Browsing by Author "Dr. Ir. I Nyoman Widiarta"
Now showing 1 - 2 of 2
Results Per Page
Sort Options
- ItemProspek dan Arah Pengembangan Padi Hibrida(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2008-12-16) Prof. Dr. Ir. Made Oka Adnyana, MSc; Dr. Ir. I Nyoman Widiarta; Hermanto, S.SosBeras menyangkut kepentingan masyarakat luas sehingga upaya peningkatan produksi perlu mendapat prioritas yang tinggi. Di sisi lain, tantangan peningkatan produksi di masa yang akan datang juga makin meningkat terkait dengan persaingan dalam pemanfaatan sumber daya antara sektor pertanian dengan sektor lainnya. Mengingat peran strategis beras, pemerintah telah menetapkan sasaran kecukupan pasokan produksi dalam negeri minimal 95% dari permintaan atau dengan istilah swasembada on trend. Peluang untuk mempertahankan swasembada beras cukup besar karena didukung oleh sumber daya alam, teknologi, dan iklim tropik yang sesuai untuk budi daya padi. Upaya peningkatan produksi dan pengembangan padi hibrida memerlukan perencanaan yang lebih matang. Publikasi ini berisikan pokok pikiran tentang prospek dan arah pengembangan padi hibrida di lahan sawah irigasi. Strategi, kebijakan, program telah disusun dengan menggunakan analisis SWOT yang mencakup enam aspek yaitu penelitian dan pengembangan, sistem produksi benih, sistem produksi, panen dan pascapanen, distribusi dan pemasaran, serta kelembagaan. Lintasan peta jalan untuk mempertahankan hingga tahun swasembada 2025 dan operasional kegiatan juga telah disusun. Di samping itu, juga diuraikan investasi yang dibutuhkan untuk mempertahankan swasembada beras.
- ItemSekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) Kedelai(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2008-12-16) Prof. Dr. Ir. Achmad Suryana, MS; Prof. Dr. Ir. Suyamto; Prof. Dr. Marwoto; Ir. Abdullah Taufiq, MS; Ir. M. Muchlish Adie, MS; Prof. Dr. Subandi; Dr. Ir. I Nyoman Widiarta; Hermanto, S.Sos; Ir. Husni KasimKebutuhan kedelai pada tahun 2008 telah mencapai 2,2 juta ton, sementara produksi dalam negeri hanya 35-40% kebutuhan, sehingga kekurangannya dipenuhi dari impor. Naiknya harga kedelai di pasar dunia akhir-akhir ini menyebabkan harga kedelai di dalam negeri juga naik dari Rp 3.500 pada awal tahun 2007 menjadi Rp 7.500 per kg di akhir tahun 2007. Hal ini menggangu kelangsungan industri pangan berbahan baku kedelai, seperti tempe dan tahu yang telah populer di masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya meningkatkan produksi kedelai di dalam negeri. Untuk meningkatkan produksi kedelai nasional dalam upaya pemenuhan kebutuhan dan menekan volume impor, pemerintah telah mencanangkan program peningkatan produksi kedelai. Salah satu strategi yang ditempuh adalah meningkatkan produktivitas yang hingga kini baru mencapai 1,2 t/ha, sementara di tingkat penelitian dapat mencapai 2,0- 2,5 t/ha. Dalam hal ini inovasi teknologi memegang peranan penting. Hasil penelitian di beberapa lokasi menunjukkan bahwa teknologi varietas unggul kedelai yang dibudidayakan dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi input produksi kedelai. Pengalaman menunjukkan pula bahwa Sekolah Lapang Pengendalian Hama secara Terpadu (SL-PHT) dengan sistem belajar langsung di lahan petani dapat mempercepat alih teknologi. Keberhasilan SL-PHT yang ditindaklanjuti oleh pengembangan SL-Iklim (SL-I) memberi inspirasi bagi pengembangan PTT melalui Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) dengan mensinergikan dan memperluas cakupan SL-PHT dan SL-I dengan sasaran peningkatan produksi dan efisiensi usahatani. Agar berdaya guna dan berhasil guna, SL-PTT dilaksanakan secara terpadu dengan melibatkan berbagai institusi yang kompeten, baik di tingkat pusat.