Browsing by Author "Hobir"
Now showing 1 - 3 of 3
Results Per Page
Sort Options
- ItemPROSIDING TEMU TUGAS PENYELITIAN-PENYULUHAN BIDANG TANAMAN PERKEBUNAN/INDUSTRI(Departemen Pertanian, 1991) KanWil Deptan Prop Jateng; Nazaruddin Thoha; A.S. Murdiyati, Hasil Sembiring, Suwarso, Djajadi; Soebandrijo, S.A Wahyuni, Hasnam; A.A Agra Gothama, Soebandrijo; Moch. Sahid, Buadi, Machmud Saleh; Basuki; Budi Santoso, Adji Sastrosupadi; Adji Sastrosupadi, Budi Santoso; Adji Sastrosupadi; Ariful Asman, Retno Djiwanti; Mesak Tombe, Djiman Sitepu; Risfaheri, Sofyan Rusli; Made Tasma; Hobir; Rindengan Barlina, A.Lay, Z. Mahmud; H. Luntungan, B. Sujarmako, Z. MahmudPenyempurnaan program penelitian dan pengembangan secara terpadu dalam tanaman perkebunanan/industri di Jawa Tengah
- ItemViabilitas Benih Kapolaga Sabrang Pada Berbagai Kondisi Penyimpanan(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1991-07) HobirPengaruh kondisi penyimpanan terhadap viabilitas benih kapolaga sabrang dipelajari di laboratorium Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor. Benih kapolaga sabrang (Elettaria cardamomum) yang masih segar (kadar air 40-45%) dari varietas Malabar disimpan dalam kondisi kering (eksikator kedap udara berisi silika gel) dan kondisi lembab (eksikator kedap udara berisi air, ditutup dengan kertas lembab). Perlakuan tersebut disimpan pada suhu 0, 10, 20 dan 22-30°C (suhu kamar) dan diulang tiga kali. Benih diuji kadar air dan viabilitasnya setelah disimpan selama 3, 10, 20 dan 30 hari. Hasilnya menunjukkan bahwa benih yang disimpan dalam kondisi kering, kadar airnya berkisar antara 4-13%. Dalam kondisi ini benih telah mati sejak disimpan tiga hari. Pada kondisi lembab kadar air benih berkisar antara 28-32%. Dalam kondisi ini benih dapat tumbuh, tetapi daya berkecambah dan vigornya cepat menurun pada suhu 20°C atau lebih rendah. Pada suhu 20-30°C daya berkecambah dan vigor benih pada umumnya meningkat setelah disimpan 10 hari dan masih bertahan sampai 30 hari, tanpa penurunan viabilitas yang nyata.
- ItemКЕТАНАANAN BEBERAPA SOMAKLON NILAM TERHADAP PENYAKIT LAYU BAKTERI(BALAI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK, 2007-09-06) Hartati, Sri Yuni; Seswita, Deliah; Hobir; Karyani, NuriPenyakit layu yang disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum merupakan salah satu penyakit yang penting pada tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.). Semua klon nilam yang dibudidayakan di Indonesia rentan terhadap penyakit tersebut. Oleh karena itu usaha perbaikan varietas merupakan pilihan yang tepat untuk mendapatkan varietas unggul yang juga tahan penyakit layu. Nilam Aceh yang umum dibudidayakan petani tidak berbunga, sehingga diperbanyak secara vegetatif dengan sotek batang. Oleh karena itu keragaman genetik nilam sangat sempit. Untuk meningkatkan keragaman genetik nilam, telah dilakukan melalui variasi somaklonal dan 10 səmaklon diantaranya mempunyai mutu dan kwalitas minyak yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah menguji tingkat ketahanan ke 10 somaklon tersebut dengan 2 klon pembanding (Cirateun dan Sidikalang) terhadap penyakit layu. Bibit nilam ditanam pada media steril campuran tanah, pasir, dan pupuk kandang (1:1:1) dalam kantong plastik hitam (polybag). Bibit yang berumur 1 bulan diinokulasi dengan 2 tetes suspensi bakteri R. solanacearum (konsentrasi 102sel/ ml). Inokulasi dilakukan pada pangkal batang dengan metode tusuk jarum. Bibit yang telah diinokulasi diinkubasikan di rumah kaca. Pengamatan dilakukan terhadap masa inkubasi, gejala layu, dan intensitas serangan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan ke 10 somaklon yang diuji mempunyai tingkat ketahanan yang bervariasi (Intensitas serangan penyakit berkisar antara 50-100%). Meskipun semua somaklon yang diuji tidak ada yang benar-benar tahan terhadap penyakit layu, namun somaklon nomor 55 mempunyai tingkat ketahanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan somaklon lainnya dan 2 klon pembandingnya (Cirateun dan Sidikalang).