Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Trustinah"

Now showing 1 - 6 of 6
Results Per Page
Sort Options
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Adopsi Varietas Unggul Kacang Hijau di Sentra Produksi
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2014-10-19) Trustinah; B.S. Radjit; N. Prasetiaswati; Didik Harnowo
    Kacang hijau dengan karakteristik berumur genjah (55-65 hari), toleran kekeringan, dan dapat ditanam pada daerah yang kurang subur, menjadikan komoditas ini potensial dikembangkan di lahan suboptimal. Peran strategis lainnya dari kacang hijau adalah komplementer dengan beras, sebab protein beras yang miskin lisin dapat diperkaya dengan kacang hijau yang kaya lisin. Dengan demikian kacang hijau berperan penting sebagai sumber protein, perbaikan gizi, dan meningkatkan pendapatan petani karena harga kacang hijau relatif lebih baik. Area panen kacang hijau di Indonesia pada tahun 2011 adalah 297.315 ha dengan produksi 341.342 ton dan produktivitas 1,15 t/ha. Sentra produksi kacang hijau tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Timur dengan total produksi mencapai 91,7% dari produksi nasional. Varietas unggul merupakan salah satu komponen teknologi yang murah, mudah diadopsi, dan aman terhadap lingkungan. Penggunaan varietas unggul kacang hijau terbukti mampu meningkatkan produktivitas kacang hijau di beberapa daerah. Jenis dan produktivitas varietas yang digunakan beragam antarsentra produksi. Tersedianya varietas unggul yang beragam memungkinkan petani memilih varietas yang sesuai untuk dikembangkan di wilayahnya. Belum semua varietas kacang hijau yang telah dilepas digunakan petani. Pemilihan varietas umumnya mempertimbangkan produktivitas, preferensi konsumen, dan harga. Di beberapa daerah, konsumen lebih menyukai kacang hijau dengan warna biji hijau kusam atau mengkilap dengan biji besar atau kecil. Varietas dengan biji kecil disukai terutama untuk bahan kecambah atau tauge. Sebagian varietas unggul kacang hijau telah diadopsi di beberapa sentra produksi. Introduksi varietas unggul baru dengan karakteristik biji yang sudah berkembang sebelumnya, sosialisasi varietas, dan ketersediaan benih pada penangkar benih lokal efektif mempercepat adopsi varietas unggul kacang hijau.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Panduan Teknis Pengenalan Varietas Unggul Kacang Tanah 1950 – 2019
    (Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2020) Joko Purnomo; Novita Nugrahaeni; Trustinah; A.A. Rahmianna
    Buku Panduan Teknis Pengenalan Varietas Unggul Kacang Tanah 1950–2019 merupakan kompilasi deskripsi varietas unggul kacang tanah yang telah dilepas oleh Kementerian Pertanian hingga tahun 2019. Buku ini disusun sebagai panduan untuk mengenali dan membedakan setiap varietas berdasarkan karakteristik morfologi dan sifat agronominya, sehingga kemurnian varietas dapat lebih terjaga. Informasi yang disajikan meliputi asal-usul dan tahun pelepasan varietas, hasil dan umur tanaman, tipe pertumbuhan, karakter batang, daun, bunga, ginofor, polong dan biji, komponen hasil, kandungan lemak dan protein, ketahanan terhadap hama dan penyakit, sifat khusus, serta informasi pemulia dan penyelenggara pemuliaan. Buku ini memuat 44 varietas unggul kacang tanah yang dilepas dalam periode 1950–2019, mulai dari varietas Gajah hingga Tasia 2. Selain menjadi sumber informasi karakteristik varietas, buku ini diharapkan dapat menjadi acuan dan standar dalam penyusunan deskripsi varietas serta membantu pemerhati kacang tanah dan pengusaha benih dalam mengenali varietas dan mempertahankan kemurnian benih.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Petunjuk Teknis Budi Daya Porang
    (Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanain, 2021) Sasmita, priatna; Mastur; Syamsyuri, prayudi; Sundari, titik; Anggara, agus wahyana; Subekti, nuning Argo; Wardana,i putu; Patriyahwati, Nia Romania; Ramadhan, Rizky Prayoga; Radianto, Haryo; Herawaty, Heny; Tabunan, Ika Roosita; Nugrahaeni, Novita; Baliadi, yuliantoro; Utomo, joko Susilo; Koenjoro,Bambang Sri; Indriani, Febria Cahya; Trustinah; Yusnawan, eriyanto; Hapsari, Tri ratri; Amanah, Amri; Mutmaidah, siti; Sutrisno; Sukmaja, Deden; Supriyati, yanti; Purmaningsih, ragapadmi; kamsiati, elmi; Widowati, sri; Soemantri, Agus Supriatna; Usmiati, Sri; Haliza,Winda; Sunarmani; Suryana, Esty Asriyana
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Petunjuk Teknis Budi Daya Porang : Teknologi Budi Daya, Produksi Benih, Perbanyakan Tanaman Secara Kultur Jaringan, dan Pascapanen
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2021) Sasmita, Priatna; Mastur; Syamsuri, Prayudi; Sundari, Titik; Anggara, Agus Wahyana; Subekti, Nuning Argo; Wardana, I Putu; Patriyawaty, Nia Romania; Ramadhan, Rizky Prayogo; Radianto, Haryo; Herawaty, Heny; Tabunan, Ika Roostika; Nugrahaeni, Novita; Baliadi, Yuliantoro; Utomo, Joko Susilo; Indriani, Febria Cahya; Trustinah; Yusnawan, Eriyanto; Hapsari, Ratri Tri; Mutmaidah, Siti; Sutrisno; Sukmaja, Deden; Supriati, Yati; Purmaningsih, Ragapadmi; Kamsiati, Elmi; Widowati, Sri; Soemantri, Agus Supriatna; Usmiati, Sri; Haliza, Winda; Sunarmani; Suryana, Esty Asriyana
    Porang (Amorphophallus muelleri Blume) merupakan komoditas pangan yang potensial dikembangkan di Indonesia karena nilai ekonomi yang dimiliki. Komoditas ini mengandung nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan sehingga prospektif dijadikan sebagai bahan baku industri pangan dan obat-obatan. Peluang ekspor dan pasar produk porang masih terbuka lebar dikaitkan dengan semakin meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap kesehatan dan pangan fungsional. Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan porang diantaranya belum tersedianya benih dalam jumlah memadai dan sebagian besar petani belum mengetahui manfaat dan teknologi budi daya dan pascapanen komoditas porang. Oleh karena itu perlu dukungan dari berbagai pihak, terutama pemerintah, untuk mengatasi permasalahan yang ada sekaligus sosialisasi pengembangan porang. Dari aspek teknis pengembangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah menghasilkan teknologi produksi benih, budi daya, panen, dan pascapanen porang melalui berbagai penelitian.
  • No Thumbnail Available
    Item
    Plasma Nutfah Kacang Tunggak: Kacang Tunggak (Vigna Unguiculata (L. Walp.) dan Potensinya di Lahan Kering Masam
    (IAARD Press, 2012-12) Trustinah; Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
    Kacang tunggak (Vigna unguiculata (L.) Walp.) umumnya ditanam petani di lahan kering sebagai sumber bahan pangan. Di Indonesia, kacang tunggak termasuk ke dalam tanaman kacang-kacangan minor. Secara alamiah kacang tunggak tergolong tanaman kacang-kacangan yang toleran terhadap kekeringan dan adaptif pada lahan kering masam. Biji kacang tunggak juga merupakan sumber protein yang baik (23,4%) dan kandungan lemak yang rendah pada biji (1,3%) memiliki arti penting pada penyimpanan dan pengolahan biji, terutama dalam mengurangi aroma dan citarasa yang tidak diinginkan. Sumber daya genetik kacang tunggak yang ada memiliki keragaman untuk hasil dan sifat lain seperti warna biji, ukuran biji, serta umur masak. Potensi hasil kacang tunggak berkisar 1,0 hingga 2,0 t/ha biji kering, tergantung varietas, lokasi, musim, dan cara budidaya. Hingga kini tersedia sembilan varietas kacang tunggak, umurnya berkisar 55-70 hari dan bertipe tegak. Pada lahan masam dengan kandungan Aluminium tinggi, hasil kacang tunggak dapat mencapai 1,43 t/ha dan dengan pengapuran dapat mencapai 1,79 t/ha. Budidaya kacang tunggak juga memberikan keuntungan dalam pencegahan erosi dan penyediaan bahan organik. Dengan telah tersedianya varietas disertai dengan cara budidaya dan manfaat kacang tunggak sebagai bahan pangan serta sifat alamiahnya yang tahan kering dan adaptif untuk lahan kering masam, maka budidaya kacang tunggak di lahan kering memiliki harapan baik.
  • No Thumbnail Available
    Item
    Toleransi Genotipe Kacang Tanah terhadap Lahan Masam
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2009) Trustinah; A. Kasno; A. Wijanarko
    Penyebaran lahan kering masam di Indonesia cukup luas yang umumnya berkadar hara rendah. Keracunan aluminium (Al) merupakan penyebab buruknya pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan genotipe kacang tanah yang toleran kemasaman tanah. Penelitian di laboratorium pemuliaan Balitkabi dilakukan pada tahun 2006 dalam dua tahap. Tahap pertama menentukan konsentrasi Al yang sesuai untuk penyaringan bahan genetik (0 ppm Al, pH netral, berikutnya konsentrasi Al 30, 40, 50, 60, dan 70 ppm masing-masing pada pH 4,0). Tahap kedua ditujukan untuk menilai toleransi genotipe kacang tanah terhadap cekaman Al. Sebanyak 225 genotipe kacang tanah dievaluasi pada tiga lingkungan: L1 (0 ppmAI, pH netral), L2 (0 ppm Al, pH 4), L3 (60 ppm Al, pH 4), dan dilakukan pewarnaan akar dengan menggunakan hematoxilin. Sebanyak 50 genotipe hasil penelitian di laboratorium diuji pada lahan masam di lapang. Penelitian lapang dilakukan pada MK 2007 di lahan masam Jasinga (Bogor) dengan kandungan Al tinggi di dua lingkungan, E1 (lingkungan masam) dan E2 (lingkungan masam dengan penambahan kapur). Rancangan percobaan acak kelompok dengan dua ulangan. Perlakuan adalah 50 genotipe hasil pengujian di laboratorium. Indeks toleransi cekaman (ITC) atau Stress tolerance index (STI) digunakan sebagai tolok ukur penilaian toleransi suatu genotipe. Genotipe kacang tanah yang diuji menunjukkan keragaman dan perbedaan toleransi terhadap cekaman aluminium pada stadia perkecambahan. Pemberian larutan Al 60-70 ppm menurunkan panjang akar dan bobot kering akar perkecambahan kacang tanah. Dari 225 genotipe yang dievaluasi pada pH4 dan Al 60 ppm tidak terdapat genotipe yang akarnya benar-benar bebas dari penetrasi aluminium dengan skor pewarnaan berkisar antara 3,05-4,45. Dengan menggunakan indeks toleransi cekaman untuk panjang akar dan bobot akar, terpilih 50 genotipe kacang tanah yang toleran cekaman Al pada stadia kecambah. Sebanyak 50 genotipe yang diuji menunjukkan keragaman pada hasil dan terdapat interaksi antara genotipe dengan lingkungan. Hasil polong pada lingkungan E1 (masam, pH tanah 4,4, dan kejenuhan Al 91,5%) dan E2 (pemberian dolomit 2 t/ha, pH tanah 5,4, kejenuhan Al 61,1%) masing-masing adalah 1,27 dan 1,44 t/ha. Terdapat dua genotipe yang konsisten memiliki nilai indeks toleransi cekaman dan hasil tertinggi pada lingkungan masam (E1 dan E2), yaitu MLGA 0297 dan MLGA 0112 dengan hasil 2,11-2,21 t/ha.

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback