Browsing by Author "Hadijah, AD"
Now showing 1 - 2 of 2
Results Per Page
Sort Options
- ItemEvaluationof Maize Production Technology Component to Increase Farmer’s Income in Rainfed Low Land(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2013) Hadijah, AD; Herman SubagioThe government of Indonesia has paying attention to increase maize production by both expanding planting acreage and use more intensive agricultural methods to grow maize in order to meet the demand for food, feed, industry and export. A strong demand and good domestic prices had been attracting farmers to grow hybrid maize and its acreage will keep increasing particularly in South Sulawesi Province. The use of hybrid seed in maize production have been tested in two regenciesi.eBantaeng and Bone respectively. The result indicated that the cost of hybrid maize production account for approximately 30% of the total production cost. Most of the cost used to afford certified hybrid seed and fertilizer. Total cost of production was Rp 3,551,800 whereas the revenue gained was about Rp 7,385,000. Thus the use of hybrid maize in Bantaeng could benefit the farmers of about Rp 3,833,120. B/C ratio gained from maize production was 2.08. In addition to Bone, total cost production was 1,030,000 with the revenue of about 10,384,000. B/C ratio gained from maize production was 7.12, indicating that the use of hybrid seed in maize production would benefit farmers.
- ItemPeningkatan Produksi Jagung melalui Penerapan Inovasi Pengelolaan Tanaman Terpadu(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2010-12-11) Hadijah, ADJagung di Sulawesi Selatan merupakan tanaman pangan penting kedua setelah padi. Secara tradisional jagung dibudidayakan di lahan kering pada musim hujan, jarang ditanam pada lahan sawah berpengairan terbatas. Rotasi tanaman pada lahan sawah berpengairan terbatas adalah padi-bera. Pada saat harga jagung rendah sebelum tahun 2000, pada lahan sawah yang biasanya diberakan setelah panen padi sehingga tidak memberikan insentif ekonomi bagi petani. Dengan semakin meningkatnya permintaan jagung untuk industri makanan, minyak, dan pakan ternak serta untuk ekspor, harga jagung meningkat dan dapat memberi keuntungan bagi petani jika menanam jagung. Di Sulawesi Selatan sebagian besar petani membiarkan lahan sawah bera setelah panen padi. Penelitian dengan pendekatan pengelolahan tanaman terpadu (PTT) pada jagung dilaksanakan di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, pada musim kemarau 2006, pada lahan sawah berpengairan terbatas setelah panen padi sawah. Luas areal penelitian 3 ha, melibatkan sepuluh petani. Komponen teknologi PTT yang diterapkan adalah varietas Lamuru dengan benih 20 kg/ha, dosis pupuk 250 kg urea + 100 kg SP36 + 50 kg KCl/ha. Lahan tidak diolah, disemprot herbisida, dan suplementasi air irigasi pompa diberikan empat kali. Total biaya produksi Rp 2,5 juta/ha. Produksi jagung bervariasi antara 2,8-6,0 t/ha, rata-rata 4,5 t/ha biji kering. Dari hasil jagung 4,5 t/ha diperoleh nilai jual Rp 7,2 juta/ha, sehingga pendapatan rata-rata Rp 4,7 juta/ha, dan B/C ratio 1,88. Pendapatan padi pada musim tanam utama Rp 4,1 juta/ha, sehingga petani memperoleh pendapatan dua kali lipat dari biasanya, bila menanam jagung setelah padi sawah. Lahan sawah berpengairan terbatas dan sawah tadah hujan yang diberakan di Sulawesi Selatan sangat luas. Pemanfaatan lahan bera tersebut untuk budi daya jagung akan meningkatkan produksi jagung regional dan nasional, serta meningkatkan pendapatan petani, yang akan berdampak terhadap ekonomi pedesaan. Penanaman jagung pada lahan sawah, yang biasanya diberakan di Sulawesi Selatan memerlukan penyuluhan dan bimbingan teknis dalam model penelitian PTT, guna meningkatkan kesadaran dan partisipasi petani dalam proses adopsi teknologi.