Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Sitti Fatimah Syahid, Otih Rostiana dan Miftakhurohmah"

Now showing 1 - 1 of 1
Results Per Page
Sort Options
  • No Thumbnail Available
    Item
    PENGARUH NAA DAN IBA TERHADAP PURWOCENG (Pimpinella pruatjan Molk.) IN VITRO
    (Balai penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor, 2004-07-14) Sitti Fatimah Syahid, Otih Rostiana dan Miftakhurohmah
    Purwoceng yolk.) merupa kan tanaman obat langka yang cukup potensial untuk dikembangkan sebagai bahan baku ini diperlukan Untuk mendukung budidaya tanaman bahan tanaman yang memadai . Keberhasilan teknik pe rbanyakan in vitro purwoceng untuk memperoleh bahan tanaman secara massal masih dibatasi oleh suli tnya menginduksi akar yang berpengaruh terhadap keberhasilan aklimatisasi di lapangan. Penelitian untuk mendapatkan teknik indu ksi bertujuan perakaran dengan menggunakan dua j enis auksin (NAA dan IBA) pada berbagai taraf konsentrasi yaitu O • 1.5 dan 2.0 0.6 ; 0.8 1.0 0.4 0.1 0.2 mg/ 1. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Acak lengkap dengan tiga ulangan. Parameter yang diamati adalah j umlah akar, panjang akar dan serta penampakan kultur secara j umlah daun layu visual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa auksin balk NAA maupun IBA dapat menginduksi akar purwoceng in vi tro, namun penggunaan NAA pada konsentrasi 1.5 mg/ 1 menghasilkan akar yang lebih banyak yaitu 18.3 buah, dalam waktu empat minggu setelah kultur dan berbeda nyata dari perlakuan lainnya. Akar terpanjang dihasilkan dari t idak berbeda nyata NAA 0.6 mg/ I (2.0 cm) tapi dengan perlakuan NAA 1.5 mg/ I cru). Daun layu pal ing sedikit diperoleh pada perlakuan NAA 0.2 mg/ I yaitu O .36 helai. Dari penelitian ini, NAA

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback