Browsing by Author "Roza, Celvia"
Now showing 1 - 10 of 10
Results Per Page
Sort Options
- ItemIdentifikasi Ketahanan Aksesi Plasma Nutfah Padi Terhadap Penyakit Hawar Daun Bakteri (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) di Rumah Kaca(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)/BBSIP Padi, 2015-08-06) Kadir, Triny S.; Roza, Celvia; N. Usyati; Jana Mejaya, MadePenelitian identifikasi ketahanan aksesi plasma nutfah padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) telah dilakukan di rumah kaca BB Padi Sukamandi pada MT-1 dan MT-2 Tahun 2013. Penelitian dengan tujuan untuk mengidentifikasi tingkat ketahanan aksesi plasma nutfah padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (HDB). Metode penelitian yang digunakan adalah metode skrining baku dari IRRI tahun 2002. Tanaman diamati dan ditentukan nilai skala keparahan penyakitnya berdasarkan SES IRRI 2013 Hasil pengujian aksesi asal koleksi plasma nutfah terhadap ketiga jenis patotipe Xoo menunjukkan bahwa aksesi plasma nutfah hanya memiliki sifat ketahanan terhadap patotipe III saja, baik pada pengujian stadia vegetatif maupun generatif dengan reaksi agak tahan hingga tahan. Aksesi tersebut adalah Ase Balacung (793), Cere Campak (5818), Cere Bandung (5915), Bumbuy Inih (5929), Ceredek (6301), dan GADIS LANGSAT (6966).
- ItemIdentifikasi Ketahanan Aksesi Plasma Nutfah Padi Terhadap Penyakit Hawar Daun Bakteri (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) di Rumah Kaca(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)/BBSIP Padi, 2015-08-06) Kadir, Triny S.; Roza, Celvia; N. Usyati; Jana Mejaya, MadePenelitian identifikasi ketahanan aksesi plasma nutfah padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (Xanthomonas oryzae pv. oryzae) telah dilakukan di rumah kaca BB Padi Sukamandi pada MT-1 dan MT-2 Tahun 2013. Penelitian dengan tujuan untuk mengidentifikasi tingkat ketahanan aksesi plasma nutfah padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (HDB). Metode penelitian yang digunakan adalah metode skrining baku dari IRRI tahun 2002. Tanaman diamati dan ditentukan nilai skala keparahan penyakitnya berdasarkan SES IRRI 2013 Hasil pengujian aksesi asal koleksi plasma nutfah terhadap ketiga jenis patotipe Xoo menunjukkan bahwa aksesi plasma nutfah hanya memiliki sifat ketahanan terhadap patotipe III saja, baik pada pengujian stadia vegetatif maupun generatif dengan reaksi agak tahan hingga tahan. Aksesi tersebut adalah Ase Balacung (793), Cere Campak (5818), Cere Bandung (5915), Bumbuy Inih (5929), Ceredek (6301), dan GADIS LANGSAT (6966).
- ItemIdentifikasi Ketahanan Aksesi Plasma Nutfah Padi Terhadap Penyakit Tungro di Rumah Kaca(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)/BBSIP Padi, 2015-08-06) Roza, Celvia; Kusdiaman, Dede; Kurniawati, Nia; N. Usyati; Jana Mejaya, MadePenelitian identifikasi ketahanan aksesi plasma nutfah padi terhadap penyakit tungro telah dilakukan di rumah kaca BB Padi pada MT-1 dan MT-2 tahun 2013. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi materi genetik aksesi plasma nutfah padi yang memiliki ketahanan terhadap penyakit tungro. Metode penelitian yang digunakan adalah metode skrining baku dari IRRI tahun 2002. Tanaman diamati dan ditentukan nilai skala keparahan gejala penyakitnya berdasarkan SES IRRI 2013. Dari 75 aksesi koleksi plasma nutfah padi yang diuji diperoleh 3 aksesi yang menunjukkan reaksi tahan terhadap virus tungro yaitu Beronaja (519) dengan skor ketahanan 1, Pare Lottong (7928) dengan skor ketahanan 1, dan Pare Pulu (7929) dengan skor ketahanan 3. Ketiga aksesi plasma nutfah tersebut berpotensi untuk dijadikan tetua dalam perakitan varietas yang tahan terhadap serangan penyakit tungro.itu grassy stunt.
- ItemIdentifikasi Tetua Baru untuk Sifat Ketahanan terhadap Hawar Daun Bakteri Melalui Pengujian(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2019-12) Roza, Celvia; N. Usyati; Ruskandar, Ade; Hapsari Wening, Rina; Heryanto; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)Identifikasi tetua baru untuk sifat ketahanan terhadap hawar daun bakteri melalui pengujian aksesi plasma nutfah telah dilakukan di rumah kaca BB Padi Sukamandi pada MT-1 dan MT-2 Tahun 2012. Tujuan kegiatan ini untuk mengidentifikasi tingkat ketahanan aksesi plasma nutfah padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (HDB). Metode yang digunakan adalah metode skrining baku dari IRRI tahun 2002. Aksesi plasma nutfah yang diuji sebanyak 89 aksesi, dan diuji pada stadia vegetatif dan generatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesi plasma nutfah padi yang teridentifikasi tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri (HDB) patotipe III pada fase vegetative maupun fase generatif ialah Dekor (5759), NH-2-92 (5895), Pete Lambeun (5928), Ekor Hitam (1053), Padi Durian A (6162), Ketan Wuluh (6128), dan Tomas (7938). Aksesi plasma nutfah padi yang teridentifikasi bereaksi agak tahan terhadap HDB patotipe IV adalah NH-2-92 (5895), dan Padi Jambai (6630), sedangkan yang teridentifikasi tahan terhadap HDB patotipe VIII adalah NH-2-92 (5895) dan yang bereaksi agak tahan terhadap HDB patotipe VIII adalah Lampung Kuning (1070) dan Lumbu (2203).
- ItemKarakterisasi Ketahanan Varietas Padi Lokal Terhadap Penyakit Tungro(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Kusdiaman, Dede; Roza, Celvia; Suprihanto; N. Usyati; Rumasa, OcoAbstrak Penyakit tungro disebabkan oleh infeksi dua virus yang berbeda, yaitu Rice tungro bacilliform virus (RTBV) dan Rice tungro spherical virus (RTSV), yang keduanya hanya dapat ditularkan oleh wereng hijau (vektor) secara semi persisten. Kisaran kehilangan hasil pada stadia yang terinfeksi 2–12 minggu setelah tanam (mst) antara 20-90%. Penelitian telah dilakukan di rumah kasa BB Padi Sukamandi pada MT-1/MT-2 tahun 2016. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkarakterisasi varietas padi lokal (aksesi plasma nutfah padi) yang memiliki ketahanan terhadap penyakit tungro. Materi genetik yang digunakan adalah 100 nomor varietas padi lokal (aksesi), inokulum tungro varian Garut dan Purwakarta, dan wereng hijau. Metode inokulasi dilakukan dengan mengakuisisi wereng hijau sebagai vektor pada tanaman sumber inokulum Garut dan Purwakarta, kemudian diinvestasikan ke tanaman uji supaya menularkan virus tungro. Pengamatan dilakukan pada 2 minggu setelah inokulasi atau setelah TN1 sebagai kontrol rentan menunjukkan reaksi rentan. Karakterisasi ketahanan dilakukan dengan cara skoring berdasarkan SES IRRI 2014 dan dihitung indeks penyakitnya. Hasil penelitian menunjukkan 1 aksesi yang bereaksi agak tahan terhadap inokulum Garut, dan 3 aksesi bereaksi agak tahan terhadap inokulum Purwakarta, selebihnya bereaksi rentan terhadap inokulum Garut maupun Purwakarta. Aksesi yang bereaksi agak tahan terhadap inokulum Garut adalah Kuriak (9582) yang bereaksi agak tahan pada skala 6. Tiga aksesi yang bereaksi agak tahan terhadap inokulum Purwakarta adalah Cungkring (9523) yang bereaksi agak tahan pada skala 5, Oseg (9529) yang bereaksi agak tahan pada skala 6, dan Muncul (9547) yang bereaksi agak tahan pada skala 4. Abstrack Tungro is a found in rice crop disease caused by an infection of two different viruses, namely Rice tungro bacilliform virus (RTBV) and Rice tungro spherical virus (RTSV). These two viruses can only be transmitted by green leafhoppers (vectors) semipersisten. The range of result loss in infected stadia 2-12 weeks after planting (wap) between 20-90%. The research had been done at the house of ICRR Sukamnadi at dry season and rainy season in 2016. The purpose of this research was to characterize local rice varieties (rice germplasm accession) which resistant to tungro disease. Genetic materials used were 100 numbers of local rice varieties (accession), inoculum tungro used variant were Garut and Purwakarta, and green leafhoppers. Inoculation method was conducted by acquiring green leafhoppers as vector for the plant of inoculum source Garut and Purwakarta. The green leafhoppers infested to the test plant for transmitting tunro virus. Observations was performed at 2 weeks after inoculation or after TN1 as susceptible check to show a susceptible reaction. Characterization resistance was performed by scoring according to SES IRRI 2014 and calculating the disease index. The results showed that 1 accession reacted moderate resistant to Garut inoculum, and 3 accessions reacted moderate resistant to Purwakarta inoculum, the rest were susceptible to Garut inoculum and Purwakarta. The accession that reacts moderate resistant to the Garut inoculum has Kuriak (9582) which reacts somewhat resistant on a scale of 6. The three accessions that react moderate resistant to the Purwakarta inokulum were Cungkring (9523) which reacts moderate resistance on a scale of 5, Oseg (9529) which reacts moderate resistant on scale 6, and Muncul (9547) which reacts moderate resistant on a scale of 4.
- ItemKetahanan Aksesi Plasma Nutfah Padi Terhadap Varian Virus Tungro Asal Garut, Magelang dan Lanrang(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)/BBSIP Padi, 2015-08-06) Kusdiaman, Dede; Jamil, Ali; Roza, Celvia; Kurniawati, Nia; N. UsyatiPenelitian ketahanan aksesi plasma nutfah padi terhadap varian virus tungro asal Garut, Magelang, dan Lanrang telah dilakukan di rumah kaca BB Padi pada MT-1 dan MT-2 tahun 2014. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi materi genetik aksesi plasma nutfah padi (aksesi baru yang sudah dikarakterisasi secara agronomi) yang memiliki ketahanan terhadap penyakit tungro. Metode penelitian yang digunakan adalah metode skrining baku dari IRRI tahun 2014. Varian virus tungro yang digunakan untuk skrining adalah varian 073(Garut), 031 (Magelang), dan 013 (Lanrang). Empat belas hari setelah inokulasi tanaman diamati dan ditentukan nilai skala keparahan gejala penyakitnya berdasarkan SES IRRI 2014. Hasil penelitin menunjukkan bahwa dari 60 aksesi koleksi plasma nutfah padi BB Padi yang diskrining baik terhadap varian virus tungro 073 (Garut), 031 (Magelang), dan 013 (Lanrang) tidak diperoleh satu aksesi pun yang bereaksi tahan. Semua aksesi bereaksi rentan terhadap tungro dengan skala 7 sampai 9.
- ItemKetahanan Aksesi Plasma Nutfah Padi Terhadap Varian Virus Tungro Asal Garut, Magelang dan Lanrang(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)/BBSIP Padi, 2015-08-06) Kusdiaman, Dede; Jamil, Ali; Roza, Celvia; Kurniawati, Nia; N. UsyatiPemasangan jaring umumnya digunakan sebagai salah satu cara dalam pengendalian hama burung di pertanaman padi. Sampai saat ini pemasangan jaring tersebut belum banyak digunakan untuk mengendalikan hama penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas Wlk). Pada MT-1 tahun 2015 penelitian dengan tujuan mendapatkan informasi mengenai efektivitas pemasangan jaring dalam mengendalikan hama penggerek batang padi kuning di persemaian telah dilakukan di lahan koperasi Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Sukamandi dan di lahan Petani di daerah Pabuaran Subang. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan dan 20 titik pengamatan sebagai ulangan. Perlakuan terdiri atas: 1) pengambilan kelompok telur penggerek dan aplikasi insektisida; 2) jaring tanpa insektisida; 3) cara petani (aplikasi insektisida saja). Jaring digunakan hanya saat di pesemaian. Variabel yang diamati meliputi populasi ngengat, jumlah kelompok telur, dan tingkat serangan penggerek batang padi. Pengamatan dilakukan dengan interval satu minggu sekali sejak benih disebar sampai tanaman berumur satu bulan di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemasangan jaring efektif dalam mengendalikan hama penggerek batang padi kuning di pesemaian dan efektivitasnya setara dengan pengendalian cara petani yaitu pengendalian yang hanya menggunakan aplikasi insektisida saja.
- ItemKetahanan Varietas Padi Lokal Terhadap Hawar Daun Bakteri (Xanthomonas Oryzae Pv. Oryzae)(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Roza, Celvia; S. Kadir, Triny; N. Usyati; Ruskandar, AdeAbstrak Ketahanan varietas padi lokal terhadap hawar daun bakteri (Xanthomonas oryzae pv. oryzae). Hawar Daun Bakteri (HDB) disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) merupakan salah satu penyakit penting tanaman padi. Salah satu pengendalian yang efektif yaitu dengan penggunaan varietas tahan. Perakitan varietas unggul baru yang membawa gen tahan terhadap HDB terus dilakukan melalui persilangan dengan memanfaatkan keragaman sumber genetik padi yang ada. Penelitian dengan tujuan mengidentifikasi tingkat ketahanan varietas padi lokal koleksi plasma nutfah BB Padi terhadap penyakit hawar daun bakteri (HDB) telah dilakukan di rumah kasa BB Padi Sukamandi pada MT-1/ MT-2 Tahun 2014. Materi genetik yang digunakan adalah 60 aksesi varietas padi lokal dan biakan murni bakteri Xoo patotipe III, IV,dan VIII. Metode inokulasi dilakukan dengan pengguntingan daun dan skoring ketahanan berdasarkan SES IRRI tahun 2002. Hasil penelitian menunjukkan ada varietas padi lokal (aksesi) yang tahan terhadap satu patotipe HDB (Xoo) saja dan ada yang tahan terhadap dua patotipe HDB (Xoo). Aksesi yang tahan terhadap patotipe III saja yaitu : Beras Hitam Melik (8770), Ketan Lomah Hitam (8791), Ketan Lomak (8792), Ketan Bayong (8804), Waren (8806), Ketan Hideung (8807), Karia (8815), Nemol (8822), dan Cireh Gudang (8823). Aksesi yang memiliki ketahanan terhadap dua patotipe HDB (Xoo) yaitu patotipe III dan VIII adalah Cantik Lembayung (aromatik) (8218), Mansur (8221), Ketan Bayong (046) (8804), dan Nemol (056) (8822), sementara aksesi yang memiliki sifat ketahanan terhadap patotipe III dan IV adalah Ketan Hideung (047) (8807) dan Cireh Gudang (051) (8823). Abstrack Resistance of local rice varieties against bacterial leaf blight (Xanthomonas oryzae pv. oryzae). Bacterial Leaf Blight (BLB) is caused by the bacteria Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo) is an important disease of rice plants. One of the effective controls is with the use of resistant varieties. The assembly of new improved varieties carrying genes resistant to BLB continues through crossbreeding by utilizing the diversity of existing genetic sources of rice. The research has been done at the green house of ICRR in Sukamandi on wet season and dry season 2014 with the aim to identify the level of resistance of local rice varieties of rice germplasm collection of ICRR on bacterial leaf blight disease (BLB). The genetic material used was 60 accessions of local rice varieties and pure culture of Xoo patotype III, IV, and VIII bacteria. Inoculation method was performed by leaf cutting and resistance scoring based on SES IRRI 2002. The results showed that there are local rice varieties (accessions) that are resistant to one HDB (Xoo) patotype only and some are resistant to two BLB (Xoo) patotypes. Accession resistant to patotype III only: Beras Hitam Melik (8770), Ketan Lomah Hitam (8791), Ketan Lomak (8792), Ketan Bayong (8804), Waren (8806), Ketan Hideung (8807), Karia (8815) , Nemol (8822), and Cireh Gudang (8823). The accessions that have resistance to two patotype BLB (Xoo) patotypes III and VIII are Cantik Lembayung (aromatic) (8218), Mansur (8221), Ketan Bayong (046) (8804), and Nemol (056) (8822), while accession which have resistance properties against the patotypes III and IV are Ketan Hideung (047) (8807) and Cireh Gudang (051) (8823).
- ItemRekomendasi Budidaya Padi pada Berbagai Agroekosistem(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2020) Susanti, Zuziana; Rumanti, Indrastuti A; Rahmini; Sukarman; Mulyani, Anny; Setyorini, Diah; Syahbuddin, Haris; Sasmita, Priatna; Widowari, Ladiyani Retno; Anggara, Agus Wahyana; Wijanarko, Andy; Nugroho, Yudhistira; Suprihanto; Hasmi, Idrus; Rohaeni, Wage Ratna; Handoko, Dody Dwi; Susanto, Untung; Safitri, Heni; Hairmansis, Aris; Widyantoro; Kasno, A.; Jumali; Roza, Celvia; Norvyani, Mutya; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi
- ItemTeknologi Pengendalian Penyakit Blas Melalui Perpaduan Varietas Dan Waktu Aplikasi Fungisida(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2017) Roza, Celvia; S. Kadir, Triny; Widyantoro; Ruskandar, Ade; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)Teknologi Pengendalian Penyakit Blas melalui Perpaduan Varietas dan Waktu Aplikasi Fungisida telah dilakukan di Indramayu pada MH Tahun 2015. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknik pengendalian blas dengan perpaduan varietas tahan dan teknik aplikasi fungisida. Percobaan disusun dalam rancangan petak terpisah (split plot) dengan 3 ulangan. Perlakuan varietas (Inpago 8, Situ bagendit, Cirata, dan Selegreng) sebagai petak utama dan cara/waktu aplikasi sebagai anak petak (dua kali aplikasi saat tanaman berumur 30 dan 45 hari setelah tanam; dua kali aplikasi saat tanaman berumur 45 dan 60 hari setelah tanam; dua kali aplikasi saat tanaman berumur 60 dan 70-80 hari setelah tanam; tiga kali aplikasi saat tanaman berumur 30, 45, dan 60 hari setelah tanam; kontrol/ cek). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara varietas yang digunakan dengan waktu aplikasi fungisida dalam menekan serangan penyakit blas daun. Pada fase vegetatif, persentase serangan penyakit blas daun tidak dipengaruhi oleh varietas yang digunakan, sedangkan waktu aplikasi fungisida memberikan pengaruh terhadap persentase serangan penyakit blas daun. Pada fase generatif, persentase serangan penyakit blas daun dipengaruhi oleh varietas yang digunakan, begitu juga dengan waktu aplikasi fungisidanya. Serangan blas leher dipengaruhi oleh varietas yang digunakan, persentase serangan blas leher tertinggi terlihat pada varietas Cirata (varietas rentan) yaitu sebesar 5,13% dan terendah terlihat pada varietas Inpago 8 (varietas tahan) yaitu sebesar 1,01%, tetapi tidak dipengaruhi oleh waktu aplikasi fungisidanya. Persentase serangan blas leher tertinggi terlihat pada perlakuan kontrol (tanpa aplikasi) yaitu sebesar 3,81% dan terendah pada perlakuan dua kali aplikasi fungisida (60 & 70-80 HSTb). Tinggi rendahnya serangan blas leher tergantung infeksi awal pada blas daun.