Browsing by Author "S. Asikin"
Now showing 1 - 3 of 3
Results Per Page
Sort Options
- ItemIdentifikasi Organisme Penganggu Tanaman Sayuran Dan Eksplorasi Agensia Pengendaliannya Di Lahan Gambut Dangkal(BPTP Jambi, 2005) B. Prayudi; M. Thamrin; S. Asikin; BPTP JambiAgribisnis sayuran perlu ditangani secara profesional. Dalam upaya peningkatan produksi sayuran, banyak masalah yang harus dihadapi, diantaranya adalah gangguan oleh organisme pengganggu tanman (OPT). Kehilangan hasil pada berbagai jenis sayuran yang diakibatkan oleh OPT berkiar antara 34-95%. Upaya petani dalam menanggulangi OPT tersebut umumnya masih mengandalkan pestisida karena memberikan hasil pengendalian yang cepat. Akan tetapi penggunaan pestisida dalam jangka waktu lama dan diaplikasikan secara tidak bijaksana akan berdampak negatif terhadap lingkungan. Oleh karena itu strategi pengendalian OPT sayuran adalah menerapkan strategi pengelolaan hama terpadu (PHT).
- ItemPengendalian Hama Tikus di Lahan Pasang Surut Kalimantan Selatan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1993) M. Thamrin; S. Asikin; M.Z. HamijayaLuas serangan hama tikus pada tanaman padi di Kalimantan Selatan dalam lima tahun terakhir menduduki urutan teratas dibandingkan dengan hama lainnya. Hal itu antara lain disebabkan karena belum dilakukan pengendalian secara tepat. Tulisan ini menyajikan teknik pengendaliannya hama tikus, khususnya di lahan pasang surut, Kalimantan Selatan. Berdasarkan hasil penelitian terhadap populasi dan perkembangbiakan tikus yang diikuti dengan beberapa penelitian pengendaliannya, didapat suatu sistem pengendalian yang dapat dipedomani. Perkembangbiakan tikus erat kaitannya dengan kualitas dan kuantitas makanan, di samping berkaitan erat dengan stadia pertumbuhan padi. Dalam kaitan ini, tanam serentak sangat dianjurkan dengan mempertimbangkan pasang surutnya air dan ketersediaan tenaga kerja di daerah setempat. Sanitasi adalah salah satu usaha untuk menekan perkembangbiakan tikus. Di daerah yang banyak rumput- rumputan dan semak, banyak ditemukan tikus. Selain bersarang di dalam lubang, tikus ladang (Rattus exulans) dapatbersarang pada tumpukan semak atau rumputrumputan untuk melahirkan dan memelihara anaknya. Di Tarantang (Kаbupaten Barito Kuala), pengendalian tikus dengan cara gropyokan biasanya dilakukan sebelum penyemaian benih (September-Oktober). Dalam gropyokan, sebagian petani menggunakan anjing pelacak yang cukup terlatih untuk menentukan lubang aktif tikus. Kemampuan anjing memakan tikus berkisar 4-6 ekor/hari dan aktif mencari dan membunuh setiap tikus yang ditemukannya. Hasil penelitian di lahan pasang surut bergambut Sakalagun (Kabupaten Barito Kuala) menunjukkan bahwa penggunaan umpan beracun yang dilakukan sejak tanaman berumur sekitar 30 hari setelah tanam sangat efektif, karena pada saat itu tikus kekurangan makanan. Pengumpanan beracun sebaiknya dilakukan sampai tanaman berumur 45 hari setelah tanaт. Pengendalian dini ini mampu menekan kerusakan tanaman padi oleh serangan tikus dari 25,1% menjadi 8,0%.
- ItemPENYAKIT UTAMA KEDELAI DI LAHAN RAWA PASANG SURUT DAN TEKNOLOGI PENGENDALIANNYA(Balai Pengujian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2014) S. Asikin; Yusmani PrayogoBudi daya kedelai di lahan rawa pasang surut menghadapi problema antara in kesuburan tanah, varietas dan serangan hama dan penyakit. Penyakit ama yang sering menyerang pertanaman kedelai di lahan rawa pasang rut adalah: bakteri hawar, virus belang samar karat, antraknose, bakteri stule, sklerotium, Cercospora sp, virus musaik kuning, dan virus kerdil delai. Inovasi teknologi pengendalian penyakit-penyakit tersebut antara in; penggunaan varietas tahan/toleran, mekanis, kultur teknis, sanitasi, ngisida nabati dan fungisida sintetik