Serealia

Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 122
  • Item
    Mesin Pemipil Jagung Tipe MP-210
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Sugeng Rakhmadiono
    Pemipilan jagung dengan cara tradisional tidak efisien karena membutuhkan waktu dan tenaga yang banyak. Penggunaan mesin pemipil dapat mempercepat proses pemipilan. Pemipil jagung MP- 210 rancangan Universitas Brawijaya Malang memiliki beberapa kelebihan. Selain berkapasitas cukup tinggi (115-235 kg/jam), mesin pemipil MP-210 cukup sederhana sehingga dapat dikembangkan di tingkat petani. Dibandingkan dengan cara konvensional, biaya pemipilan de3ngan menggunakan MP-210 sekitar 30-50% lebih rendah.
  • Item
    Ramapil: Mesin Pemipil Jagung untuk Pedesaan
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) I.K. Tastra
    Salah satu kendala dalam pengembangan usahatani jagung adalah belum berkembangnya teknologi pemipilan. Kapasitas pemipilan jagung dengan cara tradisional sangat rendah sehingga memerlukan waktu yang relatif lama. Dalam kondisi ketersediaan tenaga yang terbatas atau mahalnya upah kerja, pemipilan jagung dengan cara tradisional tidak efisien. Balai Penelitian Tanaman Pangan Malang telah merakit mesin pemipil jagung RAMAPIL, yang dapat diproduksi oleh bengkel lokal di pedesaan. Makalah ini membahas kelayakan operasionalisasi RAMAPIL (diproduksi oleh bengkel lokal di Malang Selatan dan Maumere pada tahun 1992) di tingkat kelompok tani. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pada kadar air biji jagung 12-14%, rata-rata kapasitas kerja RAMAPIL mencapai 164,5 kg jagung pipilan/jam, kerusakan biji 1,1%, dan efisiensi pemipilan mencapai 97,8%. Pada tingkat ongkos pemipilan Rp5,00/kg jagung, jam kerja efektif 600 jam/tahun, upah seorang operator Rp3.500/hari, dan harga RAMAPIL Rp250.000/unit, maka keuntungan yang diperoleh dari pemanfaatan RAMAPIL adalah sebesar Rp164.000, nisbah antara keuntungan dengan biaya = 1,12, tingkat pengembalian modal 43,98%, biaya pokok mesin Rp3,7/kg, titik impas operasionalisasi 36,9 t jagung pipilan/tahun, dan waktu pengembalian modal 1,9 tahun. Berdasarkan hasil analisis ini disimpulkan bahwa RAMAPIL produksi bengkel lokal tersebut layak dikembangkan di pedesaan.
  • Item
    Teknologi Pengolahan Jagung untuk Menunjang Agroindustri di Pedesaan.
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) S. Joni Munarso; Rob. Mudjisihono
    Dalam keadaan swasembada beras, jagung lebih banyak digunakan sebagai pakan dan bahan baku industri. Upaya untuk mendapatkan nilai tambah komoditas ini melalui pengolahan hasil belum banyak dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung jagung yang bermutu baik dapat dihasilkan melalui perendaman biji jagung dalam larutan kapur 5% selama 36 jam atau dalam larutan NaOH 1% selama 8 jam sebelum penepungan. Tepung jagung yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan substitusi terigu dalam pembuatan cake. Proporsi tepung jagung yang disubstitusikan dapat mencapai 30%. Selain untuk cake, dewasa ini tersedia pula teknologi sederhana pembuatan corn flake dan tortilla dengan bahan baku jagung.
  • Item
    Pengendalian Hama Palawija Secara Biologis
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Supriyatin
    Penelitian pengendalian hama tanaman jagung, kedelai, dan kacang hijau secara biologis telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Mojosari dan Muneng pada MK 1989 dan MН 1991/92. Tiga formulasi insektisida biologis dengan bahan aktif Bacillus thuringiensis (Thuricide, Bactospen, dan Dipel) diuji keampuhannya terhadap hama kedelai dan kacang hijau. Sebagai pembanding adalah insektisida monokrotofos dan metomil. Tiga strain NPV (Nuclear polyhedrosis virus) hasil isolasi dari Helicoverpa armigera (HaNPV), yaitu HaNPV-As, HaNPV-Tub, dan HaNPV-Asb, diuji pula keampuhannya terhadap hama peng- gerek tongkol jagung (Helicoverpa armigera) dengan insektisida Dipel dan metomil sebagai pembanding. Hasil penelitian menunjukkan bahwa insektisida biologis dengan bahan aktif B. thuringiensis dapat digunakan untuk mengendalikan hama penggulung daun (Lamprosema indicata) dan penggerek polong (Etiella spp.) pada kedelai, penggerek polong (Maruca testulalis) pada kacang hijau, dan penggerek tongkol pada jagung. Nuclear polyhedrosis virus (HaNPV) dapat mengendalikan hama penggerek tongkol jagung. Strain HaNPV yang paling baik dalam penelitian adalah yang berasal dari Amerika Serikat (HaNPV-As), sementara strain lokal dari Tuban (HaNPV-Tub) juga efektif mengendalikan penggerek tongkol jagung.
  • Item
    Perkembangan dan Pengendalian Hama Wereng Jagung di Sumatra Barat
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1996) Ishak Manti; Asmaniar
    Wereng jagung (Stenocranus bakeri Muir) yang dapat menyebabkan kehilangan hasil sekitar 30%, termasuk hama utama jagung di Kabupaten lima puluh Kota dan Kodya Payakumbuh, Sumatra Barat. Hama ini biasanya meletakkan telurnya di jaringan pelepah daun. Lubang bekas peletakan telur ditutup dengan zat perekat berwarna putih. Stadium nimfa terdiri dari lima instar. Umur serangga betina berkisar antara 5-21 hari dan jantan 4-25 hari. Seekor betina mampu menghasilkan telur ± 200 butir, tetapi hanya 7% yang татри тenjadi dewasa. Padi gogo dan rumput Echinocloa colona bukan merupakan inang alternatif. Hama yang populasi tertingginya dijumpai pada musim hujan ini sudah menyebar ke Kabupaten Tanahdatar dan Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Musuh alami yang dijumpai di lapang adalah predator (laba-laba dan kumbang Coccinella sp., parasitoid telur, dan jamur patogen Metarhizium sp. Varietas Harapan dan Kalingga cukup toleran terhadap wereng jagung. Pengendaliannya dianjurkan secara terpadu yang mencakup tanam serentak (penanaman sebaiknya akhir musim hujan) dan pergiliran tanaman. Insektisida Curater 3G, takaran 20 kg/ha, cukup efektif mengendalikan hama wereng jagung.