Browsing by Author "Ermiati"
Now showing 1 - 5 of 5
Results Per Page
Sort Options
- ItemANALISIS FINANSIAL PENGGUNAAN PESTISIDA NABATI PADA USAHATANI JAHE PUTIH BESAR (STUDI KASUS KECAMATAN TANJUNGKERTA, SUMEDANG): Volume 28, Nomor 2, Desember 2017(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2017-12-01) ErmiatiPestisida nabati sangat potensial dalam pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) pada sistem pertanian organik dan penggunaannya sudah umum dilakukan petani jahe di Sumedang. Penelitian bertujuan untuk mengkaji kelayakan finansial dan sensitivitas usahatani jahe putih besar (JPB) menggunakan pestisida nabati di Tanjungkerta-Sumedang, Jawa Barat. Penelitian dilakukan pada November 2013 dengan metode survey. Analisis harga, input-output dikonversi ke harga Juni 2017. Dua puluh responden dipilih secara acak sederhana dari 33 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Gemahrita. Kelayakan finansial usahatani dikaji dengan analisis Net Present Value, Benefit Cost Ratio, Internal Rate of Return. Sensitifitas dengan BEP (Break Event Point) Produksi dan BEP Harga. Berdasarkan hasil observasi, OPT yang ditemukan di lapangan yaitu bercak daun (Phyllosticta sp.) dan kepik (Epilachna sp), dikendalikan petani menggunakan pestisida nabati racikan sendiri dari rimpang lengkuas, seraiwangi, daun mimba dan daun sirih. Produktivitas jahe 22.525 kg ha dengan harga yang berlaku Rp 3.000,-/kg. Biaya pestisida nabati Rp 678.000,- per panen. Usahatani JPB menggunakan pestisida nabati secara finansial layak karena nilai NPV>0 (Rp 32.081.22,-), B/C Ratio>1 (2,35), IRR 13 % di atas suku bunga bank yang berlaku (1,5% per bulan). BEP harga Rp 1.279,-/kg, BEP produksi 9.601 kg.ha¹, 57 % lebih rendah dari produktivitas dan harga aktual. Jika produktivitas dan harga JPB turun sebesar <57 %, usahatani tersebut masih layak dilakukan. Usahatani JPB menggunakan pestisida nabati terbukti menguntungkan petani, aman untuk tanaman, tanah dan tidak mengganggu kesehatan petani, sehingga layak untuk dikembangkan.
- ItemAnalisis Kelayakan dan Kendala Pengembangan Usahatani Jahe Putih Kecil di Kapubupaten Sumedang (Studi Kasus Kecamatan Cimalaka Kabupaten Sumedang(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2010-12-01) ErmiatiJahe merupakan tanaman obat po-tensial dengan klaim khasiat paling banyak dan dibutuhkan dalam jumlah besar Namun, prospek yang baik terhadap per-mintaan jahe belum diikuti oleh peningkat-an produktivitas dan pendapatan petani. Penelitian bertujuan untuk mengetahui besarnya pendapatan, tingkat kelayakan, dan kendala pengembangan usahatani jahe putih kecil (JPK). Penelitian dilakukan dengan cara survei di Desa Nyalindung, Kec. Cimalaka, Kab. Sumedang pada bulan November 2007. Sebanyak 20 petani responden dari 25 KK, yang tergabung dalam kelompok tani, ditentukan secara acak sederhana. Besarnya pendapatan usahatani JPK dihitung dengan analisis pendapatan, sedangkan kelayakan usaha-taninya dianalisis melalui pendekatan analisis Benefit Cost (B/C) ratio, Net Present Value (NPV), dan Internal Rate of Return (IRR). Pada saat penelitian, harga Jual JPK di tingkat petani adalah Rp 1.000/kg rimpang basah dan produksi sebanyak 1.570 kg/1.000 m²/panen (1 tahun). Hasil analisis pendapatan menunjukkan bahwa total biaya sebesar Rp 929.981, membe-rikan pendapatan kepada petani sebesar Rp 640.019,-/panen. Berdasarkan hasil analisis kelayakan dengan tingkat bunga 1%/bulan atau 12%/th, nilal B/C Ratio sebesar 1,70 (1), NPV Rp 497.769,-(>0), dan IRR 6%/bulan atau 72%/th (>IRR estimate 12%/th). Hal ini menun-jukkan bahwa usahatani JPK di lokasi penelitian layak dilakukan secara teknis dan menguntungkan secara ekonomis. Hasil analisis sensitifitas harga (jika pro-duktivitas tetap 1.570 kg/1.000 m²) menunjukkan bahwa kondisi break event point akan terjadi pada harga Rp 643,-/kg (turun 35,7%). Hasil analisis sensitifitas produksi, (jika harga rimpang tetap Rp 1.000,-/kg), maka kondisi break event point usahatani JPK akan terjadi jika produktivitas turun sebanyak 35,7% atau menjadi 1.010 kg/1.000 m². Sedangkan kendala pengembangan utama yang dite-mukan, diantaranya adalah teknik budi-daya yang diterapkan belum sesuai dengan teknologi yang dianjurkan, belum mengunakan varietas unggul yang dile-pas, harga benih varietas unggul yang mahal, keterbatasan modal, fluktuasi harga, dan tingkat pendidikan. Kata kunci: Zingiber officinalle Rosc., analisis kelayakan, kendala pengem bangan, usahatani
- ItemANALISIS KELAYAKAN PENGEMBANGAN USAHATANI VARIETAS UNGGUL KUNYIT (Turino 1, Turino 2 dan Turino 3)(BALAI PENELITIAN TANAMAN OBAT DAN AROMATIK, 2007-09) Ermiati; Syukur, Cheppyelah dilepas tiga varietas unggul kunyit, yaitu Turina 1, 2 dan 3 pada tahun 2005 yang merupakan hasil uji multilokasi di tiga lokasi yang berbeda agro ekologinya, yaitu di daerah Garut, Sumedang dan Subang, mulai dari tahun 2001 sampai tahun 2004. Keunggulan dari ke tiga varietas tesebut, yaitu dari segi produksi dan kadar kurkuminnya tinggi. Potensi produksi Turina 1 (Cudo 21) sebesar 23,87 ton/ha dengan kadar kurkumin tinggi (8,36%). Turina 2 (Cudo 30), sebesar 24,07 ton/ha dengan kadar kurkumin tertiggi (9,95 dan Turina (Cudo 38) dengan produksi tertingi 25,05 ton/ha dan kadar kurkumin 8,55%. Produksi rmasing-masing varietas adaptif dan stabil di dua lokasi (Sumedang dan Subang). Sedangkan kadar kurkuminnya stabil di tiga lokasi. (Garut, Subang dan Sumedang). Namun kelayakar pengembangan usahatani ke tiga varietas tersebut belum diketahui. Penelitian bertujuan untuk mengetahui apakah pengembangan ke tiga varietas unggul kunyit tersebut layak diusahakan secara teknis dan ekonomis menguntungkan. Data yang dikumpulkan meliputi faktor-faktor produksi, biaya faktor produksi, harga jual, penerimaan dan pendapatan. Pendapatan dari usahatani varietas unggul kunyit ini dianalisis dengan analisis pendapatan, sedangkan kelayakan usahataninya dianalisis melalui pendekatan analisis Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) dan Internal Rate Of Return (IRR). Hasil analisis finansial menunjukkan, bahwa usahatani ketiga varietas unggul kunyit baik Turina 1, 2 maupun 3 layak dilakukan secara teknis dan menguntungkan secara ekonomis, ini ditunjukkan oleh NPV, B/C Ratio dan IRR masing-masing varietas tersebut positif (+), >1 dan di atas tingkat suku bunga bank yang berlaku (18%/tahun). NPV untuk Turina 1 sebesar Rp 5385 887,-., untuk Turina 2 sebesar Rp 5 449 166,- dan untuk Turina 3 tertinggi, yaitu Rp 5 758 548,-/1000 m². Sedangkan B/C Ratio dan IRR untuk masing-masing varietas sama, yaitu 4 dan 17%/1000 m². Hasil dari analisis sensitivitas (harga benih Rp 5000,-/kg., harga konsumsi Rp 500,-/kg) dan produksi masig-masing varietas tetap, maka titik impas (Break Event Point) untuk Turina 1 terjadi jika harga benih turun sebesar 74,8% (Rp 3 740,-)/kg atau menjadi Rp 1260/kg., untuk Turina 2, terjadı jika harga benih turun sebesar 75% (Rp 3 750,-)/kg atau menjadi Rp 1 250,-/kg dan untuk Turina 3, baru terjadi jika harga benih turun sebesar 76,2% (Rp 3 810,-/kg) atau menjadi Rp 1 190,-/kg.
- ItemAplikasi Fusarium axysporum Non Patogenik (Fonp) Untuk Lada Menginduksi Ketahanan Bibit Lada Terhadap Phytopthora capsici L.; buletin litro vol xvi no 1, 2005 hlmn ;27-37(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2005-12-01) ErmiatiPenelitian bertujuan untuk mengetahui pola tanam yang dapat dikembangkan layak secara tekhnis dan menguntungkan secara ekonomis, dilakukan di Luhak/Kampung Cipanas Desa Werasari Kec. Bantarujek Kab. Majalengka pada bulan November tahun 2002 sampai bulan Agustus tahun 2003. Pola tanam yang diuji adalah Pola I: Jahe emprit monokultur, Pola II: Jahe emprit+ bawang daun dan Pola III: Jahe emprit kacang merah. Jarak tanam jahe emprit 60 cm x 30 cm, bawang daun dan kacang merah masing-masing 20 cm x 20 cm. Data yang dikumpulkan dari masing-masing pola terdiri dari data penggunaan sarana produksi, tenaga kerja dan peralatan serta produksi masing-masing komoditas pada tiap pola. Analisa input- output dan B/C ratio digunakan untuk menentukan pola tanam yang paling efisien. Hasil penelitian menunjukan, bahwa ke 3 pola tanam memberikan sumbangan pendapatan cukup berarti pada petani, yaitu berkisar antara Rp. 2.297.700,- Rp. 2.773.400,- per 1000 m² dengan B/C ratio 2,3 2,4. Sedangkan pola tanam yang memberikan sumbangan pendapatan tertinggi pada petani adalah pola tanam jahe emprit + bawang daun (pola II), yaitu sebesar Rp. 2.773.400,- per 1000 m² dengan B/C Ratio 2,4. Kemudian diikuti oleh pola tanam tumpang sari jahe emprit + kacang merah (pola III) dengan pendapatan sebesar Rp. 2.443.730, dan B/C ratio 2,3 yang ternyata sama dengan B/C ratio pola tanam jahe emprit monokultur (pola I), dengan pendapatan sebesar Rp. 2.297.700,- per 1000 m². Tingginya pendapatan untuk pola II dan III disebabkan adanya tambahan penerimaan dari bawang daun dan kacang merah, meskipun biaya produksinya lebih tinggi. Dengan model pola tanam jahe emprit dengan bawang daun (Pola II) dan jahe emprit dengan kacang merah (pola III) disamping dapat meningkatkan pendapatan, petani juga dapat memperoleh penghasilan tambahan sebelum tanaman pokok menghasilkan, yaitu jahe emprit di panen dan juga dapat mengurangi resiko kegagalan panen misalnya akibat serangan penyakit Kata kunci: Pola tanam, jahe emprit, bawang daun, kacang merah.
- ItemBudidaya, Pengolahan Hasil dan Kelayakan Usahatani Gambir (Uncaria gambir, Roxb.) ; buletin litro vol xv no 1,2004 hlmn ; 50-63(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2004-01-01) ErmiatiGambir termasuk salah satu tanaman indigenous atau tanaman spesifik dan andalan ekspor daerah Sumatera Barat. Namun prospek yang baik terhadap permintaan gambir belum disertai dengan peningkatan produktivitas, mutu dan pendapatan petani. Hal ini diduga disebabkan karena terbatasnya informasi mengenai pengolahannya dan modal untuk pengembangan usahatani gambir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik budidaya, tingkat pengolahan hasil, tingkat kelayakan usahatani, besar pendapatan petani dari usahatani gambir serta faktor-faktor penghambat pengembangan diwilayah tersebut. Penelitian dilakukan di desa Solok Bio-bio kecamatan Harau kabupaten 50 Kota, pada bulan Januari 2000 dengan menggunakan metode rapid rural iralic atau pemahaman pedesaan dalam waktu singkat (PPWS) dan metode survey, yaitu wawancara langsung dengan petani dan pengisian kuesioner. Petani responden ditentukan secara acak sederhana sebanyak 30 (tiga puluh) responden. Besar pendapatan petani dianalisis dengan analisis pendapatan, sedangkan kelayakan usahatani melalui pendekatan benefit cost ratio (B/.C Ratio), net present value (NPV) dan internal rate of return (IRR). Dari hasil penelitian diketahui bahwa teknik budidaya dan pengolahan hasil masih dilakukan dengan cara tradisional dan memakai alat-alat sederhana. Hasil analisis kelayakan menunjukkan, bahwa pada tingkat bunga 15% nilai B/C Ratio = 1,61, Rp 9 763 532,- dan IRR = 57%. Pendapatan petani dari usahatani gambir adalah sebesar Rp. 20.186.250,- atau rata- NPV = rata Rp. 1.682.180,-/ha/th. Hasil ini menunjukkan bahwa usahatani gambir di Desa Solok Bio-Bio menguntungkan dan layak dikembangkan, sedangkan faktor utama penghambat pemgembangan adalah latar belakang pendidikan yang rendah, tingginya biaya pasca panen dan keterbatasan modal. Pemberdayaan petani, organisasi petani dan keterampilan petani sangat diperlukan. Kata kunci: Uncaria gambir Roxb, kelayakan, usahatani