Browsing by Author "Hartati, Sri Yuni"
Now showing 1 - 6 of 6
Results Per Page
Sort Options
- ItemAKTIVITAS ANTIBAKTERI ASAP CAIR TEMPURUNG KELAPА SAWIT DAN POTENSINYA SEBAGAI PESTISIDA ORGANIK UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT LAYU PADA JAHE DAN NILAM : Warta balittro Vol. 34 No. 68 Tahun 2017(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2017-12-01) Hartati, Sri Yuni; Karyani, NuriLayubakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum merupakan salah satu penyakit utama pada tanaman jahe dan nilam. Penelitian dalam rangka mengembangkan pestisida organik untuk mengendalikan penyakit tersebut telah dilaksanakan di Laboratorium Proteksi, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Bogor. Tujuan penelitian adalah menguji secara invitro aktivitas antibakteri asap cair tempurung kelapa sawit terhadap R. solanacearum dan dua jenis bakteri tanah yang bermanfaat bagi tanaman (Bacillus sp. dan Pseudomonas Auorescens). Hasil penelitian menunjukkan bahwa asap cair tempurung kelapa sawit mempunyai aktivitas antibakteri yang bervariasi terhadap R. solanacearum, Bacillus sp., dan P. fuorescens. Konsentrasi terendah yang dapat membunuh R. solanacearum adalah 0.1%, sedang yang dapat membunuh Bacillus sp. dan P. fuorescens adalah 0.25%. Aktivitas antibakteri asap cair tempurung kelapa sawit lebih tinggi terhadap R. solanacearum dibandingkan terhadap Bacillus sp. dan P. fuorescens. Asap cair tempurung kelapa sawit berpotensi dikembangkan sebagai pestisida organik untuk mengendalikan penyakit layu pada tanaman jahe dan nilam
- ItemDeteksi dan Pengendalian Penyakit Layu Bakteri Tanaman Jahe(Unit Penerbitan dan Publikasi Balitro, 2012) Hartati, Sri YuniPenyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum merupakan penyakit yang sangat merusak dan merugikan pada budidaya tanaman jahe. Penyakit tersebut cepat berkembang, menular, dan menyebar luas terutama pada kondisi lingkungan yang panas dan lembap. Untuk mencegah agar patogen penyakit layu tidak menyerang tanaman maka perlu dilakukan pengawasan secara rutin (monitoring) pada pertanaman jahe di lapangan. Dengan melakukan pengawasan secara rutin, terjadinya penyakit layu dapat dideteksi sedini mungkin. Oleh karena itu teknik untuk melakukan deteksi dini penyakit layu sangat diperlukan. Tulisan ini memberikan penjelasan tentang penyakit layu pada tanaman jahe serta teknik deteksi dini secara sederhana baik yang dilakukan secara langsung di lapangan maupun secara tidak langsung di laboratorium. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi petani jahe, penyuluh dan petugas lapangan, serta masyarakat lain yang berkepentingan.
- ItemJENIS-JENIS GULMA YANG BERPERAN SEBAGAI INANG ALTERNATIF JAMUR Sclerotium sp. ASAL TANAMAN SAMBILOTO(BALAI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK, 2007-09-06) Hartati, Sri Yuni; Supriadi; Karyani, NuniJamur Sclerotium sp. sering menyebabkan busuk pada bagian pangkal batang yang selanjutnya dapat menyebabkan kematian pada tanaman yang diinfeksi. Jamur tersebut merupakan patogen tular tanah yang sangat sulit dikendalikan, karena kemampuannya bertahan lama di dalam tanah dan kisaran inangnya yang sangat luas termasuk tanaman sambiloto dan gulma. Serangan Sclerotium sp. pada sambiloto dilaporkan telah mencapai 10% dari seluruh populasi tanaman yang dibudidayakan di Instalasi Penelitian milik Balittro di Cicurug, Sukabumi. Beberapa jenis gulma juga berpotensi sebagai inang alternatif dari jamur Sclerotium sp. Oleh karena itu salah satu usaha untuk mengendalikan Sclerotium sp. pada tanaman sambiloto adalah dengan mengendalikan gulma yang tumbuh disekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui patogenisitas isolat Sclerotium sp. asal sambiloto terhadap beberapa jenis gulma. Penelitian dilakukan pada tahun 2005 di rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Bogor. Uji patogenisitas telah dilakukan terhadap 10 jenis gulma yaitu Ageratum sp., Asystasia gangetica, Borreria leavis, Cassia alata, Cleome spinosa L., Euphorbia hirta L., Imperata cylindrica L. Oxalis sevium L., Phylanthus niruri, dan Spigelia cnthelmia. Gulma yang diuji ditanam pada tanah steril dalam kantong plastik hitam. Sebanyak 10 butir sklerotia jamur Sclerotium sp. diinokulasikan disekitar pangkal batang dari gulma yang diuji. Penelitian dirancang secara acak lengkap dengan 10 ulangan (tanaman). Pengamatan gejala penyakit dilakukan setiap minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 8 dari 10 jenis gulma yang diuji yaitu (Ageratum sp., Asystasia gangetica, Borreria leavis, Cleome spinosa L., Euphobia hirta, Oxalis sevium L., Phylanthus niruri, dan Spigelia anthelmia) menunjukkan gejala sakit dan mati setelah diinokulasi dengan Sclerotium sp. Sedangkan dua jenis gulma lainnya (Cassia alata dan Imperata cylindrica L.) tidak menunjukkan gejala sakit. Hasil ini mengindikasikan bahwa kedelapan jenis gulma yang menunjukkan gejala sakit tersebut merupakan inang dari Sclerotium sp. asal tanaman sambiloto. Gulma tersebut perlu dikendalikan untuk mengurangi sumber inokulum dan populasi jamur Sclerotium sp. tersebut di dalam tanah.
- ItemPenyakit Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh Diagnosa dan Pengendaliannya(Unit Penerbitan dan Publikasi Balittro, 2013-12) Hartati, Sri Yuni; Balittro
- ItemPENYAKIT-PENYAKIT PADA TANAMAN LIDAH MERTUA DAN PENGENDALIANNYA : Warta balittro No. 60 tahun 2013(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2013-12-01) Hartati, Sri Yuni; Karyani, NuriTanaman Sansevieria spp. (lidah mertua) merupakan tanaman tropis yang berasal dari Afrika, Arab, dan India. Tanaman tersebut dikenal oleh masyarakat di berbagai negara di dunia karena keindahannya serta mempunyai banyak khasiat. Karena mempunyai bentuk dan corak daun yang menawan maka lidah mertua lebih dikenal sebagai tanaman hias dibanding sebagai tanaman obat. Tanaman ini sering ditanam di sekitar gerbang halaman, pintu masuk rumah, pekarangan, di tepi jalan, maupun sawah. Seperti halnya tanaman lain yang dibudidayakan, lidah mertua juga sering mengalami gangguan berbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh jamur, bakteri, dan nematoda.
- ItemКЕТАНАANAN BEBERAPA SOMAKLON NILAM TERHADAP PENYAKIT LAYU BAKTERI(BALAI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK, 2007-09-06) Hartati, Sri Yuni; Seswita, Deliah; Hobir; Karyani, NuriPenyakit layu yang disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum merupakan salah satu penyakit yang penting pada tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth.). Semua klon nilam yang dibudidayakan di Indonesia rentan terhadap penyakit tersebut. Oleh karena itu usaha perbaikan varietas merupakan pilihan yang tepat untuk mendapatkan varietas unggul yang juga tahan penyakit layu. Nilam Aceh yang umum dibudidayakan petani tidak berbunga, sehingga diperbanyak secara vegetatif dengan sotek batang. Oleh karena itu keragaman genetik nilam sangat sempit. Untuk meningkatkan keragaman genetik nilam, telah dilakukan melalui variasi somaklonal dan 10 səmaklon diantaranya mempunyai mutu dan kwalitas minyak yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah menguji tingkat ketahanan ke 10 somaklon tersebut dengan 2 klon pembanding (Cirateun dan Sidikalang) terhadap penyakit layu. Bibit nilam ditanam pada media steril campuran tanah, pasir, dan pupuk kandang (1:1:1) dalam kantong plastik hitam (polybag). Bibit yang berumur 1 bulan diinokulasi dengan 2 tetes suspensi bakteri R. solanacearum (konsentrasi 102sel/ ml). Inokulasi dilakukan pada pangkal batang dengan metode tusuk jarum. Bibit yang telah diinokulasi diinkubasikan di rumah kaca. Pengamatan dilakukan terhadap masa inkubasi, gejala layu, dan intensitas serangan penyakit. Hasil penelitian menunjukkan ke 10 somaklon yang diuji mempunyai tingkat ketahanan yang bervariasi (Intensitas serangan penyakit berkisar antara 50-100%). Meskipun semua somaklon yang diuji tidak ada yang benar-benar tahan terhadap penyakit layu, namun somaklon nomor 55 mempunyai tingkat ketahanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan somaklon lainnya dan 2 klon pembandingnya (Cirateun dan Sidikalang).