Browsing by Author "A.K. Makarim"
Now showing 1 - 5 of 5
Results Per Page
Sort Options
- ItemPadi TIPE BARU(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2004-12-16) A.K. Makarim; Irsal Las; Achmad M. Fagi; I Nyoman Widiarta; Djuber PasaribuDalam beberapa tahun ke depan dikhawatirkan defisit antara produksi padi dan permintaan beras akan semakin besar. Hal ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya laju peningkatan permintaan sementara konversi lahan sawah produktif makin pesat dan laju peningkatan produksi padi nasional mengecil. Sejak dua dekade lalu kurva produksi padi cenderung melandai. Pengalaman menunjukkan penggunaan varietas padi unggul dengan teknik budi daya yang tepat telah memberikan kontribusi yang besar terhadap peningkatan produksi padi. Meski demikian, varietas unggul yang telah dan sedang digunakan petani saat ini seperti IR64, Memberamo, Ciherang, Way Apoburu, Bondoyudo, Kalimas, dan Sintanur tidak mampu lagi berproduksi lebih tinggi karena kemampuan genetiknya terbatas. Balai Penelitian Tanaman Padi (Balitpa) yang bernaung di bawah Pusat Penelitian Pengembangan Tanaman Pangan (Puslitbangtan) dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian) terus berupaya merakit varietas unggul berpotensi hasil tinggi. Salah satu terobosan yang dihasilkan adalah varietas unggul tipe baru (VUTB) yang dirakit dari plasma nutfah potensial yang dihimpun dari berbagai sumber, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Beberapa di antara sejumlah galur hasil persilangan itu memiliki harapan untuk dikembangkan, satu di antaranya telah dilepas pada tahun 2003 dengan nama VUTB Fatmawati. Uji adaptasi di berbagai lokasi yang cocok untuk VUTB menunjukkan bahwa VUTB Fatmawati mampu menghasilkan gabah 10-20% lebih tinggi dari IR64. Guna mendukung upaya peningkatan produksi padi nasional, penanaman VUTB diharapkan dapat segera meluas ke sentra-sentra produksi padi sawah irigasi. Pedoman ini disusun untuk digunakan dalam perluasan tanam VUTB dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman dan Sumber Daya Terpadu (PTT). Kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyusunan dan penerbitan Pedoman Pengembangan VUTB ini kami sampaikan penghargaan dan terima kasih.
- ItemPeningkatan Produktivitas Padi Melalui Penerapan Jarak Tanam Jajar Legowo(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2013-10-13) Ikhwani; Gagad Restu Pratiwi; Eman Paturrohman; A.K. MakarimUpaya peningkatan produksi padi nasional untuk mencapai surplus beras 10 juta ton pada tahun 2014 dan swasembada berkelanjutan memerlukan teknik budi daya yang lebih baik. Cara tanam jajar legowo berpeluang meningkatkan hasil gabah, karena selain populasinya lebih tinggi dibandingkan cara tanam tegel, orientasi pertanamannya juga lebih baik dalam pemanfaatan radiasi surya. Selain itu, peningkatan hasil gabah akan lebih nyata dengan memilih varietas-varietas adaptif, pada kondisi pertanaman rapat, antara lain Inpari 14, 15, 18 dan 19. Batas minimal hasil gabah per rumpun pada pertanaman jajar legowo ditetapkan untuk memilih varietas-varietas atau pemupukan agar jajar legowo menghasilkan gabah lebih tinggi dibandingkan cara tanam tegel. Rumpun tanaman yang memiliki anakan sedikit lebih sesuai untuk cara tanam jajar legowo. Bila jumlah anakan per rumpun banyak, karena varietas atau lahan subur, jajar legowo dengan jarak tanam yang lebih lebar akan lebih sesuai, misalnya legowo 4:1 (25-50) cm x 12,5 cm. Cara tanam jajar legowo kurang disenangi petani karena penggunaan benih dan tenaga lebih banyak, namun disukai pada fase selanjutnya karena memudahkan dalam perawatan tanaman. Dalam skala besar, penerapan jajar legowo membutuhkan dukungan alat tanam sistem legowo yang fleksibel (bisa diatur), akurat, kuat dan mudah dioperasionalkan. Selain itu, perlu identifikasi cepat varietas/galur padi yang sesuai untuk jajar legowo agar memberikan hasil yang lebih tinggi.
- ItemRespon Lima Varietas Unggul Baru Terhadap Perubahan Jarak Tanam(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2012-06) Suhartatik, Endang; A.K. Makarim; Ikhwani; Balai Besar Penelitian Tanaman PadiPenampilan varietas padi pada kondisi jarak tanam lebar dengan cukup hara dan air dapat dianggap sebagai “ekspresi genetik suatu varietas”, sedangkan pada kondisi jarak tanam sempit merupakan ekspresi genetik x lingkungan x pengelolaan. Tujuan penelitian ini mengevaluasi keragaan varietas unggul baru dan mendapatkan hasil tinggi melalui pendekatan varietas dan budidaya, khususnya jarak tanam dan pemupukan. Percobaan lapang dilaksanakan di KP Muara Bogor pada MT1 2010, berjenis tanah Latosol agak masam, bertekstur liat berdebu, N-total dan C-organik tanah termasuk sedang, dan P tersedia sangat rendah. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Petak Terpisah dengan 3 ulangan. Petak utama: Jarak tanam dan pemupukan (J1, J2, J3, dan J4), sedangkan anak petak adalah 5 varietas unggul baru: Inpari 1, Hipa 3, Cimelati, Inpari 9 Elo, dan Ciherang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah anakan sangat dipengaruhi oleh jarak tanam. Pada saat panen, jumlah malai per rumpun pada jarak tanam rapat hanya 4,9 sedangkan pada jarak tanam lebar (40 cm x 40 cm) menjadi 36,7 malai/rumpun. Keragaman jumlah malai antar varietas tidak terlalu besar, yaitu rata-ratanya berkisar antara 12,1 dan 17,1 malai/rumpun. Hasil gabah kering giling tertinggi pada varietas Inpari 1 (6,51 t/ha GKG) dan varietas Cimelati (5,99 t/ha GKG) pada perlakuan jarak tanam 20 cm x 20 cm (J3). Hasil gabah kering varietas Hipa 3 dan Ciherang tertinggi (5,33 dan 6,34 t/ha GKG) pada perlakuan jarak tanam rapat dengan takaran pupuk ditingkatkan (J2).
- ItemRespons Varietas Padi IR64 dan IR64 Sub-1 Akibat Pengaruh Perendaman dan Pemupukan(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2010-11-18) A.K. Makarim; Ikhwani; Gagad R. PratiwiAbstract Response of IR64 and IR64 Sub-1 Rice Varieties to Submergence and Fertilizers. A number of rice varieties were produced, introduced, and bred, either by IRRI and by NARs that were tolerant to submergence condition. Among them were IR6-4 Sub-1. Swarna Sub-1, Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, and others. However, the performance of those new varieties in this particular ecosystem have not been widely evaluated yet. Experiment to evaluate the response of IR64 and IR64 Sub-1 to submergence and fertilizers was conducted in the green house of Muara Experimental Station of the Indonesian Center for Rice Research, during the dry season of 2008. The objectives of this experiment were (1) to study the effects of time of exposure to submergence and nitrogen application on plant growth and yields of IR64 and IR64 Sub-1 varieties; (2) to find the proper nutrient management for rice varieties grown under submergence condition. The experiment was arranged in a Complete Randomized Factorial Design with three replications. The rice varieties IR64 and IR64 Sub-1 were assigned as Factor 1. Times of exposure to submergence (without submergence, submerged at 15 to 24 DAT, and submerged at 35 to 45 DAT) were as Factor 2. and 5 combinations of fertilizers, namely 300 kg urea/ha with 3 x applications at 7, 30, and 55 DAT; urea mudball, 300 kg urea/ha applied once at 7 DAT, compost, compost and urea, urea and silikat were as Factor 3. The application of urea was split four times, at 0 (basal), 7, 30, and 55 DAT. Results of the experiments indicated that time of exposure to submergence and different combination of fertilizers increased dry grain weight of IR64 by 35.9 g and 29.9 g at vegetative and primordial growth stages, respectively. The same effects were also occurred on the variety of IR64 Sub-1, in which its grain weight increased by 32.6 g and 30.3 g at vegetative and primordial growth stages, respectively. Abstrak Penelitian respons varietas padi IR64 dan IR64 Sub-1 terhadap genangan dan kombinasi pupuk telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Muara, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi pada MK 2008. Penelitian diatur dalam Rancangan Faktorial Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah varietas IR64 dan IR64 Sub-1; faktor kedua, tanpa perendaman selama 10 hari (kontrol); perendaman fase végetatif pada umur tanaman antara 15-25 HST, dan perendaman fase primordia pada umur tanaman antara 35-45 HST. Faktor ketiga, 5 kombinasi pemberian pupuk, yaitu urea pril, urea granul, kompos, kompos+ urea, dan urea + silikat. Pupuk N diberikan empat kali, yaitu pada 0 HST (dasar), 7 HST, 30 HST, dan 55 HST. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot gabah varietas IR64 dan IR64 Sub-1 dengan perlakuan pemupukan dan perendaman pada fase vegetatif, naik berturut-turut sebesar 35,9 g dan 29,9 g, sedangkan untuk pemupukan dan penggenangan yang dilakukan pada fase primordia, bobot gabah kedua varietas yang diuji naik berturut-turut sebesar 32,6 g dan 30,3 g.
- ItemSilikon: Hara Penting pada Sistem Produksi Padi(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2007-12-16) A.K. Makarim; E. Suhartatik; A. KartohardjonoSilikon (Si) banyak terkandung pada tanaman graminae, seperti padi, jagung, dan tebu, terutama di permukaan daun, batang, dan gabah (padi). Tanaman kahat Si menyebabkan ketiga organ tanaman di atas kurang terlindungi oleh lapisan silikat yang kuat, akibatnya: (1) daun tanaman lemah terkulai, tidak efektif menangkap sinar matahari, sehingga produktivitas tanaman rendah/tidak optimal; (2) penguapan air dari permukaan daun dan batang tanaman dipercepat, sehingga tanaman mudah layu atau peka terhadap kekeringan; (3) daun dan batang menjadi peka terhadap serangan penyakit dan hama; (4) tanaman mudah rebah; dan (5) kualitas gabah (padi) berkurang karena mudah terkena hama dan penyakit. Akibatnya, hasil optimal tanaman tidak tercapai, kestabilan hasil rendah (fluktuatif) dan mutu produk rendah. Penggunaan kembali Si yang dahulu selalu diperhatikan pada budi daya padi, baik di luar negeri maupun di dalam negeri, hampir dapat dipastikan akan meningkatkan produktivitas, kestabilan dan kualitas hasil padi. Memopulerkan kembali penggunaan pupuk silikat pada tanaman padi saat ini sangat tepat, seiring dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan produksi padi nasional sebesar 5%, dimana pemanfaatan lahan-lahan suboptimal, lahanlahan endemik hama dan penyakit, serta lahan optimal dengan penggunaan pupuk N dosis tinggi semakin meluas dan intensif. Lahan-lahan tersebut me- merlukan tambahan silikat.