Browsing by Author "Wayan Sudana"
Now showing 1 - 2 of 2
Results Per Page
Sort Options
- ItemEfektivitas Penerapan Kebijakan Harga Eceran Tertinggi Urea dan Harga Gabah Pembelian Pemerintah di Beberapa Sentra Produksi Padi(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2011-12-16) Wayan SudanaEfisiensi pemasaran sarana produksi dan hasil pertanian merupakan syarat utama dalam pembangunan pertanian. Sehubungan dengan hal ini, analisis perkembangan harga pupuk, gabah, dan barang konsumsi di tingkat petani menjadi sangat penting. Pengkajian ini merupakan kerja sama antara BBP2TP dengan BPTP di 12 provinsi, meliputi 37 kabupaten dan 74 desa contoh di sentra produksi padi. Pengumpulan data dilakukan secara berkala setiap dua minggu, waktu pengumpulan data dan responden ditetapkan secara sengaja. Responden adalah petani atau pemilik kios, yang ditetapkan tidak berubah sepanjang kegiatan pengkajian. Hasil kajian menunjukkan bahwa harga eceran tertinggi (HET) pupuk urea yang ditetapkan pemerintah tidak efektif berlaku di setiap wilayah kajian, selama tahun 2007 harga yang dibayar petani di atas HET. Kebijakan harga gabah pembelian pemerintah (HPP), di beberapa wilayah penerapannya cukup efektif, dan tidak efektif di wilayah lain pada saat panen. Marjin pemasaran dari gabah ke beras cukup tinggi, berkisar antara Rp 1.500-2.500/kg atau 31-52% dari rata-rata harga tertinggi beras kelas medium. Besarnya marjin tersebut kurang menguntungkan petani padi, karena di samping sebagai produsen, mereka juga sebagai pembeli beras. Marjin harga beras lebih menguntungkan penggiling dan pedagang beras. Diperlukan regulasi harga yang mampu mendistribusikan marjin tersebut lebih adil dan wajar, sehingga petani sebagai produsen dan sekaligus sebagai konsumen beras tidak dirugikan
- ItemMaize in Indonesia(International Maize and Wheat Improvement Center, 2004-12-16) Dewa K.S. Swastika; Firdaus Kasim; Wayan Sudana; Rachmat Hendayana; Kecuk Suhariyanto; Roberta V. Gerpacio; Prabhu L. PingaliMaize is the second most important cereal crop in Indonesia after rice. The demand for maize as food and feed has been steadily increasing. Total national maize production has grown at 4.07% per annum in the last three decades, thanks mainly to the adoption of improved production technologies, particularly hybrid seed. This high production, however, still fails to meet domestic demand and has caused a rapid increase in the net import of maize. This study characterized the maize production systems in four major maize-producing provinces in Indonesia, namely Lampung, East Java, West Nusa Tenggara, and South Sulawesi. Important productivity constraints faced by maize farmers were identified and included: low grain prices during harvest; high input prices; large distances between maize production areas, feed mills, and seed industries; lack of promotion of local improved maize varieties (OPVs and hybrids) by gover nment research centers; and lack of farmer capital. Farmers, the Government of Indonesia, and private companies should be encouraged to develop appropriate technology and policies, such as tariffs and credit systems, to overcome some of these constraints