Browsing by Author "Prihasto Setyanto"
Now showing 1 - 5 of 5
Results Per Page
Sort Options
- ItemClimate-Smart Agriculture (CSA) di Lahan Sawah Tadah Hujan(Climate-Smart Agriculture (CSA) di Lahan Sawah Tadah Hujan, 2018) Prihasto Setyanto; Wihardjaka; Helena Lina SusilawatiPada dekade terakhir ini, perubahan iklim menjadi perhatian serius masyarakat global, regional, nasional, dan lokal. Perubahan iklim merupakan dampakpamanasan global akibat peningkatan konsentrasi gas rumah kaca antropogenik di atmosfer bumi. Dampak perubahan iklim terjadi juga di sektor pertanian termasuh di agroekologi sawah tadah hujan. Penerapan Climate-Smart Agriculture dalam mengoptimalkan lahan sawah tadah hujan merupakan salah satu antisipasi dampak perubahan iklim yang mensinergiskan upaya adaptasi dan mitigasi dalam memperbaiki produktivitas dan pendapatan masyarakat melalui inovasi teknologi ramah lingkungan. Inovasi teknologi ramah lingkungan yang diterapkan harus memenuhi prinsip dasar peningkatan produktivitas, konservasi tanah dan air, rendah emisi gas rumah kaca, adaptif terhadap perubahan iklim, penerapan pengendalian hama terpadu, rendah cemaran pestisida dan logam berat, pengelolaan pertanian minimum limbah, pemanfaatan sumberdaya lokal, pelestarian keanekaragaman hayati, dan integrasi tanaman-ternak. Buku Climate-Smart Agriculture mengulas upaya adaptasimitigasi perubahan iklim yang bermuara terhadap peningkatan produktivitas dan pendapatan masyarakat serta mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan. Kepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan buku ini disampaikan terima kasih. vi Harapannya, semoga buku ini bermanfaat bagi pengguna dan tentunya dapat menambah wawasan pentingnya kelestarian lingkungan bagi kehidupan di bumi.
- ItemEMISI GAS RUMAH KACA DARI VARIETAS PADI PASANG SURUT(Balai Pengujian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2007) Prihasto Setyanto; Helena Lina SusilawatiPenelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balingtan Jakenan pada musim kemarau tahun 2005. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi pengaruh varietas padi pasang surut terhadap emisi gas rumah kaca (GRK), Kurang lebih 18 ton tanah pasang surut salin (rata-rata pH air 9,01) diambil dari lahan sawah di pantai utara Kabupaten Demak dan ditempatkan dalam 12 mikroplot untuk ditanami empat varietas padi yaitu Punggur, Sei Lalan, Indragiri dan Martapura. Contoh udara dari dalam boks berukuran 1 mx 1 mx 1 m diambil dengar. pompa otomatik dan konsentrasi metananya (CH) diukur dengan kromatografi gas yang dilengkapi detektor FID (Flame Ionization Detector). Contoh udara untuk analisa karbondioksida (CO2) dan dinitrogen oksida (NO) diambil dengan jarum suntik (5 ml) secara manual setiap 7 hari sekali menggunakan boks berukuran 40 cm x 20 cm x 20 cm. Kandungan CO2 dan N2O dalam contoh dianalisis dengan menggunakan kromatografi gas yang dilengkapi detektor ECD (Electron Cupture Detector) dan TCD (Thermal Conductivity Detector). Hasil penelitian menunjukkan bahwa padi varietas Martapura paling tinggi dalam mengemisi CH, yaitu sebesar 171.5 kg/ha, diikuti Sei Lalan, Indragiri dan Punggur, berturut-turut sebesar 152,6, 141,1 dan 105,4 kg/ha. Emisi CO₂ dari plot yang ditanam varietas Punggur, Martapura, Sei Lalan dan Indragiri berturut-turut sebesar 4386, 7303, 3622 dan 3853 kg/ha, serta emisi N2O sebesar 0,204, 0,207, 0,262, dan 0,448 kg/ha. Hasil padi antar varietas tidak berbeda nyata berkisar antara 5,65 - 6,75 t/ha
- ItemMITIGASI EMISI GAS METAN PADA TANAH GAMBUT DENGAN VARIETAS PADI(Balai Pengujian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2007) Prihasto Setyanto; Helena Lina SusilawatiLuas lahan gambut di Indonesia diperkirakan mencapai 18,5 juta hektar di mana 50% atau 9,46 juta hektar lahan tersebut potensial dikembangkan sebagai areal pertanian. Diperkirakan baru sekitar 3,6 juta hektar tanah gambut yang sudah direklamasi untuk keperluan tersebut. Lahan gambut adalah areal yang sangat kaya akan sumber karbon yang bersifat stabil mengingat pH tanahnya yang rendah sehingga memperlambat proses dekomposisi bahan organik secara anaerobik. Pengembangan untuk pertanian diduga akan merubah ekosistim gambut sehingga dekomposisi secara anaerobik berlangsung optimal dan melepaskan emisi gas metan (CH,) dalam jumlah yang sangat besar. Gas CH, adalah salah satu gas rumah kaca di atmosfir bumi yang dapat memantulkan kembali sinar infra merah (sinar dengan efek panas). Penumpukan gas tersebut di atmosfir akan mengarah kepada pemanasan global yang selanjutnya dapat merubah sistim iklim bumi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi teknologi mitigasi emisi gas CH, dari tanah gambut dengan penanaman varietas padi yang adaptif untuk tanah pasang surut. Penelitian dilaksanakan pada MK 2006 di Kebun Percobaan Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) dengan menempatkan tanah gambut dari Kecamatan Gambut, Kalimantan Selatan, pada mikroplot berukuran 1,5 m x 1,5 m dengan kedalaman 0,5 m. Mikroplot tersebut dilapisi plastik dan ditanami padi varietas Punggur, Tenggulang, Banyuasin dan Batanghari. Gas CH, diambil dengan menggunakan boks yang terbuat dari pleksiglas, dan konsentrasi gas CH, dalam boks diukur dengan kromatografi gas yang terhubung dengan alat otomatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Punggur meng-emisi CH, tertinggi yaitu 183.0 kg/ha/musim dibanding varietas Banyuasin, Tenggulang dan Batanghari. Emisi CH, dari ketiga varietas tersebut berturut-turut sebesar 179,2, 124,1 dan 104.0 kg/ha dan tidak ada perbedaan nyata terhadap produksi padi (berkisar antara 3,3 -4,0 tha). Varietas padi Batanghari sangat ideal untuk dikembangkan di lahan gambut selain emisi gas CH, yang dihasilkan rendah juga hasil padi tidak berbeda nyata dengan varietas padi lainnya
- ItemSayuran Potensial di Lahan Berlereng dan Pekarangan(BPTP Jawa Tengah/agro indo mandiri, 2017-12) Achmad M.Fagi; Forita Dyah Aryanti; Warsana; Prihasto Setyanto; BPTP Jawa Tengah; BPTP JatengTanaman sayuran banyak diusahan di wilayah pegunungan yang umumnya pada lahan berlereng peka erosi. Sayuran juga berpotensi ditanam di lahan pekarangan sehingga diharapkan dapat mencukupi kebutuhan keluarga sehari hari. Tanaman sayuran dibudidayakan secara intensif oleh petani bermodal untuk tujuan komersial atau ditanam di lahan sempit tegalan atau pekarangan untuk dijual di pasar-pasar perdesaan oleh petani terbatas modal atau untuk keperluan rumah tangga sendiri. Buku ini diharapkan dapat memberikan alternatif pilihan Sistem Usahatani Rumah Tangga dengan mengoptimalkan sumber daya yang terbatas.
- ItemTeknologi Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca dari Lahan Sawah(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2008-09-11) Prihasto SetyantoSenyawa karbon diperlukan makhluk hidup sebagai sumber energi. Manusia menggunakan karbon sebagai bahan pangan dalam bentuk senyawa karbohidrat, lemak, protein dan senyawa lain. Unsur karbon (C) dalam bentuk senyawa gas rumah kaca (GRK) seperti gas metana (CH4 ) dan karbondioksida (CO2 ) dilepas ke atmosfer melalui proses biologis dan aktivitas manusia sehingga terbentuknya lapisan di stratosfer yang berakibat dipantulnya kembali radiasi gelombang infra merah yang seharusnya dilepas ke atmosfer bumi. Tulisan ini berisikan informasi teknologi yang dapat mengurangi emisi C dan gambaran bagaimana kompensasi pengurangan karbon diterapkan di lahan sawah. Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) telah melakukan penelitian guna mendukung upaya ini, antara lain mengganti cara pengairan sawah secara terus-menerus dengan pengairan berselang (intermittent), yang dapat menurunkan emisi CH4 sebesar 78%. Penggunaan varietas padi rendah emisi CH4 seperti Maros, Muncul, Way Apoburu, dan Fatmawati mampu menekan emisi CH4 hingga 66-10%, sedangkan pemakaian herbisida dengan bahan aktif paraquat dan glifosat menurunkan emisi CH4 sampai 60% dibanding tanpa herbisida. Teknologi yang dapat menurunkan emisi GRK dari lahan sawah seyogianya diterapkan. Insentif bagi petani yang terlibat dalam mengurangi emisi GRK perlu diperhatikan oleh pengambil kebijakan pertanian. ìPerdagangan karbonî dari lahan sawah atau upaya menurunkan emisi karbon dari lahan sawah dapat menjadi alternatif pemberian insentif bagi pelaku usahatani padi sawah. Konsep tersebut, walaupun masih bersifat pilot study, diatur dalam Clean Development Mechanism (CDM) yang ditawarkan dalam Protocol Kyoto. Dengan integrasi yang sinergis dan terpadu antara pengambil kebijakan pertanian dengan pelaku usahatani, perdagangan karbon dari lahan sawah bukan hal yang mustahil, seperti halnya REDD (reduction emission from deforestation and degradation) yang sebelumnya hanya sekadar konsep, saat ini mulai dibicarakan dan dibahas untuk diratifikasi oleh negara-negara industri.