Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "T. Purwadaria"

Now showing 1 - 2 of 2
Results Per Page
Sort Options
  • No Thumbnail Available
    Item
    Pemanfatan Kunyit dan Temulawak sebagai Imbuhan Pakan untuk Ayam Broiler
    (Balai Penelitian Ternak, 2009) Arnold P. Sinurat; T. Purwadaria; I.A.K. Bintang; P.P. Ketaren; N. Bermawie; M. Raharjo; M. Rizal
    Salah satu aspek yang sudah mulai diteliti untuk menggantikan antibiotika sebagai imbuhan pakan adalah bioaktif tanaman. Kunyit dan temulawak, merupakan tanaman yang banyak digunakan dalam kehidupan manusia dan diketahui mempunyai zat berkhasiat yang juga dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan kapang. Oleh karena itu, dilakukan penelitian terhadap kemungkinan penggunaan kunyit dan temulawak sebagai imbuhan pakan pengganti antibiotika dalam ransum unggas. Tepung kunyit dan temulawak dianalisis kadar zat aktifnya sebelum digunakan, kemudian dicampurkan kedalam ransum standard yang disusun untuk ayam broiler dengan berbagai dosis. Dosis yang dicobakan didasarkan pada kandungan zat aktif yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri dan fungi, yaitu temulawak dan kunyit masing-masing dengan dosis rendah, sedang dan tinggi, serta kombinasi kunyit dosis rendah + temulawak dosis tinggi dan kunyit dosis sedang dan temulawak dosis sedang. Ransum kontrol tanpa imbuhan dan yang ditambahkan antibiotika juga dibuat sebagai pembanding. Ransum diberikan pada ayam broiler umur 1 hingga 35 hari, dengan tiap perlakuan terdiri dari 6 ulangan dan tiap ulangan terdiri dari 15 ekor. Hasil menunjukkan bahwa pemberian imbuhan pakan berupa antibiotik, tepung kunyit, tepung temulawak maupun campuran kunyit dan temulawak tidak nyata (P>0,05) menyebabkan perubahan terhadap pertumbuhan, efisiensi pengunaan pakan, mortalitas, daya cerna zat gizi pakan dan persentase karkas ayam broiler.
  • No Thumbnail Available
    Item
    Peningkatan Nilai Gizi Solid Heavy Phase sebagai Pengganti Jagung dalam Pakan Unggas
    (Balai Penelitian Ternak, 2009) Tiurma Pasaribu; A.P. Sinurat; T. Purwadaria; P. Ketaren
    Solid heavy phase (SHP) hasil penyaringan limbah cair industri sawit merupakan bahan yang berpotensi untuk mengganti sebagian jagung dalam pakan unggas. Penelitian dilakukan untuk meningkatkan nilai gizi SHP melalui suplementasi enzim dengan tujuan agar proporsi substitusi jagung dengan SHP dalam ransum unggas lebih banyak. Tiga jenis enzim diuji yaitu: enzim produksi Balitnak (BS4), enzim komersil (enzim tunggal mananase), dan multienzim komesil. Ketiga jenis enzim ditambahkan kedalam SHP dengan berbagai dosis, untuk mengetahui pengaruhnya terhadap daya cerna bahan kering, energi (ME) dan protein. Kemudian dilakukan uji biologis pada ayam petelur untuk mengetahui pengaruh substitusi 25 dan 50% jagung dengan SHP kering yang belum atau sudah ditambah enzim dalam ransum. Disamping itu juga dilakukan uji manfaat penambahan asam amino lisin dan metionin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan enzim dapat meningkatkan energi metabolis solid heavy phase (SHP). Enzim BS4 dan multienzim juga meningkatkan kecernaan protein SHP, sedangkan enzim tunggal komersil hanya meningkatkan energi metabolis. Dosis optimum penambahan enzim adalah 13,3 ml BS4, 2 g enzim tunggal dan 3 g multienzim untuk tiap kg bahan kering SHP. Substitusi 25% jagung dalam ransum ayam petelur dengan SHP kering maupun SHP yang sudah ditambahkan enzim tidak menyebabkan penurunan dalam performan (produksi telur dan FCR) ayam petelur. Substitusi 50% jagung dengan SHP + multienzim komersil atau SHP + enzim tunggal komersil menyebabkan penurunan dalam performan ayam petelur. Penambahan asam amino dapat mengembalikan performa ayam petelur yang diberi SHP + multienzim komersil, tetapi tidak pada SHP + enzim tunggal komersil. Substitusi 50% jagung dengan SHP + enzim produksi Balitnak (BS4) tidak menyebabkan penurunan dalam performan ayam petelur, sehingga tidak diperlukan penambahan asam amino. Substitusi jagung dengan SHP tidak menyebabkan penurunan kualitas telur (HU, warna kuning telur dan tebal kerabang). Dengan demikian disimpulkan bahwa SHP dapat menggantikan 25 hingga 50% jagung dalam ransum ayam petelur, terutama bila SHP ditambah enzim BS4 dapat menggantikan 50% menunjukkan produksi yang sama dengan kontrol.

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback