Browsing by Author "Firdaus Kasim"
Now showing 1 - 5 of 5
Results Per Page
Sort Options
- ItemMaize in Indonesia(International Maize and Wheat Improvement Center, 2004-12-16) Dewa K.S. Swastika; Firdaus Kasim; Wayan Sudana; Rachmat Hendayana; Kecuk Suhariyanto; Roberta V. Gerpacio; Prabhu L. PingaliMaize is the second most important cereal crop in Indonesia after rice. The demand for maize as food and feed has been steadily increasing. Total national maize production has grown at 4.07% per annum in the last three decades, thanks mainly to the adoption of improved production technologies, particularly hybrid seed. This high production, however, still fails to meet domestic demand and has caused a rapid increase in the net import of maize. This study characterized the maize production systems in four major maize-producing provinces in Indonesia, namely Lampung, East Java, West Nusa Tenggara, and South Sulawesi. Important productivity constraints faced by maize farmers were identified and included: low grain prices during harvest; high input prices; large distances between maize production areas, feed mills, and seed industries; lack of promotion of local improved maize varieties (OPVs and hybrids) by gover nment research centers; and lack of farmer capital. Farmers, the Government of Indonesia, and private companies should be encouraged to develop appropriate technology and policies, such as tariffs and credit systems, to overcome some of these constraints
- ItemPerbaikan Genetik Jagung dan Peningkatan Efisiensi P di Lahan Kering Masam(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Firdaus Kasim; Helmidar Bahar; Syafei; ErdimanPeningkatan hasil jagung di lahan kering masam antara lain dapat dicapai melalui penggunaan varietas toleran. Seleksi awal varietas dilakukan dengan metode half-sib pada tanah Podsolik Merah Kuning (PMK) yang berkadar Al tinggi dan kahat unsur P. Pada tanah PMK, unsur Al dan Fe memfiksasi P sehingga mengurangi ketersediaannya bagi tanaman. Serangkaian pengujian pemupukan P telah dilakukan dengan menggunakan varietas jagung yang toleran terhadap keracunan Al. Antasena yang merupakan varietas jagung pertama yang dilepas untuk lahan kering masam, berasal dari populasi St Al dan hasilnya 20% lebih tinggi daripada Arjuna pada kondisi tercekam Al. Populasi St Al terus diperbaiki untuk meningkatkan ketahanannya terhadap penyakit bulai. Dengan pengapuran 1 t/ha, tanaman jagung tanggap terhadap pemupukan P sampai takaran 135 kg P2O5, bahkan pada takaran 180 kg P2Os/ha hasil masih meningkat, tetapi efisiensi pemupukan menurun. Penggunaan pupuk P dapat ditekan apabila bahan organik turut diberikan. Penggunaan pupuk P dengan takaran 180 kg P205/ha memberikan hasil yang sama dengan takaran 22,5 kg P2Os/ha bila pemberiannya dicampur dengan 2 t/ha bahan organik dan 200 kg/ha kapur setelah diinkubasi selama 8 minggu.
- ItemPosisi Varietas Bersari Bebas dalam Usahatani Jagung di Indonesia(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2012-12-13) Zubachtirodin; Firdaus KasimKontribusi varietas unggul sangat nyata dalam peningkatan produksi dan produktivitas jagung nasional. Varietas unggul dibentuk dari serangkaian kegiatan perbaikan sumber daya genetik (SDG). Produk dari perbaikan SDG (germplasm improvement) pada tanaman jagung secara umum dapat digolongkan menjadi dua: varietas bersari bebas (VBB) atau komposit dan varietas hibrida. Di Indonesia, sebelum tahun 2000 perakitan varietas jagung lebih menitikberatkan kepada menghasilkan VBB karena biayanya lebih murah, produksi benih mudah, dan industri benih komersial belum berkembang. Pada periode tersebut telah dilepas sejumlah VBB (seperti Harapan, Arjuna, Kalingga, dan Bisma) dengan daya hasil cukup tinggi, berumur genjah-sedang, tahan penyakit bulai, dan adaptasi luas yang mampu mendominasi areal pertanaman jagung petani. Dengan pesatnya perkembangan industri benih komersial, terutama perusahaan swasta, penggunaan VBB mulai menurun dalam 10 tahun terakhir. Hal ini berkaitan dengan perubahan minat petani dalam memilih varietas hibrida yang berdaya hasil tinggi. Kurangnya dukungan pemerintah dalam pengembangan perbenihan jagung VBB dan lemahnya beberapa subsitem produksi dan penyebaran benih sumber juga ikut membatasi pengembangan VBB. Penyediaan benih sumber setiap tahun tetap berjalan dan benih VBB disalurkan dalam jumlah yang memadai kepada pengguna. Masalah utama adalah sering terputusnya produksi benih sumber kelas benih dasar, benih pokok, dan bahkan benih sebar pada tingkat penangkar, terkait dengan ketidakpastian ìpasarî dari hasil penangkaran. Di wilayah bagian timur Indonesia peran VBB masih cukup penting sebagaimana terlihat dengan berkembangnya varietas Lamuru, Sukmaraga, Srikandi kuning, dan Anoman. Pada daerah-daerah seperti ini diperlukan dukungan yang kuat untuk pengembangan VBB, misalnya penangkaran benih dimanfaatkan dalam program BLBU (bantuan langsung benih unggul) oleh pemerintah.
- ItemStabilitas Hasil Beberapa Populasi Harapan Jagung Bersari Bebas(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2002) Basir, M.; A. Mappe; M. Dahlan; Firdaus KasimAnalisis stabilitas hasil beberapa populasi jagung bersari bebas harapan dilakukan dengan menggunakan teknik regresi sederhana. Data berasal dari percobaan yang dilaksanakan dengan 14 populasi harapan dan dua varietas pembanding (Lagaligo dan Bisma) di sembilan lokasi pada musim tanam 1998/99. Analisis gabungan menunjukkan terdapat interaksi genotipe dengan lingkungan terhadap sifat jumlah tongkol/tanaman, kadar air biji saat panen dan hasil pipilan kering. Populasi MS.K2 (RRS)C2 berumur genjah (90 hari), sesuai ditanam pada lokasi yang berproduktivitas rendah dengan rata-rata hasil 4,46 t/ha biji kering. Populasi MS.JI(RRS)C2 berumur sedang (95 hari), sesuai ditanam pada lokasiyang berproduktivitas tinggi dan rata-rata hasil 4,89 t/ha. Hasil varietas Lagaligo dan Bisma rata-rata 4,60 dan 5,23 t/ha pipilan kering. Varietas Bisma memberi hasil lebih tinggi (3,91-6,67 t/ha) dibanding populasi harapan yang diteliti, namun kurang stabil, terutama pada lokasi yang produktivitasnya rendah.
- ItemVarietas Unggul Jagung Bermutu Protein Tinggi(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2010-12) M Yasin H.G.; Syuryawati; Firdaus KasimJagung berkualitas protein tinggi (QPM: Quality Protein Maize) adalah jenis jagung khusus yang mengandung dua asam amino penting yakni lisin dan triptofan yang lebih tinggi sekitar dua kali jagung biasa. Ditemukan oleh Linn Bates pada tahun 1962, kini jagung QPM dimanfaatkan meningkatkan kesehatan tubuh dan kualitas pakan. Varietas QPM yang pertama kali dilepas di Indonesia adalah Srikandi Kuning-1 dan Srikandi Putih-1 dengan produktivitas 7,0 t/ha. Lisin dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, membantu serapan kalsium dan keseimbangan tubuh agar tidak berlemak, dapat menghasilkan antibodi, hormon, enzim, dan dapat mencegah penyakit cold sore dari virus herpes. Triptofan berperan dalam perkembangan otak anak balita, membantu proses autostimulasi pada perkembangan anak agar menjadi cerdas. Lisin dan triptofan tidak dapat disintesis oleh tubuh sehingga harus disuplai dalam bentuk makanan. Balitsereal telah menyebarkan benih jagung QPM kelas BS (breeder seeds) untuk luasan 718 ha sejak pelepasan Srikandi Kuning-1 dan Srikandi Putih-1. Pemulia jagung Balitserteal kini dapat mengkonversi jagung biasa (non-QPM) menjadi jagung QPM dengan metode silang balik (back cross), melalui introgresi gen o-2 dari materi jagung QPM ke jagung biasa sebagai penerima gen o-2. Setelah tiga generasi silang balik (BC3F2)dapat dihasilkan varietas QPM. Balai Besar Penelitian Pascapanen Pertanian disarankan membantu pengembangan dan penyebaran jagung QPM, dengan cara diolah agar menarik dan disenangi dalam bentuk seperti roti, biskuit atau sereal. Di Meksiko jagung QPM biji putih dibuat sebagai makanan khas yang disebut tortila, chips, dan chitos. Program perakitan hibrida Balitsereal telah menghasilkan calon hibrida silang tunggal yakni (1) Mr4QxMr14Q, (2) MSQ.K1C0.14-4-2-1xMr14Q, dan (3) CML161xCML165. Ketiga hibrida silang tunggal tersebut mempunyai produktivitas 10 t/ha dengan kandungan lisin dan triptofan lebih tinggi dibanding hibrida biasa Bima-1 dan Bisi-2, kenaikan lisin mencapai 86,2% dan triptofan 140%. Target pengembangan jagung QPM diarahkan pada wilayah teridentifikasi rawan (defisiensi) protein seperti Timor, Flores, dan Sumba di NTT, Sumbawa di NTB, serta Kalimantan Tengah, Maluku, dan sebagian besar Sulawesi, termasuk Sulawesi Selatan bagian selatan (Selayar, Sinjai, dan Gowa). Manfaat lain dari jagung QPM adalah untuk meningkatkan kualitas pakan.Jagung berkualitas protein tinggi (QPM: Quality Protein Maize) adalah jenis jagung khusus yang mengandung dua asam amino penting yakni lisin dan triptofan yang lebih tinggi sekitar dua kali jagung biasa. Ditemukan oleh Linn Bates pada tahun 1962, kini jagung QPM dimanfaatkan meningkatkan kesehatan tubuh dan kualitas pakan. Varietas QPM yang pertama kali dilepas di Indonesia adalah Srikandi Kuning-1 dan Srikandi Putih-1 dengan produktivitas 7,0 t/ha. Lisin dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, membantu serapan kalsium dan keseimbangan tubuh agar tidak berlemak, dapat menghasilkan antibodi, hormon, enzim, dan dapat mencegah penyakit cold sore dari virus herpes. Triptofan berperan dalam perkembangan otak anak balita, membantu proses autostimulasi pada perkembangan anak agar menjadi cerdas. Lisin dan triptofan tidak dapat disintesis oleh tubuh sehingga harus disuplai dalam bentuk makanan. Balitsereal telah menyebarkan benih jagung QPM kelas BS (breeder seeds) untuk luasan 718 ha sejak pelepasan Srikandi Kuning-1 dan Srikandi Putih-1. Pemulia jagung Balitserteal kini dapat mengkonversi jagung biasa (non-QPM) menjadi jagung QPM dengan metode silang balik (back cross), melalui introgresi gen o-2 dari materi jagung QPM ke jagung biasa sebagai penerima gen o-2. Setelah tiga generasi silang balik (BC3F2)dapat dihasilkan varietas QPM. Balai Besar Penelitian Pascapanen Pertanian disarankan membantu pengembangan dan penyebaran jagung QPM, dengan cara diolah agar menarik dan disenangi dalam bentuk seperti roti, biskuit atau sereal. Di Meksiko jagung QPM biji putih dibuat sebagai makanan khas yang disebut tortila, chips, dan chitos. Program perakitan hibrida Balitsereal telah menghasilkan calon hibrida silang tunggal yakni (1) Mr4QxMr14Q, (2) MSQ.K1C0.14-4-2-1xMr14Q, dan (3) CML161xCML165. Ketiga hibrida silang tunggal tersebut mempunyai produktivitas 10 t/ha dengan kandungan lisin dan triptofan lebih tinggi dibanding hibrida biasa Bima-1 dan Bisi-2, kenaikan lisin mencapai 86,2% dan triptofan 140%. Target pengembangan jagung QPM diarahkan pada wilayah teridentifikasi rawan (defisiensi) protein seperti Timor, Flores, dan Sumba di NTT, Sumbawa di NTB, serta Kalimantan Tengah, Maluku, dan sebagian besar Sulawesi, termasuk Sulawesi Selatan bagian selatan (Selayar, Sinjai, dan Gowa). Manfaat lain dari jagung QPM adalah untuk meningkatkan kualitas pakan.