Browsing by Author "J. Warglono"
Now showing 1 - 4 of 4
Results Per Page
Sort Options
- ItemAlat dan Mesin Penepung Skala Pedesaan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2009) Sutrisno; J. WarglonoPengembangan alat dan mesin pengolah ubi kayu skala pedesaan—terdiri dari mesin penyawut (seperti Mesra-1, Mesra-2, dan Triguna), pengepres (tipe ulir dan dongkrak), pengering berbahan bakar limbah pertanian (seperti tungku sekam ABC), serta penepung tipe disk mill—menjadi solusi teknis dan ekonomis yang sangat strategis untuk mengatasi defisit pasokan tepung kasava dan tapioka nasional akibat tingginya permintaan industri. Tahapan proses pengolahan yang paling efektif dilakukan dengan mengubah ubi segar menjadi sawut, dilanjutkan pengepresan untuk menurunkan kadar air hingga 50% dan menekan kadar HCN, lalu dikeringkan pada suhu ideal $\pm60^{\circ}\text{C}$ tanpa menyebabkan gumpalan, hingga akhirnya ditepungkan menjadi tepung kasava berkehalusan 80 mesh dengan rendemen sekitar 35% dari bobot ubi basah. Pengintegrasian alur produksi ini melalui kemitraan model inti-plasma—yang menghubungkan penyawutan skala rumah tangga/kelompok tani dengan penepungan skala koperasi (KUD) maupun swasta—terbukti sangat layak secara finansial (diindikasikan oleh nilai NPV positif, IRR yang tinggi berkisar 29–48%, serta Net B/C yang menguntungkan), sehingga mampu menstabilkan fluktuasi harga ubi segar di tingkat petani, memotong biaya pengangkutan, dan mengoptimalkan nilai tambah komoditas di wilayah pedesaan.
- ItemKeunggulan Teknis dan Ekonomis Ubijalar sebagai Pakan Ternak(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2012) D. Priyanto; J. WarglonoPemanfaatan biomasa ubijalar (Ipomoea batatas L.) berupa ubi maupun hijauan (daun dan batang) memiliki keunggulan teknis dan ekonomis sebagai pakan alternatif bernutrisi tinggi untuk ternak ruminansia (sapi, domba, kambing) dan monogastrik (babi). Ubi kaya akan energi mencapai 3.092 Kkal/kg, sedangkan daunnya mengandung protein kasar yang tinggi hingga 23,8%. Penerapan sistem integrasi ubijalar-ternak berbasis siklus tertutup (zero waste) terbukti layak secara finansial dengan meningkatkan rasio R/C usahatani dari 2,20 menjadi 2,52, di mana limbah tanaman dijadikan pakan murah untuk meningkatkan pertambahan bobot badan serta produksi susu, dan kotoran ternak dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik untuk memperbaiki kualitas tanah. Model integrasi ini tidak hanya mampu menekan biaya produksi dan mengurangi ketergantungan pada pakan impor, tetapi juga berpotensi mengoptimalkan penggunaan lahan serta memberikan tambahan pendapatan yang berkelanjutan bagi petani.
- ItemPengendalian Gulma dd(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2012) Z. Lamid; J. WarglonoTanaman ubijalar (Ipomoea batatas L.) memiliki daya adaptasi luas dan potensi hasil tinggi, tetapi laju pertumbuhan vegetatif awal yang lambat menjadikannya sangat rentan terhadap kompetisi gulma yang dapat menurunkan hasil hingga 40%. Spesies gulma dominan sangat bervariasi bergantung pada agroekosistem lahan (kering, sawah tadah hujan, irigasi, maupun pasang surut) yang terdiri atas golongan berdaun lebar, rumput, dan teki. Periode kritis persaingan terjadi pada umur satu bulan setelah tanam (sekitar 4 minggu), sehingga penundaan penyiangan hingga umur 8–10 minggu berisiko menurunkan hasil ubi antara 24% hingga 37%. Strategi pengendalian gulma secara efektif dan efisien dapat dilakukan melalui kombinasi cara biologis (penutupan kanopi tanaman), kultur teknis (penggunaan mulsa jerami/organik serta varietas berdaun lebar), ekologis (rotasi tanaman), manual (penyiangan dan pengeprasan guludan pada 3 minggu setelah tanam yang terbukti meningkatkan hasil ubi sebesar 15%), dan kimiawi (aplikasi herbisida pra-tanam untuk menghindari kerusakan mekanis serta racun pada tanaman).
- ItemStandar Mutu Produk Olahan Primer(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2009) Sulsmono; J. WarglonoMembahas mengenai pentingnya penetapan standar mutu untuk ubi segar serta produk olahan primernya seperti gaplek, tepung kasava, dan tapioka guna melindungi konsumen dan produsen, menjadi acuan nilai transaksi, serta menentukan harga berdasarkan komponen mutu fisik maupun kimia seperti kadar air, pati, serat, dan sianida. Standardisasi ini melalui berbagai tahapan mulai dari survei lapangan, analisis fisikokimia, hingga konsensus nasional untuk merumuskan Standar Nasional Indonesia (SNI)