Browsing by Author "Kasryno, Faisal"
Now showing 1 - 12 of 12
Results Per Page
Sort Options
- ItemAnalisa Ekonomi Usaha Ternak Kerbau di Indonesia(Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, ) Rusastra, I Wayan; Kasryno, Faisal
- ItemAnalisa Ekonomi Usaha Ternak Kerbau di Indonesia(PSEKP, ) Rusastra, I Wayan; Kasryno, Faisal
- ItemAspek Ekonomi Pengembangan Transmigrasi Dengan Pola Usaha Peternakan(Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, ) Rusastra, I Wayan; Syafa'at, Nizwar; Kasryno, Faisal
- ItemAspek Ekonomi Pengembangan Transmigrasi Dengan Pola Usaha Peternakan(PSEKP, ) Rusastra, I Wayan; Syafa'at, Nizwar; Kasryno, Faisal
- ItemKonsekuensi Mekanisasi Pertanian di Indonesia (Consequences of Small Farm Mechanization in Indonesia): Proceedings of a workshop Jointly Spnsored by the AARD-IRRI.(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1984-01-01) Kasryno, Faisal; Syam, Mahyuddin; Saefuddin, Yusuf; Manurung S.O.; Mundy, PaulMekanisasi pertanian, merupakan aspek yang penting dalam tahapan pembangunan yang sedang kita lakukan. Di satu pihak kita berusaha untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani, termasuk buruh taninya, di lain pihak kita pun berusaha untuk menciptakan/memperluas kesempatan kerja di daerah pedesaan. Atas dasar ini, kita ditantang untuk menciptakan atau memilih suatu teknologi atau paket teknologi, yang mampu memenuhi tujuan-tujuan tadi. Minimal pengembangan teknologi hendaknya dapat memenuhi salah satu tujuan tersebut tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap tujuan lainnya. Hal tersebut di atas telah mendorong Badan Litbang Pertanian yang bekerjasama dengan Lembaga Penelitian Padi Internasional IRRI (International Rice Research Institute) untuk melakukan penelitian di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan pada tahun 1979-80. Sebagai kelanjutan penelitian itu, diadakan serangkaian lokakarya yang diselenggarakan di Sukamandi pada tanggal 27-28 Juli 1983, di Maros tanggal 1-2 Agustus 1983. Pembahasan umum kemudian dilakukan di Jakarta. Naskah-naskah yang dimuat dalam risalah ini menggunakan bahasa Indonesia atau Inggris, sesuai dengan penyajian pada waktu lokakarya.
- ItemPerubahan Ekonomi Pedesaan Menuju Struktur Ekonomi Berimbang(Pusat Penelitian Agro Ekonomi, 1988-09-01) Kasryno, Faisal; Suryana, Achmad; Djauhari, Achmad; Simatupang, Pantjar; Hutabarat , Budiman; Rasahan, Chairil A.Pemahaman dinamika pedesaan merupakan salah satu kunci utama dalam perumusan kebijaksanaan pembangunan pertanian yang tangguh. Pentingnya pemahaman tersebut lebih menonjol lagi karena sektor pertanian masih tetap menjadi sektor penting dalam pembangunan nasional. Sektor pertanian tetap diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan, mendorong menyediakan kesempatan kerja, dan penghasil devisa. Sejalan dengan proses pembangunan nasional yang terus berlanjut, ekonomi pedesaan mengalami perubahan struktural secara dinamis. Pada saat ini struktur ketenagakerjaan, ragam sumber dan distribusi pendapatan dan pola konsumsi masyarakat pedesaan berbeda jelas dibandingkan dengan keadaan 20 tahun atau bahkan 10 tahun lalu. Peningkatan rata-rata tingkat pendidikan dan pendapatan riil serta makin terbukanya daerah pedesaan merupakan faktor positif yang membawa perubahan-perubahan tersebut. Perubahan struktural ekonomi pedesaan tersebut dicoba direkam dalam prosiding ini. Pembahasan meliputi aspek-aspek usahatani padi, usahatani non padi, ketenagakerjaan, pendapatan, dan konsumsi. Cakupan daerah analisa meliputi pedesaan-pedesaan Sumatera Barat, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan. Semua tulisan diangkat dari hasil penelitian Patanas (Panel Petani Nasional) di ketiga propinsi tersebut. Prosiding ini adalah kelanjutan dari prosiding serupa tentang Profil Pendapatan dan Konsumsi Pedesaan Jawa Timur yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian Agro Ekonomi pada tahun 1986. Sejalan dengan penelitian Patanas yang dilaksanakan secara berlanjut, prosiding semacam ini masih akan diterbitkan oleh Pusat Penelitian Agro Ekonomi pada tahun-tahun mendatang dan cakupan propinsi yang diperluas.
- ItemProsiding Hasil Seminar Patanas: Struktur Pendapatan dan Konsumsi Rumah Tangga Pedesaan di Jawa Timur(Pusat Penelitian Agro-Ekonomi, 1986-02-01) Kasryno, Faisal; Nataatmadja, Hidayat; Rasahan, Chairil A.Sejak tahun anggaran 1983/1984 Agro Ekonomi melangkah untuk memprakarsai studi agro ekonomi jangka panjang yang dikenal sebagai Studi Panel Petani Nasional (PATANAS), suatu langkah yang dapat disebut ambisi besar oleh sementara pihak, mengingat keterbatasan sarana dan tenaga pada waktu itu. Studi ini mungkin merupakan yang pertama dilakukan di Indonesia, yang dapat dipandang sebagai studi agro ekonomi komprehensif untuk menelusuri denyut nadi pertumbuhan sektor pertanian rakyat yang merupakan salah satu sektor terpenting dalam perekonomian di Indonesia. Data pertanian yang dikumpulkan oleh BPS dipandang tidak memadai untuk memonitor keragaan sektor pertanian secara cukup terperinci. Tanpa mengurangi relevansi data BPS untuk memonitor pertumbuhan sektor pertanian rakyat, Departemen Pertanian, khususnya Badan Litbang Pertanian, merasa perlu untuk melaksanakan semacam "middle range study" untuk menjembatani kekurangan informasi terperinci dari data BPS di satu pihak dan sempitnya wawasan yang ditangani dalam studi-studi mikro usahatani yang dilaksanakan secara sporadis oleh berbagai lembaga penelitian. Dengan studi PATANAS diharapkan kedua macam informasi itu dapat diolah menjadi suatu simphoni yang mampu menggambarkan denyut pembangunan yang terjadi di desa-desa, di subsektor pertanian rakyat, yang sering dipandang sebagai "kotak hitam" yang penuh dengan misteri. Sasaran pembangunan adalah meningkatkan pendapatan petani, menyediakan kesempatan kerja, dan menegakkan asas pemerataan. Tetapi kalau dipertanyakan apakah sasaran-sasaran itu telah dicapai, sedikit sekali informasi yang dapat kita sajikan, karena sebagian besar informasi yang ada berkisar pada produksi dan produktivitas. Tidak heran banyak pihak yang mempertanyakan mengenai dampak pembangunan terhadap pendapatan masyarakat desa, misalnya anggapan bahwa pembangunan justru memiskinkan suatu golongan masyarakat desa, kelompok penduduk desa yang tidak memiliki lahan usaha. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak dapat secara memuaskan dijawab melalui studi-studi mikro dalam wawasan wilayah yang sempit, dan sulit pula secara meyakinkan dijawab dengan menggunakan data nasional yang dikumpulkan oleh BPS. Melalui studi PATANAS inilah pertanyaan-pertanyaan seperti itu dapat kita jawab dengan tingkat ketepatan dan keterwakilan (representativeness) yang memadai.
- ItemReformulasi Kebijaksanaan Perberasan Nasional(Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, ) Kasryno, Faisal; Simatupang, Pantjar; Pasandaran, Effendi; Adiningsih, Sri
- ItemReformulasi Kebijaksanaan Perberasan Nasional(PSEKP, ) Kasryno, Faisal; Simatupang, Pantjar; Pasandaran, Effendi; Adiningsih, Sri
- ItemSumber Daya Manusia dan Pengelolaan Lahan Pertanian di Pedesaan Indonesia(Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, 2016-09-01) Kasryno, Faisal
- ItemSumber Daya Manusia dan Pengelolaan Lahan Pertanian di Pedesaan Indonesia(PSEKP, ) Kasryno, Faisal
- ItemTransformasi Struktural Ekonomi Pedesaan Menuju Pengembangan Sentra Industri Pertanian(Pusat Penelitian Agro Ekonomi, 1988-09-01) Kasryno, Faisal; Suryana, AchmadPenelitian Patanas menunjukkan dinamika perubahan ekonomi pedesaan yang ditandai oleh pemanfaatan sarana produksi secara intensif oleh petani gurem, peralihan komoditas ke produk yang lebih menguntungkan oleh petani berlahan luas, serta makin beragamnya kesempatan kerja non-usahatani. Ke depan, perekonomian pedesaan diproyeksikan tidak lagi didominasi oleh produksi pertanian semata, melainkan juga oleh kegiatan pascaproduksi dan non-usahatani yang mendukung transformasi struktural. Mengingat karakteristik agroekosistem dan kualitas sumber daya lokal sangat memengaruhi pola usahatani, ketenagakerjaan, serta pendapatan masyarakat, kebijakan pembangunan nasional perlu dijabarkan secara fleksibel di tingkat wilayah yang lebih kecil. Pendekatan ini memungkinkan setiap daerah mengembangkan potensi berdasarkan keunggulan komparatifnya seperti pencapaian swasembada pangan yang diukur secara nasional tanpa memaksakan keseragaman di tiap wilayah—guna mendorong perdagangan antardaerah, mempercepat pertumbuhan ekonomi, serta meningkatkan kualitas hidup dan pemerataan pendapatan di pedesaan.