Browsing by Author "Omayani Dewi, Dina"
Now showing 1 - 2 of 2
Results Per Page
Sort Options
- ItemPotensi Dan Kendala Dalam Pengembangan Kalender Tanam Padi Sawah Dalam Antisipasi Perubahan Iklim Di Kab. Sambas Kalimantan Barat(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2017) Omayani Dewi, Dina; Wahyudin, Didin; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)Perubahan iklim merupakan sesuatu yang sulit untuk dihindari dan memberikan dampak terhadap berbagai segi kehidupan. Pertanian diketahui merupakan sektor yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Di Indonesia, dampak perubahan iklim memiliki implikasi besar terutama bagi ketahanan pangan nasional. Selain menurunkan produktivitas, pergeseran musim dan peningkatan intensitas kejadian iklim ekstrim, terutama kekeringan dan kebanjiran, juga menjadi penyebab penciutan dan fluktuasi luas tanam serta memperluas areal pertanaman yang akan gagaI panen. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan kendala pengembangan Kalender Tanam (KATAM) Padi Sawah dalam antisipasi terhadap perubahan iklim di Kalimantan Barat. Kajian dilaksanakan di Kec. Tebas Kab Sambas Kalimantan Barat pada bulan Januari-Desember 2015. Kajian ini dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner dan Demplot Validasi dengan rekomendasi sebagai perlakuan, yaitu membandingkan antara rekomendasi KATAM, Organik, SRI, Petani dan Dinas. Analisis yang digunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dimana setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Adapun parameter yang diamati adalah: tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah gabah, jumlah gabah bernas, jumlah gabah hampa, berat 1000 biji dan hasil per ha nya. Dari hasil kajian menunjukkan bahwa pada pertumbuhan vegetative perlakuan dengan cara Petani memiliki tinggi tanaman tertinggi (91.78 cm) dan jumlah gabah permalai (149 buah) yang lebih banyak dibanding perlakuan lainnya. Namun perlakuan ini memiliki jumlah gabah hampa (28%) tertingi kedua setelah perlakuan dengan rekomendasi Dinas (37%). Sementari itu untuk hasil per hektarnya perlakuan dengan rekomendasi KATAM memiliki hasil tertinggi dibanding perlakuan lainnya (6,3 Ton/ha), walaupun untuk berat 1000 butirnya perlakuan tersebut tidak berbeda nyata dengan perlakuan dengan cara Organik dan Dinas. Adapun kendala dari pengembangan di Kab. Sambas selain masih minimnya sarana (55%) untuk mengakses Informasi KATAM juga karena kondisi iklim (30%) yang kurang mendukung. Informasi KATAM yang paling banyak dicari petani adala waktu tanam (65%), OPT (35%) dan Pupuk (5%).
- ItemPotensi dan Kendala Dalam Pengembangan Kalender Tanam Padi Sawah Dalam Antisipasi Perubahan Iklim di Kab. Sambas Kalimantan Barat(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2017-12-01) Omayani Dewi, Dina; Wahyudin, DidinAbstrak Perubahan iklim merupakan sesuatu yang sulit untuk dihindari dan memberikan dampak terhadap berbagai segi kehidupan. Pertanian diketahui merupakan sektor yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Di Indonesia, dampak perubahan iklim memiliki implikasi besar terutama bagi ketahanan pangan nasional. Selain menurunkan produktivitas, pergeseran musim dan peningkatan intensitas kejadian iklim ekstrem, terutama kekeringan dan kebanjiran, juga menjadi penyebab penciutan dan fluktuasi luas tanam serta memperluas areal pertanaman yang akan gagaI panen. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan kendala pengembangan Kalender Tanam (KATAM) Padi Sawah dalam antisipasi terhadap perubahan iklim di Kalimantan Barat. Kajian dilaksanakan di Kec. Tebas Kab Sambas Kalimantan barat pada bulan Januari-Desember 2015. Kajian ini dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner dan Demplot Validasi dengan rekomendasi sebagai perlakuan, yaitu membandingkan antara rekomendasi KATAM, Organik, SRI, Petani dan Dinas. Analisis yang digunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dimana setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Adapun parameter yang diamati adalah: tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah gabah, jumlah gabah bernas, jumlah gabah hampa, berat 1000 biji dan hasil per ha. Dari hasil kajian menunjukkan bahwa pada pertumbuhan vegetatif perlakuan dengan cara Petani memiliki tinggi tanaman tertinggi (91.78 cm) dan jumlah gabah per malai (149 buah) yang lebih banyak dibanding perlakuan lainnya. Namun perlakuan ini memiliki jumlah gabah hampa (28%) tertinggi kedua setelah perlakuan dengan rekomendasi Dinas (37%). Sementari itu untuk hasil per hektarnya perlakuan dengan rekomendasi KATAM memiliki hasil tertinggi dibanding perlakuan lainnya (6,3 Ton/ha), walaupun untuk berat 1000 butirnya perlakuan tersebut tidak berbeda nyata dengan perlakuan dengan cara Organik dan Dinas. Adapun kendala dari pengembangan di Kab. Sambas selain masih minimnya sarana (55%) untuk mengakses Informasi KATAM juga karena kondisi iklim (30%) yang kurang mendukung. Informasi KATAM yang paling banyak dicari petani adalah waktu tanam (65%), OPT (35%) dan Pupuk (5%). Abstract Climate change is something that is difficult to avoid and impact on the various aspects of life. Agriculture is a sector known most vulnerable to the impacts of climate change. In Indonesia, the impact of climate change has major implications, especially for national food security. In addition to lowering productivity, shifting seasons and the increased intensity of extreme climate events, especially droughts and floods, is also a cause of the collapse and fluctuations in planting area. This study aims to determine the potential development of Planting Calendar (KATAM) on paddy land in anticipation of climate change in West Kalimantan. Studies carried out in the Tebas District, Sambas Regency West Kalimantan in January to December 2015. The study was conducted by using questionnaires and interviews. Also with Validation through Demonstration Plot with recomendation as a treatment, with comparing the recommendation of KATAM , Organic, SRI, Farmers and local spesifik recomendation (service). The analysis used a randomized block design (RAK), where each treatment was repeated 3 times. The parameters measured were: plant height, number of tillers, number of grains, number of grains pithy, number of grain hollow, the weight of 1000 seeds and yield per hectare. From the results of the study showed that the vegetative growth treatments by Farmers have the highest plant height (91.78 cm) and the amount of grain (149 pieces) were higher than other treatments. However, this treatment has a number of grain hollow (28%) the second highest after treatment with the recommendation of the Local Specifik Recomendation (37%). Meanwhile, in parameter of yield per hectare with katam recommendations have the highest yield compared to other treatments (6.3 tons / ha), although for 1000 grain weight of such treatment was not significantly different treatments by Organic and Local Spesific Recomendation.The constraints of development of KATAM in the Sambas district were the lack of means (55%) to access the Information katam also because of climatic conditions (30%) were less supportive. Information KATAM most requested by farmers were planting time (65%), OPT (35%) and fertilizers (5%).