Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Setiawati, Mieke R."

Now showing 1 - 2 of 2
Results Per Page
Sort Options
  • No Thumbnail Available
    Item
    1. Disseminasi Inovasi IPAT-BO Sebagai Teknologi Hemat Air Dan Input Berbasis Bioamelioran Untuk Pemulihan Kesuburan Lahan Dan Peningkatan Efisiensi Pemupukan Dan Produktivitas Padi Dalam Mewujudkan Indonesia Sebagai Lumbung Pangan
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2018) Simarmata, Tualar; Setiawati, Mieke R.; Herdiyantoro, Diyan; Fitriatin, Betty N.; Turmuktini, Tien; Resmini, Ania Citra; Sudjana, Brilian; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)
    Upaya mewujudkan Indonesia menjadi lumbung pangan merupakan perjalanan panjang yang berliku dan terjal. Pemenuhan kebutuhan beras pada tahun 2016 masih sangat mengkhawatirkan dan bergantung impor sekitar 1,2 juta ton. Fokus masalahnya, adalah kenaikan kebutuhan pangan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, konversi lahan ke non pertanian dan degradasi kesuburan lahan. Diperkirakan sekitar 70 % dari lahan sawah sudah terdegradasi sedang hingga berat (C-org <1,5-2%) dan dikategorikan sebagai lahan sakit dan kelelahan. Intensifikasi padi aerob terkendali berbasis organik (IPAT-BO) dikembangkan sejak tahun 2006/2007 dengan fokus utama; (1) memulihkan kesehatan lahan sawah berbasis input lokal dan bioamelioran, (2) meningkatkan efisiensi penggunaan air dan pupuk, (3) meningkatkan produktivitas kualitas gabah. Capaian lapangan, “Demo plot” dan Disseminiasi dan Pendayagunaan IPTEK (2008–2017) pada berbagai lokasi di Indonesia, menunjukkan bahwa: (a) Teknologi hemat air IPAT-BO mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air sekitar 35%, (b) Teknik Tanam Kembar IPAT-BO mampu meningkatkan hasil sekitar 20-30% dan 10-25 % dibandingkan dengan sistem tegel dan sistem legowo, (c) Aplikasi 2-5 ton kompos jerami, 0,5-1 ton biochar dan pupuk hayati mengurangi penggunaan pupuk anorganik 25-50% dan meningkatkan kandungan C-organik, Si dan K dengan signifikan, dan (d). Adopsi IPAT-BO mampu menghasilkan 8–11 ton padi/ha. Hilirisasi IPATBO tanam
  • No Thumbnail Available
    Item
    Disseminasi Inovasi IPAT-BO Sebagai Teknologi Hemat Air dan Input Berbasis Bioamelioran Untuk Pemulihan Kesuburan Lahan dan Peningkatan Efisiensi Pemupukan dan Produktivitas Padi Dalam Mewujudkan Indonesia Sebagai Lumbung Pangan
    (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Simarmata, Tualar; Setiawati, Mieke R.; Herdiyantoro, Diyan; Fitriatin, Betty N; Turmuktini, Tien; Resmini, Ania Citra; Sudjana, Brilian
    Abstrak Upaya mewujudkan Indonesia menjadi lumbung pangan merupakan perjalanan panjang yang berliku dan terjal. Pemenuhan kebutuhan beras pada tahun 2016 masih sangat mengkhawatirkan dan bergantung impor sekitar 1,2 juta ton. Fokus masalahnya, adalah kenaikan kebutuhan pangan seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, konversi lahan ke non pertanian dan degradasi kesuburan lahan. Diperkirakan sekitar 70 % dari lahan sawah sudah terdegradasi sedang hingga berat (C-org <1,5-2%) dan dikategorikan sebagai lahan sakit dan kelelahan. Intensifikasi padi aerob terkendali berbasis organik (IPAT-BO) dikembangkan sejak tahun 2006/2007 dengan fokus utama; (1) memulihkan kesehatan lahan sawah berbasis input lokal dan bioamelioran, (2) meningkatkan efisiensi penggunaan air dan pupuk, (3) meningkatkan produktivitas kualitas gabah. Capaian lapangan, “Demo plot” dan Disseminiasi dan Pendayagunaan IPTEK (2008–2017) pada berbagai lokasi di Indonesia, menunjukkan bahwa: (a)Teknologi hemat air IPAT-BO mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air sekitar 35%, (b) Teknik Tanam Kembar IPAT-BO mampu meningkatkan hasil sekitar 20-30% dan 10-25 % dibandingkan dengan sistem tegel dan sistem legowo, (c) Aplikasi 2-5 ton kompos jerami, 0,5-1 ton biochar dan pupuk hayati mengurangi penggunaan pupuk anorganik 25-50% dan meningkatkan kandungan C-organik, Si dan K dengan signifikan, dan (d). Adopsi IPAT-BO mampu menghasilkan 8–11 ton padi/ha. Hilirisasi IPATBO tanam serentak di 22 Kabupaten/Kota di Provinsi Sulsel MT April-Agustus 2017, secara konsisten mampu menaikkan hasil panen padi varietas Sidenuk dengan kisaran 10-200%. Hilirisasi Inovasi teknologi IPAT-BO merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan efisiensi pemupukan, dan produktivitas padi dari 5-6 ton menjadi –7/ton gabah dalam mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan. Abstract Indonesian efforts to become the rice barn is deals with a long trip, winding and steep roads. The fulfillment of rice needs in 2016 is still very worrying and import dependent about 1.2 million tons. The main problems are the increase of food demand along with population growth, land conversion to non-agriculture use and land degradation. Currently about 70% of paddy soils has belong to moderate to severely degraded (C-org <1.5-2%) and it categorized as sickness soils. Intensification of controlled organic-based aerobic rice (IPAT-BO) was developed to restore the health of paddy soils, increase efficiency of water and fertilizer use, and rice productivity. The field achievements from 2008 to 2017 at various locations revealed that: (a) IPAT-BO increase water usage efficiency by 35%, (b) twins seedling method are able to increase yields by 20-30% and 10-25% compared to grid and legowo systems; (c) applications of 2-5 tones of straw compost, 0.5-1 ton biochar and biofertilizers reduced the use of inorganic fertilizers by 25- 50% and increased org-C, Si and K content significantly. and (d). IPAT-BO adoption were able to produce 8-11 tons of rice/ha. The implementation of IPAT-BO simultaneously from April to August 2017 in 22 districts in South Sulawesi Province, consistently able to increase with a range of 10-200% the rice yield of of Sidenuk varieties. Adoption of the IPAT-BO innovation is one solution to improve fertilizer efficiency and to increase rice productivity from 5-6 tons to 6-7 ton/ha to pursue the Indonesia goals to be become the food barn.

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback