Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "Erythrina"

Now showing 1 - 8 of 8
Results Per Page
Sort Options
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Bagan Warna Daun Meningkatkan Efesiensi Pada Padi Sawah
    (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara, 2001-12) Erythrina
    Unsur yang biasanya diberikan sebagai pupuk pada tanaman padi sawah adalah nitrogen, fosfat, dan kalium Dibanding fosfat dan kalium, pupuk nitrogen memberikan pengaruh yang paling mencolok dan cepat. Nitrogen yang merupakan hara utama yang terkandung dalam pupuk urea, merangsang pertumbuhan bagian atas tanaman dan memberikan warna hijau pada daun. Hampir pada seluruh tanaman, nitrogen merupakan pengatur dalam penggunaan kalium, fosfat, dan beberapa unsur hara lainnya
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Hasil Pengkajian Dan Cara Penggunaan Bagan Warna Daun
    (BPTP Sumatera Utara, 2000) Erythrina; Sariman; Zaini, Zulkifli; BPTP Sumatera Utara
    Upaya pemacuan produksi padi perlu disejalankan dengan upaya peningkatan pendapatan petani dan pelestarian lingkungan karena berkaitan erat dengan keberlanjutan sistem produksi. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk itu adalah meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk. Praktis, sederhana, terjangkau dan mudah penggunaannya, Bagan Warna Daun (BWD) merupakan teknologi pemupukan yang dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk N (urea). Dengan menggunakan teknologi ini dapat diketahui kapan pupuk N harus diberikan pada tanaman padi sawah. Hasil pengkajian di beberapa sentra produksi padi di Sumatera Utaramembuktikan pemberian pupuk urea pada tanaman padi dengan menggunakan teknologi BWD dapat menghemat penggunaan pupuk urea sebanyak 36-42 kg perhektar dengan hasil gabah yang tetap tinggi. Selain meningkatkan pendapatan, penerapan teknologi BWD penting pula artinya dalam menghemat sumber daya pupuk nasional.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Panduan Teknis Penggunaan Bagan Warna Daun Untuk Meningkatkan Efisiensi Pemupukan Urea Pada Tanaman Padi Sawah
    (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2002) Zaini, Zulkifli; Erythrina; Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
    Panduan teknis ini disusun sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk urea pada tanaman padi dalam kaitannya dengan upaya peningkatan pendapatan petani dan menekan pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh aplikasi pupuk nitrogen yang tidak tepat di lahan sawah.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Peluang Pengembangan IP Padi 400 di Lahan Sawah Irigasi
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2010-12-24) Erythrina
    Dengan menerapkan IP Padi 400 berarti petani dapat menanam dan memanen padi empat kali dalam setahun pada hamparan lahan sawah yang sama. Studi IP Padi 400 di tingkat petani dilaksanakan di Desa Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, pada kelompok “Tani Jaya” sebagai responden, diikuti dengan focus group discussion (FGD) pada bulan Juli 2009. Kelompok Tani Jaya menggunakan varietas Srijaya, berumur 76 hari pada MK dan 80 hari setelah tanam pada MH (15 hari di pesemaian) atau berumur 91 hari pada MK dan 95 hari pada MH dari biji ke biji. Bila menggunakan varietas Memberamo dan IR64, petani memerlukan waktu 13 bulan, sedangkan dengan varietas Srijaya bisa empat kali tanam dalam 12 bulan. Total hasil panen yang diperoleh 23,4 t GKP/ha/tahun, hasil gabah lebih tinggi pada MK dibanding MH. Hasil panen bersih 18,7 t GKP/ha/tahun (setelah dipotong bawon 20% untuk biaya tanam dan panen) dan harga jual gabah di sawah Rp 2.000.000/ton, petani memperoleh pendapatan kotor Rp 37,376 juta/ ha/tahun. Dengan biaya usahatani berkisar antara Rp 2,5-3 juta/musim tanam, petani memperoleh keuntungan bersih yang cukup tinggi. Rancangbangun peningkatan produksi untuk mencapai IP Padi 400 harus mempertimbangkan: (1) aspek budaya masyarakat seperti tenaga kerja yang “industrius” (bekerja cepat, efisien, tidak santai), (2) ketersediaan air minimal 11 bulan dalam setahun, (3) ketersediaan alsintan pendukung yang cukup, (4) varietas padi berumur sangat genjah sampai ultra genjah, dan (5) ketersediaan modal-sarana produksi pada waktu diperlukan. Untuk pengembangan IP Padi 400 diperlukan: (a) inventarisasi wilayah pengembangan, (b) perbaikan prasarana irigasi, (c) mempertahankan produktivitas lahan tetap tinggi, dan (d) sosialisasi program berkaitan dengan budaya masyarakat. Disarankan Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, digunakan sebagai laboratorium lapang untuk penelitian IP Padi 400 yang lebih komprehensif, mencakup aspek kimia tanah, lingkungan, hama dan penyakit, serta sosial dan budaya masyarakat
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Pengembangan Padi Hibrida dengan Pendekatan PTT dan Penanda Padi
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2008-12-16) Zulkifli Zaini; Erythrina
    Pemerintah bertekad meningkatkan produksi beras sebesar 2 juta ton pada tahun 2007, dan selanjutnya meningkat dengan laju 5% per tahun hingga tahun 2009. Upaya yang dilakukan untuk itu antara lain dengan meningkatkan produktivitas padi melalui pendekatan Pengelolaan Tanaman dan Sumber Daya Terpadu (PTT) dan penerapan teknologi padi hibrida. Pengkajian dalam bentuk petak percontohan PTT padi hibrida dan inbrida dilaksanakan di Kecamatan Ketibung dan Palas, Lampung Selatan, dan Kecamatan Gading Rejo, Kabupaten Tanggamus, Lampung pada tahun 2007. Pengkajian bertujuan untuk mensintesis peluang peningkatan produksi padi pada lahan sawah irigasi di Lampung. Hasil pengkajian menunjukkan, padi inbrida yang dikelola petani dengan pendekatan non-PTT menghasilkan 5,27 t GKG/ha, dan meningkat 23% menjadi 6,49 t GKG/ ha dengan pendekatan PTT. Keragaan varietas padi hibrida bervariasi antarlokasi, dengan hasil berkisar antara 6,28-7,35 t GKG/ha. Penggunaan paket teknologi padi hibrida dengan pendekatan penanda padi meningkatkan hasil 22,1% dan meningkatkan pendapatan 38,5%. Pelatihan bagi kelompok tani dengan model Sekolah Lapang dan pembekalan teknologi kepada penyuluh cukup efektif mem- percepat adopsi teknologi PTT padi sawah
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Teknologi Produksi Benih Kacang Hijau
    (Balai PengkajianTeknologi Pertanian Sumatera Utara, 2001-12) Erythrina
    Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Propinsi Sumatera Utara bekerjasama dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara telah dapat menyelesaikan buku paket teknologi pertanian. Terwujudnya penerbitan ini dimungkinkan berkat adanya bantuan dana dari Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Utara
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Teknologi Padi Mendukung Lumbung Pangan Dunia 2045
    (IAARD Press, 2017) Sembiring, Hasil; Erythrina
    Padi atau beras merupakan pangan utama sebagian besar penduduk Indonesia yang kini berjumlah 250an juta jiwa. Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat, Indonesia dituntut untuk mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri. Mengandalkan beras impor untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan dalam negeri berisiko tinggi ditinjau dari berbagai aspek, baik sosial, ekonomi maupun politik. Keinginan pemerintah untuk berswasembada beras telah dimulai sejak tahun 1970an melalui program intensifikasi. Pada tahun 1984 Indonesia berhasil meraih swasembada beras untuk pertama kalinya. Sayangnya kondisi kecukupan pangan dari produksi dalam negeri tidak berlangsung lama karena semakin beragamnya masalah dan kendala yang dihadapi dalam berproduksi. Masalah yang menonjol antara lain degradasi lahan, keterbatasan sumber daya air, ketersediaan lahan subur untuk perluasan areal, konversi lahan sawah untuk nonpertanian yang terus berlangsung, perubahan iklim global dan populasi hama penyakit tanaman yang terus berkembang. Kompleksitas masalah ini berdampak terhadap pelandaian produksi padi pada lahan sawah intensif. Selain itu, di perdesaan terjadi kekurangan tenaga kerja produktif dan tingkat kehilangan hasil gabah pada saat panen dan pascapanen masih relatif tinggi. Untuk mengatasi masalah yang semakin komplek dikembangkan inovasi Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Pengembangan inovasi ini berawal dari penelitian mega proyek Reversing Trends of Declining Productivity, kerja sama antara Badan Litbang Pertanian dan Lembaga Penelitian Padi Internasional (IRRI), yang menghasilkan berbagai komponen tekologi. Setelah melalui penelitian dan pengkajian di beberapa sentra produksi padi di Indonesia, inovasi PTT dikembangkan sejak tahun 2002. Dalam perjalanannya, PTT mengalami dinamika sejalan dengan perkembangkan teknologi perpadian dari waktu ke waktu. Kinerja inovasi PTT dalam meningkatkan produktivitas padi di beberapa daerah meyakinkan pemerintah untuk mengembangkan lebih lanjut dalam skala yang lebih luas melalui Program Peningkatan Mutu Intensifikasi, Sekolah Lapang PTT, Gerakan Percepatan PTT, dan Program Upaya Khusus (UPSUS). Melalui program UPSUS, produksi padi pada tahun 2016 meningkat hingga 79,1 juta ton atau naik 4,96% dibanding tahun 2015 pada posisi 75,4 juta ton. Oleh karena itu, pemerintah pada tahun 2016 tidak lagi mengimpor beras karena produksi dalam negeri sudah mampu memenuhi kebutuhan sendiri.
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Teknologi Tanam Legowo 4:1 Pada Padi Sawah
    (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Utara, 2001-12) Erythrina
    Jarak tanam berpengaruh terhadap produksi dan efisiensi usahatani padi sawah. Jarak tanam yang lebih rapat akan meningkatkan biaya tanam dan tanaman mudah rebah. Sebaliknya, jarak tanam yang lebih lebar akan menurunkan produksi karena berkurangnya populasi tanaman.

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback