Browsing by Author "M. Thamrin"
Now showing 1 - 6 of 6
Results Per Page
Sort Options
- ItemHAMA UTAMA KEDELAI DI LAHAN RAWA PASANG SURUT DAN PENGENDALIANNYA(Balai Pengujian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2014) M. Thamrin; M. WillisSalah satu hambatan dalam usaha tani kedelai di lahan rawa pasang surut adalah serangan hama yang dapat terjadi sejak tanaman mulai muncul di atas permukaan tanah sampai panen. Hama utama yang menyerang adalah lalat bibit, ulat grayak, ulat helicoverpa, ulat penggulung daun, penggerek polong, dan kepik polong. Pengendalian hama kedelai di lahan pasang surut merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan produktivitas melalui pengelolaan ekosistem seperti pemilihan varietas yang tepat, penggunaan benih bermutu, pemupukan berimbang dan pengelolaan air yang tepat. Makalah ini menguraikan tentang biologi dan teknik pengendalian hama utama kedelai di lahan rawa pasang surut. Populasi hama kedelai dapat ditekan dengan cara melakukan sanitasi lingkungan, tanam serempak dengan waktu tanam yang tepat, pergiliran tanaman, pengelolaan air dan penggunaan pupuk yang berimbang. Pengendalian hama kedelai dilakukan dengan cara memadukan komponen pengendalian yang kompatibel seperti penanaman varietas tahan, penggunaan benih sehat, dan pemanfaatan musuh alami.
- ItemIdentifikasi Organisme Penganggu Tanaman Sayuran Dan Eksplorasi Agensia Pengendaliannya Di Lahan Gambut Dangkal(BPTP Jambi, 2005) B. Prayudi; M. Thamrin; S. Asikin; BPTP JambiAgribisnis sayuran perlu ditangani secara profesional. Dalam upaya peningkatan produksi sayuran, banyak masalah yang harus dihadapi, diantaranya adalah gangguan oleh organisme pengganggu tanman (OPT). Kehilangan hasil pada berbagai jenis sayuran yang diakibatkan oleh OPT berkiar antara 34-95%. Upaya petani dalam menanggulangi OPT tersebut umumnya masih mengandalkan pestisida karena memberikan hasil pengendalian yang cepat. Akan tetapi penggunaan pestisida dalam jangka waktu lama dan diaplikasikan secara tidak bijaksana akan berdampak negatif terhadap lingkungan. Oleh karena itu strategi pengendalian OPT sayuran adalah menerapkan strategi pengelolaan hama terpadu (PHT).
- ItemPenelitian Pengendalian Hama Jagung di Lahan Kering(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Suaidi Raihan; Hairunsyah; Syaiful Asikin; M. ThamrinDewasa ini terdapat dua jenis hama yang dapat dikategorikan sebagai hama utama jagung di lahan kering, yaitu penggerek batang (Ostrinia furnacalis) dan lalat bibit (Atherigona oryzae). Beberapa jenis insektisida dinilai efektif untuk mengendalikan kedua hama tersebut. Dalam hubungannya dengan pengendalian hama penggerek batang dan lalat bibit, waktu tanam yang tepat adalah pada awal musim hujan (Oktober-November). Pengendalian secara terpadu (waktu tanam awal musim hujan, pemangkasan bunga jantan, pengaturan jarak tanam, dan pemberian insektisida granular melalui pucuk daun) cukup efektif menekan serangan penggerek batang.
- ItemPengendalian Hama Tikus di Lahan Pasang Surut Kalimantan Selatan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1993) M. Thamrin; S. Asikin; M.Z. HamijayaLuas serangan hama tikus pada tanaman padi di Kalimantan Selatan dalam lima tahun terakhir menduduki urutan teratas dibandingkan dengan hama lainnya. Hal itu antara lain disebabkan karena belum dilakukan pengendalian secara tepat. Tulisan ini menyajikan teknik pengendaliannya hama tikus, khususnya di lahan pasang surut, Kalimantan Selatan. Berdasarkan hasil penelitian terhadap populasi dan perkembangbiakan tikus yang diikuti dengan beberapa penelitian pengendaliannya, didapat suatu sistem pengendalian yang dapat dipedomani. Perkembangbiakan tikus erat kaitannya dengan kualitas dan kuantitas makanan, di samping berkaitan erat dengan stadia pertumbuhan padi. Dalam kaitan ini, tanam serentak sangat dianjurkan dengan mempertimbangkan pasang surutnya air dan ketersediaan tenaga kerja di daerah setempat. Sanitasi adalah salah satu usaha untuk menekan perkembangbiakan tikus. Di daerah yang banyak rumput- rumputan dan semak, banyak ditemukan tikus. Selain bersarang di dalam lubang, tikus ladang (Rattus exulans) dapatbersarang pada tumpukan semak atau rumputrumputan untuk melahirkan dan memelihara anaknya. Di Tarantang (Kаbupaten Barito Kuala), pengendalian tikus dengan cara gropyokan biasanya dilakukan sebelum penyemaian benih (September-Oktober). Dalam gropyokan, sebagian petani menggunakan anjing pelacak yang cukup terlatih untuk menentukan lubang aktif tikus. Kemampuan anjing memakan tikus berkisar 4-6 ekor/hari dan aktif mencari dan membunuh setiap tikus yang ditemukannya. Hasil penelitian di lahan pasang surut bergambut Sakalagun (Kabupaten Barito Kuala) menunjukkan bahwa penggunaan umpan beracun yang dilakukan sejak tanaman berumur sekitar 30 hari setelah tanam sangat efektif, karena pada saat itu tikus kekurangan makanan. Pengumpanan beracun sebaiknya dilakukan sampai tanaman berumur 45 hari setelah tanaт. Pengendalian dini ini mampu menekan kerusakan tanaman padi oleh serangan tikus dari 25,1% menjadi 8,0%.
- ItemSistem Usahatani di Lahan Sawah Tadah Hujan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1995) H.S. Raihan; N. Fauziati; M. Thamrin; Hidayat Dj. Noor; M. DjamhuriPenelitian sistem usahatani di lahan sawah tadah hujan bertujuan untuk mendapatkan pola usahataniyang cocok dan dapat meningkatkan pendapatan petani. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Tapin, November 1992 - Juli 1993. Model pola tanam yang diuji adalah Model M1 (padi gogorancah diikuti oleh tumpang sari kacang hijau dan jagung) dan Model M2 (padi sawah dikuti oleh padi sawah dan tanaman jeruk pada guludan). Model tersebut kemudian dibandingkan dengan Model Petani (bera - padi sawah - kacang hijau) dan (bera - padi sawah - bera). Di samping komposisi tanaman, juga teknologi dan masukan yang diberikan sesuai dengan paket yang tepat, serta penelitian budi daya mina-ayam. Hasil pengujian menunjukkan Pola MI dapat memberikan pendapatan tertinggi sebesar Rp 1.173.313/ha/tahun dan budi daya mina-ayam sebesar Rp 519.227.
- ItemStatus dan Pengendalian Hama Jagung di Lahan Kering Beriklim Basah Kalimantan Selatan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Syaiful Asikin; M. Thamrin; Normansjah DjahabHama merupakan salah satu kendala dalam peningkatan produksi jagung di Kalimantan Selatan. Berdasarkan hasil observasi dari tahun 1988/89 sampai 1990/91 di sentra produksijagung, yaitu Pampain, Binuang (Kabupaten Tapin), Tajau Pecah, Batu Mulia (Kabupaten Tanah Laut) dan Satui (Kabupaten Pulau Laut), diketahui delapanjenis serangga hama yang menyerang tanaman jagung. Penggerek batang (Ostrinia furnacalis) dan lalat bibit (Atherigona oryzae) dapat dikategorikan sebagai hama utama (major pest) sedangkan enamam jenis haта lainnya seperti jenis hama pemakan daun, penggerek tongkol dan aphis atau kutu daun dikategorikan sebagai hama kedua (minor pest). Melalui penelitian efikasi beberapa jenis insektisida terhadap serangan penggerek batang jagung diperoleh lima jenis insektisida yang efektif. Insektisida itu dapat dijadikan alternatif bagi karbofuran yang kini telah meluas penggunaannya. Selain itu diperoleh pula empat jenis insektisida yang efektif mengendalikan hama lalat bibit. Dalam kaitannya dengan pengendalian hama penggerek batang dan lalat bibit, waktu tanam yang tepat untuk jagung adalah pada awal musim hujan (OktoberNovember). Pengendalian dengan cara mengombinasikan beberapa komponen pengendalian, antara lain, pengaturan waktu, pemangkasan bunga jantan, pengaturan jarak tanam, dan pemberian insektisida granular melalui pucuk, cukup efektif menekan serangan hama penggerek batang.