Browsing by Author "Amali, Noor"
Now showing 1 - 6 of 6
Results Per Page
Sort Options
- ItemBudidaya dan pengolahan cabai merah(bptp kalsel, 2008-11) Amali, Noor; Susi, Lesmayati; bptp kalselUsaha hortikultura termasuk salah satunya tanaman cabai merah di Klaimantan Selatan, masih dalam skala kecil belum menerapkan pola tanam dan pola dporuksi secara optimal dan pada umunya belum menerapkan teknologi maju sehingga kualitas produknya belum memenuhi standar...
- ItemDeskripsi Varietas Unggul Padi(BPTP Kalimantan Selatan, 2007-12) Amali, Noor; Sumanto; Noor, Aidi; BPTP Kalimantan Selatan
- ItemDeskripsi Varietas Unggul Padi(BPTP Kalsel, 2007) Amali, Noor; Sumanto; Noor, Aidi; BPTP Kalsel
- ItemKeragaan Beberapa Varietas Unggul Padi Di Lahan Rawa Lebak Tengahan Kalimantan Selatan(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi), 2017) Pramudyani, Lelya; Amali, Noor; Rohaeni, Wage R; Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi)Masalah utama di dalam pengembangan lahan rawa lebak untuk produksi pangan adalah pengendalian air dan kesuburan tanahnya. Dari hasil-hasil penelitian terdahulu telah dilaporkan bahwa pemberian bahan ameliorant dan pupuk dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman pangan dan holtikultura. Bahan amelioran yang umum digunakan petani di lahan rawa adalah kapur, pupuk kandang, dan abu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dolomit dan arang sekam terhadap pertumbuhan beberapa varietas padi di lahan rawa lebak Kalimantan Selatan. Penelitian pada bulan Juni 2013 – Nopember 2013 di Desa Marampiau Hilir Kecamatan Candi Laras Selatan Kabupaten Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan dengan tipe lahan rawa lebak tengahan. Penelitian dirancang menggunakan Rancangan Petak Terbagi dengan ulangan sebanyak 3 kali. Total luas lahan yang digunakan adalah 1 ha. Varietas yang digunakan adalah Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 5 dan Margasari, masing-masing sebanyak 7 kg. Perlakuannya adalah pemberian dolomit sebanyak 2 ton/ha, dolomit 2 ton/ha + abu sekam 300 kg/ha. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah malai/tanaman, jumlah gabah/malai, persentase gabah hampa, dan produksi/ha. Hasil menunjukkan bahwa pemberian dolomit dengan abu sekam memberikan jumlah gabah isi dan produktivitas padi rawa lebih tinggi dari pada pemberian dolomit tanpa abu sekam. Tetapi tidak berpengaruh nyata pada tinggi tanaman, jumlah anakan produktif,panjang malai dan bobot seribu butir. Sedangkan varietas yang mempunyai jumlah gabah isi (165,76) dan produktivitas tertinggi (5,28 t/h) adalah Inpara 2.
- ItemKeragaan Beberapa Varietas Unggul Padi di Lahan Rawa Lebak Tengahan Kalimantan Selatan(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Pramudyani, Lelya; Amali, Noor; R Rohaeni. WageAbstrak Masalah utama di dalam pengembangan lahan rawa lebak untuk produksi pangan adalah pengendalian air dan kesuburan tanahnya. Dari hasil-hasil penelitian terdahulu telah dilaporkan bahwa pemberian bahan ameliorant dan pupuk dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman pangan dan holtikultura. Bahan ameliorant yang umum digunakan petani dilahan rawa Adalah kapur, pupuk kandang, dan abu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dolomit dan arang sekam terhadap pertumbuhan beberapa varietas padi di lahan rawa lebak Kalimantan Selatan. Penelitian pada bulan Juni 2013 – Nopember 2013 di Desa Marampiau Hilir Kecamatan Candi Laras Selatan Kabupaten Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan dengan tipe lahan rawa lebak tengahan. Penelitian dirancang menggunakan Rancangan Petak Terbagi dengan ulangan sebanyak 3 kali. Total luas lahan yang digunakan adalah 1 ha. Varietas yang digunakan Adalah Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 5 dan Margasari, masing-masing sebanyak 7 kg. Perlakuannya adalah pemberian dolomit sebanyak 2 ton/ha, dolomit 2 ton/ha + abu sekam 300 kg/ha. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah malai/tanaman, jumlah gabah/malai, persentase gabah hampa, dan produksi/ha Hasil menunjukkan bahwa pemberian dolomit dengan abu sekam memberikan jumlah gabah isi dan produktivitas padi rawa lebih tinggi dari pada pemberian dolomit tanpa abu sekam. Tetapi tidak berpengaruh nyata pada tinggi tanaman, jumlah anakan produktif,panjang malai dan bobot seribu butir. Sedangkan varietas yang mempunyai jumlah gabah isi (165,76) dan produktivitas tertinggi (5,28 t/h) adalah Inpara 2. Abstract The main problem in the development of swampy land for food production is the control of water and soil fertility. From the results of previous studies, it has been reported that ameliorant and fertilizer feeding can increase the growth and yield of food crops and horticulture. Ameliorant materials commonly used by farmers in swampy lands are lime, manure, and ash. The aims of this study is to determine the effect of dolomite and charcoal husk on the growth of several varieties of rice in the swampy land of South Kalimantan. Research conduct on June 2013 November 2013 in Marampiau Hilir Village, Candi Laras Utara Subdistrict, Tapin Regency of South Kalimantan Province, with type of swampy land is middle swampy. The study was designed using Split Plot Design with 3 replications. The total area used is 1 ha. The varieties used were Inpara 1, Inpara 2, Inpara 3, Inpara 5 and Margasari, each of 7 kg. The treatment is dolomite = 2 ton/ha, dolomite 2 ton / ha + ash husk 300 kg /ha. Parameters observed included plant height, number of panicles/plants, number of grains/panicles, percentage of empty grain, and production/ha. The results show that dolomite with ash husk gives higher grain content and productivity than dolomite without chaff ash. But no significant effect on plant height, number of productive tillers, long panicles and weights of a thousand grains. While the varieties that have the number of grain content (165.76) and the highest productivity (5.28 t /h) are Inpara 2.
- ItemOkulasi - Cangkok (Okucang) pada Tanaman Jeruk(BPTP Kalimantan Selatan, 2001) Amali, Noor; Fakhrina; Maskartinah; Husni, Nanang; Rina, Yanti; Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan SelatanLahan rawa pasang surut di Kalimantan Selatan merupakan salah satu tipe lahan yang mempunyai potensi dan prospek yang cukup baik untuk pengembangan tanaman hortikultura, khususnya jeruk. Penanaman tanaman jeruk di lahan pasang surut ini umumnya menggunakan bibit cangkokan, karena memang sesuai untuk lahan yang air tanahnya dangkal.. Tetapi bibit cangkokan sulit untuk memenuhi permintaan bibit dalam jumlah besar dan boros dalam penggunaan materi perbanyakan. Teknologi Okucang (singkatan dari Okulasi - Cangkok) sesuai dengan namanya, bibit ini merupakan hasil pengcangkokan dan okulasi yang cocok dikembangkan di lahan pasang surut, karena perakarannya sama dengan bibit cangkokan.