Browsing by Author "-"
Now showing 1 - 4 of 4
Results Per Page
Sort Options
- ItemEfek Perubahan Zona Agroklimat Klasifikasi Oldeman 1910-1941 sampai dengan 1985-2015 terhadap Pola Tanam Padi Sumatera Barat(Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, ) Saputra, Rizky Armei; West Sumatera Assessment Institute for Agrucultural Technology; Akhir, Nasrez; Universitas Andalas; Yulianti, Via; BPTP Balitbangtan Sumatera Barat
- ItemKUNJUNGAN PERS DI BALAI PENELITIAN TEMBAKAU DAN TANAMAN SERAT Tanggal 17-18 Desember 1990(Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1991-02-07) -Salah satu kendala dalam pengembangan hasil penelitian adalah lambatnya proses alih teknologi dari Balai Penelitian ke petani. Hal ini terbukti masih lebarnya senjang produktivitas ditingkat peneliti dan tingkat petani. Produktivitas kapas yang ditumpangsarikan dengan palawija misalnya, ditingkat peneliti bisa mencapai 1000- 1400 kg/ha sedang ditingkat petani hanya 600 kg/ha. Kesenjangan produksi tersebut tidak hanya terjadi pada kapas saja tetapi juga pada komoditas lainnya
- ItemPengaruh Magnesium, Boron, dan Pupuk Hayati terhadap Produktivitas Cabai serta Serangan Hama dan Penyakit (Effect of Magnesium, Boron, and Biofertilizers on Chili Pepper Productivity and Impact of Pests and Diseases)(Indonesian Center for Horticulture Research and Development, ) Setiawati, Wiwin; Indonesian Vegetable Research Institute; Hasyim, Ahsol; Udiarto, Bagus Kukuh; Hudayya, Abdi
- ItemPETUNJUK PENYELENGGARAAN BEDENGAN TEMBAKAU BESUKI NO.(Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1991-02-07) -Kualitas bibit sebagai bahan tembakau, sa- ngat berpengaruh terhadap produksi. Parameter kualitas bibit pada umumnya didasarkan atas ukuran dan umur bibit. Ukuran bibit ditentukan oleh tinggi bibit, diameter bibit dan jumlah daun. Bibit yang tinggi tetapi diameter kecil atau dikenal dengan istilah nyacing, kurang baik untuk di- tanam. Hal ini disebabkan kurangnya adaptasi pada waktu pemindahan, sehingga bibit banyak yang mati. Demikian pula bibit yang kerdil akan memerlukan waktu adaptasi yang lebih lama untuk tumbuh menjadi tanaman yang normal. Bibit dipindahkan biasanya umur 40 hari, karena bila terlalu muda kematian bibit cukup besar, sebaliknya bila terlalu tua tanaman akan cepat berbunga dan daun yang dihasilkan lebih sedikit. Penanaman tembakau cerutu (Besuki Na- Oost) diusahakan oleh Perusahaan Perkebunan dan rakyat. Setiap tahun penanaman tembakau ini mencapai areal 20.000 ha. Dari jumlah tersebut sekitar 15.000 ha diusahakan oleh rakyat. Penga- daan bibit oleh rakyat kurang intensif bila diban- dingkan dengan Perusahaan Perkebunan, se- hingga produktivitasnya rendah yaitu 0,4 sampai 0,6 ton/ha. Rendahnya produksi disebabkan bibit yang digunakan oleh rakyat kurang memenuhi persyaratan dan dalam pelaksanaan pembibitan- nya sangat sederhana. Atas dasar hal itu maka perlu diselenggarakan pembibitan yang baik dan betul, sekaligus dapat digunakan untuk petunjuk pelaksanaan pembibitan dalam rangka mening- katkan produksi tembakau cerutu (Besuki Na- Oost) rakyat