Browsing by Author "Budhi S. Radjit"
Now showing 1 - 2 of 2
Results Per Page
Sort Options
- ItemPotensi Peningkatan Hasil Ubikayu melalui Stek Sambung (Mukibat)(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2010-12-25) Budhi S. Radjit; Nila Prasetiaswati; E. GintingBudi daya ubikayu stek sambung (mukibat) telah lama dikenal, namun sejauh ini belum dikembangkan secara komersial oleh petani. Dengan meningkatnya permintaan ubikayu sebagai bahan baku bioetanol, maka cara ini mempunyai prospek yang baik dan mulai dikembangkan oleh beberapa pemerintah daerah dan petani, dengan harapan dapat meningkatkan produksi dan pendapatan petani. Hasil survei kelayakan usahatani menunjukkan belum ada teknologi baku untuk ubikayu stek sambung di tingkat petani. Meskipun demikian, penanaman ubikayu stek sambung mempunyai potensi hasil yang baik di Kabupaten Banyuwangi, Gunung Kidul, dan Lampung Tengah, masing-masing dapat mencapai 59,0 t, 72,0 t dan 59,8 t/ha dengan keuntungan Rp 23.450.000 (B/C ratio 2,6), Rp 8.027.000 (B/C ratio 1,3), dan Rp 22.315.000 (B/C ratio 2,1). Hasil percobaan di KP Genteng menunjukkan bahwa dengan stek sambung, klon Adira4, UJ-5, Kaspro, dan lokal Dampit dapat memberi hasil 90,4-99,7 t/ha, sedangkan dengan stek biasa hanya 54,3-61,9 t/ha. Kadar pati ubikayu stek sambung lebih rendah dibanding stek biasa masing-masing 20,8% dan 22,5%, sedangkan kadar air dan kadar HCN umbi stek sambung cenderung lebih tinggi dibanding stek biasa. Kadar bahan kering dan kadar gula total relatif sama antara ubikayu stek sambung dengan stek biasa
- ItemTeknologi untuk Meningkatkan Produktivitas dan Keuntungan Usahatani Ubikayu di Lahan Kering Ultisol(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2014-12-11) Budhi S. Radjit; Y. Widodo; N. Saleh; N. PrasetiaswatiSebagai sumber karbohidrat, tanaman ubikayu banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan, pakan, maupun bahan baku industri pangan dan nonpangan. Kenaikan jumlah penduduk, berkembangnya industri peternakan dan industri berbahan baku ubikayu mendorong kebutuhan ubikayu meningkat tajam sementara peningkatan produksi selama 10 tahun terakhir hanya sekitar 3,6%/tahun. Untuk mengatasi kekurangan tersebut, peningkatan produksi melalui perluasan area tanam/panen dan peningkatan produktivitas mutlak diperlukan. Di Indonesia, tanaman ubikayu banyak diusahakan di lahan Ultisol yang tersebar di Kalimantan, Sumatera, Maluku dan Papua, Sulawesi, dan Jawa. Hasil penelitian komponen teknologi ubikayu 2005- 2011 di lahan Ultisol diidentifikasi paket teknologi yang telah divalidasi di lahan petani Natar Lampung Selatan, Sulusuban-Lampung Tengah, Kotabumi Lampung Utara, dan di Pekalongan Lampung Timur pada tahun 2009 sampai 2012. Varietas Litbang UK-2, Malang-6, Adira-4 dan Kaspro dilaporkan cukup adaptif di lahan Ultisol. Teknologi produksi yang teridentifikasi meliputi pengolahan tanah sempurna, jarak tanam 100 cm x 80 cm, pemupukan dengan 300 kg urea, 200 kg SP36, 200 kg KCl, 500 kg dolomit, 5 ton/ ha pupuk kandang, serta penyiangan dengan herbisida mampu memberikan hasil umbi hingga 60 t/ha, dan keuntungan hingga Rp 38.456.000/ha, dengan B/C ratio 1,33-3,17 dan dinilai layak untuk dikembangkan. Ditemukan bahwa pupuk kandang dan dolomit dapat diganti dengan menambah pupuk urea menjadi 500 kg/ha, namun pupuk kandang lebih unggul dari segi perawatan tanah. Pengembangan ubikayu perlu didukung oleh perbaikan sistem penyediaan bibit dan pengenalan varietas unggul baru, disertai promosi teknologi produksi ramah lingkungan. Bantuan kredit modal dari pemerintah atau kemitraan dengan swasta secara adil, disertai jaminan harga yang stabil dan layak, sangat diperlukan untuk pengembangan produksi ubikayu.