Browsing by Author "Indrasari, S. Dewi"
Now showing 1 - 2 of 2
Results Per Page
Sort Options
- ItemKarakteristik Fisik, Fisikokimia dan Tanak Beras Beberapa Varietas Padi Aromatik(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2010-11-18) Wibowo, Pribadi; Kusbiantoro, Bram; Indrasari, S. Dewi; Handoko, Dody D.Abstract Physical, Physicochemical, and Cooking Characters of Aromatic Rice. Several aromatic rice grains produced milled rice with physical, physicochemical, and cooking characters support the aromatic rice of being the export quality rice. An experiment to analyze and evaluate the physical, physicochemical and cooking characters of nine's aromatic rice varieties, namely Sintanur, Gilirang, Batang Gadis, Situ Patenggang, Rojolele, Pandan Wangi, Mentik Wangi. Hips 5 Ceva, and Segara Anak were conducted at CRR during the year of 2008. The grain/milled ratio, the head milled rice, the chalky kernel, the size, and the shape of rice kernel were among physical characters evaluated. Among the physicochemical characters evaluated were gel consistency and gel temperature. amylose, and protein content. Cooking characters was identified as the cooking time, the expansion, and the water absorption ratio of cooking rice. The ratios of rice grain/milled rice of all the tested varieties reached 170% and the head rice recovery ranged from 62-88%. Results indicated that except Pandan Wangi and Hipa 5 Ceva which contained white belly kernels, almost all of the rice varieties demonstrated fine translucent kernels and good looking in appearance. Eight varieties had medium grain size and slightly bold shape except Hipa 5 Ceva which had long grain and slender shape kernels. Amylose content of all the tested varieties were intermediate to high ranged from 18-24%, sticky soft of cooked rice. The protein content of the varieties ranged from 7-9%, the cooking time varied from 17-20 minutes, expansion ratio of cooking rice were 3.0-3.8 times, and the water absorption ratio was 2.1-2.8 times. Some of the tested varieties have not physically indicated the pre premium rice quality as they contained <84% head rice only. Based on the chemicals and the cooking characters it appeared that all of the aromatic rice's tested were considered to be excellent in quality Abstrak Beberapa padi aromatik menghasilkan beras dengan berbagai karakter fisik, fisikokimia, dan tanak, yang dapat mendukung kualitas sebagai beras ekspor. Penelitian bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi sifat fisik, fisikokimia, dan tanak beras dari sembilan varietas padi aromatik, yaitu Sintanur, Gilirang, Batang Gadis, Situ Patenggang, Rojolele, Pandan Wangi, Mentik Wangi, Hipa 5 Ceva, dan Segara Anak yang diperoleh dari tanaman percobaan KP Sukamandi pada musim tanam 2008. Evaluasi karakter fisik beras meliputi rendemen beras giling, beras kepala, butir kapur (chalky), ukuran, dan bentuk butiran beras. Karakter fisikokimia yang dievaluasi meliputi konsistensi gel, suhu gelatinisasi, amilosa, dan protein. Sifat tanak beras diidentifikasi sebagai penentuan waktu tanak beras dan rasio pengembangan volume nast. Hasil analisis menunjukkan bahwa sembilan varietas padi aromatik yang diuji memiliki rendemen beras giling sebesar 170%, dan beras kepala berkisar antara 62-88%. Hampir semua varietas memiliki kebeningan (translucent) butiran beras yang baik, kecuali varietas Pandan Wangi dan Hipa 5 Ceva yang mempunyai karakter white belly chalkiness pengapuran pada bagian perut butir beras. Kecuali varietas Hipa 5 Ceva yang memiliki bentuk butir beras panjang. panjang butiran beras padi aromatik termasuk sedang (medium grain), sedangkan bentuk berasnya termasuk bentuk sedang (Glightly bold), kecuali varietas Hipa 5 Ceva yang memiliki bentuk ramping (slender). Tingkat kepulenan nasi seluruh beras aromatik yang diuji termasuk sedang sampai tinggi dengan kadar amilosa 18-24%, memiliki tekstur nasi lunak, dan kandungan protein sedang (7-9%). Waktu tanak nasi berkisar antara 17-20 menit, dengan rasio pengembangan volume nasi 3.0-3.8 dan penyerapan air 2,1-2.8 kali. Beberapa beras aromatik yang diuji secara fisik belum menunjukkan kualitas sebagai beras premium, dengan beras kepala <84%. Dari aspek kimia dan mutu tanak, beras aromatik dari varietas yang diuji tersebut termasuk dalam klasifikasi beras kualitas sangat baik.
- ItemPeningkatan Nilai Tambah Beras Melalui Mutu Fisik, Cita Rasa, Dan Gizi(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2008-06-01) Indrasari, S. Dewi; E.Y. Purwani; S. Widowati; Damardjati, Djoko S.Abstrak Beras tidak hanya berperan sebagai sumber pemenuhan kalori utama bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga memiliki potensi ekonomi tinggi yang dapat ditingkatkan melalui perbaikan mutu pascapanen dan pengolahan. Karya tulis ini membahas strategi komprehensif dalam meningkatkan nilai tambah beras yang difokuskan pada tiga pilar utama kualitas, yaitu mutu fisik, mutu cita rasa (organoleptik/sensori), dan mutu gizi. Pada aspek mutu fisik, nilai tambah ditentukan oleh keutuhan bulir (persentase beras kepala), derajat sosoh, warna/kerataan bulir, serta kebebasan dari benda asing dan butir patah/menir. Penanganan pascapanen dan teknologi penggilingan yang presisi terbukti meminimalkan kehilangan hasil (losses) serta meningkatkan daya saing pasar. Pada aspek mutu cita rasa, kepuasan konsumen sangat dipengaruhi oleh sifat fisikokimia pati, khususnya kadar amilosa, suhu gelatinisasi, dan konsistensi gel. Komposisi ini menentukan tingkat kepulenan, kelembutan, aroma, dan tekstur nasi pascapemasakan. Sementara itu, pada aspek mutu gizi, komoditas beras dikembangkan melalui optimalisasi derajat sosoh untuk mempertahankan vitamin B dan serat kasar, pengembangan beras khusus (specialty rice) seperti beras merah, beras hitam, dan beras organik, serta penerapan teknologi fortifikasi mikronutrien (seperti zat besi, asam folat, dan seng). Hasil kajian menunjukkan bahwa pengintegrasian perbaikan teknologi penggilingan, pemilihan varietas unggul berbasis preferensi konsumen, dan pengayaan nilai gizi mampu mentransformasi beras dari komoditas curah (bulk commodity) menjadi produk bernilai tambah tinggi (high-value product). Pendekatan ini mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan pendapatan petani dan daya saing industri perberasan nasional. Abstract Rice serves not only as a primary caloric staple for the Indonesian population but also holds significant economic potential that can be enhanced through post-harvest improvements and quality processing. This study elaborates a comprehensive strategy to increase the added value of rice, focusing on three core quality pillars: physical quality, eating quality (sensory attributes), and nutritional quality. In terms of physical quality, value addition is determined by grain head rice percentage, degree of milling, grain color uniformity, and freedom from impurities or broken grains. Precision milling and optimal post-harvest handling minimize yield losses and enhance market competitiveness. Regarding eating quality, consumer preference is strongly influenced by starch physicochemical properties, particularly amylose content, gelatinization temperature, and gel consistency, which govern cooked rice fluffiness, softness, aroma, and texture. For nutritional quality, rice value is improved by optimizing milling degrees to retain essential B-vitamins and dietary fiber, promoting specialty rice (such as red, black, and organic rice), and implementing micronutrient fortification technologies (e.g., iron, folic acid, zinc). The study indicates that integrating improved milling technologies, selecting varieties tailored to consumer preferences, and enhancing nutritional profiles successfully transforms rice from a low-margin bulk commodity into a high-value consumer product. This approach contributes to national food security, boosts farmers' income, and advances the competitiveness of the national rice industry.