Browsing by Author "Lukman, Wawan"
Now showing 1 - 5 of 5
Results Per Page
Sort Options
- ItemEFISIENSI PENGGUNAAN TUNAS RIMPANG SEBAGAI BENIH JAHE : Warta balittro Vol 32, No. 64 Desember 2015(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2015-12-01) Lukman, Wawan; Bakti, Rudiana; Surachman, DediKebutuhan benih jahe putih besar (JPB) untuk penanaman 1 ha diperkirakan sebanyak 2-2,5 ton, sedangkan untuk jahe putih kecil (JPK) dan jahe merah (JM) sebanyak 1-1,5 ton. Kondisi ini sangat memberatkan petani jahe. Salah satu usaha untuk mengatasi penghematan benih jahe adalah dengan memanfaatkan tunas rimpang. Penggunaan benih tunas rimpang dapat menghemat benih yang diperlukan setiap hektarnya sekitar 73,6-77,5% dari kebutuhan benih anjuran.
- ItemPENDAMPINGAN KELOMPOK USAHA PENGOLAHAN HASIL JAMBU METE DI KABUPATEN FLORES TIMUR : Warta balittro No 50 tahun 2005(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2005-06-01) Lukman, WawanPeningkatan luas areal perkebunan jambu mete yang pada gilirannya terjadi peningkatan produksi, ternyata belum memberikan tambahan pendapatan yang optimal kepada petani jambu mete di Kabupaten Flores Timur. Kegiatan subsistem hulu (on farm) yang merupakan sumber penghasilan sebagian besar masyarakat pedesaan di Kabupaten Flores Timur belum dapat memberikan kehidupan yang layak karena umumnya masyarakat pedesaan menjual produk pertanian/ perkebunan (jambu mete) dalam bentuk bahan asalan (gelondong). Berbagai kondisi faktual seperti kurangnya penerapan teknologi pengolahan, terbatasnya pengetahuan dan keterampilan, sarana dan prasarana usaha yang belum memadai, kontinuitas pasokan, ketepatan waktu pengiriman serta harga yang kompetitif menyebabkan nilai tambah yang diharapkan dari kegiatan hilir (off farm) tidak dapat dinikmati oleh petani. Menghadapi permasalahan tersebut di atas, maka kebijakan yang ditempuh adalah menciptakan usaha-usaha produktif di pedesaan. Beberapa kelompok petani secara sadar telah melakukan kegiatan off farm, khususnya menangani produk jambu mete dengan mengolahnya menjadi kacang mete. Kelompok usaha pengolahan hasil jambu
- ItemPENGOLAHAN CNSL (MINYAK LAKA) : Warta balittro Vol 32, No. 63 Juni 2015(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2015-06-01) Lukman, Wawan; Surachman, Dedi; Bakti, RudianaProduk utama jambu mete di pasar internasional adalah gelondong mete (nut), kacang (kernel), dan CNSL (cashew nut shell liquid). Di Indonesia, produk mete terutama dalam bentuk gelondong dan kacang. Sedangkan CNSL (minyak laka) sebagai produk ikutan belum dimanfaatkan õleh petani secara optimal. Peningkatan kesejahteraan petani mete dapat dilakukan dengan memanfaatkan limbah kulit gelondong mete untuk dibuat minyak laka atau CNSL sebagai hasil samping untuk tambahan pendapatan petani.
- ItemPOPIYE/MECIKOT SEBAGAI OBAT PEMBERSIH TUBUH (PENGGANTI SABUN) DAN OBAT PENENANG : Warta balittro No. 51 Tahun 2005(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2005-12-01) Lukman, WawanKulit halus merupakan dambaan setiap orang terutama "kaum hawa". Oleh karena itu berbagai upaya akan dilakukan orang untuk memperindah dan merawat kulit ini. Sabun adalah salah satu bahan pembersih, pemeliharaan dan peningkatan kualitas kulit yang merupakan produk dari obat modern. Di Indonesia Bagian Timur, khususnya Maluku Utara sebelum orang mengenal sabun mereka menggunakan air perasan atau daun dari tanaman “Popiye" untuk membersihkan tubuhnya, caranya akar atau batang tanaman "Popiye" dikeruk halus dan diambil airnya atau langsung menggunakan daunnya untuk menggosok badan nya saat mandi habis pulang dari berkebun atau melaut. Lainnya halnya di Manokwari Irian Jaya Barat tanaman ini dikenal dengan nama "Mecikot" orang menggunakan biji tanaman ini sebagai obat penenang. Caranya ambil bijinya kemudian campur dengan akar pisangpisangan (kruit) tambahkan daun sirih besar (amoan) kemudian rebus dan minumkan.
- ItemTEKNIK PESEMAIAN BENIH YLANG-YLANG : Warta balittro No. 45 Tahun 2002(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2002-06-01) Lukman, Wawan; Suhertini, EponKeberhasilan suatu tanaman sangat tergantung kepada kualitas bibit yang ditanam. Oleh karena itu penyediaan bibit yang baik perlu mendapat perhatian. Saat ini tanaman ylang-ylang diperbanyak secara generatif. Teknik perbanyakan secara vegetatif masih sulit dilakukan. Karena ylang-ylang mengalami masa dormansi cukup lama (60 hari) maka untuk mempercepat tumbuhnya, biji ylang-ylang digosok dengan abu gosok agar terdapat goresan-goresan pada permukaan biji, sehingga persentase tumbuhnya bisa mencapai 80-90%. Adapun persyaratan tumbuh benih yang baik meliputi: a) benih yang cukup matang, b) media perbenihan yang sesuai dan c) cara penyemaian benih yang baik. Media tanaman menggunakan pupuk kandang, tanah dan pasir, dengan perbandingan 1: 1: 2. setelah bibit berumur 30 hari dengan memiliki daun 4 – 6 helai dengan panjang akar 5- 10 cm, bibit dipindahkan ke kantong plastik (polybag) dengan media tanah dicampur pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1. Berhubung ylang-ylang termasuk tanaman yang perlu pemeliharaan yang intensif, maka selama pembibitan harus dipelihara dengan baik, seperti penyiraman, pemberantasan hama/ penyakit serta penyiangan terhadap gulma yang tumbuh. Setelah bibit berumur 6 - 12 bulan dan sudah kelihatan tumbuh baik baru bibit dipindahkan ke pertanaman.