Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Sri Suharni Siwi"

Now showing 1 - 3 of 3
Results Per Page
Sort Options
  • No Thumbnail Available
    Item
    Biosistematika Wereng Hijau Genus Nephotettix (Homoptera, Cicadellidae) sebagai Vektor Penyakit Virus Tungro Padi
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) Sri Suharni Siwi
    Biosistematika adalah teknik multidisiplin ilmu dasar morfologi, biologi, ekologi, embriologi, dan sitogenetika untuk memahami spesies kompleks di alam dengan berbagai variasi, baik intra- maupun interspesifik. Spesies adalah unit isolasi genetis dan sumber keanekaragaman yang pada dasarnya merupakan perubahan susunan genetis dari populasi yang diakibatkan oleh tekanan seleksi. Spesies Nephotettix terdiri dari berbagai populasi lokal atau ekotipe. Segregasi intraspesifik akan tercermin secara jelas dengan adanya variasi morfologi, biologi, preferensi inang, dan habitat. Vektor Nephotettix virescens sebagai ekotipe mempunyai keragaman daya efektivitas sebagai penular virus. Populasi wereng hijau dari berbagai negara juga mempunyai perbedaan virulensi pada beberapa varietas padi tahan tungro dan telah dinamakan sebagai alopatrik biotipe. Spesies Nephotettix sendiri mempunyai sifat gen yang plastis, mempunyai daya adaptasi tinggi terhadap perubahan lingkungan. Ada korelasi antara ciri morfologi dengan biospesies sehingga dapat dipakai sebagai indikator adanya isolasi reproduksi. Salah satu cara lama untuk meneliti isolasi reproduksi adalah dengan meneliti morfologi kromosom. Teknik yang baru adalah menggunakan deret DNA dan protein gel elektrophoresis. Dengan mengetahui perubahan komposisi genetis dalam proses evolusi, diharapkan dapat dipahami masalah kompleks spesies seperti biotipe, sibling, ekotipe atau unit geografis. Hubungan kekerabatan spesies juga dapat diteliti lebih lanjut.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Peranan Wanita dalam Usahatani
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1992-04-15) Sri Suharni Siwi; Sunihardi; Arif Musaddad; Herman Supriadi
    Seperti halnya pria, wanita tidak kalah besar peranannya dalam pembangunan pertanian. Dalam upaya peningkatan dan kesejahteraan keluarga, misalnya wanita tani pun telah memberikan kontribusi besar
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Walang Sangit, Kepinding Tanah, Hama Putih, Hama Putih Palsu, Ulat Grayak, dan Lalat Hidrelia
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) Hendarsih Suharto; Sri Suharni Siwi
    Selain hama utama seperti wereng coklat dan penggerek batang, masih banyak jenis serangga yang merusak tanaman padi. Namun karena ekologinya belum terganggu, populasi serangga tersebut tidak meningkat sehingga kerusakan yang ditimbulkannya pun belum begitu merugikan. Beberapa jenis serangga yang merupakan ancaman sporadik pada beberapa daerah antara lain adalah walang sangit, kepinding tanah, ulat grayak, hama putih, hama putih palsu, dan dan lalat hidrelia. Di Indonesia, dibandingkan dengan luas tanaman yang terserang tikus (125.223 ha dengan intensitas 17,1%), luas areal yang terserang keenam jenis serangga ini lebih rendah. Namun jika dibandingkan dengan serangan penggerek batang (75.736 ha dengan intensitas 11,1%) atau wereng coklat (31.127 ha dengan intensitas 14,4%), luas tanaman yang terserang lebih besar yaitu 116.340 ha dengan intensitas antara 11,6 sampai 17,5% (2).

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback