Browsing by Author "B. Nuryanto"
Now showing 1 - 2 of 2
Results Per Page
Sort Options
- ItemEpidemiologi, Patotipe, dan Strategi Pengendalian Penyakit Hawar Daun Bakteri pada Tanaman Padi(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2012-11-13) Sudir; B. Nuryanto; Triny S. KadirPenyakit hawar daun bakteri (HDB) merupakan salah satu penyakit penting tanaman padi di negaranegara penghasil padi, termasuk di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo). Patogen ini menginfeksi daun padi pada semua fase pertumbuhan tanaman, mulai dari pesemaian sampai menjelang panen. Gejala yang timbul pada tanaman fase vegetatif disebut kresek dan pada fase generatif disebut hawar. Apabila infeksi terjadi pada fase generatif mengakibatkan proses pengisian gabah menjadi kurang sempurna. Kehilangan hasil karena penyakit HDB bervariasi antara 15– 80%, bergantung pada stadia tanaman saat penyakit timbul. Perkembangan penyakit HDB dipengaruhi oleh lingkungan terutama kelembapan, suhu, cara budi daya, varietas, dan pemupukan nitrogen. Oleh karena itu, pengendalian yang dianjurkan adalah secara terpadu dengan berbagai cara yang dapat menekan perkembangan penyakit. Varietas tahan merupakan komponen utama dalam pengendalian penyakit HDB secara terpadu. Namun aplikasi teknologi ini terkendala oleh kemampuan patogen beradaptasi membentuk patotipe (strain) baru yang lebih virulen sehingga sifat ketahanan varietas mudah patah. Pengendalian penyakit HDB dengan penanaman varietas tahan harus disesuaikan dengan patotipe yang ada. Monitoring dan pemetaan komposisi dan penyebaran patotipe bakteri Xoo diperlukan sebagai dasar rekomendasi pengendalian penyakit HDB dengan varietas tahan sesuai dengan keberadaan patotipe di suatu tempat.
- ItemPenyakit Blas Pyricularia grisea pada Tanaman Padi dan Strategi Pengendaliannya(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2014-12-15) Sudir; A. Nasution; Santoso; B. NuryantoSalah satu masalah dalam peningkatan produksi padi adalah terjadinya serangan penyakit blas yang disebabkan oleh jamur Pyricularia grisea. Pada mulanya penyakit blas merupakan penyakit penting tanaman padi pada lahan kering, tetapi akhir-akhir ini penyakit blas banyak ditemukan pada padi sawah terutama di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh munculnya jamur Pyricularia grisea ras baru yang mampu beradaptasi dan berkembang pada ekologi padi sawah irigasi. Meningkatnya penggunaan pupuk N, serta penanaman varietas yang tidak memiliki ketahanan terhadap penyakit ini juga ikut berperan. Perkembangan penyakit blas dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya iklim makro dan mikro (musim, suhu dan kelembapan), cara budi daya, lokasi, waktu tanam, dan varietas padi. Penurunan hasil karena penyakit ini bervariasi dari ringan hingga 100% tergantung pada intensitas penyakit. Pengendalian penyakit blas yang dianjurkan adalah pengendalian secara terpadu yaitu dengan memadukan berbagai cara pengendalian yang dapat menekan perkembangan penyakit, diantaranya teknik budi daya, penanaman varietas tahan, dan penggunaan fungisida bila diperlukan. Penanaman varietas tahan merupakan komponen utama dan merupakan cara yang paling efektif, ekonomis, dan mudah dilakukan, namun dibatasi oleh waktu dan tempat, artinya tahan di satu waktu dan tempat, bisa rentan di waktu dan tempat lain. Hal ini disebabkan pathogen penyakit blast, memiliki keragaman genetik dan kemampuan beradaptasi yang tinggi sehingga dengan cepat mematahkan ketahanan varietas yang baru diperkenalkan. Oleh karena itu, penanaman varietas tahan harus didukung oleh komponen teknik pengendalian lain. Penanaman varietas tahan harus disesuaikan dengan keberadaan ras di suatu tempat, untuk itu monitoring keberadaan ras di suatu agroekositem sangat diperlukan.