Browsing by Author "I.B.K. Suastika"
Now showing 1 - 4 of 4
Results Per Page
Sort Options
- ItemSerangan Hama Tikus di Provinsi Bali dan Upaya Pengendaliannya(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2009-07-24) I.B.K. SuastikaAbstrak Tikus sawah (Rattus argentiuenter) merupakan hama utama padi penyebab kerugian terbesar dan berpotensi mengancam stabilitas produksi padi setiap tahun. Pada tahun 2007 dan awal tahun 2008, di Bali, hama tikus sawah kembali menjadi masalah dengan menyerang dan merusak tanaman padi. Luas serangannya mencapai I. 150, 75 ha dengan intensitas serangan bervariasi dari ringan sampai puso. Serangan hama tikus terluas terjadi di Kabupaten Tabanan dengan luas serangan 409 ha kategori serangan ringan 348 ha, sedang 9 ha, berat 37 ha, dan puso 15 ha Total kehilangan hasil dari serangan hama tikus mencapai 14.95-ton atau setara dengan Rp. 29.900.000 dengan harga GKG Rp. 2.000/kg, cukup untuk memberi makan sekitar 747,5 Orang di Bali selama 12 bulan, Usaha pengendalian yang dilakukan Oleh petani terbatas pada kegiatan sanitasi lingkungan dan penggunaan pestisida (rodentisida), Hambatan dalam pelaksanaan pengendalian tikus di lapangan antara lain disebabkan kurang berfungsinya kelompok tani sehingga pengendalian tikus dilakukan secara sendiri-sendiri, monitoring lemah, dan terlambat dalam pengendalian, kegiatan pengendalian tidak berkesinambungan, pemahaman terhadap tikus yang lernah, dan kurang informasi :.eknologi. Abstract Rice Field Rat Attack and the Control Action to Handle Rat Problem in Bali. Rice field rat, Rattus argentiuenter, is the main pest of rice which causes the biggest loss of rice production every year. Damage of rice caused by rats was reported in 2007 and early 2008, which attack rice field about 1,151 ha with the intensity from low to heavy which resulting loss of rice harvest. The highest infestation was at Tabanan District with total damage area of 409 ha consisted of: low infestation 348 ha, medium 9 ha, heavy 37 ha and loss of harvest 15 ha. Total production loss of rice in Bali was noted about 14.95 ton or equal to with rice paddy price was predicted as Rp. 2,000/kg, enough to feed 747.5 people in Bali for 12 months. Farmer technologies to overcome this problem was still limited, done only through sanitation and the use of chemical, The main constraints of handling rat problem at the field was due to the less function of the farmer group, as a result, handling was done individually, lack of monitoring, late of control action, un continuous handling, weak of rat understanding, and lack technology information.
- ItemSerangan Hama Tikus di Provinsi Bali dan Upaya Pengendaliannya(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2009-07-24) I.B.K. SuastikaAbstrak Tikus sawah mampu memanfaatkan berbagai sumber pakan di lingkungannya untuk bertahan hidup. Untuk pengendalian perlu mengetahui jenis, variasi, dan komposisi pakan alarninya. Penelitian pakan alami dilakukan dengan cara sebagai berikut, tikus ditangkap dengan TBS (Trap Barrier System), LTBS (Linear Trap Barrier System) dan fumigasi di persawahan BB Padi pada saat bera dan selama pertanaman. Atribut biologi tikus dicatat dan dilakukan identifikasi material pakan alami dalam Iambungnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa material pakan dalam Iambung tikus sawah berupa endosperm padi, serpihan rumput.rumputan (epidermis, helaian daun, serpihan batang, dan beragam serat), buah dan biji non-padi, bagian tanaman dikotil (epidermis, serpihan daun, batang, dan akar), arthropoda (serpihan eksoskeleton, tungkai, antena, sayap dan exuvie), serta materi lain (rambut, cacing, dan materi tidak teridentifikasi). Endosperm dan bagian pangkal batang padi merupakan porsi terbesar pada 109 tikus sampel (55 jantan dan 54 betina). Pada bera pratanam hingga pesemaian, komposisi pakan berupa rumput-rumputan (45%), endosperm padi (31, dan kategori pakan yang lain dalam kisaran 4-1096. Ketika padi stadia vegetatif, komposisi beragam kategori pakan relatif setara dalarn kisaran pada stadia padi generatif, komposisi pakan alami tjkus berupa endosperm padi (26%), materi lain (25%), bagian tanaman dikotil (18%), rumput-rumputan (12%), arthropoda (12%), dan biji/buah non-padi (7%). Komposisi pakan pada saat bera pascapanen hingga munculnya ratun relatif sama dengan stadia generatif padi. Abstract Natural Diets Composition of Rice-Field Rat in Irrigated Lowland Agroecosystem. Rice-field rat is able to use the kind of food sources for their survival Research was conducted to study the natural diets consumed by rice-field rat in different rice stages and fallow season. Rat captured using TBS (trap barrier system), LTBS (linear trap barrier system) and fumigation methods from Indonesian Centre for Rice Research field station in Sukamandi, Subang, West Java during rice planting and fallow season. The rat biological attributes were recorded and continued by identification of diet materials using stomach content analysis. The results showed that the natural diet found in rice- field rat stomach categorized as rice endosperm, grass (epidermis, leaf, stem parts and plant fiber), fruits and non-rice grains (pericarp and endosperm), dicotyledon plants (epidermis, root, leaf and stem part), arthropods (exoskeleton, legs, antenna, wings, mouth parts) and rest materials (uncommon food as hairs, worm, muscle or unidentified materials). Rice endosperrn was dominant as stomach con- tent (76.95%) from 109 rats (55 males and 54 females). During fallow to nursery, composition of rat stomach content was grass (45%), rice endosperm (31%), and other materials (4-10%). During vegetative rice stage, all food categories consumed in similar portion (17-25%). During generative rice stage, the composition as follows: rice endosperm (26%), rest materials (25%), dicotyledon plants (18%), grass (12%), arthropods (12%), and fruit and non-rice-grains (7%). After harvest period up to apparent of ratoon, the composition of diets relatively similar with those found during generative rice stage.
- ItemTampilan Beberapa Varietas Unggul Baru Padi Di Subak Dlod Sema Mendukung Kedaulatan Pangan Di Bali(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2017) I.B.K. Suastika; I.B. Aribawa; Suratmini, Putu; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)Salah satu komponen teknologi dasar dalam Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah adalah penggunaan varietas padi unggul atau varietas padi berdaya hasil tinggi dan bernilai ekonomi tinggi. Peningkatan produktivitas dapat dicapai melalui penggunaan varietas unggul dan ditunjang dengan penggunaan benih bermutu. Kajian untuk mengetahui keragaan pertumbuhan dan hasil beberapa varietas unggul baru (VUB) inbrida sawah irigasi telah dilakukan di Subak Dlod Sema, Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali pada MH tahun 2016. Tujuan dari kajian ini adalah mengetahui tampilan dan potensi hasil dari beberapa VUB inbrida sawah irigasi. Kajian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan tujuh perlakuan VUB dan diulang lima kali. Perlakuan VUB terdiri atas Inpari 20; Inpari 24 Gabusan; Inpari 28 Kerinci; Inpari Blas, Inpari HDB serta varietas Ciherang dan Cigeulis sebagai pembanding. Variabel tanaman yang diamati antara lain tinggi tanaman, jumlah anakan, panjang malai, jumlah gabah isi dan hampa per malai, bobot 1000 butir gabah dan hasil gabah padi. Hasil analisis ragam menunjukkan varietas padi memberikan pengaruh yang nyata pada peubah tinggi tanaman, jumlah anakan/rumpun, jumlah gabah isi, bobot 1000 butir gabah dan hasil. Hasil kajian menunjukkan bahwa varietas Inpari 24 Gabusan, Inpari 28 Kerinci, Inpari Blas berpotensi untuk dikembangkan sebagai pengganti varietas Ciherang dan Cigeulis. Jumlah anakan produktif per rumpun dan jumlah gabah isi per malai ketiga VUB tersebut tidak berbeda nyata dibanding dengan varietas Ciherang dan Cigeulis. Ketiga VUB tersebut mampu menghasilkan hasil GKP yang tinggi, masing-masing sebesar 6,0 ton GKP/ha, 6,0 ton GKP/ha, 6,0 ton GKP/ha. Hasil tersebut tidak berbeda nyata dibanding dengan varietas Ciherang dan Cigeulis yan masing-masing menghasilkan gabah sebesar 6,3 ton GKP/ha dan 6,4 ton GKP/ha.
- ItemTampilan Beberapa Varietas Unggul Baru Padi di Subak Dlod Sema Mendukung Kedaulatan Pangan di Bali(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2017-12-01) I.B.K. Suastika; I.B. Aribawa; Suratmini, PutuAbstrak Salah satu komponen teknologi dasar dalam Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) padi sawah adalah penggunaan varietas padi unggul atau varietas padi berdaya hasil tinggi dan bernilai ekonomi tinggi. Peningkatan produktivitas dapat dicapai melalui penggunaan varietas unggul dan ditunjang dengan penggunaan benih bermutu. Kajian untuk mengetahui keragaan pertumbuhan dan hasil beberapa varietas unggul baru (VUB) inbrida sawah irigasi telah dilakukan di Subak Dlod Sema, Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali pada MH tahun 2016. Tujuan dari kajian ini adalah mengetahui tampilan dan potensi hasil dari beberapa VUB inbrida sawah irigasi. Kajian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan tujuh perlakuan VUB dan diulang lima kali. Perlakuan VUB terdiri atas Inpari 20; Inpari 24 Gabusan; Inpari 28 Kerinci; Inpari Blas, Inpari HDB serta varietas Ciherang dan Cigeulis sebagai pembanding. Variabel tanaman yang diamati antara lain tinggi tanaman, jumlah anakan, panjang malai, jumlah gabah isi dan hampa per malai, bobot 1000 butir gabah dan hasil gabah padi. Hasil analisis ragam menunjukkan varietas padi memberikan pengaruh yang nyata pada peubah tinggi tanaman, jumlah anakan/rumpun, jumlah gabah isi, bobot 1000 butir gabah dan hasil. Hasil kajian menunjukkan bahwa varietas Inpari 24 Gabusan, Inpari 28 Kerinci, Inpari Blas berpotensi untuk dikembangkan sebagai pengganti varietas Ciherang dan Cigeulis. Jumlah anakan produktif per rumpun dan jumlah gabah isi per malai ketiga VUB tersebut tidak berbeda nyata dibanding dengan varietas Ciherang dan Cigeulis. Ketiga VUB tersebut mampu menghasilkan hasil GKP yang tinggi, masing-masing sebesar 6,0 ton GKP/ha, 6,0 ton GKP/ha, 6,0 ton GKP/ha. Hasil tersebut tidak berbeda nyata dibanding dengan varietas Ciherang dan Cigeulis yang masing-masing menghasilkan gabah sebesar 6,3 ton GKP/ha dan 6,4 ton GKP/ha. Abstract High-yielding rice varieties with a high economic value is important component of the Integrated Crop Management (ICM) practices. A study to determine the performance of growth and yield of several new varieties (VUB) for irrigated area has been done in Subak Dlod Sema, Village Sading, Mengwi, Badung, Bali during the wet season of 2016. The purpose of this study was to determine the yield potential of some of improved varieties for irrigated areas The study was arranged inrandomized block design consisted of seven treatment (varieties) withfive replications. The rice varieties included Inpari 20; Inpari 24 Gabusan; Inpari 28 Kerinci; Inpari Blas, Inpari HDB, Ciherang and Cigeulis. Observations were done for plant height, number of tillers, panicle length, number of grains per panicle the weight of 1000 seeds and grain yield. Result showed that rice varieties have significant effect on plant height, number of tillers per hill, number of filled grain, weight of 1000 grains, and grain yields. The results showed that Inpari 24 Gabusan, Inpari 28 Kerinci, Inpari Blas has the potential to be disseminated as a replacement of Ciherang and Cigeulis. The three new improved varieties yielded 6,0 ton/ha, 6,0 ton/ha, 6,0/ha, respectively, whiel Ciherang and Cigeulis produced grain yield of 6,3 ton/ha and 6,4 ton/ha, respectively.