Browsing by Author "Wahyudi, Agus"
Now showing 1 - 14 of 14
Results Per Page
Sort Options
- ItemBeberapa Indikasi Kemungkinan Dampak Perubahan Ekonomi Dunia Terhadap Permintaan Lada(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 1987) Wahyudi, Agus
- ItemBiaya Produksi dan Daya Saing Relatif Usahatani Lada Hitam dan Putih Indonesia(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2021-05) Wahyudi, Agus; Pribadi, Ekswasita RiniIndonesia merupakan salah satu negara produsen utama lada (Piper nigrum L.) dunia, dengan lada hitam dan lada putih sebagai produk utamanya. Setiap daerah memiliki tradisi tersendiri untuk menghasilkan diantara produk tersebut sehingga ada perbedaan sistem budidaya dan struktur biayanya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya produksi lada hitam dan lada putih dan daya saing relatifnya terhadap harga lada di tingkat petani. Metode survei digunakan untuk mendapatkan data primer dari responden yang dipilih dengan metode snowball sampling. Lampung dan Bangka Belitung dipilih untuk merepresentasikan budidaya lada hitam dan lada putih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkebunan lada dengan budidaya yang konvensional kurang memiliki daya saing relatif berkelanjutan, yang ditunjukkan oleh biaya produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga terendah yang diterima dalam jangka panjang. Daya saing relatif lebih baik di perkebunan yang telah menerapkan budidaya yang baik. Daya saing relatif lada putih lebih baik daripada lada hitam, karena produktivitas lada putih lebih tinggi meskipun biaya produksinya juga sedikit lebih tinggi
- ItemFenomena Kegagalan Pasar Cengkeh Indonesia(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 1994) Wahyudi, Agus
- ItemPemuliaan Pala : Sejarah, Sosial Ekonomi, dan Prospek Pengembangan(IAARD Press, 2016-05-10) Wahyuni, Sri; Bermawie, Nurliani; Purwiyanti, Susi; Syahid, Siti F.; Kristina, Natalini N.; Arlianti, Tias; Wahyudi, Agus; Pribadi, E.R; Nasrun; Wahyono, Tri Eko; Balittro
- ItemPENGEMBANGAN USAHATANI TANAMAN ОВАТ BERBASIS KAWASAN : Warta balittro no 59 tahun 2013(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2013-06-01) Wahyudi, AgusSkala ekonomi yang memadai pengembangan kawasan tanaman obat. Oleh karena itu, sudah seharusnya para petani berkelompok dan melaksanakan aktivitas bersama dalam suatu kawasan. Mengingat bahwa tanaman obat termasuk dalam kelompok tanaman hortikultura maka pengembangan kawasan tersebut mengacu pada Undang-undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura, khususnya pada Pasal 44 yang berbunyi (1) Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah merencanakan dan menetapkan kawasan hortikultura; (2) Penetapan kawasan hortikultura dilakukan dengan memperhatikan aspek (a) sumberdaya hortikultura; (b) potensi unggulan yang ingin dikembangkan; (с) potensi pasar; (d) kesiapan dan dukungan masyarakat; dan (e) kekhususan wilayah.
- ItemPENYIAPAN INOKULUM NEMATODA PARASIT PADA TANAMAN REMPAH DAN OBAТ : Warta balittro no 59 tahun 2013(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2013-06-01) Wahyudi, AgusNematoda parasit merupakan salah satu organisme pengganggu tumbuhan yang menjadi kendala dalam produksi tanaman termasuk tanaman rempah, obat, dan aromatik (TROA). Nematoda parasit yang kerap menyerang TROA adalah nematoda buncak akar Meloidogyne spp. pada jahe, nilam, dan tanaman lainnya; Pratylenchus brachyurus pada tanaman nilam; dan Radopholus similis pada tanaman lada. Untuk memenuhi keperluan penelitian, diperlukan populasi nematoda yang cukup dan relatif seragam yang nantinya akan diinokulasikan/ditularkan pada tanaman tertentu sesuai dengan perlakuan yang akan diujikan atau untuk pengujian lainnya. Untuk mendapatkan jumlah/populasi nematoda sesuai keperluan dilakukan pengumpulan nematoda dari lapang atau dari tempat yang sebelumnya telah disiapkan dan digunakan untuk perbanyakan nematoda. Tulisan ini akan menjelaskan mengenai sumber dan jenis inokulum, cara memperoleh (ekstraksi) nematoda dari jaringan tanaman (akar), dan penyiapan inokulum nematoda
- ItemPerbenihan dan Budidaya Lada Perdu(Balittro, 2015-12-03) Rukmana, Dadang; Wahyudi, Agus; Nurhayati, Hera; Balittro
- ItemPerbenihan Pala Populasi Ternate 1, Tidore 1 dan Tobelo 1(Unit Penerbitan dan Publikasi Balittri, 2010) Randriani, Enny; Supriadi, Handi; Wahyudi, Agus; EA, M. Hadad; Unit Penerbitan dan Publikasi Balittri
- ItemPetunjuk Teknis Pembenihan Tanaman Cengkeh (Euegenia aromaticum)(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2012) Ruhnayat, Agus; Wahyudi, AgusTanaman cengkeh dapat diperbanyak dengan cara generatif dan vegetatif. keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Perbanyakan generatif lebih mudah dilakukan dengan tingkat keberhasilan yang lebih tinggi, akan tetapi benih yang dihasilkan belum tentu sama dengan sifat induknya. Perbanyakan vegetative relatif lebih sulit dan masih dalam proses penyempurnaan penelitian. Tulisan ini mengungkapkan hasil penelitian maupun studi literatur tentang petunjuk teknis pembenihan tanaman cengkeh mulai dari cara penyiapan benih, persemian, dan penanaman benih. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian telah meneliti dan memiliki berbagai informasi mengenai pembenihan tanaman cengkeh yang langsung dapat diaplikasikan oleh masyarakat.
- ItemTeknologi produksi dan pengawasan mutu rimpang benih jahe putih besar (Zingiber officinale Rosc.)(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2016-04-05) Rusmin, Devi; Sukarman, Sukarman; Wahyudi, Agus
- ItemTeknologi Unggulan Jambu Mete: Budidaya dan Pascapanen Pendukung Varietas Unggul(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2016) Hadad EA; Daras, Usman; Wahyudi, AgusKesesuaian lahan dan iklim untuk tanaman jambu mete dapat bersifat gambaran umum, yang dianjurkan sebagai dasar perencanaan yang dapat digunakan sebagai dasar operasional, dalam pengembangan/perluasan. Evaluasi kelas kesesuian lahan dan iklim dapat dilakukan secara kualitatif atau kuantitatif, tergantung dari kelengkapan data yang tersedia. Peningkatan teknologi, termasuk modal/input untuk memperbaiki faktor faktor pembatas akan dapat ditingkatkan pada batas-batas tertentu menjadi kelas kesesusian yang lebih baik. Informasi dalam kesesuaian lahan dan iklim yang dipilih yang memiliki tingkat kesesuaian agroklimat sangat sesuai sampai agak sesuai seperti lambang kesesuaian S1, S2, dan S3, tercantum dalam Tabel 1. Sedangkan untuk kesesuaian N, biasanya digunakan untuk reboisasi. Namun dengan sentuhan teknologi, seperti penjarangan, pertanaman terbuka, tidak boleh ternaungi dan ujung ranting tidak bersentuhan, maka kelas kesesuainnya meningkat menjadi S3. Informasi ini perlu diperhatikan sebagai persyaratan lingkungan tumbuh (iklim dan lahan), agar biaya pemeliharaan dapat ditekan. Pengabaian faktor tersebut, biasanya baru diketahui dan dirasakan setelah beberapa tahun kemudian. Kerugian tidak hanya dari segi biaya dan tenaga tetapi juga waktu. Pengalaman empiris menunjukkan banyak tanaman jambu mete diusahakan pada lahan marginal dengan tebal solum sangat tipis dan agak tipis (20 - 30 cm), atau penanaman di atas batuan induk yang pejal atau lapisan keras (harapan) yang sulit ditembus akar. Akibatnya, tanaman mete tumbuh merana dan rataan produksinya rendah, bahkan tidak berproduksi sama sekali meskipun umurnya telah masuk stadia produktif, seperti yang terdapat di Kayangan Lombok Barat.
- ItemTeknologi Unggulan Jambu Mete: Perbenihan dan Budidaya Pendukung Varietas Unggul(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2007-01-15) Hadad-EA, -; Daras, Usman; Wahyudi, Agus; Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan
- ItemTeknologi Unggulan Nilam: Budidaya dan Pascapanen Pendukung Varietas Unggul(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2018) Nuryani, Yang; Emmyzar; Wahyudi, AgusLahan dan iklim sangat mempengaruhi produksi dan kualitas minyak nilam, terutama ketinggian tempat dan ketersedian air. Nilam yang tumbuh di dataran rendah – sedang (0-700 m dpl) kadar minyaknya lebih tinggi dibandingkan nilam yang tumbuh di dataran tinggi (> 700 m dpl). Nilam sangat peka terhadap kekeringan, kemarau panjang setelah panen dapat menyebabkan tanaman mati. Nilam dapat tumbuh di berbagai jenis tanah (andosol, latosol, regosol, podsolik, kambisol), akan tetapi tumbuh lebih baik pada tanah yang gembur dan banyak mengandung humus. Lahan harus bebas dari penyakit terutama penyakit layu bakteri, budog, nematoda, dan penyakit yang disebabkan oleh jamur.
- ItemTeknologi Unggulan Tembakau : Budidaya Pendukung Varietas Unggul(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, 2007) Djajadi; Karmawati, Elna; Wahyudi, AgusPengembangan tembakau di Indonesia menyebar di 7 propinsi yaitu Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara Barat. Luas areal di Indonesia mencapai 225.939 ha yang terdiri atas beberapa jenis tembakau, namun yang paling luas adalah tembakau Temanggung, Madura dan Virginia. Tembakau Temanggung merupakan racikan dalam sigaret kretek berperan sebagai pemberi rasa, kandungan nikotinnya berkisar antara 3 - 7%, lebih tinggi dibandingkan tembakau yang lain. Tembakau Madura dalam racikan sebagai pemberi aroma dengan kadar nikotin 2 - 5%. Sedangkan tembakau Virginia merupakan bahan baku sigaret baik rokok kretek (30%) maupun rokok putih (70%), diolah dalam bentuk rajangan dan krosok.