Browsing by Author "Sumanto"
Now showing 1 - 16 of 16
Results Per Page
Sort Options
- ItemBIOMASSA TANAMAN PERKEBUNAN Fisik dan Proksimat serta Konversi Bio dan Termal Biomassa untuk Bioenergi(IAARD Press, 2018) Andi Amran Sulaiman; Muhammad Syakir; Fadjry Djufry; Haris Syahbuddin; Sumanto; Bambang Purwantana; Nur Richana; Bambang PrastowoBiomassa tanaman adalah semua bagian tanaman dari akar sampai pucuk daun. Dinamika dan perkembangan kebutuhan manusia dan perubahan global kondisi dunia menyebabkan kebutuhan atas pangan dan energy menjadi semakin meningkat. Seiring dengan makin terbatasnya sumberdaya, manusia akhirnya kembali memanfaatkan salah satu kekayaan awal kehidupan yaitu biomassa terutama yang berasal dari pertanian dan khususnya tanaman perkebunan yang dinilai cukup melimpah dan sangat potenial. Kebutuhan atas pangan dan energy apabila tidak diperhitungkan secara seksama maka akan menimbulkan ketidak-imbangan lingkungan. Oleh karena itu biomassa pertanian khususnya biomassa perkebunan sudah harus dihitung dengan seksama ketersediaannya, jenis maupun kualitasnya, sehingga degan mudah diketahui cara pemanfaatan yang aman ke depannya.
- ItemDeskripsi Varietas Unggul Padi(BPTP Kalimantan Selatan, 2007-12) Amali, Noor; Sumanto; Noor, Aidi; BPTP Kalimantan Selatan
- ItemDeskripsi Varietas Unggul Padi(BPTP Kalsel, 2007) Amali, Noor; Sumanto; Noor, Aidi; BPTP Kalsel
- ItemEvaluasi Kinerja Pendampingan PTT Padi Di Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2017) Ningsih, Rina D.; Sumanto; Aulia D.; Rohaeni, Eni S.; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan inovasi untuk memecahkan berbagai permasalahan dalam peningkatan produktivitas. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui kinerja pendampingan PTT padi yang telah dilakukan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Lokasi kegiatan adalah sentra produksi padi dan ada program SLPTT padi di tujuh desa pada Kabupaten Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan dilakukan pada bulan Nopember 2014. Kegiatan dilakukan dengan metode survey dan wawancara terstruktur pada petani responden. Petani responden yang terlibat sebanyak 29 orang. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder. Data primer yang diamati yaitu karakteristik petani, karakteristik usahatani, dan pengukuran indicator kinerja PTT padi. Data yang diperoleh diedit, ditabulasi dan dianalisis. Hasil survey menunjukkan bahwa komponen teknologi PTT padi yang diterapkan oleh petani dengan respon petani antara setuju dan sangat setuju. Penerapan PTT padi dapat meningkatkan produktivitas sebesar 1,26 ton GKG/ha atau 41,10%. Penerapan PTT padi dapat meningkatkan pendapatan sebesar Rp 3.484.225 atau sebesar 165,92%. Usahatani padi menguntungkan dan layak untuk diusahakan baik dengan teknologi PTT padi maupun tidak, nilai R/C pada non PTT sebesar 2,26 dan dengan penerapan PTT padi sebesar 2,97. Nilai MBCR dengan penerapan PTT padi sebesar 4,13. Penerapan PTT padi dapat meningkatkan kesejahteraan petani baik dari asset pemilikan berupa lahan, rumah, sepeda motor dan televise. Peningkatan terjadi pula pada keragaan kelembagaan yaitu aktivitas kelompok meningkat menjadi lebih aktif.
- ItemEvaluasi Kinerja Pendampingan Ptt Padi Di Kabupaten Hulu Sungai Selatan Kalimantan Selatan(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2017) Ningsih, Rina D.; Sumanto; Aulia D.; Rohaeni, Eni S.; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) merupakan inovasi untuk memecahkan berbagai permasalahan dalam peningkatan produktivitas. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui kinerja pendampingan PTT padi yang telah dilakukan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Lokasi kegiatan adalah sentra produksi padi dan ada program SLPTT padi di tujuh desa pada Kabupaten Kabupaten Hulu Sungai Selatan, dan dilakukan pada bulan Nopember 2014. Kegiatan dilakukan dengan metode survey dan wawancara terstruktur pada petani responden. Petani responden yang terlibat sebanyak 29 orang. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder. Data primer yang diamati yaitu karakteristik petani, karakteristik usahatani, dan pengukuran indicator kinerja PTT padi. Data yang diperoleh diedit, ditabulasi dan dianalisis. Hasil survey menunjukkan bahwa komponen teknologi PTT padi yang diterapkan oleh petani dengan respon petani antara setuju dan sangat setuju. Penerapan PTT padi dapat meningkatkan produktivitas sebesar 1,26 ton GKG/ha atau 41,10%. Penerapan PTT padi dapat meningkatkan pendapatan sebesar Rp 3.484.225 atau sebesar 165,92%. Usahatani padi menguntungkan dan layak untuk diusahakan baik dengan teknologi PTT padi maupun tidak, nilai R/C pada non PTT sebesar 2,26 dan dengan penerapan PTT padi sebesar 2,97. Nilai MBCR dengan penerapan PTT padi sebesar 4,13. Penerapan PTT padi dapat meningkatkan kesejahteraan petani baik dari asset pemilikan berupa lahan, rumah, sepeda motor dan televise. Peningkatan terjadi pula pada keragaan kelembagaan yaitu aktivitas kelompok meningkat menjadi lebih aktif.
- ItemKemiri Sunan (Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw) Tanaman Penghasil Minyak Nabati dan Konservasi Lahan(IAARD Press, 2013) Herman, Maman; Syakir, Muhammad; Pranowo, Dibyo; Saefudin; SumantoKemiri sunan (Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw) adalah salah satu tanaman yang dapat menghasilkan minyak nabati yang dapat diproses lebih lanjut menjadi biodiesel beserta turunannya. Habitus tanaman berbentuk pohon dengan tinggi dapat mencapai 15-20 m, mahkota daun yang rindang, dan sistem perakaran yang dalam sangat ideal sebagai tanaman konservasi. Atas dasar itu, tanaman ini sangat potensial, disamping dapat menghasilkan minyak nabati juga untuk meningkatkan produktivitas lahan-lahan kritis di Indonesia. Buku ini membahas pemanfaatan tanaman kemiri sunan dan teknologi budidayanya serta manfaatnya sebagai tanaman konservasi. Diharapkan buku ini dapat memenuhi kebutuhan berbagai pihak dalam mengembangkan kemiri sunan.
- ItemKemiri Sunan, Tanaman Penghasil Minyak Nabati dan Konservasi lahan(IAARD Press, 2013) Maman Herman; Muhammad Syakir; Dibyo Pranowo; Saefudin; SumantoKrisis energi yang melanda dunia termasuk Indonesia, telah mendorong berbagai pihak untuk mencari energi alternatif yang dapat diperbaharui. Kebutuhan energi, khususnya bahan bakar solar, dari tahun ke tahun terus meningkat seiiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang pesat. Sementara itu cadangan minyak bumi dunia, menurut para ahli diperkirakan hanya tinggal untuk 100 tahun kedepan. Kemiri sunan (Reutealis trisperma (Blanco) Airy Shaw) adalah salah satu tanaman yang dapat menghasilkan minyak nabati yang dapat diproses lebih lanjut menjadi biodiesel beserta turunannya. Habitus tanaman berbentuk pohon dengan tinggi dapat mencapai 15-20 m, mahkota daun yang rindang, dan sistem perakaran yang dalam sangat ideal sebagai tanaman konservasi. Atas, dasar itu, tanaman ini sangat potensial, disamping dapat menghasilkan minyak nabati juga untuk meningkatkan produktivitas lahan-lahan kritis di Indonesia.
- ItemKetersediaan Teknologi Dalam Menunjang Pengembangan Kelinci Di Indonesia(Balai Penelitian Ternak, 2005) E. Juarini; Sumanto; B.WibowoKelinci termasuk hewan prolifik karena mampu memproduksi anak dalam jumlah tinggi dalam waktu relatif singkat dalam setahun bisa melahirkan 8 sampai 10 kali dengan jumlah cukup banyak perkelahiran (6 sampai 8 per litter). Idealnya seekor induk mampu menghasilkan 80 kg. daging pertahun. Pengembangan kelinci sudah dimulai sejak tahun 80an tetapi dinilai gagal karena masih sulitnya pemasaran produk kelinci, tingkat kematian yang tinggi (>40%) dan mahalnya harga pakan serta kurang diterimanya produk tersebut oleh masyarakat meskipun dagingnya menyerupai daging ayam. Untuk mendukung pengembangan kelinci dan mengatasi masalah pakan tersebut telah dilakukan banyak penelitian dengan menggunakan limbah pertanian. Penggunaan daun rami sampai 30% dan tepung rami 40% dalam ransum kelinci tidak berpengaruh negatif pada pertumbuhan kelinci; begitu pula penyertaan dalam ransum 40% ampas teh, 20% onggok fermentasi, 15% ampas tahu non fermentasi dan 20% ampas tahu fermentasi meningkatkan bobot badan lebih baik dibanding kontrol, namun pemberian 10% ampas bir dalam ransum menurunkan bobot badan kelinci, begitu pula penyertaan 10% onggok dalam ransum kelinci berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan. Dari aspek reproduksi pengaturan kawin paska partus menyimpulkan perkawinan 14 hari setelah beranak memberikan performan paling baik untuk kelinci. Sementara pengayaan manure dan urin kelinci dengan probiotik untuk pupuk tanaman menunjukkan superioritas manure kelinci dari pada domba.
- ItemPemanfaatan Dan Analisis Ekonomi Usaha Ternak Kelinci Di Pedesaan(Balai Penelitian Ternak, 2005) Broto Wibowo; Sumanto; E. JuariniPengembangan ternak kelinci sudah dimulai sejak tahun 80an dan mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan masyarakat maupun pejabat pemerintah dalam mengatasi pemenuhan gizi. Namun saat ini jumlah populasinya tampak kurang berkembang dan belum merata, hanya jumlahnya terbatas pada wilayah sentra pariwisata. Kendala utama dalam pengembangannya adalah masih adanya pengaruh psychologis antara manusia dengan ternak kelinci dalam hal memotong dan sekaligus untuk dimakan. Kendala lainnya adalah angka kematian yang cukup tinggi dan masih perlu adanya sosialisasi mengkonsumsi daging dan penyediaan produk daging olahan yang menarik konsumen. Disisi lain ternak kelinci bersifat prolifik dan jarak beranak yang pendek sehingga mampu menghasilkan jumlah anak yang cukup tinggi pada satuan waktu yang singkat (per tahun) sehingga dikenal sebagai penyedia daging yang handal. Manfaat lainnya adalah sebagai penghasil kulit bulu, kotoran (feces) dan sebagai ternak kesayangan. Semua manfaat tersebut dapat menjadi tambahan pendapatan peternak. Usaha peternakan kelinci selain sebagai pemenuhan gizi (subsisten) perlu adanya dukungan untuk mengarah pada usaha komersil-berorientasi pasar. Telah dicoba dilakukan analisis terhadap usaha kelinci intensif yang berskala 20 ekor induk dan 5 ekor pejantan sebagai usaha penghasil daging dan kulit bulu selama satu tahun. Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa keuntungan pada skala usaha tersebut adalah sebesar Rp 9.206.200/tahun atau Rp 767.183/bulan (dalam perhitungan ini dilakukan penilaian terhadap sisa kelinci yang belum berumur potong, karena dalam kas opnam masih tersisa sejumlah ternak muda).
- ItemPengelolaan Tanaman Terpadu Kedelai(BPTP KAlimantan Selatan, 2009-12) Sumanto; BPTP Kalimantan SelatanPengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Kedelai, bukan suatu teknologi atau paket teknologi, tetapi merupakan pendekatan dalam pemecahan masalah produksi kedelai dengan menerapkan teknologi yang sesuai dengan agroekosistem. Teknologi peningkatan produksi kedelai, sebagai inovasi yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian, diuraikan secara singkat pada brosur pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Kedelai ini. Brosur ini diharapkan dapat menjadi pedoman bagi para penyuluh dan petani dengan menjelaskan tentang pengertian pengelolaan tanaman terpadu, konsep dan pendekatan, tahapan kegiatan PTT, komponen teknologi dan teknologi produksi kedelai spesifik agroekologi. Khusus pada bahasan mengenai komponen teknologi produksi, diinformasikan berbagai varietas unggul kedelai dan anjuran yang dapat ditanam di lahan sawah, lahan kering masam, maupun lahan pasang surut. Disamping itu juga tertuang informasi mengenai bagaimana memilih benih berkualitas, mempersiapkan drainase yang baik, pengendalian gulma, hama dan penyakit, serta teknologi panen dan pasca panen. Penyusunan brosur ini berdasarkan hasil penelitian, pengalaman pengembangan PTT kedelai di beberapa daerah dan diperuntukkan bagi penyuluh maupun petani sebagai panduan dalam pengembangan PTT kedelai di wilayah masing-masing.
- ItemPengembangan Ayam Lokal Dan Permasalahannya Di Lapangan(Balai Penelitian Ternak, 2005) E. Juarini; Sumanto; D. Zainuddin
- ItemTeknologi Budidaya dan Pengolahan Buah Tomat Mendukung Agribisnis(BPTP Kalsel, 2009) Sumanto; Lesmayati, Susi; BPTP Kalsel
- ItemTeknologi budidaya tomat(BPTP KAlimantan Selatan, 2010-12) Sumanto; Susi, Lesmayanti; BPTP Kalimantan SelatanSebagian besar penduduk miskin di Indonesia berada di perdesaan dengan mata pencaharian utama di sektor pertanian. Pada umumnya petani di perdesaan berada pada skala usaha mikro yang memiliki luas lahan lebih kecil dari 0,3 hektar Kemiskinan di perdesaan merupakan masalah pokok nasional yang penanggulangannya tidak dapat ditunda dan harus menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan pembangunan kesejahteraan sosial. Oleh karena itu pembangunan ekonomi nasional berbasis pertanian dan perdesaan secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak pada pengurangan penduduk miskin. Permasalahan mendasar yang dihadapi petani adalah kurangnya akses kepada sumber permodalan, pasar dan teknologi, serta organisasi tani yang masih lemah. Untuk itu penanggulangan kemiskinan merupakan bagian dari pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Panjang dan kesepakatan global untuk mencapai Tujuan Pembangunan Milenium. Kementerian Pertanian mulai tahun 2008 telah melaksanakan program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) dibawah koordinasi Program Nasional pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-Mandiri) dan berada dalam kelompok program pemberdayaan masyarakat. Anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) penerima BLM PUAP di Kalimantan Selatan sebagian memanfaatkan bantuan modal usaha yang diberikan untuk usaha agribisnis sayur-sayuran, khususnya budidaya tomat. Dalam pelaksanaan kegiatan PUAP, BPTP Kalimantan Selatan bertugas melakukan pendampingan teknologi dalam pengembangan usaha agribisnis Gapoktan.
- ItemTeknologi Budidaya Tomat(BPTP Kalsel, 2010) Sumanto; Lesmayati, Susi; BPTP Kalsel
- ItemTeknologi dan budidaya pengolahan buah tomat mendukung agribisnis(BPTP KAlimantan Selatan, 2009-10) Sumanto; Susi, Lesmayanti; BPTP Kalimantan SelatanUsahatani hortikultura termasuk salah satunya tanaman tomat di Kalimantan Selatan masih dalam skala usaha kecil (sambilan) belum menerapkan pola tanam dan pola produksi secara optimal dan pada umumnya belum menerapkan teknolgi maju sehingga kualitas produknya belum memenuhi standar. Luas tanam tomat pada tahun 2008 mencapai 580 ha yang tersebar di hampir seluruh kabupaten di Kalimantan Selatan, kecuali kota Banjarmasin. Jumlah produksi yang diperoleh 2,958 ton. Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam usahatani hortikultura adalah kurangnya informasi teknologi hortikultura, adanya serangan hama/penyakit, kurangnya informasi tentang pasca panen dan pengolahan. Sedangkan permasalahan non teknis seperti posisi tawar petani rendah dikarenakan manajemen usahatani belum diterapkan secara optimal sehingga pengaturan suplai dan distribusi produk belum berjalan baik, daya beli masyarakat terbatas dan sebagian enggan mengkonsumsi buah dan sayur. Brosur ini ditulis dengan tujuan untuk menambah informasi yang mendukung usahatani tomat di Kalimantan Selatan. Informasi yang meliputi teknologi budidaya dan pengolahan tomat ini diharapkan akan bermanfaat untuk memperluas wawasan dan pengetahuan bagi yang memerlukan, khususnya para petugas lapangan dan petani tomat
- ItemTeknologi Usahatani Terpadu pada Kawasan Agroekosistem lahan Kering Beriklim Basah Mendukung Ketahanan Pangan di Kalimantan Selatan(BPTP Jambi, 2008) Galib, Rosita; Sumanto; BPTP JambiLahan kering dapat digunakan untuk usaha pertanian walaupun ketersediaan airnya terbatas dan memiliki agroekosistem beragam, sehingga pemanfaatannya secara maksimal diperlukan kearifan dan teknologi yang sesuai . Pada daerah lereng mempunyai sifat kondisi kemantapan lahan yang labil (peka erosi), sehingga diperlukan cara pengelolaan yang sangat memperhatikan aspek-aspek konservasi. Komoditas yang dipilih harus memiliki keunggulan komparative dan dapat dipadukan dengan sektor lain secara terintegrasi, saling melengkapi dan dapat menghasilkan secara optimal.