Browsing by Author "Purnamaningsih, Ragapadmi"
Now showing 1 - 4 of 4
Results Per Page
Sort Options
- ItemPENGARUH JENIS EKSPLAN DAN AUKSIN TERHADAP PERTUMBUHAN KALUS ARTEMISIA(BALAI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK, 2007-09-06) Purnamaningsih, Ragapadmi; Lestari, Endang Gati; Yunita, RossaArtemisia merupakan salah satu tanaman penghasil senyawa bahan aktif (artemisinin) untuk pembuatan obat anti malaria. Peningkatan produksi artemisinin secara in vitro dapat dilakukan melalui kultur kalus. Untuk itu harus diketahui formulasi media yang optimum agar diperoleh pertumbuhan kalus yang cepat dengan struktur yang baik. Pembentukan kalus sangai dipengaruhi oleh jenis eksplan dan zat pengatur tumbuh. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan jenis eksplan dan formulasi media terbaik untuk pertumbuhan kalus yang optimal. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 15 ulangan. Eksplan yang digunakan adalah daun dan batang. Untuk menginduksi pembentukan kalus dicoba formulasi media yaitu MS dengan penambahan zat pengatur tumbuh 2,4-D atau dicamba (1 dan 3 mg/l) dikombinasikan dengan BA (0, 0.1, 0.5 mg/l). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua formulasi media yang digunakan dapat menginduksi terbentuknya kalus. Pada umumnya perlakuan kombinasi BА dengan 2,4-D atau dicamba tidak dapat menginduksi terbentuknya kalus, sebaliknya penggunaan 2,4-D atau dicamba secara tunggal dapat menginduksi pembentukan kalus. Penambahan 2,4-D (1 atau 3 mg/l) atau dicamba (1 atau 3 mg/l) dapat menginduksi pembentukan kalus sebesar 100%, sedangkan pertumbuhan kalus terbaik diperoleh dari perlakuan MS + dicamba (1 atau 3 mg/l) dengan rata-rata berat basah kalus masing-masing adalah 0.525 gram dan 0.609 gram. Berdasarkan struktur kalus yang terbentuk maka disimpulkan bahwa formulasi media terbaik untuk induksi kalus adalah MS + dicamba 1 mg/1, sedangkan penggunaan dicamba 3 mg/1 menghasilkan kalus yang lebih banyak mengandung air (vitrous). Jika dibandingkan antara batang dan daun, maka penggunaan eksplan daun dapat menginduksi pembentukan kalus lebih cepat dibandingkan dengan batang.
- ItemPenyediakan Benih Tebu Klonal Menggunakan Teknik Kultur In Vitro Menunjang Pencapaian Target Swasembada Gula(IAARD Press, 2018-11) Purnamaningsih, Ragapadmi; Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
- ItemRegenerasi Kalus Embrionik Padi setelah Diseleksi dengan Al dan pH Rendah(Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, 2003-12) Purnamaningsih, Ragapadmi; Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik PertanianSalah satu upaya untuk meningkatkan produksi nasional padi adalah dengan memanfaatkan lahan masam yang tersedia cukup luas di luar Pulau Jawa. Pada lahan tersebut ditemukan masalah cekaman lingkungan, yaitu tingkat ke-masaman yang tinggi, ketersediaan hara N, P, K, Ca, Mg, dan Mo yang rendah serta konsentrasi Al dan Mn yang tinggi. Pendekatan yang efisien dan ramah lingkungan untuk menanggulangi masalah tersebut adalah dengan memperbaiki kultivar-kultivar tanaman terhadap cekaman lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan metode seleksi yang tepat dan nomor-nomor ha-rapan baru tanaman padi yang dapat ditanam di lahan masam (pH rendah dan kandungan Al yang tinggi). Perlakuan yang diuji adalah varietas (T-309, Rojolele, dan IR64), dosis radiasi (0, 100, 300, dan 500 rad), serta konsentrasi aluminium (0, 100, 200, 300, 400, dan 500 ppm). Seleksi dilakukan pada dua tahap, yaitu tahap kalus dan tahap regenerasi. Rancangan disusun secara fak-torial dalam Rancangan Lingkungan Acak Lengkap. Hasil penelitian menunjuk-kan bahwa peningkatan dosis radiasi dapat menyebabkan penurunan daya regenerasi kalus padi. Massa sel embrionik yang diseleksi dengan Al dan pH rendah dapat beregenerasi membentuk tunas dengan kemampuan regenerasi yang berbeda-beda untuk masing-masing varietas tergantung pada konsentrasi aluminium yang diberikan. Semakin meningkat konsentrasi Al maka semakin menurun daya regenerasi kalus membentuk tunas. Seleksi yang dilakukan pada tahap regenerasi memberikan persentase regenerasi yang lebih tinggi diban-dingkan dengan seleksi pada tahap kalus.
- ItemRegenerasi Tanaman melalui Embriogenesis Somatik dan Beberapa Gen yang Mengendalikannya(Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, 2002) Purnamaningsih, Ragapadmi; Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik PertanianPlant Regeneration trough Somatic Embryogenesis and Some Gene Expression. Ragapadmi Purnamaningsih. The agriculture system need to be enhanced. In order that it is needed the qualified and uniform seedlings in plenty quantity. However it is very difficult to get that from conventional method. By using tissue culture method, seedling can be multiplied. The advantages of this method are (1) seedling can be obtained in plenty quantity, (2) seedling can be obtained in short time relatively, and (3) the seedlings have the same character with the mother plant. Multiplication of explant by using embryogenesis somatic is the one technique that can be applied. With this technique explant can be induced to form somatic seedling from several specific stages: embryogenic callus induction, maturation, germination, and hardening. All of the stages are depend on kind of explant and the composition of nutrition in the culture media (carbohydrate sources, kind, and concentration of plant growth regulator, etc.). Embryogenesis somatic process is regulated by several genes CHB3, CHB4, CHB5, and CHB6. The expression of these genes determine the stage of embryo development untill somatic seedlings are formed.