Browsing by Author "Subandriyo"
Now showing 1 - 5 of 5
Results Per Page
Sort Options
- ItemDomba Compass Agrinak(IAARD Press, 2016) Subandriyo; Setiadi, Bambang; Tiesnamurti, Bess; Handiwirawan, EkoDomba Compass Agrinak merupakan rumpun domba baru hasil penelitian pemuliaan yang mempunyai tetua dari 3 rumpun domba yaitu domba lokal Sumatera (Indonesia), dan dua rumpun domba eksotik (domba St. Croix dan domba Barbados Balckbelly yang berasal dari Amerika Serikat). Penelitian pemuliaan pembentukan domba Compass Agrinak telah dilakukan sejak tahun 1986 yang dimulai di Sub Balai Penelitian Ternak Sungai Putih, Sumatera Utara (nama kantor pada saat itu). Penelitian tersebut kala itu merupakan kerjasama antara Small Ruminant-Collaborative Research Support Program (SR-CRSP) dengan Balai Penelitian Ternak, Ciawi-Bogor, Jawa Barat.
- ItemKambing Peranakan Etawah (PE)(IAARD Press, 2016) Batubara, Aron; Nasution, Saddat; Subandriyo; Inounu, Ismeth; Tiesnamurti, Bess; Anggraeni, AnnekeSumberdaya Genetik Ternak (SDGT) kambing Peranakan Etawah (PE) yang ada di Indonesia memiliki keunggulan kompetitif dan mempunyai potensi beradaptasi pada keterbatasan lingkungan dan relatif lebih mempunyai laju reproduksi yang baik. Upaya pelestarian serta dan pemanfaatan kambing Peranakan Etawah ini masih terbatas. Maraknya perkawinan silang antara kambing Peranakan Etawah dengan rumpun kambing lainnya cenderung menyebabkan terjadinya degradasi genetik dan yang akhirnya dapat menyebabkan kepunahan SDG kambing Peranakan Etawah. Guna mewujudkan suatu perlindungan rumpun dan/atau galur ternak yang merupakan salah satu bentuk dari perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual, diperlukan adanya penetapan dan pengakuan terhadap rumpun kambing Peranakan Etawah sebagai kambing lokal Indonesia.
- ItemManajemen Kebijakan Teknologi dan Kelembagaan mendukung Pertanian Modern(IAARD Press, 2019-11-02) Editor, Effendi Pasandaran; Djufri, Fadjry; Rohmani, Sri Asih; Damardjati, Djoko Said; Syam, Mahyuddin; Subandriyo; Hendayana, Rachmat; Balitbangtan
- ItemPengelolaan Dan Pemanfaatan Data Plasma Nutfah Ternak Kerbau(Balai Penelitian Ternak, 2006) SubandriyoSumberdaya genetik ternak mempunyai dua tantangan penting, yaitu (1) Permintaan produk ternak di negara yang sedang berkembang akan meningkat, dan (2) Sumber daya genetik atau plasma nutfah mulai berkurang dengan cepat hampir di seluruh dunia. Dalam upaya mempertahankan dan mengembangkan sumberdaya genetika ternak atau plasma nutfah ternak, dokumentasi kegiatan plasma nutfah ternak sangat diperlukan. Sistem dokumentasi yang baik akan membantu dalam kegiatan perencanaan, operasional serta monitoring pengelolaan plasma nutfah. Hasil dokumentasi diperlukan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pengelolaan sumberdaya genetika ternak selanjutnya seperti Evaluasi, Pengembangan Rencana Pemuliaan (Development of Breeding Plans) dan Konservasi. Pangkalan data (data base) dalam pengelolaan plasma nutfah ternak pada umumnya memuat dua bagian yang saling berkaitan yaitu deskripsi umum dan deskripsi mengenai performansnya. Keberadaan ternak kerbau dalam database pada beberapa situs internet masih terbatas. Pembentukan data base dapat dilakukan dengan dua cara yaitu (1) melalui survai langsung di lapangan, dan atau (2) dengan jalan mengekstraksi dari informasi dari publikasi yang telah ada. Data karakteristik suatu rumpun atau strain didalam spesies diekstrak dan dipresentasikan dalam suatu format, baik dalam bentuk bebas maupun tetap (fixed), sehingga mudah untuk dilakukan komputerisasi. Presentasinya dibedakan menjadi dua yakni dalam bentuk karakteristik fisik yang sifatnya adalah kualitatif yang dikenal sebagai informasi umum atau deskripsi umum atau Master Record serta untuk karakteristik performa dan lingkungan (Slave Record).
- ItemPengelolaan Sumberdaya Genetika Ternak Domba di Indonesia(Sekretariat Komisi Nasional Plasma Nutfah, 1996) Subandriyo; Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik PertanianPengelolaan Sumberdaya Genetika Ternak Domba di Indonesia. Keragaman gentikan merupakan kunci pengelolaan sumberdaya genetika temak yang optimaL Oleh karena itu diperlukan beberapa langkah agar sumberdaya genetika temak dapat dikelola dengan baik, meliputi dokumentasi, evaluasi, program pemuliaan dan konservasi. Di Indonesia terdapat dua jenis domba lokal, yakni domba ekor tipis dan domba ekor gemuk. Keduanya memperlihatkan perbedaan jelas pada sifat morfologis dan produksinya, namun keduanya mempunyai perkecualian karakteristik reproduksi, yakni dapat melakukan aktivitas reproduksi sepanjang tahun dengan tingkat prolifikasi yang cukup tinggl Prolifikasi domba ekor tipis dan domba ekor gemuk, khususnya domba Jawa dipengaruhi oleh gen tunggal fekunditas (FecJF). Upaya peningkatan mutu genetika melalui persilangan dengan domba eksotik subtropika telah dilakukan sejak tahun 1750, namun pada umumnya mengalami kegagalan karena tingkat kematian yang tinggi, disebabkan kurang beradaptasinya hasil persilangan dengan kondisi Indonesia. Persilangan dengan domba rambut eksotik yang berasal dari wilayah tropika memberikan harapan yang menggembirakan. Populasi domba lokal di Indonesia masfli berada diatas batas populasi yang perlu dikonservasi, namun konservasi dengan usaha pengelolaan hams dilakukan terutama untuk domba Jawa ekor tipis (Javanese thin-tail). Hasil studi ini menunjukkan bahwa dokumentasi, evaluasi dan upaya peningkatan mutu genetik terhadap domba di Indonesia telah dilakukan, meskipun masih sangat terbatas.