Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Mariska ...[at al], Ika"

Now showing 1 - 3 of 3
Results Per Page
Sort Options
  • No Thumbnail Available
    Item
    Mikropropagasi Sukun (Artocarpus communis Forst), Tanaman Sumber Karbohidrat Alternatif
    (BB Biogen, 2005) Mariska ...[at al], Ika; Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
    Sukun (Artocarpus communis Forst) merupakan tanaman buah tropis yang mengandung karbohidrat sangat tinggi. Ketika persediaan pangan terbatas, di beberapa wilayah tertentu tanaman ini sering menjadi bahan pangan utama sebagai sumber karbohidarat. Kandungan karbohidrat pada tanaman tersebut hampir sama dengan ubi jalar atau talas tetapi lebih banyak dan pada kentang. Kendala utama dalam pengembangan sukun adalah terbatasnya persediaan bibit. Teknik kultur jaringan telah diakui keunggulannya karena dapat menghasilkan bibit dalam jumlah banyak, seragam dan relatif singkat. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biologi Sel dan Jaringan, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB-Biogen) Bogor, mulai Februari 2003 sampai dengan Desember 2004. Penelitian terdiri dari beberapa tahap percobaan dengan berbagai kombinasi media sebagai perlakuan. Tahap pertama adalah multiplikasi tunas pada media Sk-2 dengan media WPM + BA (0; 0,5; 1,0; 1,5; dan 2,0 mg/l) + thidiazuron (0, 0,4 mg/l); tahap kedua, yaitu pemanjangan tunas pada media WPM + kinetin (1, 2, dan 3 mg/l) + GA3 (0 dan 5 mg/l); dan tahap ketiga adalah inisiasi dan perkembangan perakaran dengan membandingkan media WPM + BA (0, 2, 4, dan 6 mg/l) + arang aktif (0; 0,5%) dan media WPM (1; ½) + IBA (0; 1,5; dan 5 mg/l) atau NAA (1, 2, dan 3 mg/l). Hasil penelitian menunjukkan bahwa subkultur ke-2 dari tunas yang berukuran 1-2 cm pada media WPM + BA 0,5 mg/l + thidiazuron 0,4 dapat meningkatkan multiplikasi tunas menjadi 4,87-5,0. Subkultur dengan frekuensi tinggi, yaitu sampai 3 kali dapat menghasilkan jumlah tunas tertinggi, yaitu 15,5. Untuk elongasi tunas maka media WPM + kinetin I mg/l + GA3 5 mg/l merupakan formula yang terbaik. Persentase perakaran paling tinggi, yaitu 60% dengan jumlah akar berkisar 6,5 berasal dari media WPM + IBA 3 mg/l. Hasi aklimatisasi di rumah kaca telah dilakukan dengan tingkat keberhasilan 70%.
  • No Thumbnail Available
    Item
    Peningkatan Ketahanan Tanaman Abaka terhadap Penyakit Layu melalui Kultur In Vitro
    (Balai Penelitian Bioteknologi TanamanPangan, 2001) Mariska ...[at al], Ika; Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
    Tanaman abaka (Musa textilis) sangat potensial untuk dikembangkan karena dapat digunakan untuk berbagai macam kepentingan. Namun demikian, salah satu kendala dalam pengembangan tanaman abaka adalah adanya serangan penyakit layu yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum. Untuk mendapatkan genotipe baru yang lebih tahan maka dilakukan seleksi pada massa sel dengan menggunakan asam fusarat (0-75 ppm) dan F. oxysporum (0-50%) sebagai komponen seleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan regenerasi kalus semakin menurun dengan semakin meningkatnya konsentrasi asam fusa-rat (AF) atau filtrat. Enam minggu setelah tanam, jumlah tunas dari kontrol, fil-trat 10, 30, dan 50% masing-masing sebanyak 12, 18, 3, dan 2. Respon yang sama diperoleh dari massa sel yang diseleksi dengan AF. Semakin meningkat konsentrasi AF maka persentase kalus yang beregenerasi semakin rendah. Delapan minggu setelah tanam, tunas adventif yang terbentuk dari kontrol, AF 75 ppm, dan AF 45 ppm berturut-turut 8, 1, dan 3. Pada proses pemulihan (media MS + BA + thidiazuron), tunas yang berasal dari AF 60 dan 75 ppm mati, sedangkan yang berasal dari kontrol tunasnya dapat berploriferasi.
  • No Thumbnail Available
    Item
    Somatic Embryogenesis in Different Soybean Varieties
    (Central Research Institute for Food Crops, 2001-02) Mariska ...[at al], Ika; Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
    National demand for soybean (Gfytine max L. Merrill) is higher that its production, so that Indonesia needs to import the commodity. The government has planned to extensity the crop to acid sort areas, which has not been managed at the maximum capacity. However, many problems faced in acid soil, particularly high content of aluminum and low pH, which inhibit the growth of plant Soybean variety tolerant to the condition is still limited. To improve the tolerance to aluminum, a study was conducted through in vitro selection. One of the problems needs to be accomplished is the method of cell regeneration, since no standard (repeatable) method has been established. Therefore, it is necessary to study the effect of genotypes (varieties), source of exptants, t^ne of subculturing/physiologycal condition of mother plant and other factors on the success of somatic embryogenesis The study was conducted in two steps. In the first step, 7 sources of explants respectively collected from 10 soybean varieties were tested for their response to callus induction on 18 formulation media and to embryo maturation on 25 formulation media, Callus induction media were Murashige and Skoog (MS) or Phillips and Collins (PC-L2) in the combination with 2.4-0 (0-40 mg/I), picloram (0-0.01 mg/f), 8A (0-0.5 mg/l), kinetin (0-0.1 mg/l), NAA (0-10 mg/l), and several amino acids. Meanwhile for somatic embryo maturation basal media MS or PC-L2 had been used in the combination with 2,4-0 (0-0 05 mg/l). BA (0-0 5 mg/l), NAA (0-0.3 mg/l), zeatm (0-1 mg/l). GA3 (0-0.1 mg/l), manitoi, and charcoal. The best explants from first expenment were then used in second experiment. Results showed that 5 varieties (Bromo, Tambora, Wills, Black Manchu, and Argomulyo) were responsive to the treatments. From 18 media formulations. 5 formulae gave good results for embryonic callus, which developed into embryosomatic structures. Culture in MS media with high concentration of auxin, NAA (10 mg/i) or 2,4-0 (40 mg/l) and amino acid, followed by subculture in the media with low concentration of 2,4-D produced embryonic callus which was able to develop to bipolar embryo. For maturation and germination, somatic embryo structures were tubcuKured on a media without euxtn. The best methods of somatic embryogenesis produced in this study were repeatable and relatively produced high regeneration ability.

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback