Browsing by Author "A. Karim Makarim"
Now showing 1 - 9 of 9
Results Per Page
Sort Options
- ItemBudi Daya Padi dengan Masukan In Situ Menuju Perpadian Masa Depan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2006) A. Karim Makarim; Endang SuhartatikLingkungan pertanian terus mengalami perubahan akibat kurang tepatnya penerapan teknologi (varietas unggul, sarana produksi, alsintan), berkurangnya lahan pertanian, ketidakcukupan input (pupuk kimia anorganik dan pestisida) dan air. Kekhawatiran pencemaran dan degradasi lingkungan hidup, dampak perekonomian global, dan kebutuhan pangan yang terus meningkat, mengakibat- kan lingkungan pertanian terus mengalami perubahan pada masa mendatang, dengan ciri berikut: (1) ketersediaan air semakin terbatas, padahal padi sawah memerlukan banyak air; (2) laju pertumbuhan penduduk yang pesat (1,49%) me- merlukan beras yang terus meningkat dengan laju 1,1%/tahun, mencapai 35,17 juta ton beras (55,83 juta ton GKG) pada tahun 2010; (3) keharusan untuk efisien menggunakan input agar usahatani padi menguntungkan dan menang bersaing dengan komoditas lainnya; (4) iklim, terutama curah hujan yang semakin tidak menentu dan erratik, suhu udara akan lebih sering ekstrim panas; (5) penggunaan lahan banyak mengarah ke lahan suboptimal dengan permasalahan abiotik dan biotik yang lebih kompleks dan intens. Oleh karena cara budi daya yang optimal selalu berdasarkan kondisi lingkungan, maka untuk masa mendatang diperkira- kan (1) penggunaan bahan organik bermutu (rantai C pendek, kandungan hara tinggi) secara in situ (di lokasi setempat) makin diperlukan, dari sisa-sisa pertanian (jerami, pupuk kandang), vegetasi alami menjadi populer kembali; (2) pemanfaatan mikroorganisme penambat N (Azospirillum sp., Anabaena, Clostridium dsb.), pelarut P, mikoriza dan sebagainya akan meningkat jumlah dan kualitasnya; (3) penggunaan PPC/ZPT yang berkualitas akan prospektif mengingat dengan cara ini efisiensi penyerapan hara oleh tanaman tinggi; (4) pemanfaatan hara-mineral in situ yang tersedia di tanah mulai berkembang. Pertanian yang memanfaatkan sumber daya setempat (organik dan anorganik) dapat dikembangkan seraya mempertahankan hasil padi yang tinggi. Recycling hara dalam sistem pertanian mutlak diperlukan untuk meningkatkan efisiensi sistem produksi dan penggunaan masukan.
- ItemJerami Padi(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2007-12-16) A. Karim Makarim; Sumarno; Suyamto; Hermanto; SunihardiJerami padi memiliki banyak manfaat. Di Cina, limbah tanaman padi ini dimanfaatkan untuk bahan kompos, pakan ternak, mulsa untuk tanaman sayuran dan buah-buahan, bahan bakar di rumah tangga, bahan industri kerajinan, atap rumah, dan media tumbuh jamur merang. Tidak ada jerami yang dibakar di ladang atau di sawah. Di Jepang, jerami padi umumnya dikomposkan atau dimasukkan ke dalam tanah saat membajak setelah dipotongpotong dan dikeringkan. Budaya membakar jerami sudah di- tinggalkan petani sejak akhir tahun 1990an. Di Korea, jerami padi umumnya dimanfaatkan untuk bahan kompos, pakan ternak, media tumbuh jamur, mulsa sayuran, atap, dan tidak ada budaya membakar jerami. Di Indonesia, sebagian besar petani menganggap jerami padi tidak memiliki nilai ekonomi, bahkan dianggap sebagai limbah yang mengganggu pengolahan tanah dan penanaman padi. Oleh karena itu, mereka membiarkan jerami miliknya diambil oleh orang lain atau membakarnya di tempat. Sebagaimana diketahui, membakar jerami menimbulkan banyak kerugian, terutama merusak lingkungan dan keseimbangan hayati. Buku ini berisikan informasi yang cukup komprehensif tentang pengelolaan dan pemanfaatan jerami padi. Dengan pengelolaan yang tepat, limbah tanaman ini dapat memberikan banyak manfaat, antara lain sebagai sumber hara tanaman, bahan organik, dan pembenah tanah yang berdampak terhadap peningkatan hasil tanaman.
- ItemPedoman Teknis Pemahaman Pedesaan Secara Partisipatif Menunjang Usahatani Terpadu(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2003) Zulkifli Zaini; A. Karim Makarim; Irsal Las; Budi Haryanto; Suntorodentifikasi wilayah dan permasalahan dalam usahatani padi dan peluang mengatasinya menggunakan metode Pemahaman Pedesaan Secara Partisipatif (Participatory Rural Appraisal - PRA), terutama dalam pemilihan komponen teknologi PTT dan SIPT. PRA dilakukan terhadap: (1) karakteristik lokasi, mencakup validasi peta desa, peta topografi dan hidrologi, peta usaha industri rumah tangga, sejarah desa, penggunaan tenaga kerja berdasarkan gender, dan arus sumber daya; (2) identifikasi dan analisis permasalahan; (3) hal-hal yang menyebabkan turunnya produksi padi; (4) persepsi petani mengenai permasalahan dan akar permasalahan; dan (5) peluang mengatasi permasalahan.
- ItemPemahaman Pedesaaan Secara Partisipatif Menunjang Usahatani Terpadu(Departemen Pertanian 2003, 2003) Zulkifli Zaini; A. Karim Makarim; Irsal Las; Budi Haryanto; SuntoroBadan Penelitian Pengembangan Pertanian bekerja sama dengan Diretorat Jendral Bina Produksi Tanaman Panagan dan Direkorat Jendral bina Produksi Peternakan
- ItemPengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Lahan Rawa Pasang Surut(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2007-12-15) Hamdan Pane; Suwarno; Bambang Kustianto; A. Karim Makarim; Sudarmaji; SutrisnoRapat koordinasi terbatas Kabinet Indonesia Bersatu yang dipimpin langsung oleh Presiden dan Wakil Presiden RI di Departemen Pertanian pada awal Januari 2007 menghasilkan keputusan penting: target peningkatan produksi beras 2 juta ton pada tahun 2007 dan selanjutnya meningkat 5% per tahun hingga tahun 2009. Untuk menindaklanjuti komitmen tersebut Departemen Pertanian meluncurkan Program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) untuk segera diimplementasikan. Salah satu hal penting dalam upaya pencapaian target peningkatan produksi tersebut adalah penerapan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah rawa pasang surut. Berbeda dengan program intensifikasi padi seperti Insus dan Supra Insus, PTT bukan teknologi atau bukan paket teknologi tetapi pendekatan dalam pemecahan masalah produksi di daerah setempat dengan menerapkan teknologi yang sesuai dan dipilih sendiri oleh petani dengan bantuan para penyuluh pertanian. Tujuan penerapan PTT adalah untuk meningkatkan pendapatan petani melalui penerapan teknologi yang cocok untuk kondisi setempat dan yang dapat meningkatkan hasil gabah dan mutu beras serta menjaga kelestarian lingkungan. Buku ini disusun berdasarkan pengalaman dalam penelitian jangka panjang dan pengembangan inovasi teknologi usąhatani padi pada lahan rawa pasang surut dan pengembangan PTT padi sawah irigasi di berbagai daerah. Buku petunjuk lapang ini diperuntukkan untuk dipedomani oleh para penyuluh pertanian dalam usaha meningkatkan produktivitas padi lahan pasang surut melalui pendekatan PTT. Buku ini juga diharapkan dapat pula dipakai sebagai pelengkap bahan pelatihan PTT padi lahan rawa pasang surut, baik yang diselenggarakan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) maupun Dinas Pertanian di daerah.
- ItemPeta Agroekologi Utama Tanaman Pangan di Indonesia(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991-04-23) Irsal Las; A. Karim Makarim; A. Ilidayat; A. Syarifuddin Karama; Ibrahim ManwanPerencanaan pembangunan pertanian nasional perlu dilandaskan pada informasi yang relevan dan akurat. Salah satu bentuk informasi penting yang dibutuhkan sekarang ini adalah peta agroekologi. Laporan Khusus ini diterbitkan untuk mendukung ketersediaan informasi semacam itu. Agroekologi merupakan pencirian sifat dan karakter lingkungan fisik suatu sistem produksi pertanian. Peta agroekologi utama tanaman pangan ini mengindikasikan faktor iklim, tanah, topofisiografi, dan infrastruktur secara umum di Indonesia. Oleh sebab itu peta ini berguna untuk menduga intensitas dan pola tanam potensial, penerapan suatu paket teknologi usahatani tanaman pangan pada suatu wilayah, dan memudahkan alih teknologi dari suatu wilayah ke lain wilayah. Di samping untuk menunjukkan penyebaran macam agroekologi utama di Indonesia, peta ini memperlihatkan potensi wilayah yang dapat mendukung strategi penelitian dan perencanaan pembangunan pertanian nasional secara lebih efektif dan efisien. Dengan demikian, tingkat produksi serta jenis komoditas pertanian yang sesuai dapat dioptimalkan. Kami berharap bahwa berbagai pihak, termasuk lembaga, peneliti, perencana, khususnya yang berkaitan dengan pertanian tanaman pangan, dapat memanfaatkan publikasi ini. Sementara itu kami terus berusaha mengembangkan peta ini secara lebih terinci agar lebih sesuai dengan berbagai keperluan di wilayah-wilayah yang lebih spesifik. Berbagai kekurangan tentu masih terkandung dalam terbitan ini. Karena itu saran dan kritik dari pembaca akan sangat membantu kami dalam usaha untuk memperbaikinya. Kami ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Proyek Penelitian Pertanian Lahan Pasang Surut dan Rawa SWAMPS-II dan the International Development Research Centre (IDRC), yang telah memberikan dukungan dana bagi penerbitan publikasi ini.
- ItemPola IP Padi 300 Konsepsi dan Prospek Implementasi(Badan Penelitian dan Pengembangan PertaniaM, 1999-12-23) Irsal Las; A. Karim Makarim; Sumarno; Sirman PurbaSwasembada beras yang merupakan salah satu tolok ukur ketahanan pangan nasional menghadapi tantangan semakin berat, karena makin beragamnya masalah yang dihadapi dalam peningkatan produksi padi. Selain menciutnya luas lahan sawah produktif dan terjadinya serangan hama penyakit, penyimpangan iklim ElNino pada tahun 1997 telah menurunkan produksi padi nasional yang berakibat timbulnya krisis pangan. Untuk menanggulangi krisis pangan, Badan Litbang Pertanian bekerja sama dengan Dinas Pertanian di TK I dan TK II dan berbagai pihak mengimplementasikan pola Indeks Pertanaman (IP) padi 300 pada MT 1997/98 di lima propinsi Jawa dan Bali. Penanaman padi musim ketiga (MK-II 1998) dilakukan pada lahan seluas lebih dari 120 ribu ha, yang diawali dengan studi terhadap berbagai aspek, termasuk iklim, produktivitas lahan, potensi produksi dan infrastruktur daerah setempat. Kegiatan ini dibiayai oleh Proyek Upsus Peningkatan Ketahanan Pangan Nasional Melalui Pemberdayaan Masyarakat Petani (PKPN-MPMP), salah satu proyek pendukung Gerakan Mandiri Padi, Kedelai dan Jagung (Gema Palagung) 2001. Dengan memanfaatkan sumber daya pertanian secara optimal, penerapan pola IP Padi 300 telah berhasil memberikan kontribusi produksi sekitar 545 ribu ton GKG dari luas panen 118,5 ribu ha pada periode panen Oktober - Desember 1998. Hama dan penyakit yang dikhawatirkan akan menggagalkan panen, hanya merusak sebagian kecil pertanaman di daerah endemik. Pengalaman penerapan pola IP Padi 300 yang disajikan dalam publikasi ini diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi upaya peningkatan produksi padi nasional, terutama di saat cadangan beras nasional menipis atau bila terjadi krisis pangan. Publikasi ini disusun berdasarkan laporan implementasi pola IP Padi 300 dari masing-masing propinsi, hasil tinjauan langsung ke lapang, dan rumusan seminar Nasional Prospek Pola IP Padi 300 dalam Menanggulangi Krisis Pangan dan Anomali Iklim di Cisarua, Bogor, tanggal 17 Maret 1999, yang dihadiri sekitar 200 peserta dari berbagai instansi. Akhir kata diucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam program peningkatan produksi untuk mengatasi krisis pangan melalui penerapan pola IP Padi 300.
- ItemProduktivitas dan Komponen Hasil Tanaman Padi Sebagai Fungsi Dari Populasi Tanaman(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2010-11-18) Gagad Restu Pratiwi; Endang Suhartatik; A. Karim MakarimAbstract Productivity and Yield Components of Rice as a Function of Plant Population. A field experiment to evaluate the relationship between plant population and the rice yields was conducted at the Muara Experimental Station, the Indonesian Center for Rice Research (OCRR), during the WS of 2009/2010. The trial was arranged in a Randomized Completely Block Design with three replications. The treatments were eight plant spacing's, Le. 50 cm x 50 cm up to 20-40 cm x 10 cm, in under to obtain the plant population tain the plant population of 4-33 hills/square meter. Results of the experiment indicated that the number of illiers per hill was affected by the plant density. The lower the plant densities, the lesser the number of tillers per hill as the development of tillers stopped as the rice plants reached the age of 40 day after transplanting (DAT). In contrast, the higher the plant densities, the higher the number of tillers per hill as t s the development of tillers was continued until the rice plants reached the age of 70 DAT. Plant densities affected the ring of the plant canopy, the number of filled grain per hill, and the humbler of panicles per square meter. The ring of plant canopy, the number of filled grain per hill, and the length of panicles per hill decreased with the plant densities. The ring of plant canopy a y at the low plant densities (8) reached 101 cm. and at the two high plant densities of 11 and 12 it reached 27 and 32 cm, respectively. The number of filled grain per hill, at the low plant densities reached 5,837 grains per hill, and at the high plant densities it reached 947 grains per hill. The length of panicles at the low density was 1.100 cm, and at the high density was 200 2 cm. In contrast, the number of panicles per square meter increased with the plant densities. The number of panicles per square meter at the low density was 175 and at the high density were 367. The yield of dried grains per hectare at high plant densities reached 7.17 tons milled dried grains, but at the low plant densities it reached 4.10 tons milled dried grains per hectare Abstrak Peningkatan produktivitas tanaman padi, selain ditentukan oleh faktor genetik varietas, juga oleh pengaturan populasi dan orientasi jarak tanam. Percobaan telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Muara, Bogor, BB Padi pada musim hujan (MH) 2008/2009. Delapan perlakuan jarak tanam 50 cm x 50 cm hingga jajar legowo 2:1 ((20 x 10) x 40) cm untuk memperoleh populasi tanaman 4-33 ak Kelompok dengan 3 rumpun/m² ditata dalam Rancangan Acak ulangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa populasi tanaman berbanding terbalik dengan jumlah anakan/rumpun. Makin rapat populasi tanaman, jumlah anakan/rumpun makin sedikit, atau sebaliknnya makin lebar jarak tanam, jumlah anakan/rumpun makin banyak. Fenomena ini disebabkan karena pada jarak tanam rapat, pembentukan anakan sudah berhenti saat sekitar 40 hari setelah tanam (HST), sementara dengan jarak tanam lebar, pembentukan anakan berlanjut hingga tanaman mencapai umur 70 HST. Lingkar tajuk pada jarak tanam terlebar (18) mencapai 101 cm, sedangkan pada jarak tanam sempit 11 dan J2 berturut-turut mencapai 27 cm dan 32 cm. Bobot gabah isi per rumpun mencapai 947 dan 5.837 butir/rumpun, berturut-turut pada populasi tertinggi dan pada populasi terendah, Jumlah Panjang malai/rumpun pada populasi tertinggi mencapai 200 cm, sedangkan pada populasi terendah mencapai 1.100 cm. Namun demikian, jumlah malai per m' pada populasi tertinggi mencapai 367 dan pada populasi terendah hanya 175. Hasil gabah bersih/ha mencapai 7,171 dan 4.10 t/ha GKG, berturut-turut pada populasi tinggi dan populasi rendah. angan
- ItemProsiding Simposium V Tanaman Pangan Inovasi Teknologi Tanaman Pangan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2008-12-16) A. Karim Makarim; Bambang Suprihatno; Zulkifli Zaini; Adi Widjono; I Nyoman Widiarta; Hermanto; Husni KasimTantangan dalam peningkatan produksi tanaman pangan makin beragam. Konversi lahan pertanian yang masih terus berlangsung di beberapa daerah, penurunan kualitas lahan dan lingkungan, organisme pengganggu tanaman yang terus berkembang, masih tingginya kehilangan hasil pada saat panen dan setelah panen, rendahnya gizi anak di beberapa daerah karena tidak mem- peroleh masukan yang memadai dari makanan yang dikonsumsi, dan tidak memadainya keuntungan yang diperoleh petani dari usahatani tanaman pangan adalah bagian penting dari tantangan perlu diatasi. Pengalaman selama ini membuktikan penerapan teknologi dapat memecahkan masalah teknis yang dihadapi dalam peningkatan produksi. Oleh karena itu Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan melalui unit pelaksana teknis penelitiannya senantiasa melakukan penelitian untuk menghasilkan inovasiteknologi yang mampu memberikankontribusi yang lebih besar bagi peningkatan produksi untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional, perbaikan gizi masyarakat, dan peningkatan pendapatan petani. Untuk mengevaluasi inovasi teknologi yang dihasilkan melalui penelitian dalam beberapa tahun terakhir, Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan menyelenggarakan Simposium V Penelitian Tanaman Pangan di Bogor pada 28-29 Agustus 2007. Informasi dari inovasi teknologi tersebut, yang diterbitkan dalam prosiding simposium ini, diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengembangan tanaman pangan. Akhir kata, saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah berkontribusi dalam Simposium V Tanaman Pangan dan penerbitan prosiding ini.