Repository logo
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
Repository logo
  • Communities & Collections
  • All of Repositori
  • English
  • Català
  • Čeština
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Gàidhlig
  • Latviešu
  • Magyar
  • Nederlands
  • Polski
  • Português
  • Português do Brasil
  • Suomi
  • Svenska
  • Türkçe
  • Қазақ
  • বাংলা
  • हिंदी
  • Ελληνικά
  • Yкраї́нська
  • Log In
    New user? Click here to register.Have you forgotten your password?
  1. Home
  2. Browse by Author

Browsing by Author "E. Juarini"

Now showing 1 - 5 of 5
Results Per Page
Sort Options
  • No Thumbnail Available
    Item
    Ketersediaan Teknologi Dalam Menunjang Pengembangan Kelinci Di Indonesia
    (Balai Penelitian Ternak, 2005) E. Juarini; Sumanto; B.Wibowo
    Kelinci termasuk hewan prolifik karena mampu memproduksi anak dalam jumlah tinggi dalam waktu relatif singkat dalam setahun bisa melahirkan 8 sampai 10 kali dengan jumlah cukup banyak perkelahiran (6 sampai 8 per litter). Idealnya seekor induk mampu menghasilkan 80 kg. daging pertahun. Pengembangan kelinci sudah dimulai sejak tahun 80an tetapi dinilai gagal karena masih sulitnya pemasaran produk kelinci, tingkat kematian yang tinggi (>40%) dan mahalnya harga pakan serta kurang diterimanya produk tersebut oleh masyarakat meskipun dagingnya menyerupai daging ayam. Untuk mendukung pengembangan kelinci dan mengatasi masalah pakan tersebut telah dilakukan banyak penelitian dengan menggunakan limbah pertanian. Penggunaan daun rami sampai 30% dan tepung rami 40% dalam ransum kelinci tidak berpengaruh negatif pada pertumbuhan kelinci; begitu pula penyertaan dalam ransum 40% ampas teh, 20% onggok fermentasi, 15% ampas tahu non fermentasi dan 20% ampas tahu fermentasi meningkatkan bobot badan lebih baik dibanding kontrol, namun pemberian 10% ampas bir dalam ransum menurunkan bobot badan kelinci, begitu pula penyertaan 10% onggok dalam ransum kelinci berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan. Dari aspek reproduksi pengaturan kawin paska partus menyimpulkan perkawinan 14 hari setelah beranak memberikan performan paling baik untuk kelinci. Sementara pengayaan manure dan urin kelinci dengan probiotik untuk pupuk tanaman menunjukkan superioritas manure kelinci dari pada domba.
  • No Thumbnail Available
    Item
    Pemanfaatan Dan Analisis Ekonomi Usaha Ternak Kelinci Di Pedesaan
    (Balai Penelitian Ternak, 2005) Broto Wibowo; Sumanto; E. Juarini
    Pengembangan ternak kelinci sudah dimulai sejak tahun 80an dan mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan masyarakat maupun pejabat pemerintah dalam mengatasi pemenuhan gizi. Namun saat ini jumlah populasinya tampak kurang berkembang dan belum merata, hanya jumlahnya terbatas pada wilayah sentra pariwisata. Kendala utama dalam pengembangannya adalah masih adanya pengaruh psychologis antara manusia dengan ternak kelinci dalam hal memotong dan sekaligus untuk dimakan. Kendala lainnya adalah angka kematian yang cukup tinggi dan masih perlu adanya sosialisasi mengkonsumsi daging dan penyediaan produk daging olahan yang menarik konsumen. Disisi lain ternak kelinci bersifat prolifik dan jarak beranak yang pendek sehingga mampu menghasilkan jumlah anak yang cukup tinggi pada satuan waktu yang singkat (per tahun) sehingga dikenal sebagai penyedia daging yang handal. Manfaat lainnya adalah sebagai penghasil kulit bulu, kotoran (feces) dan sebagai ternak kesayangan. Semua manfaat tersebut dapat menjadi tambahan pendapatan peternak. Usaha peternakan kelinci selain sebagai pemenuhan gizi (subsisten) perlu adanya dukungan untuk mengarah pada usaha komersil-berorientasi pasar. Telah dicoba dilakukan analisis terhadap usaha kelinci intensif yang berskala 20 ekor induk dan 5 ekor pejantan sebagai usaha penghasil daging dan kulit bulu selama satu tahun. Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa keuntungan pada skala usaha tersebut adalah sebesar Rp 9.206.200/tahun atau Rp 767.183/bulan (dalam perhitungan ini dilakukan penilaian terhadap sisa kelinci yang belum berumur potong, karena dalam kas opnam masih tersisa sejumlah ternak muda).
  • No Thumbnail Available
    Item
    Pemanfaatan Dan Analisis Ekonomi Usaha Ternak Kelinci Di Pedesaan
    (Balai Penelitian Ternak, 2005) Broto Wibowo; Sumanto; E. Juarini
    Pengembangan ternak kelinci sudah dimulai sejak tahun 80an dan mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan masyarakat maupun pejabat pemerintah dalam mengatasi pemenuhan gizi. Namun saat ini jumlah populasinya tampak kurang berkembang dan belum merata, hanya jumlahnya terbatas pada wilayah sentra pariwisata. Kendala utama dalam pengembangannya adalah masih adanya pengaruh psychologis antara manusia dengan ternak kelinci dalam hal memotong dan sekaligus untuk dimakan. Kendala lainnya adalah angka kematian yang cukup tinggi dan masih perlu adanya sosialisasi mengkonsumsi daging dan penyediaan produk daging olahan yang menarik konsumen. Disisi lain ternak kelinci bersifat prolifik dan jarak beranak yang pendek sehingga mampu menghasilkan jumlah anak yang cukup tinggi pada satuan waktu yang singkat (per tahun) sehingga dikenal sebagai penyedia daging yang handal. Manfaat lainnya adalah sebagai penghasil kulit bulu, kotoran (feces) dan sebagai ternak kesayangan. Semua manfaat tersebut dapat menjadi tambahan pendapatan peternak. Usaha peternakan kelinci selain sebagai pemenuhan gizi (subsisten) perlu adanya dukungan untuk mengarah pada usaha komersil-berorientasi pasar. Telah dicoba dilakukan analisis terhadap usaha kelinci intensif yang berskala 20 ekor induk dan 5 ekor pejantan sebagai usaha penghasil daging dan kulit bulu selama satu tahun. Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa keuntungan pada skala usaha tersebut adalah sebesar Rp 9.206.200/tahun atau Rp 767.183/bulan (dalam perhitungan ini dilakukan penilaian terhadap sisa kelinci yang belum berumur potong, karena dalam kas opnam masih tersisa sejumlah ternak muda).
  • No Thumbnail Available
    Item
    Pengembangan Ayam Lokal Dan Permasalahannya Di Lapangan
    (Balai Penelitian Ternak, 2005) E. Juarini; Sumanto; D. Zainuddin
  • Loading...
    Thumbnail Image
    Item
    Sistem Pembibitan Itik Mojosari Alabio Di Kabupaten Blitar: Sistem Pembibitan Masa Depan
    (Balai Penelitian Ternak, 2006) Broto Wibowo; E. Juarini; M. Purba
    Suatu usaha peternakan itik akan memperoleh hasil dan optimal dengan mempertimbangkan sumberdaya bibit, lingkungan, aspek manajemen. Rendahnya produksi telur di tingkat petani disebabkan salah satunya oleh penggunaan bibit dengan kualitas yang belum terkontrol. Beberapa tahun terakhir, telah dirintis suatu model kerjasama antara Balai Penelitian Ternak dengan UD Majujaya di Blitar untuk menangkarkan bibit itik hasil seleksi (Mojosari dan Alabio) sebagai tetua yang akan disilangkan sehingga menghasilkan itik MA sebagai itik niaga. UD Majujaya yang berperan sebagai inti telah melakukan model kemitraan dengan masyarakat dengan pola inti-plasma, dengan peternak sebagai plasma. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penangkaran itik Mojosari dan Alabio dilakukan dengan pemeliharaan secara intensif. Pola pemeliharaan ini didukung antara lain: (1) pengembangan jumlah areal perkandangan dengan daya tampung mencapai 12.000 ekor yang terdiri dari 3 lokasi bangunan kandang, (2) penyediaan sarana pakan yang memadai dan (3) pembangunan penetasan telur oleh inti, sebanyak 90 buah mesin tetas dengan kapasitas tampung 27.000 butir telur setiap bulan. Ternak itik hasil penetasan (itik MA) sebagai itik niaga penghasil telur dikembangkan oleh peternak dan sebagian dipelihara langsung oleh inti dengan maksud sebagai kontrol terhadap pengembangan itik MA ditengah-tengah masyarakat. Proporsi populasi itik MA dari itik lokal (Mojosari) dalam suatu kepemilikan cenderung semakin meningkat, bahkan sejumlah peternak termasuk inti telah memelihara seluruhnya itik MA. Hal ini menunjukkan bahwa itik MA betul-betul diperlukan ditengah-tengah usaha peternakan itik penghasil telur secara intensif dan komersial di Blitar.

Copyright © 2026 Kementerian Pertanian

Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian

  • Cookie settings
  • Privacy policy
  • End User Agreement
  • Send Feedback