Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Herman Subagio"

Now showing 1 - 5 of 5
Results Per Page
Sort Options
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    KARAKTERISTIK DAN KESESUAIAN LAHAN RAWA PASANG SURUT UNTUK TANAMAN KEDELAI
    (Balai Pengunjian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2014) Muhammad Noor; Herman Subagio; Dedi Nursyamsi
    Berdasarkan tipe luapannya, lahan rawa pasang surut terbagi 4 (empat). tipe lapan A, B, C, dan D, sedangkan berdasarkan tipologi lahan rawa pasang surut terbagi 4 (empat) tipelogi, yaitu lahan potensial, masam, lahan gambut, dan lahan salin. Lahan rawa pasang surut memili spesifik baik tanah, air dan lingkungan serta tanaman yang dibudidaya Beberapa kendala yang dihadapi dalam pengembangan lahan rap surut bertanah sulfat masam untuk pertanaman kedelaimeliputi: kema tanah, kelarutan ion aluminium (Al) tinggi, dan ketersediaan hara Pa rendah. Sedangkan untuk lahan gambut meliputi selain kemasaman and juga ketersediaan hara makro dan mikro seperti P. K. Zn. Cu dan Bo rendah. Sifat dan kendala lahan rawa pasang surut sangat dipengaruhi tipe luapan dan tipologi lahannya. Hasil analisis kimia tanah di lahan ra pasang surut terhadap ketersediaan hara P. K, Ca dan Mg tergolong renda sehingga diperlukan pemberian amelioran dan pupuk apabila dibudidayaka terutama untuk penanaman kedelai. Hasil evaluasi lahan menunjukkan ba tanah gambut dangkal dan mineral masing-masing memiliki kesesu lahan S2-f (cukup sesuai dengan retensi hara sebagai pembatas) dan S24 (cukup sesuai dengan retensi dan ketersediaan unsur hara rendah) berkua dengan nilai pH dan KTK tanah rendah. Kedelai berkembang pesat di laha rawa pasang surut antara tahun 1980-1990, tetapi sejak tahun 2000- minat petani menanam kedelai menurun karena harga jual yang renda biaya produksi tinggi sehingga petani selalu merugi. Impor secara be pasang surut yang lebih luas melalui Proyek Sejuta Hektar di Kalimantan Tengah tahu kendala dan kecaman sehingga dihentikan kawasan PLG ini seperti dibuang sayang. berkali-kali telah menyusun program ba rehabilitasi kawasan PLG di Kalimantan besaran terhadap komoditas ini dilakukan pemerintah sejak tahun 2010 seiring dengan meningkatnya permintaan pasar. Kebijakan swasembada tiga komoditas pangan utama, diantaranya kedelai tahun 2017 perlu dukungan dengan meningkatkan peranan lahan rawa pasang surut sebagai sumber pertumbuhan produksi baru melalui dukungan teknologi pengelolaan lahan dan budi daya sesuai karakteristik dan potensi sumber daya lahan dan sosial ekonomi petaninya.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    KEDELAI DALAM PERSPEKTIF KEBIJAKAN PERTANIAN
    (Balai Pengunjian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2014) Herman Subagio; Muhammad Noor
    Produksi kedelai pada tahun 2013 sebesar 808 ribu ton dan terus mengalami penurunan 4,2% per tahun. Sementara target swasembada sebesar 2,5 juta ton, yang mungkin baru dapat tercapai tahun 2020. Produksi kedelai tertinggi pernah dicapai tahun 1990-an sebesar 1,8 juta ton dengan luas lahan pertanaman 1,4 juta hektar. Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan pernah tercatat sebagai sentra produksi. Dalam pengantar buku Melepas Perangkap Impor Pangan (Hermen Malik, 2014), Bustanul Arifin guru besar Universitas Lampung menyatakan bahwa sistem insentif dan kebijakan pada agribisnis kedelai telahn lama rusak karena inkonsistensi dan komitmen pembuat kebijakan, terutama harga yang bersaing dengan kedelai impor yang lebih murah
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    KEDELAI DALAM PERSPEKTIF KEBIJAKAN PERTANIAN
    (Balai Pengujian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2019) Herman Subagio; Muhammad Noor
    Produksi kedelai pada tahun 2013 sebesar 808 ribu ton dan terus mengalami penurunan 4,2% per tahun. Sementara target swasembada sebesar 2,5 juta ton, yang mungkin baru dapat tercapai tahun 2020. Produksi kedelai tertinggi pernah dicapai tahun 1990-an sebesar 1,8 juta ton dengan luas lahan pertanaman 1,4 juta hektar. Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan pernah tercatat sebagai sentra produksi. Dalam pengantar buku Melepas Perangkap Impor Pangan (Hermen Malik, 2014), Bustanul Arifin guru besar Universitas Lampung menyatakan bahwa sistem insentif dan kebijakan pada agribisnis kedelai telahn lama rusak karena inkonsistensi dan komitmen pembuat kebijakan, terutama harga yang bersaing dengan kedelai impor yang lebih murah.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Perakitan dan Pengembangan Varietas Unggul Sorgum untuk Pangan, Pakan, dan Bioenergi
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2014-11-13) Herman Subagio; Muh. Aqil
    Sorgum merupakan komoditas potensial untuk mendukung program diversifikasi pangan dan energi di Indonesia. Sebagai sumber pangan, sorgum kaya karbohidrat dan mengandung beragam zat antioksidan, mineral, protein, dan serat. Sebagai sumber bioenergi, sorgum mempunyai potensi untuk mensubstitusi kebutuhan bahan bakar minyak fosil dan industri tambang. Tingginya permintaan bahan bakar minyak di tingkat global juga merupakan potensi bagi Indonesia untuk mengisi kebutuhan bioenergi dunia. Saat ini telah tersedia 11 varietas sorgum dengan dengan daya hasil cukup tinggi, berumur genjah, dan daya adaptasi luas. Varietas sorgum manis juga telah tersedia dalam upaya mendukung pengembangan bioindustri di Indonesia. Optimalisasi pengembangan produksi sorgum harus terintegrasi, mulai dari hulu sampai pengembangan industri hilir yang siap menampung hasil panen. Pengembangan sorgum dalam skala besar akan menimbulkan kompetisi penggunaan lahan dengan komoditas lain, sehingga dapat diarahkan pada lahan marjinal, yang banyak tersebar di wilayah tengah dan timur Indonesia. Selain itu, kemampuan subsistem produksi benih (balai-balai benih dan penangkar) perlu diberdayakan melalui program yang terarah untuk produksi dan pendistribusian benih di lapangan. Dalam hal perakitan varietas perlu memanfaatkan sebanyak mungkin sumber daya genetik lokal, digabungkan, dan diseleksi secara terarah untuk target-target lingkungan tertentu.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Perkembangan Pemuliaan Gandum di Indonesia
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2013-10-15) Amin Nur; Muh. Azrai; Herman Subagio; Soeranto; Ragapadmi; Sustiprajitno; Trikoesoemaningtyas
    Indonesia sebagai negara di wilayah tropis memang bukan merupakan penghasil gandum. Akan tetapi konsumsi tepung gandum (terigu) dalam tiga dasa warsa terakhir telah meningkat tajam, sehingga pada tahun 2012 Indonesia harus mengimpor 7,2 juta ton gandum. Upaya memproduksi gandum di dalam negeri telah dicoba sejak tahun 1990an pada lahan di dataran tinggi yang iklimnya relatif kering. Akan tetapi kompetisi dengan tanaman sayuran dataran tinggi, menempatkan terigu pada posisi yang tidak memberikan peluang untuk berkembang. Pada akhir abad 19, seorang ahli Belanda, G. Wallace, mengintroduksikan gandum di dataran tinggi pulau Timor, akan tetapi, gandum tidak pernah menjadi komponen usahatani rakyat setempat. Seleksi terhadap galur asal introduksi dilakukan sejak tahun 1980an, dan varietas unggul untuk dataran tinggi tropis telah dapat dilepas. Namun varietas unggul yang dilepas tersebut tidak diadopsi oleh petani. Program pemuliaan untuk merakit varietas gandum adaptif terhadap wilayah tropis dihidupkan kembali sejak tahun 2009. Melalui konsorsium penelitian, melibatkan peneliti bioteknologi dan mutasi tingkat seluler digabungkan dengan teknik pemuliaan konvensional, diharapkan varietas gandum yang sesuai untuk tanam di dataran rendah tropis dapat diperoleh.

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback