembangunan nasional. Meski demikian disadari pula bahwa di balik potensi tersebut terdapat berbagai kendala, baik yang bersifat teknis maupun non-teknis, yang perlu diidentifikasi secara cermat guna diupayakan jalan keluarnya. Untuk memahami kondisi pertanian setempat dalam mendukung upaya pembangunan di wilayah IBT, Badan Litbang Pertanian telah melaksanakan penelitian eksploratif di tiga propinsi, yaitu Irian Jaya, Maluku, dan Timor Timur. Penelitian yang menerapkan metode Pemahaman Pedesaan dalam Waktu Singkat (Rapid Rural Appraisal=RRA) ini melibatkan peneliti dari berbagai disiplin ilmu dan komoditas di lingkup Badan Litbang Pertanian serta petugas pertanian setempat. Hasil penelitian tersebut dilaporkan dalam bentuk tiga buku terpisah, sesuai dengan propinsi masing-masing. Informasi yang terkandung dalam laporan ini diharapkan bermanfaat, baik bagi pembuat kebijakan maupun bagi peneliti, penyuluh, dan pihak lain yang terkait. Kepada Proyek Pembangunan Penelitian Pertanian Nasional (P4N) yang telah membiayai penelitian dan penerbitan laporan ini kami ucapkan terima kasih.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Sumberdaya Rawa Indonesia dalam Pengembangan Pertanian Tanaman Pangan
    (Balai Penelitian Tanaman Pangan Sukarami, 1991) Agusli Taher; Amrizal Yusuf; Zadry Hamzah; zulkjm Zaini
    Di awal kebijakan pengcmbagan rawa, pemerintah mencanangkan Satu tujuan yaitu peman- faatan sumberdaya alam bagi produksi bahan pangam perkembangan selanjutnya menem- patkan proyck pcngcmbangan daerah rawa yang makin serbaguna. Keserbågunaannya dapat dipilah dalam aspek: (1) produksi pertanian, (2) transmigrasi, (3) pengembangan wilayah, dan (4) Hankamnas, yang berkaitan dengan pengembangån pertahanan garis luar. Kawasan rawa Indonesia diperkirakan seluas 39,4 juta hektar, sebagian besar tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya. Pengalaman selama empat Pelita p&tama menunjukkan babwa sumberdaya rawa cukup potcnsial. Di bebcrapa wilayah, Riau, Sumatera Selatan, Kabupaten Merauke-Irian Jaya, Kabupaten Pesisir Selatan-Sumatera Barat,dan beberapa kawasan di Kalimantan, kedudukan rawa bahkan sangat penting karena merupakan sumberdaya lahan utama untuk pengembangan pertanian dan wilayah masa depan. Menurut Direktorat Rawa Dirjen Pengairan PU (1984), dari39,4 juta hektar daerah rawa di Indonesia, hanya juta hektar yang sesuai untuk usaha pertanian. Hingga saat ini, 1,2 juta hektar diantaranya telah dimanfaatkan. Pada kawasan rawa ditemukan dua jenis lahan yang luas sebafannya, yaitu gambut dan sulfat masam. Kedua jenis lahan ini dianggap marginal, karena memiliki beberapa kendala biofisik yang sukar diatasi. Kendala tersebut menyebabkan penggunaannya tidak saja berakibat jelek terhadap lahan itu sendiri, tetapi juga pada lingkungannya terutama perairan dihilirnya (Widjaya Adhi, Meskipun demikian, temuan-temuan penelitian telah bcrhasil mengantisipasi sebagian kendala tersebut melalui perbaikan teknik ameliorasi lahan, serta penemuan komoditas dan varietas tenwlng terhadap agro-ekosistem rawa

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback