Browsing by Author "Trip Alihamsyah"
Now showing 1 - 10 of 10
Results Per Page
Sort Options
- ItemKarakterisasi Wilayah dan Perancanqan Model Pengembangan(Balittra, 2005) Trip AlihamsyahKarakterisasi Wi/ayah. Sebagai langkah awal yang merupakan tahapan penting dalam pengembangan lahan lebak, kegiatan identifikasi dan karakterisasi wilayah perlu dilakukan secara rinci terhadap kondisi biofisik lahan, sistem usahatani, komoditas potensial, kelembagaan serta sarana dan prasarana penunjang yang ada, sosial ekonomi petani termasuk persepsi petani dan prospek pemasaran komoditas pertanian. Hasil identifikasi dan karakterisasi wilayah ini digunakan sebagai bahan perancangan model pengembangan lahan lebak, yang mencakup : arahan pemanfaatan lahan dan sistem usahatani serta pengembangan prasarana dan kelembagaan penunjangnya. Karakterisasi lahan yang kegiatannya mencakup: pemetaan tanah dan pola (lama dan kedalaman) genangan air atau hidro-topografi ditujukan untuk menyusun kembali model penataan lahan danjaringan tata air maupun pola tanam dan pemilihan komoditas serta teknologi budidayanya. Karakterisasi sosial ekonomi petani serta kelembagaan dan prasarana penunjang digunakan untuk memilih komoditas dan model usahatani serta meningkatkan prasarana pertanian dan kelembagaan yang lebih sesuai termasuk pola peningkatan kapasitas petani
- ItemKomoditas Pertanian yang Bisa Dikembangkan(Balittra, 2005) Trip AlihamsyahPengalaman dan hasil observasi di berbagai lokasi lahan lebak menunjukkan bahwa melalui penataan lahan dan pengaturan tata air, berbagai komoditas pertanian, meliputi tanaman pangan (padi dan palawija) dan hortikultura (sayur-sayuran dan buah-buahan) serta ternak dan ikan dapat dikembangkan di lahan lebak. Sedangkan pemilihan jenis dan varietasnya disesuaikan dengan preferensi petaninya atau prospek pemasarannya
- ItemMEKANISASI PERTANIAN(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014-12-25) Sudirman Umar; Trip AlihamsyahLahan rawa pasang surut memiliki potensi cukup besar sebagai sumber pertumbuhan produksi padi nasional. Namun berbeda dengan agroekosistem lahan basah lainnya, seperti sawah irigasi atau tadah hujan, pengembangan budi daya di lahan pasang surut, khususnya dalam aspek mekanisasi pertanian menghadapi berbagai kendala baik teknis, sosial ekonomi, maupun budaya sehingga memerlukan penyesuaian baik bentuk alat dan mesin yang sesuai maupun cara operasionalnya di lapangan. Buku ini merupakan rangkuman hasil penelitian dan pengalaman dalam aspek mekanisasi pertanian di lahan rawa pasang surut yang menunjukkan bahwa penggunaan alsintan telah mampu berperan bukan hanya untuk peningkatan produktivitas dan efisiensi usahatani, tetapi juga dapat menekan kehilangan hasil dan memperbaiki mutu hasil sekaligus meningkatkan nilai tambah. Buku ini mengemukakan mekanisasi pertanian melalui penerapan alat dan mesin pertanian dalam budidaya dan pengolahan hasil padi di lahan rawa pasang surut yang disusun dalam dua belas bab. Bab I, pendahuluan yang mengemukakan perspektif lahan rawa dan pengertian mekanisasi pertanian. Bab II mengemukakan potensi dan prospek pengembangan lahan rawa pasang surut. Bab III membahas tentang mekanisasi pertanian di lahan rawa pasang surut termasuk peluang pengembangan mekanisasi pertanian, kesesuaian lahan untuk pengembangan alat dan mesin pertanian, peran alsintan dalam pertanian dan teknologi, jenis dan fungsi alsintan untuk pertanian. Bab IV mengemukakan mekanisasi yang terkait dengan budidaya padi yang meliputi pengolahan tanah yang didahului dengan penyiapan lahan, pembersihan lahan termasuk sistem tajak puntal balik ampar (tapulikampar) yang merupakan salah satu kearifan lokal petani dalam mekanisasi pertanian di lahan rawa. Bab V menyajikan penggunaan alat dan mesin pertanian terkait dengan sistem tanam meliputi sistem tanam pindah, benih sebar langsung (tabela), alat tanam benih langsung (atabela) tipe drum, alat tanam dalam lajur/drill seeder (atabela larik), alat tanam benih langsung bermesin. Selain itu juga membahas tentang mesin tanam bibit padi (paddy transplanter), term asuk alat tanam bibit padi manual, alat tanam bibit padi walking type mesin tanam bibit padi tipe "Jajar Legowo" dan mesin tanam bibit padi "Indo Jarwo Transplanter". Bab selanjutnya menguraikan panen dan mesin panen: antara lain alat panen dan cara panen seperti penggunaan alat panen ani-ani, alat panen arit dan cara penggunaan mesin panen seperti mesin panen sabit (mower), mesin panen reaper: serta mesin panen stripper. Sedangkan alat dan mesin pascapanen antara lain perontok mesin (power thresher), pembersih (winnower) dan alat pengeringan (bed dryer). Selanjutnya bab pembersihan dan pengeringan, antara lain pembersihan dengan cara tradisional yaitu ditampi menggunakan nyiru, diayak dengan menggunakan saringan dan pembersihan dengan hembusan angin. Pembersihan gabah menggunakan pedal winnower (gumbaan) dan pembersih gabah bermesin (seed cleaner). Bab selanjutnya membahas pengeringan antara lain, pengeringan alami (penjemuran) dan pengeringan buatan seperti mesin pengering tipe bak datar (jiat bed dyer). Bab berikut membahas penggilingan antara lain mesin pemecah kulit gabah (paddy husker), mesin pemutihlpenyosoh (polisher) dan rice milling unit (RMU). Bab terakhir membahas penyimpanan, antara lain cara penyimpanan gabah/beras termasuk penyimpanan secara tradisional, penyimpanan dalam kemasanikarung, salah satu penyimpanan dalam wadah tertutup. Buku ini dapat digunakan sebagai acuan mengembangkan mekanisasi pertanian di lahan pasang surut sehingga dapat dimanfaatkan oleh para peneliti, penyuluh, civitas akademika dan litkayasa. Buku sejenis ini masih terbatas untuk khalayak umum yang disajikan secara populer ilmiah sehingga diharapkan dengan diterbitkannya buku ini dapat menambah khasanah buku tentang mekanisasi pertanian atau alsintan, khususnya terkait dengan pertanian lahan rawa pasang surut. Ucapan terima kasih terutama disampaikan kepada Kepala Badan Litbang Pertanian, Kepala Balai Besar Sumber Daya Lahan Pertanian dan Kepala Balittra. Secara khusus terima kasih disampaikan kepada Prof. Dr. Ir. Bambang Purwantana, M.Agr. selaku Guru Besar Fakultas Teknik Pertanian pada Universitas Gajah Mada Yogyakarta sebagai nara sumber. Selanjutnya kepada para penyelaras Balittra, antara lain: Dr. Ir. Muhammad Noor, MS.; Dr. Ir. Mukhlis, M.Sc; Dr. Ir. Muhammad Alwi, MS., dan Dr. Ir. Izhar Khairullah, MP. serta Ir. Muhammad Tharnrin yang melakukan penyelarasan isi, bahasa, dan sistematika. Selain itu ucapan terima kasih kepada Kasub Pelayanan Jasa Penelitian dan staf yang mengatur untuk terbitnya buku ini. Harapan kami, semoga buku ini dapat bermanfaat untuk pengembangan mekanisasi pertanian di lahan rawa pasang surut di masa depan.
- ItemPelaksanaan Pengembangan(Balittra, 2005) Trip AlihamsyahApresiasi dan sosialisasi pengembangan lahan lebak termasuk pembuatan area percontohan perlu dilakukan dengan sebaik mungkin kepada berbagai pihak yang terlibat pada berbagai tingkatan, yaitu tingkat propinsi, kabupaten, kecamatan, desa dan kelompok tani. Tujuan utama kegiatan ini adalah memberikan pemahaman dan menyamakan persepsi mengenai kegiatan tersebut dengan segala aspek yang terkait, mulai dari perencanaan sampai kepada pelaksanaan di lapangan serta manfaat dan dampak dari kegiatan tersebut terutama terhadap peningkatan produksi pertanian dan kesejahteraan masyarakat serta kelestarian sumberdaya alam. Metode yang digunakan pada kegiatan apresiasi dan sosialisasi adalah penjelasan dan diskusi langsung mengenai kegiatan tersebut dengan berbagai pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan pengembangan lahan lebak terutama aparat dan petani/kelompok tani.
- ItemPengelompokan dan Karakteristik Lahan(Balittra, 2005) Trip AlihamsyahLahan rawa lebak adalah lahan yang pada periode tertentu (minimal satu bulan) tergenang air dan rejim airnya dipengaruhi oleh hujan, baik yang turun setempat maupun di daerah sekitarnya. Berdasarkan tinggi dan lama genangan airnya, lahan rawa lebak dikelompokkan menjadi lebak dangkal, lebak tengahan dan lebak dalam. Lahan lebak dangkal adalah lahan lebak yang tinggi genangan airnya kurang dari 50 em selama kurang dari 3 bulan. Lahan lebak tengahan adalah lahan lebak yang tinggi genangan airnya 50-100 em selama 3-6 bulan. Lahan lebak dalam adalah lahan lebak yang tinggi genangan airnya lebih dari 100emselama lebih dari 6bulan.
- ItemPengembangan Lahan Rawa Lebak untuk Usaha Pertanian(Balittra, 2005) Trip AlihamsyahLahan rawa lebak yang selama ini dianggap lahan marjinal ternyata memiliki potensi dan prospek pengembangan yang besar bagi pembangunan Pertanian bila dikelola dengan menerapkan teknologi pengelolaan lahan dan komoditas secara tepat. Potensi dan teknologi ini pengelolaan lahan lebak ini perlu diinformasikan kepada masyarakat terutama para pelaku agribisnis, petani, penyuluh, peneliti dan pengambil kebijakan agar bisa dimanfaatkan untuk mendukung percepatan dan keberhasilan pengembangan lahan lebak untuk usaha Pertanian. Publikasi ini merupakan rangkuman hasil analisis dan sintesis dari berbagai pengalaman serta hasil peneletian dan pengembangan lahan lebak untuk usaha Pertanian diberbagai lokasi lahan lebak Kalimantan dan Sumatera. Tujuannya adalah untuk memberikan informasi dan masukan serta acuan kepada masyarakat terutama pengambil kebijakan, penyuluh dan petani serta pengusaha agribisnis dalam rangka menunjang keberhasilan pengembangan lahan lebak untuk usaha Pertanian secara berkelanjutan. Kepada para pembaca dan khalayak pengguna, kami mengharapkan masukan dan saran guna penyempurnaan publikasi ini pada masa yang akan datang. Harapan kami adalah publikasi ini bermanfaat bagi pihak-pihak yang terkait dengan kegiatan penelitian dan pengembangan lahan lebak untuk usaha Pertanian. Selanjutnya kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada pihak yang terlibat dalam penerbitan dan penyebaran publikasi ini.
- ItemPengembangan Pertanian Presisi Solusi dan Jawaban Pembangunan Pertanian Ke Depan(Pertanian Press, ) Andi Amran Sulaiman; Ali Jamil; Abd Haris Bahrun; Trip Alihamsyah; Kuntoro Boga Andri; Muhammad Arsyad; Hermanto
- ItemPotensi dan Masalah Pengembangan(Balittra, 2005) Trip AlihamsyahLuas lahan lebak di Indonesia diperkirakan mencapai 13,28 juta ha yang terdiri atas lebak dangkal 4,167 juta ha, lebak tengahan 6,075 juta ha, dan lebak dalam 3,038 juta ha (Gambar 1). Lahan lebak yang berpotensi untuk areal pertanian diperkirakan seluas 10,19 juta ha tetapi yang dibuka baru seluas 1,55 juta ha sedangkan yang dimanfatkan untuk pertanian sekitar 0,729 juta ha. Lahan tersebut umumnya berada di Sumatera, Kalimantan dan Papua. Dari lahan yang telah dimanfaatkan tersebut, yang ditanami padi hanya sekitar 694.291 ha dan yang ditanami padi 2 kali setahun baru sekitar 62.844 ha
- ItemPROSPEK PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN LAHAN PASANG SURUT DALAM PERSPEKTIF EKSPLORASI SUMBER PERTUMBUHAN PERTANIAN MASA DEPAN(Balittra, 2001-11) Trip AlihamsyahLahan pasang surut yang luasnya di Indonesia diperkirakan 20,1 juta hektar memiliki potensi dun prospek yang besar untuk pengembangan areal produksi pertanian kedepan guna niendukung peningkatan ketahanan pangan, diversifikasi produksi doh pengembangan agroindustri, serta pengembahgpn agribisnis dan lapangan kerja. Namun demikian karena sifat lahannya marginal dan lapuh serta kondisi fisiografinya. pengembangan lahanpasang surut untuk pertanian menghadapi berbagai masalah dan kendala yang komplit menyangkut aspek fisiko-kimia lahan dan biologis maupun kendala sosial ekouomi dan kelembagaan. Masalah fisiko-kimia lahan mencakup dinamika genangan air dan kondisi fisik lahan, tingginya kemasaman tanah dan asam organik. adanya zat beracun dan intrusi air garam, serta rendahnva kesuburan alami tanahnya. Sedangkan masalah biologis meliputi tingginya serangom beragam hama dan penyakit serta infestasi gulma. Kendala sosial ekonomi menyangkut kondisi sosial ekonomi masyarakatnya serta kelembagaan penunjang dan aksesibilitas wilayahnya. Berdasarkan masalah tersebut dan kepraktisan untuk pengembangannya. lahan pasang surut dikelompokkan meniadi empat tipologi utama, yaitu lahan potensial, lahan sulfal masam, lahan gambut dan lahan salin dengan empat tipelogi luapan air. yaitu A. B. C dan D. Oleh karena itu, untuk keberlanjutan pengembangan pertaniannya, perlu dilakukan karakterisasi mengenai tipologi lahan dan tipe luapan air serta karakteristiknya. Reklamasi dan pola pemanfaatan lahannya disesuaikan dengan kondisi lahan tersebut dan tujuan pengembangan pertaniannya dengan mengacu kepada hasil-hasil penelitian. Selain itu, perlu didukung oleh kemampuan sumberdaya manusia dan rekayasa atau peningkatan kelembagaan penunjang yang efektif dau efisien khususnya kelompok tani. penyuluhan serta penyedia sarana produksi dan pemasaran hasil.
- ItemTeknologi Budidaya(Balittra, 2005) Trip AlihamsyahTeknologi budidaya tanaman meliputi : penyiapan lahan, penyemaian, penanaman, ameliorasi, pemupukan, periindungan tanaman, pengelolaan air, panen dan pasca panen. Teknologi budidaya yang diterapkan pada setiap lokasi pengembangan lahan lebak adalah bersifat spesifik lokasi dan ditentukan oleh terutama karakteristik biofisik lahan dan kondisi sosial ekonomi petaninya.