Browsing by Author "Siti Dewi Indrasari"
Now showing 1 - 3 of 3
Results Per Page
Sort Options
- ItemKandungan Mineral Padi Varietas Unggul dan Kaitannya dengan Kesehatan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2006) Siti Dewi IndrasariMineral mempunyai fungsi penting bagi kesehatan manusia, seperti membentuk jaringan tubuh, menggiatkan, mengatur, dan mengendalikan proses meta- bolisme, serta mengalihkan pesan-pesan syaraf. Mineral dapat dikelompokkan menjadi mineral makro ( Ca, P, Mg, Na, K, Cl, S) serta mineral mikro (Fe, I, Zn, Cu, Mn, Cr, Co, Se, Mo, F). Kebutuhan akan mineral-mineral itu dapat dipenuhi melalui pangan. Di Indonesia, beras menyumbang 63% terhadap total kecukupan energi, 38% protein, dan 21,5% zat besi. Para pemulia tanaman Indonesia telah merakit sejumlah varietas unggul padi yang masing-masing mempunyai keunggulan dalam hal kandungan mineralnya. Varietas Bengawan Solo (Ca tinggi) atau Limboto (P tinggi) baik dikonsumsi untuk mencegah pengeroposan tulang (osteoporosis). IR42 dan Cimelati cocok dikonsumsi anak-anak penderita autis serta diolah menjadi tepung pengganti tepung terigu. Cimelati (besi tinggi) atau Bengawan Solo (tembaga tinggi) sesuai bagi wanita hamil, pekerja keras, anak- anak di bawah lima tahun, serta anak-anak penderita anemia gizi besi. M ineral sebagai zat gizi belum banyak disadari manfaatnya oleh sebagian besar masyarakat. Kecukupan akan mineral dalam kom- posisi pangan belum dipahami sebaik kecukupan akan kalori, protein atau vitamin. Bahkan sebagian masyarakat awam ada yang menganggap bahwa mineral telah terdapat dalam protein atau vitamin. Makanan pokok berupa beras untungnya mengandung berbagai mineral yang bermanfaat bagi tubuh sehingga kekurang pahaman masyarakat akan mineral telah terpenuhi sebagian dari konsumsi beras sehari-hari. SemilokaPenyusunan KebijakanPerberasan pada tahun 2000 menyebut- kan beras menyumbang 60-65% dari total konsumsi energi. Di Indonesia beras menyumbang 63% terhadap total kecukupan energi, 38% protein, dan 21,5% zat besi (Indrasari et al. 1997; IPB 2000). Selama ini beras lebih dikenal sebagai bahan pangan sumber energi, bukan sebagai sumber vitaminA, mineral besi, seng, dan asam amino yang penting bagi kesehatan, khususnya anak-anak. Penelitian pemuliaan padi saat ini telah sampai pada pemanfaatan gen-gen yang berkaitan dengan vitamin
- ItemPenanganan pascapanen buah salak pondoh untuk ekspor(BPTP Yogyakarta, 2017) Titiek Fariati Djaafar; Harsono; Dondy A. Setyabudi; Hoerudin Supriyadi; Tri Marwati; Sri Nurhidayah; Siti Mariana Widayanti; Siti Dewi Indrasari; Indrie Ambarsari; Purwaningsih; Mahargono Kobarsih; Nugroho Siswanto; Sudarmaji
- ItemPreferensi Konsumen terhadap Beras Merah sebagai Sumber Pangan Fungsional(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2007-12-16) Siti Dewi Indrasari; Made Oka AdnyanaBalai Besar Penelitian Tanaman Padi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah melepas galur BP1924-1e-5-2 dengan nama varietas Aek Sibundong. Untuk mengevaluasi respon dan preferensi konsumen terhadap beras merah yang ditawarkan, dilakukan penelitian di tujuh provinsi yaitu Sumut, Jabar, Jateng, Jatim, Bali, Sulsel, dan NTB. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik kimiawi beras merah, karakteristik dan opini responden, persepsi dan respon terhadap produk beras merah. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara tatap muka menggunakan kuesioner sebagai pedoman. Jumlah responden yang berhasil diwawancarai sebanyak 700 orang yang terdiri dari petani produsen, pengusaha, dan konsumen. Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa dari segi mutu gizi, Aek Sibundong mempunyai kandungan asam folat dua kali lipat dibanding Ciherang. Karena itu Aek Sibundong dapat menurunkan kadar homosistein penyebab kepikunan dan menyingkirkan sumbatan pembuluh darah pemicu serangan stroke dan jantung koroner. Secara statistik, responden di semua lokasi penelitian menyatakan rasa nasi beras merah lebih baik atau sama saja dibanding rasa nasi yang biasa dikonsumsi. Responden di desa umumnya lebih menyukai rasa nasi beras merah dibanding responden kota, kecuali responden di propinsi Jatim dan Bali. Tingkat pengetahuan responden di Sumut, Bali, dan NTB yang terbiasa mengonsumsi beras merah lebih baik dibanding propinsi lainnya. Responden di Jabar, Jateng, dan Sulsel baik di desa maupun di kota menyatakan warna beras merah lebih baik, lebih jelek atau sama saja dengan yang biasa terhadap dikonsumsi relatif sama. Secara statistik ukuran beras merah yang diperkenalkan tidak berbeda nyata dengan beras putih yang biasa dikonsumsi responden. Persepsi antara responden di desa dan di kota terhadap beras merah dalam hal gizi dibanding beras yang biasa dikonsumsi ternyata sama secara statistik, kecuali di propinsi Jateng dan Bali. Secara keseluruhan responden di desa dan di kota di propinsi Jateng, Jatim, Bali, dan NTB menyatakan beras merah yang diperkenalkan lebih baik dibanding beras yang biasa dikonsumsi kecuali di Jabar dan Sulsel.