Browsing by Author "Suratmini, Putu"
Now showing 1 - 5 of 5
Results Per Page
Sort Options
- ItemPenampilan Tiga Varietas Unggul Baru Pada Dua Ketinggian Tempat Berbeda Performance of Three High-Yielding Varieties in Two Different Altitudes(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2017) I.B.G. Suryawan; Suratmini, Putu; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)Performa tiga Varietas Unggul Baru (VUB) Inpari pada dua lokasi berbeda di Bali dilakukukan untuk mengetahui keragaan pertumbuhan dan produksi dari masing-masing VUB serta preferensi hama utama terhadap ketiga VUB tersebut. Kegiatan ini dilakukan di dua lokasi berbeda, yaitu di Desa Tunjuk, Kabupaten Tabanan dengan ketinggian 312 m dpl dan di Desa Medahan, Kabupaten Gianyar dengan ketinggian 81 m dpl. Pada kegiatan ini dikaji tiga VUB, yaitu Inpari-7, Inpari-8, dan Inpari-9 dengan menerapkan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) secara penuh. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 5 ulangan. Parameter yang diamati meliputi (1) komponen pertumbuhan, populasi serangga utama atau yang dominan, (3) komponen hasil, dan (4) hasil (GKP). Hasil kajian menunjukkan bahwa berdasarkan tinggi tanaman, nampaknya varietas Inpari-7 yang terpendek dan Inpari-9 tertinggi di kedua lokasi, sedangkan ketiga VUB tumbuhnya lebih tinggi pada lokasi yang lebih tinggi dari permukaan laut. Jumlah malai ketiga VUB di kedua lokasi rata-rata sekitar 25 helai, tetapi jumlah biji per malai terbanyak dihasilkan oleh Inpari-9. Biji hampa paling banyak pada Inpari-9 dan terendah pada Inpari-7. Persentase biji hampa pada Inpari-9 mencapai 30% lebih dan berbeda sangat nyata dengan kedua varietas lainnya. Produksi gabah tertinggi dicapai oleh Inpari-7 sebesar 8,09 t/ha GKP di Gianyar dan 7,32 t/ha di Tabanan diikuti oleh Inpari-8 sebesar 7,09 t/ha GKP (Gianyar) dan 7,02 t/ha GKP (Tabanan) serta Inpari-9 sebesar 6,86 t/ha GKP (Gianyar) dan 6,64 t/ha GKP (Tabanan). Hama yang dominan adalah wereng hijau dan walang sangit dan kedua hama tersebut lebih menyukai Inpari-7 dibanding varietas lainnya. Diantara ketiga VUB yang dikaji, Inpari-7 memiliki peluang terbesar untuk dikembangkan di kedua lokasi di Bali.
- ItemPengaruh Sistem Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Inpari 20 dan Inpari 24 di Subak Gantalan II, Karangasem Bali(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2017) Suratmini, Putu; I.B.G. Suryawan; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)Varietas unggul merupakan salah satu teknologi inovatif yang handal untuk meningkatkan produksi padi, baik melalui peningkatan potensi atau daya tahan terhadap cekaman abiotik dan biotic. Varietas unggul sebagai salah satu komponen produksi telah memberikan sumbangan sebesar 56% di dalam peningkatan produksi. Pengkajian dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh sistem tanam terhadap pertumbuhan dan produksi varietas unggul baru padi sawah yaitu Inpari 20 dan Inpari 24 sudah dilaksanakan di Subak Gantalan II. Desa Bebandem, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali tahun 2014. Pengkajian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dan 8 petani kooperator sebagai ulangan. Faktor I adalah Varietas Unggul Baru (VUB) yaitu: Inpari 20, Inpari 24 Gabusan,serta Varietas Cigeulis sebagai pembanding. Sedangkan faktor II adalah sistem tanam yaitu: 1)sistem tanam legowo 2:1 (20 x12,5 x 40) dan 2) sistem tanam tegel (20 x 20)(cara petani). Penanaman dilakukan dengan inovasi teknologi PTT seperti: tanam bibit muda (umur 13-15 hss), tanam 1-3 bibit/lubang, pemupukan dengan urea dan ponska masing – masing 200 kg/ ha, pengairan berselang dan pengelolaan hama penyakit secara terpadu. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa dibandingkan dengan Varietas Cigeulis, hasil gabah kering giling (GKG t/ha) Varietas Inpari 24 lebih tinggi 18.03%, sedangkan Inpari 20 lebih rendah 19.92%. Sistem tanam legowo 2:1 memberikan hasil gabah kering panen lebih tinggi 19.7% dibandingkan sistem tanam tegel
- ItemPengaruh Sistem Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Inpari 20 dan Inpari 24 di Subak Gantalan II, Karangasem Bali(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2017-12-01) Suratmini, Putu; I.B.G. SuryawanAbstrak Varietas unggul merupakan salah satu teknologi inovatif yang handal untuk meningkatkan produksi padi, baik melalui peningkatan potensi atau daya tahan terhadap cekaman abiotik dan biotic. Varietas unggul sebagai salah satu komponen produksi telah memberikan sumbangan sebesar 56% di dalam peningkatan produksi. Pengkajian dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh sistem tanam terhadap pertumbuhan dan produksi varietas unggul baru padi sawah yaitu Inpari 20 dan Inpari 24 sudah dilaksanakan di Subak Gantalan II. Desa Bebandem, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali tahun 2014. Pengkajian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dan 8 petani kooperator sebagai ulangan. Faktor I adalah Varietas Unggul Baru (VUB) yaitu: Inpari Inpari 20, Inpari 24 Gabusan,serta Varietas Cigeulis sebagai pembanding. Sedangkan faktor II adalah sistem tanam yaitu : 1)sistem tanam legowo 2:1 (20 x 12,5 x 40) dan 2) sistem tanam tegel (20 x 20)(cara petani). Penanaman dilakukan dengan inovasi teknologi PTT seperti : tanam bibit muda (umur 13-15 hss), tanam 1-3 bibit/lubang, pemupukan dengan urea dan ponska masing – masing 200 kg/ ha, pengairan berselang dan pengelolaan hama penyakit secara terpadu. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa dibandingkan dengan Varietas Cigeulis, hasil gabah kering giling (GKG t/ha) Varietas Inpari 24 lebih tinggi 18.03%, sedangkan Inpari 20 lebih rendah 19.92%. Sistem tanam legowo 2:1 memberikan hasil gabah kering panen lebih tinggi 19.7% dibandingkan system tanam tegel Abstract High yielding varieties is one reliable innovative technology to improve rice production, either through increased yield potential or resistance to abiotic and biotic stresses. High yielding varieties as one of the components production has contributed 56% to increase production. Assessment in order to determine the effect of planting systems on the growth and production of new high yielding varieties of paddy rice : Inpari 20 and 24 have been implemented at Subak Gantalan II, Bebandem Village, Bebandem District, Karangasem Regency, Bali Province in 2014. Assessment using Randomized Block Design (RBD) with factorial pattern and eight farmer cooperators as replication. For the first factor is New High Yielding Varieties : Inpari 20 and Inpari 24, and Cigeulis variety for controled. For second factor is cropping systems : 1) 2:1 pair-row planting sistem (legowo 2: 1 (20 x 12.5 x 40) and 2) square planting system (20 cm x 20 cm ) (farmer’s way). Planting is done by IPM(Integrated Plant Management) technological innovations such as: planting young seedlings (age 13-15 HSS), planting 1-3 seeds / hole, fertilizing with urea and ponska each 200 kg / ha, intermittent irrigation and integrated pest management. The result showed that compared to Cigeulis variety, dry grain yield of Inpari 24, 18.03% higher, while the Inpari 20 lower 19.92% than Cigeulis. Dry grain yield of 2:1 pair-row planting system (legowo2:1) was 19.7% higher compared to square planting system (the farmer’s way).
- ItemTampilan Beberapa Varietas Unggul Baru Padi Di Subak Dlod Sema Mendukung Kedaulatan Pangan Di Bali(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2017) I.B.K. Suastika; I.B. Aribawa; Suratmini, Putu; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)Salah satu komponen teknologi dasar dalam Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah adalah penggunaan varietas padi unggul atau varietas padi berdaya hasil tinggi dan bernilai ekonomi tinggi. Peningkatan produktivitas dapat dicapai melalui penggunaan varietas unggul dan ditunjang dengan penggunaan benih bermutu. Kajian untuk mengetahui keragaan pertumbuhan dan hasil beberapa varietas unggul baru (VUB) inbrida sawah irigasi telah dilakukan di Subak Dlod Sema, Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali pada MH tahun 2016. Tujuan dari kajian ini adalah mengetahui tampilan dan potensi hasil dari beberapa VUB inbrida sawah irigasi. Kajian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan tujuh perlakuan VUB dan diulang lima kali. Perlakuan VUB terdiri atas Inpari 20; Inpari 24 Gabusan; Inpari 28 Kerinci; Inpari Blas, Inpari HDB serta varietas Ciherang dan Cigeulis sebagai pembanding. Variabel tanaman yang diamati antara lain tinggi tanaman, jumlah anakan, panjang malai, jumlah gabah isi dan hampa per malai, bobot 1000 butir gabah dan hasil gabah padi. Hasil analisis ragam menunjukkan varietas padi memberikan pengaruh yang nyata pada peubah tinggi tanaman, jumlah anakan/rumpun, jumlah gabah isi, bobot 1000 butir gabah dan hasil. Hasil kajian menunjukkan bahwa varietas Inpari 24 Gabusan, Inpari 28 Kerinci, Inpari Blas berpotensi untuk dikembangkan sebagai pengganti varietas Ciherang dan Cigeulis. Jumlah anakan produktif per rumpun dan jumlah gabah isi per malai ketiga VUB tersebut tidak berbeda nyata dibanding dengan varietas Ciherang dan Cigeulis. Ketiga VUB tersebut mampu menghasilkan hasil GKP yang tinggi, masing-masing sebesar 6,0 ton GKP/ha, 6,0 ton GKP/ha, 6,0 ton GKP/ha. Hasil tersebut tidak berbeda nyata dibanding dengan varietas Ciherang dan Cigeulis yan masing-masing menghasilkan gabah sebesar 6,3 ton GKP/ha dan 6,4 ton GKP/ha.
- ItemTampilan Beberapa Varietas Unggul Baru Padi di Subak Dlod Sema Mendukung Kedaulatan Pangan di Bali(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2017-12-01) I.B.K. Suastika; I.B. Aribawa; Suratmini, PutuAbstrak Salah satu komponen teknologi dasar dalam Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah adalah penggunaan varietas padi unggul atau varietas padi berdaya hasil tinggi dan bernilai ekonomi tinggi. Peningkatan produktivitas dapat dicapai melalui penggunaan varietas unggul dan ditunjang dengan penggunaan benih bermutu. Kajian untuk mengetahui keragaan pertumbuhan dan hasil beberapa varietas unggul baru (VUB) inbrida sawah irigasi telah dilakukan di Subak Dlod Sema, Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali pada MH tahun 2016. Tujuan dari kajian ini adalah mengetahui tampilan dan potensi hasil dari beberapa VUB inbrida sawah irigasi. Kajian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan tujuh perlakuan VUB dan diulang lima kali. Perlakuan VUB terdiri atas Inpari 20; Inpari 24 Gabusan; Inpari 28 Kerinci; Inpari Blas, Inpari HDB serta varietas Ciherang dan Cigeulis sebagai pembanding. Variabel tanaman yang diamati antara lain tinggi tanaman, jumlah anakan, panjang malai, jumlah gabah isi dan hampa per malai, bobot 1000 butir gabah dan hasil gabah padi. Hasil analisis ragam menunjukkan varietas padi memberikan pengaruh yang nyata pada peubah tinggi tanaman, jumlah anakan/rumpun, jumlah gabah isi, bobot 1000 butir gabah dan hasil. Hasil kajian menunjukkan bahwa varietas Inpari 24 Gabusan, Inpari 28 Kerinci, Inpari Blas berpotensi untuk dikembangkan sebagai pengganti varietas Ciherang dan Cigeulis. Jumlah anakan produktif per rumpun dan jumlah gabah isi per malai ketiga VUB tersebut tidak berbeda nyata dibanding dengan varietas Ciherang dan Cigeulis. Ketiga VUB tersebut mampu menghasilkan hasil GKP yang tinggi, masing-masing sebesar 6,0 ton GKP/ha, 6,0 ton GKP/ha, 6,0 ton GKP/ha. Hasil tersebut tidak berbeda nyata dibanding dengan varietas Ciherang dan Cigeulis yang masing-masing menghasilkan gabah sebesar 6,3 ton GKP/ha dan 6,4 ton GKP/ha. Abstract High-yielding rice varieties with a high economic value is important component of the Integrated Crop Management (ICM) practices. A study to determine the performance of growth and yield of several new varieties (VUB) for irrigated area has been done in Subak Dlod Sema, Village Sading, Mengwi, Badung, Bali during the wet season of 2016. The purpose of this study was to determine the yield potential of some of improved varieties for irrigated areas The study was arranged inrandomized block design consisted of seven treatment (varieties) withfive replications. The rice varieties included Inpari 20; Inpari 24 Gabusan; Inpari 28 Kerinci; Inpari Blas, Inpari HDB, Ciherang and Cigeulis. Observations were done for plant height, number of tillers, panicle length, number of grains per panicle the weight of 1000 seeds and grain yield. Result showed that rice varieties have significant effect on plant height, number of tillers per hill, number of filled grain, weight of 1000 grains, and grain yields. The results showed that Inpari 24 Gabusan, Inpari 28 Kerinci, Inpari Blas has the potential to be disseminated as a replacement of Ciherang and Cigeulis. The three new improved varieties yielded 6,0 ton/ha, 6,0 ton/ha, 6,0/ha, respectively, whiel Ciherang and Cigeulis produced grain yield of 6,3 ton/ha and 6,4 ton/ha, respectively.