Browsing by Author "Rizal, Molide"
Now showing 1 - 12 of 12
Results Per Page
Sort Options
- ItemBIOLOGI DAN PEMBIAKAN MASAL FALL ARMY WORM Spodoptera frugiperda J. E. Smith (Lepidoptera: Noctuidae) DI LABORATORIUM : Warta balittro Vol. 37 No. 73 tahun 2020(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2020-06-01) Perkasa, Galih; Rizal, Molide; Mardiningsih, Tri Lestari; Tarigan, Nurbetti; Maris, ParamitaFall Army Worm, Spodoptera frugiperda (J. E. Smith) (Lepidoptera: Noctuidae) merupakan hama baru yang masuk ke Indonesia. Sampai sekarang belum diketahui secara pasti penyebab hama tersebut dapat masuk ke Indonesia. Hama ini bersifat polifag, mampu memakan jenis-jenis tanaman yang tergolong ke dalam berbagai famili. Perlu adanya penelitian untuk mengetahui biologi dan cara pembiakan massalnya dalam upaya mencari cara pengendalian yang diharapkan mampu mengendalikan dan sekaligus menekan laju penyebarannya. Tersedianya hama S.frugiperda dalam jumlah banyak dan seragam dibutuhkan untuk menunjang Di laporkan oleh Srikanth et al., (2018), bahwa S. frugiperda telah menyerang tanaman perkebunan, yaitu tebu di negara bagian selatan India, Tamil Nadu. Serangan ditemukan pada tanaman tebu yang masih muda dengan intensitas serangan yang cukup rendah (1.85-30.86%). Sebaran ulat ini di Indonesia, terutama di Sumatera dan Jawa pada bulan Juni 2019, pada pertanaman jagung telah dilaporkan oleh Sartiami et al., (2019). Dikhawatirkan ulat baru yang bersifat polifag ini akan menyerang tanaman perkebunan lainnya seperti tanaman rempah dan tanaman obat. Oleh karena itu perlu segera dilakukan penelitian untuk menemukan cara pengendalian yang efektif dalam upaya menekan laju penyebaran S. berbagai penelitian dalam rangka frugiperda di Indonesia. pengendalian hama tersebut. Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa pada pakan alami buah jagung muda (baby corn) siklus hidup S. frugiperda berlangsung selama 34-47 hari, terdiri dari stadia telur 2-3 hari, larva 12-20 hari, pupa 8-9 hari, imago 12-15 hari. Dengan pakan alami tersebut serangga S. frugiperda telah berhasil dibiakkan secara massal di laboratorium pada suhu ± 29-30°c dan kelembaban relatif 66-67%.
- ItemPengendalian Terpadu Hama Penggerek Batang Cengkeh(Balittro, 2017-06-01) Rizal, Molide; Balittro
- ItemPOTENSI EKSTRAK TANAMAN OBAT DAN AROMATIK SEBAGAI PENGENDALI KEONG MAS(Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, ) Wiratno, Wiratno; Rizal, Molide; Laba, I Wayan
- ItemStandar Operasional Prosedur (SOP) Budidaya Jahe (Zingiber officinale)(Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat, 2019) Latifah, KD; Djauhari, Edy; Januwati, M.; Rizal, Molide; Wardana, Heru D.; Hendani, Nani; Listyorini, Baswasiati; Hartoyo, Budi; Purwanto; Nurwidodo; Supriyadi; Elnizar; Hikmat, Atje; LinaPeningkatan daya saing produk Tanaman Obat mendesak terus dilakukan seiring dengan meningkatnya permintaan produk Tanaman Obat baik dalam bentuk segar maupun sebagai bahan baku industri farmasi dan jamu. Faktor-faktor lain yang menyebabkan pentingnya peningkatan daya saing produk Tanaman Obat tersebut yaitu kepedulian konsumen terhadap keamanan pangan dan aspek lingkungan serta adanya persaingan yang semakin ketat antar negara produsen. Salah satu upaya yang dilakukan adalah perbaikan teknologi budidaya melalui penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) budidaya yang berdasar atas norma budidaya yang baik (Good Agriculture Practices/GAP).
- ItemStandar Operasional Prosedur (SOP) Budidaya Jahe (Zingiber officinale)(Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat, 2022) KD, Latifah; Djauhari, Edy; Januwati, M.; Rizal, Molide; Wardana, Heru D.; Hendani, Nani; Listyorini; Baswasiati; Hartoyo, Budi; Purwanto; Nurwidodo; Supriyadi; Elnizar; Hikmat, Atje; LinaPeningkatan daya saing produk Tanaman Obat mendesak terus dilakukan seiring dengan meningkatnya permintaan produk Tanaman Obat baik dalam bentuk segar maupun sebagai bahan baku industri farmasi dan jamu. Faktor-faktor lain yang menyebabkan pentingnya peningkatan daya saing produk Tanaman Obat tersebut yaitu kepedulian konsumen terhadap keamanan pangan dan aspek lingkungan serta adanya persaingan yang semakin ketat antar negara produsen. Salah satu upaya yang dilakukan adalah perbaikan teknologi budidaya melalui penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) budidaya yang berdasar atas norma budidaya yang baik (Good Agriculture Practices/GAP).
- ItemTeknologi Pengendalian Terpadu Hama Penghisap Buah Helopeltis sp.. (Hemiptera: Miridae) pada Perkebunan Jambu Mete(Balittro, 2020-07-02) Rismayani, Rismayani; Rizal, Molide; Balittro
- ItemUJI KETAHANAN GALUR JAMBU METE TERHADAP HAMA Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae)(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2022-05) Haryudin, Wawan; Rizal, Molide; Rostiana, Otih; Holid, Idam; Sukandi, KandaSalah satu penyebab rendahnya produktivitas jambu mete di sentra produksi yaitu adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama hama pengisap pucuk Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae). Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikampek, dari Bulan Januari-Desember 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan jambu mete hasil persilangan (F1) terhadap Helopeltis sp. dengan menggunakan metode uji pilihan bebas (free-choise test). Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan diulang 2 kali. Sebanyak 50 galur jambu mete hasil persilangan yang diperbanyak dengan cara penyambungan, ditempatkan di dalam kurungan dalam posisi melingkar. Jumlah tanaman pada masing-masing kurungan adalah 23 galur. Sebanyak 5 pasang imago Helopeltis sp. yang telah dipuasakan selama 2 jam dimasukkan dan diletakkan di bagian tengah kurungan. Pengamatan dimulai 2 hari setelah infestasi Helopeltis sp., diulang setiap 3 hariselama 1 bulan atau diberhentikan jika serangganya mati. Parameter yang diamati meliputi jumlah telur yang diletakan, jumlah telur menetas, jumlah Helopeltissp. yang hinggap, intensitas serangan, jumlah tunas dan jumlah daun yang tumbuh serta lama masa pemulihan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 23 galur toleran terhadap Helopeltis sp., yaitu nomor: 2.1, 5.3, 6.4, 7.1, 7.3, 8.1, 9.1, 10.3, 11.4, 13.3, 13.4, 14.1, 15.1, 17.1, 18.1, 19.1, 19.3, 21.1, 21.3, 22.3, 22.4, 24.1, dan 25.4. Intensitas serangan sebanyak 10–87,5 %. Pada saat pemulihan pertumbuhan tunas mencapai 1-4 tunas dan daun sebanyak 2-11 helai. Masa pemulihan terjadi selama 10-14 hari. Daya hasil dari galur toleran yang diperoleh perlu pengujian lebih lanjut di lapangan.
- ItemUJI KETAHANAN GALUR JAMBU METE TERHADAP HAMA Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae)(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2022-05) Haryudin, Wawan; Rizal, Molide; Rostiana, Otih; Holid, Idam; Sukandi, KandaSalah satu penyebab rendahnya produktivitas jambu mete di sentra produksi yaitu adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama hama pengisap pucuk Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae). Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikampek, dari Bulan Januari-Desember 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan jambu mete hasil persilangan (F1) terhadap Helopeltis sp. dengan menggunakan metode uji pilihan bebas (free-choise test). Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan diulang 2 kali. Sebanyak 50 galur jambu mete hasil persilangan yang diperbanyak dengan cara penyambungan, ditempatkan di dalam kurungan dalam posisi melingkar. Jumlah tanaman pada masing-masing kurungan adalah 23 galur. Sebanyak 5 pasang imago Helopeltis sp. yang telah dipuasakan selama 2 jam dimasukkan dan diletakkan di bagian tengah kurungan. Pengamatan dimulai 2 hari setelah infestasi Helopeltis sp., diulang setiap 3 hariselama 1 bulan atau diberhentikan jika serangganya mati. Parameter yang diamati meliputi jumlah telur yang diletakan, jumlah telur menetas, jumlah Helopeltissp. yang hinggap, intensitas serangan, jumlah tunas dan jumlah daun yang tumbuh serta lama masa pemulihan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 23 galur toleran terhadap Helopeltis sp., yaitu nomor: 2.1, 5.3, 6.4, 7.1, 7.3, 8.1, 9.1, 10.3, 11.4, 13.3, 13.4, 14.1, 15.1, 17.1, 18.1, 19.1, 19.3, 21.1, 21.3, 22.3, 22.4, 24.1, dan 25.4. Intensitas serangan sebanyak 10–87,5 %. Pada saat pemulihan pertumbuhan tunas mencapai 1- 4 tunas dan daun sebanyak 2-11 helai. Masa pemulihan terjadi selama 10-14 hari. Daya hasil dari galur toleran yang diperoleh perlu pengujian lebih lanjut di lapangan.
- ItemUJI KETAHANAN GALUR JAMBU METE TERHADAP HAMA Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae)(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2022-05) Haryudin, Wawan; Rizal, Molide; Rostiana, Otih; Sukanda, KandaSalah satu penyebab rendahnya produktivitas jambu mete di sentra produksi yaitu adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama hama pengisap pucuk Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae). Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikampek, dari Bulan Januari-Desember 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan jambu mete hasil persilangan (F1) terhadap Helopeltis sp. dengan menggunakan metode uji pilihan bebas (free-choise test). Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan diulang 2 kali. Sebanyak 50 galur jambu mete hasil persilangan yang diperbanyak dengan cara penyambungan, ditempatkan di dalam kurungan dalam posisi melingkar. Jumlah tanaman pada masing-masing kurungan adalah 23 galur. Sebanyak 5 pasang imago Helopeltis sp. yang telah dipuasakan selama 2 jam dimasukkan dan diletakkan di bagian tengah kurungan. Pengamatan dimulai 2 hari setelah infestasi Helopeltis sp., diulang setiap 3 hariselama 1 bulan atau diberhentikan jika serangganya mati. Parameter yang diamati meliputi jumlah telur yang diletakan, jumlah telur menetas, jumlah Helopeltissp. yang hinggap, intensitas serangan, jumlah tunas dan jumlah daun yang tumbuh serta lama masa pemulihan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 23 galur toleran terhadap Helopeltis sp., yaitu nomor: 2.1, 5.3, 6.4, 7.1, 7.3, 8.1, 9.1, 10.3, 11.4, 13.3, 13.4, 14.1, 15.1, 17.1, 18.1, 19.1, 19.3, 21.1, 21.3, 22.3, 22.4, 24.1, dan 25.4. Intensitas serangan sebanyak 10–87,5 %. Pada saat pemulihan pertumbuhan tunas mencapai 1- 4 tunas dan daun sebanyak 2-11 helai. Masa pemulihan terjadi selama 10-14 hari. Daya hasil dari galur toleran yang diperoleh perlu pengujian lebih lanjut di lapangan.
- ItemUJI KETAHANAN GALUR JAMBU METE TERHADAP HAMA Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae)(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2022-05) Haryudin, Wawan; Rizal, Molide; Rostiana, Otih; Holid, Idam; Sukandi KandaSalah satu penyebab rendahnya produktivitas jambu mete di sentra produksi yaitu adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama hama pengisap pucuk Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae). Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikampek, dari Bulan Januari-Desember 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan jambu mete hasil persilangan (F1) terhadap Helopeltis sp. dengan menggunakan metode uji pilihan bebas (free-choise test). Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan diulang 2 kali. Sebanyak 50 galur jambu mete hasil persilangan yang diperbanyak dengan cara penyambungan, ditempatkan di dalam kurungan dalam posisi melingkar. Jumlah tanaman pada masing-masing kurungan adalah 23 galur. Sebanyak 5 pasang imago Helopeltis sp. yang telah dipuasakan selama 2 jam dimasukkan dan diletakkan di bagian tengah kurungan. Pengamatan dimulai 2 hari setelah infestasi Helopeltis sp., diulang setiap 3 hariselama 1 bulan atau diberhentikan jika serangganya mati. Parameter yang diamati meliputi jumlah telur yang diletakan, jumlah telur menetas, jumlah Helopeltissp. yang hinggap, intensitas serangan, jumlah tunas dan jumlah daun yang tumbuh serta lama masa pemulihan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 23 galur toleran terhadap Helopeltis sp., yaitu nomor: 2.1, 5.3, 6.4, 7.1, 7.3, 8.1, 9.1, 10.3, 11.4, 13.3, 13.4, 14.1, 15.1, 17.1, 18.1, 19.1, 19.3, 21.1, 21.3, 22.3, 22.4, 24.1, dan 25.4. Intensitas serangan sebanyak 10–87,5 %. Pada saat pemulihan pertumbuhan tunas mencapai 1-4 tunas dan daun sebanyak 2-11 helai. Masa pemulihan terjadi selama 10-14 hari. Daya hasil dari galur toleran yang diperoleh perlu pengujian lebih lanjut di lapangan.
- ItemUJI KETAHANAN GALUR JAMBU METE TERHADAP HAMA Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae)(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2022-05) Haryudin, Wawan; Rizal, Molide; Rostiana, Otih; Holid, Idam; Sukandi, KandaSalah satu penyebab rendahnya produktivitas jambu mete di sentra produksi yaitu adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama hama pengisap pucuk Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae). Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikampek, dari Bulan Januari-Desember 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan jambu mete hasil persilangan (F1) terhadap Helopeltis sp. dengan menggunakan metode uji pilihan bebas (free-choise test). Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan diulang 2 kali. Sebanyak 50 galur jambu mete hasil persilangan yang diperbanyak dengan cara penyambungan, ditempatkan di dalam kurungan dalam posisi melingkar. Jumlah tanaman pada masing-masing kurungan adalah 23 galur. Sebanyak 5 pasang imago Helopeltis sp. yang telah dipuasakan selama 2 jam dimasukkan dan diletakkan di bagian tengah kurungan. Pengamatan dimulai 2 hari setelah infestasi Helopeltis sp., diulang setiap 3 hariselama 1 bulan atau diberhentikan jika serangganya mati. Parameter yang diamati meliputi jumlah telur yang diletakan, jumlah telur menetas, jumlah Helopeltissp. yang hinggap, intensitas serangan, jumlah tunas dan jumlah daun yang tumbuh serta lama masa pemulihan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 23 galur toleran terhadap Helopeltis sp., yaitu nomor: 2.1, 5.3, 6.4, 7.1, 7.3, 8.1, 9.1, 10.3, 11.4, 13.3, 13.4, 14.1, 15.1, 17.1, 18.1, 19.1, 19.3, 21.1, 21.3, 22.3, 22.4, 24.1, dan 25.4. Intensitas serangan sebanyak 10–87,5 %. Pada saat pemulihan pertumbuhan tunas mencapai 1- 4 tunas dan daun sebanyak 2-11 helai. Masa pemulihan terjadi selama 10-14 hari. Daya hasil dari galur toleran yang diperoleh perlu pengujian lebih lanjut di lapangan.
- ItemUJI KETAHANAN GALUR JAMBU METE TERHADAP HAMA Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae)(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2022-05) Haryudin, Wawan; Rizal, Molide; Rostiana, Otih; Holid, Idam; Sukandi, KandaSalah satu penyebab rendahnya produktivitas jambu mete di sentra produksi yaitu adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), terutama hama pengisap pucuk Helopeltis sp. (Hemiptera: Miridae). Upaya pengendalian dapat dilakukan dengan penggunaan varietas tahan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Cikampek, dari Bulan Januari-Desember 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan jambu mete hasil persilangan (F1) terhadap Helopeltis sp. dengan menggunakan metode uji pilihan bebas (free-choise test). Penelitian disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dan diulang 2 kali. Sebanyak 50 galur jambu mete hasil persilangan yang diperbanyak dengan cara penyambungan, ditempatkan di dalam kurungan dalam posisi melingkar. Jumlah tanaman pada masing-masing kurungan adalah 23 galur. Sebanyak 5 pasang imago Helopeltis sp. yang telah dipuasakan selama 2 jam dimasukkan dan diletakkan di bagian tengah kurungan. Pengamatan dimulai 2 hari setelah infestasi Helopeltis sp., diulang setiap 3 hariselama 1 bulan atau diberhentikan jika serangganya mati. Parameter yang diamati meliputi jumlah telur yang diletakan, jumlah telur menetas, jumlah Helopeltissp. yang hinggap, intensitas serangan, jumlah tunas dan jumlah daun yang tumbuh serta lama masa pemulihan. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 23 galur toleran terhadap Helopeltis sp., yaitu nomor: 2.1, 5.3, 6.4, 7.1, 7.3, 8.1, 9.1, 10.3, 11.4, 13.3, 13.4, 14.1, 15.1, 17.1, 18.1, 19.1, 19.3, 21.1, 21.3, 22.3, 22.4, 24.1, dan 25.4. Intensitas serangan sebanyak 10–87,5 %. Pada saat pemulihan pertumbuhan tunas mencapai 1- 4 tunas dan daun sebanyak 2-11 helai. Masa pemulihan terjadi selama 10-14 hari. Daya hasil dari galur toleran yang diperoleh perlu pengujian lebih lanjut di lapangan.