Browsing by Author "Widodo, Sugeng"
Now showing 1 - 9 of 9
Results Per Page
Sort Options
- ItemAnalisis Usahatani Dan Tingkat Preferensi Petani Terhadap Beberapa Varietas Unggul Inpago Di Gunungkidul Yogyakarta(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2017) Widodo, Sugeng; Sutaryo, Bambang; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)Analisis usahatani dan tingkat preferensi petani terhadap beberapa varietas unggul Inpago (inbrida padi gogo) telah dilaksanakan di Kelompok Tani “Sumber Agung” Semanu Selatan, Semanu, Gunungkidul Yogyakarta dari bulan Maret hingga Juli 2015. Varietas unggul Inpago yang dikaji adalah Inpago 4, Inpago 5, Inpago 7, Inpago 8, Inpago 9, dan Inpago 10. Sedangkan sebagai pembanding adalah varietas Ciherang dan IR64. Data ekonomi Input dan output usahatani padi gogo dianalisis kelayakan usaha tani (B/C rasio, R/C rasio dan MBCR) dan analisis diskriftif. Uji organoleptik dilaksanakan berdasarkan tingkat kesukaan panelis sebanyak 30 orang. Variabel yang dinilai adalah tekstur/kepulenan, rasa, aroma, warna dan kesukaan secara umum. Data menunjukkan bahwa Inpago 8, Inpago 9 dan Inpago 10 layak untuk dikembangkan terbukti B/C rasio berkisar antara 2,0 sampai 3,35. Incremental B/C tertinggi terhadap varietas pembanding terbaik (IR64) diraih oleh Inpago 10 (23,62%) dan Inpago 8 (4,79%). Rasa nasi yang paling disukai adalah Inpago 5. Sedangkan produktivitas yang paling disukai.
- ItemAnalisis Usahatani Dan Tingkat Preferensi Petani Terhadap Beberapa Varietas Unggul Inpago Di Gunungkidul Yogyakarta(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2017) Widodo, Sugeng; Sutaryo, Bambang; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)Analisis usahatani dan tingkat preferensi petani terhadap beberapa varietas unggul Inpago (inbrida padi gogo) telah dilaksanakan di Kelompok Tani “Sumber Agung” Semanu Selatan, Semanu, Gunungkidul Yogyakarta dari bulan Maret hingga Juli 2015. Varietas unggul Inpago yang dikaji adalah Inpago 4, Inpago 5, Inpago 7, Inpago 8, Inpago 9, dan Inpago 10. Sedangkan sebagai pembanding adalah varietas Ciherang dan IR64. Data ekonomi Input dan output usahatani padi gogo dianalisis kelayakan usaha tani (B/C rasio, R/C rasio dan MBCR) dan analisis diskriftif. Uji organoleptik dilaksanakan berdasarkan tingkat kesukaan panelis sebanyak 30 orang.Variabel yang dinilai adalah tekstur/kepulenan, rasa, aroma, warna dan kesukaan secara umum. Data menunjukkan bahwa Inpago 8, Inpago 9 dan Inpago 10 layak untuk dikembangkan terbukti B/C rasio berkisar antara 2,0 sampai 3,35. Incremental B/C tertinggi terhadap varietas pembanding terbaik (IR64) diraih oleh Inpago 10 (23,62%) dan Inpago 8 (4,79%). Rasa nasi yang paling disukai adalah Inpago 5. Sedangkan produktivitas yang paling disukai adalah Inpago 10 dan Inpago 8. Disarankan bahwa Inpago agar dikembangkan di daerah tadah hujan selain Semanu Kidul, sehingga dicapai peningkatan produksi di lahan kering Gunungkidul.
- Item. Dampak Program Gerakan Penanaman Pengelolaan Tanaman Terpadu (Gp-PTT) Terhadap Produksi Dan Keuntungan Usahatani Padi Sawah Di Kabupaten Sleman, DIY(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2017) Widodo, Sugeng; Mulyani, Novita; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)Sejak tahun 2015 pemerintah mendukung peningkatan pangan melalui program “Gerakan Penanaman Pengelolaan Tanaman Terpadu” (GPPTT). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak dari program GP-PTT padi terhadap produksi dan keuntungan usahatani padi lahan sawah di Kabupaten Sleman, DIY. Data yang dikumpulkan dengan menggunakan metode survei di lokasi Kabupaten Sleman, dengan alasan bahwa kabupaten ini merupakan sentra produksi padi di DIY. Sampel diambil secara random pada kelompok tani di Kecamatan Berbah dengan cara stratified simple random sampling. Analisis data untuk menentukan dampak dari program GP-PTT dari sisi produksi dan keuntungan menggunakan uji t. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada perbedaan nyata sisi produksi dan keuntungan dengan dan tanpa program GPPTT padi.
- ItemFAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KECEPATAN ADOPSI TEKNOLOGI PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU PADI SAWAH (Oryza sativa L.)(Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor, ) Samsudin, Samsudin; Widodo, Sugeng; Achdiyat, Achdiyat
- ItemInovasi Teknologi Padi Melalui Kalender Tanam (Katam) Terpadu (Waktu Tanam, Varietas, Dosis Pupuk) Pada Musim Tanam I Di Sleman, D.I.Yogyakarta(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2017) Srihartanto, Eko; Widodo, Sugeng; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)Peningkatan produktivitas padi melalui inovasi teknologi terus diupayakan. Salah satu teknologi yang dapat diterapkan adalah teknologi Kalender Tanam (Katam) Terpadu. Tujuan Kajian ini adalah untuk mengetahui tingkat produktivitas padi melalui penerapan teknologi Kalender Tanam Terpadu (waktu tanam, varietas, dosis pupuk) pada Musim Tanam I di Kabupaten Sleman, D.I.Yogyakarta. Metodologi menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 4 perlakuan rekomendasi KATAM Terpadu yaitu varietas INPARI 7, INPARI 10, INPARI 33 dosis pemupukan yaitu 200 Kg/ha NPK 15:15:15, Urea 250 Kg/ha dan Pupuk Organik 2 ton/ha dan CIHERANG (KONTROL/Cara petani) NPK 250 kg/ha, Urea 300 kg/ha, Organik 2 t/ha dengan perlakuan diulang 4 kali. Analisa data dan uji signifikansi menggunakan Anova dan Uji Tukey taraf nyata 5%. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa teknologi KATAM terpadu (waktu tanam, varietas, dosis pupuk) yaitu INPARI 10 dan INPARI 7 mempunyai produktivitas 7,25 t/ha dan 7,08 t/ha dengan B/C ratio 2,20 dan 2,14 lebih tinggi dibandingkan INPARI 33 yaitu 6,29 t/ha dengan B/C ratio 1,9 dan Ciherang (Kontrol) 5,57 t/ha B/C ratio 1,66. INPARI 10 dan INPARI 7 dengan penerapan teknologi KATAM Terpadu meningkatkan produktivitas padi di D.I.Yogyakarta 16,34% dan 14,33%. Hasil analisa usahatani menunjukkan B/C ratio seluruh perlakuan yang dikaji > 1 sehingga menguntungkan dan layak untuk diusahakan.
- ItemKELEMBAGAAN PENYULUHAN PASCA DITERBITKAN UNDANG-UNDANG SISTEM PENYULUHAN PERTANIAN PERIKANAN DAN KEHUTANAN DI KABUPATEN BANDUNG(Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor, ) Sugiharto, Eddy; Widodo, Sugeng; Putra, Kenedy; Achdiyat, Achdiyat; Sulistyowati, Dwiwanti
- ItemPENGEMBANGAN KEMAMPUAN KELOMPOKTANI DALAM AGROINDUSTRI TOMAT (Lycopersicum esculentum Mill) DI KECAMATAN CUGENANG KABUPATEN CIANJUR PROVINSI JAWA BARAT(Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor, ) Widodo, Sugeng; Nurdin, Asiah
- ItemProduktivitas Air dan Hasil Padi Pada Beberapa Tinggi Genangan Air Pada Sawah Bukaan Baru di Desa Pati - Kabupaten Bulungan(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Sukristiyonubowo; Widodo, Sugeng; Riyanto, DamasusAbstrak Sawah bukaan baru membutuhkan banyak air, jika dibandingkan dengan sawah irigasi karena lapisan tapak bajak belum terbentuk. Lapisan tapak bajak akan berkembang setelah beberapa tahun tergantung pada intensitas penanaman padi. Percobaan pada skala plot dilaksanakan pada sawah bukaan baru yang berasal dari lahan kering di Dusun Pati, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara pada tahun 2013. Penelitian bertujuan untuk mempelajari produktivitas air dan hasil padi pada sawah bukaan baru. Beberapa perlakuan tinggi genangan air diuji dalam penelitian ini meliputi tinggi genangan air 5 cm sebagai kontrol (T0), tinggi genangan air 3 cm (T1), Intermitten dengan dua minggu periode basah dan satu minggu periode kering (T2), dan macak macak atau jenuh air dengan tinggi genangan air 0,5 cm (T3). Data yang diambil meliputi pertumbuhan tanaman padi, hasil gabah dan produktivitas air .Produktivitas air dihitung dengan perbandingan antara hasil gabah dengan air yang dibutuhkan, sedangkan air yang dibutuhkan dihitung berdasarkan selisih antara air yang masuk ke sawah dengan air yang keluar dari sawah. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan macak macak atau jenuh air dengan tinggi genangan 0,5 cm menghasilkan tinggi tanaman dan jumlah anakan padi yang secara nyata lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan kontrol dengan tinggi genangan air 5 cm dan perlakuan lainnya, tetapi menghasilkan produktivitas air yang tertinggi yaitu 0,78 gram liter-1. Produktivitas air yang memberi harapan yang menjanjikan pada sawah bukaan baru adalah antara 0,78 - 0,40 gram liter-1 dengan perlakuan macak macak dengan tinggi genangan air 0,5 cm dan intermitten dengan tinggi genangan air 5 cm pada perioda basah. Abstract Newly opened wetland rice fields require more water because plough pan layer are not developed. Plough pans are established several years and also depending on intensity of planting rice. Plot scale study was conducted at newly opened wetland rice originated from dry land in Pati village, North Kalimantan Province, Indonesia in 2013. The aim of experiment was to study the water productivity in newly opened wet land rice fields. Different water pounding treatments including water pounding layer of 5 cm as control (T0), water pounding layer of 3 cm (T1) intermittent with two weeks wetting and one week was drying (T2), and saturated or macam macak with water pounding layer of 0.5 cm (T3) were tested. Rice growth, rice grains yield and water productivity was observed. Water productivity was computed according to the ratio between rice grains yield and water input. Water input was predicted according to the difference between incoming water and outgoing water. In this study water balance was not taken into account in calculating the water input. The results indicated that at saturated or macak macak with pounding water layer of 0.5 cm rice plant height and tiller number were significantly lower than that control with pounding water layer of 5 cm and also significantly lower than other treatments, but it gave the highest water productivity (0,78 gram liter-1). The water productivity between 0.78 and .40 gram liter-1 were recorded by pounding water depth of 0.5 cm followed by 0 intermittent with pounding water layer of 5 cm when it was wet. In the future, the study will be focused on water management and improvement of rice grains yield rice in Indonesia as water become scare and rice is staple food.
- ItemSERANGAN PENYAKIT KARAT DAUN (Puccinia horiana ) SERTA PERAN KHITOSAN DALAM PENGENDALIANNYA PADA ADAPTASI KRISAN DI GUNUNGKIDUL(BB Pengkajian Teknologi Pertanian, 2016-05-31) Martini, Tri; Widodo, Sugeng; Darwis, Darmawan; BPTP JambiUpaya pengendalian penyakit utama pada budidaya krisan (karat daun) lebih difokuskan pada pengendalian hama terpadu (PHT), yang salah satu komponennya adalah melakukan penekanan inokulum awal dengan merompes (menghilangkan) daun pada awal pertumbuhan. Ekologi penyakit karat serta keragaan tanaman krisan yang diadaptasikan di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) belum pernah dilaporkan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji keragaan tanaman krisan serta ekologi penyakit utamanya yakni penyakit karat daun yang disebabkan oleh Puccinia horiana, serta mempelajari teknik pengendalian dengan bahan alami berupa Khitosan, yang diduga dapat memberikan efek kekebalan pada krisan.Penelitian dilakukan di screenhouse pada lokasi Taman Teknologi Pertanian (TTP) di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, DIY. Ketinggian lokasi berada pada 430 mdpl, penelitian dimulai sejak bulan Desember 2015 sampai dengan April 2016. Aplikasi pengendalian penyakit karat disusun dalam rancangan lingkungan yang sesuai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas serangan penyakit karat pada daun di bagian bawah berkisar 40 – 70%, sedangkan pada daun atas hanya berkisar 10 – 30%; intensitas serangan paling tinggi mencapai 30% pada saat tanaman berumur 6 mst; Rerata intensitas serangan penyakit karat pada perlakuan Khitosan sebesar 21,53%, sedangkan pada perlakuan kontrol (tanpa Khitosan) sebesar 36,13%; serta penggunaan bahan alami berbahan aktif khitosan efektif mengendalikan serangan penyakit karat daun krisan (Puccinia horiana).