Browsing by Author "E. Suhartatik"
Now showing 1 - 4 of 4
Results Per Page
Sort Options
- ItemAnalisis Sistem Dan Simulasi Peningkatan Produksi Padi Melalui Penggunaan Teknologi Spesifik Lokasi(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2008-06-01) Makarim, A. Karim; E. Suhartatik; Fagi, Achmad M.Abstrak Sektor pertanian, khususnya produksi padi, menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional akibat perubahan iklim, keterbatasan lahan, dan efisiensi teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem dan mensimulasikan strategi peningkatan produksi padi melalui penerapan teknologi spesifik lokasi. Metode yang digunakan adalah pendekatan dinamika sistem (system dynamics) untuk memodelkan interaksi antarvariabel utama, seperti luas lahan, tingkat adopsi teknologi, produktivitas tanaman, dan faktor lingkungan. Simulasi dilakukan menggunakan beberapa skenario intervensi teknologi spesifik lokasi yang disesuaikan dengan karakteristik ekologis dan agroklimat wilayah penelitian. Hasil simulasi menunjukkan bahwa integrasi teknologi spesifik lokasi—termasuk pengelolaan hara terpadu, varietas unggul baru, dan modernisasi irigasi—mampu meningkatkan produktivitas padi secara signifikan dibandingkan dengan skenario bisnis seperti biasa (business-as-usual). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan sistem berbasis teknologi lokal merupakan strategi efektif untuk mendorong kemandirian pangan dan ketahanan pertanian secara berkelanjutan. Abstract The agricultural sector, particularly rice production, faces major challenges in meeting national food demand due to climate change, land constraints, and technological efficiency. This study aims to analyse the system and simulate strategies to increase rice production through the implementation of location-specific technologies. The methodology employs a system dynamics approach to model the interactions among key variables, such as land area, technology adoption rate, crop productivity, and environmental factors. Simulations were conducted using several intervention scenarios tailored to the ecological and agroclimatic characteristics of the study area. The simulation results indicate that integrating location-specific technologies—including integrated nutrient management, new superior varieties, and irrigation modernization—significantly enhances rice productivity compared to the business-as-usual scenario. This study concludes that a location-specific system-based approach is an effective strategy to promote food self-sufficiency and sustainable agricultural resilience.
- ItemMorfologi dan Fisiologi Tanaman Padi(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2008-06-01) Makarim, A. Karim; E. SuhartatikAbstrak Tanaman padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas pangan utama yang memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan global, khususnya di Indonesia. Pemahaman yang mendalam mengenai struktur morfologi dan mekanisme fisiologi tanaman padi sangat krusial untuk mengoptimalkan teknik budi daya, meningkatkan efisiensi hasil panen, serta mendukung pemuliaan varietas unggul yang adaptif terhadap perubahan iklim. Secara morfologi, tanaman padi terdiri atas organ vegetatif (sistem akar serabut, batang berbuku, dan daun) serta organ generatif (bunga, malai, dan gabah). Morfologi daun dan arsitektur kanopi menentukan kapasitas penangkapan radiasi matahari, sementara struktur perakaran menentukan ketahanan terhadap ketersediaan air dan penyerapan hara. Secara fisiologis, proses fotosintesis, respirasi, transpirasi, dan translokasi fotosintat mengontrol akumulasi biomassa serta pengisian bulir. Fase perkembangan tanaman terbagi menjadi tiga tahapan utama: vegetatif, reproduktif, dan pematangan, yang mana efisiensi fisiologis pada tiap fase sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu, intensitas cahaya, ketersediaan air, dan hara. Ulasan ini menyajikan sintesis mengenai karakteristik morfologi dan fisiologi tanaman padi sebagai dasar pertimbangan dalam pengelolaan tanaman secara berkelanjutan Abstract Rice (Oryza sativa L.) is a primary staple food crop that plays a strategic role in global food security, particularly in Indonesia. A comprehensive understanding of the morphological structure and physiological mechanisms of rice plants is crucial for optimizing cultivation practices, enhancing yield efficiency, and supporting the breeding of resilient crop varieties adapted to climate change. Morphologically, the rice plant consists of vegetative organs (fibrous root system, jointed culms, and leaves) and generative organs (flowers, panicles, and grains). Leaf morphology and canopy architecture dictate light interception capacity, whereas root system characteristics determine water uptake resilience and nutrient absorption. Physiologically, processes including photosynthesis, respiration, transpiration, and assimilate translocation regulate biomass accumulation and grain filling. The plant's developmental cycle is divided into three main stages: vegetative, reproductive, and ripening, with physiological performance in each phase strongly influenced by environmental factors such as temperature, solar radiation, water availability, and nutrient supply. This review synthesizes the key morphological and physiological traits of rice plants to provide a theoretical and practical foundation for sustainable crop management.
- ItemPemupukan Padi Sawah Spesifik Lokasi(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2008-12-16) S. Abdulrachman; E. Suhartatik; A. Kasno; D. SetyoriniPenuntun latihan Pemupukan Padi Sawah Spesifik Lokasi disusun dalam bentuk modul agar lebih mudah dipahami oleh pembaca. Dalam buku ini dibahas cara-cara penentuan takaran dan waktu aplikasi pupuk pada berbagai kondisi lahan dengan mempertimbangkan masukan hara pada lahan sawah. Teknologi yang diuraikan dalam buku ini antara lain (1) penentuan takaran dan waktu aplikasi pupuk N berdasar pembacaan Bagan Warna Daun (BWD); (2) penentuan takaran dan waktu aplikasi pupuk P dan K menggunakan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) dan Uji Respon Hasil dengan Petak Omisi; dan (3) penggunaan bahan organik sebagai pupuk. Informasi di atas merupakan pelengkap atau penjelasan operasional dari Peraturan Menteri Pertanian No. 40/2007 tentang Rekomendasi Pemupukan N, P, K padi sawah spesifik lokasi. Pemupukan padi sawah spesifik lokasi merupakan bagian dari Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) dan menjadi masukan teknologi penting pada program peningkatan produksi beras nasional (P2BN). Penyediaan modul pemupukan padi sawah ini sejalan dengan perlunya bahan latihan dan praktek untuk program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) yang sudah dimulai sejak awal 2008 secara berjenjang dari tingkat nasional, tingkat provinsi, kabupaten dan kecamatan, sampai ke tingkat kelompok tani. Kami berharap informasi yang disajikan dalam buku ini dapat dijadikan standar rujukan pelatihan pemupukan padi. Namun demikian, sesuai dengan perkembangan informasi tentang pemupukan padi, penyempurnaan ke arah penggunaan pupuk yang lebih efisien dan atau lebih praktis akan terus diupayakan. Kami mengharapkan dan menghargai saran dan masukan dari para akademisi, peneliti, penyuluh pertanian, praktisi, dan petani untuk penyempurnaan buku ini.
- ItemSilikon: Hara Penting pada Sistem Produksi Padi(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2007-12-16) A.K. Makarim; E. Suhartatik; A. KartohardjonoSilikon (Si) banyak terkandung pada tanaman graminae, seperti padi, jagung, dan tebu, terutama di permukaan daun, batang, dan gabah (padi). Tanaman kahat Si menyebabkan ketiga organ tanaman di atas kurang terlindungi oleh lapisan silikat yang kuat, akibatnya: (1) daun tanaman lemah terkulai, tidak efektif menangkap sinar matahari, sehingga produktivitas tanaman rendah/tidak optimal; (2) penguapan air dari permukaan daun dan batang tanaman dipercepat, sehingga tanaman mudah layu atau peka terhadap kekeringan; (3) daun dan batang menjadi peka terhadap serangan penyakit dan hama; (4) tanaman mudah rebah; dan (5) kualitas gabah (padi) berkurang karena mudah terkena hama dan penyakit. Akibatnya, hasil optimal tanaman tidak tercapai, kestabilan hasil rendah (fluktuatif) dan mutu produk rendah. Penggunaan kembali Si yang dahulu selalu diperhatikan pada budi daya padi, baik di luar negeri maupun di dalam negeri, hampir dapat dipastikan akan meningkatkan produktivitas, kestabilan dan kualitas hasil padi. Memopulerkan kembali penggunaan pupuk silikat pada tanaman padi saat ini sangat tepat, seiring dengan kebijakan pemerintah untuk meningkatkan produksi padi nasional sebesar 5%, dimana pemanfaatan lahan-lahan suboptimal, lahanlahan endemik hama dan penyakit, serta lahan optimal dengan penggunaan pupuk N dosis tinggi semakin meluas dan intensif. Lahan-lahan tersebut me- merlukan tambahan silikat.