Pakan

Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 95
  • Item
    Pemanfatan Kunyit dan Temulawak sebagai Imbuhan Pakan untuk Ayam Broiler
    (Balai Penelitian Ternak, 2009) Arnold P. Sinurat; T. Purwadaria; I.A.K. Bintang; P.P. Ketaren; N. Bermawie; M. Raharjo; M. Rizal
    Salah satu aspek yang sudah mulai diteliti untuk menggantikan antibiotika sebagai imbuhan pakan adalah bioaktif tanaman. Kunyit dan temulawak, merupakan tanaman yang banyak digunakan dalam kehidupan manusia dan diketahui mempunyai zat berkhasiat yang juga dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan kapang. Oleh karena itu, dilakukan penelitian terhadap kemungkinan penggunaan kunyit dan temulawak sebagai imbuhan pakan pengganti antibiotika dalam ransum unggas. Tepung kunyit dan temulawak dianalisis kadar zat aktifnya sebelum digunakan, kemudian dicampurkan kedalam ransum standard yang disusun untuk ayam broiler dengan berbagai dosis. Dosis yang dicobakan didasarkan pada kandungan zat aktif yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri dan fungi, yaitu temulawak dan kunyit masing-masing dengan dosis rendah, sedang dan tinggi, serta kombinasi kunyit dosis rendah + temulawak dosis tinggi dan kunyit dosis sedang dan temulawak dosis sedang. Ransum kontrol tanpa imbuhan dan yang ditambahkan antibiotika juga dibuat sebagai pembanding. Ransum diberikan pada ayam broiler umur 1 hingga 35 hari, dengan tiap perlakuan terdiri dari 6 ulangan dan tiap ulangan terdiri dari 15 ekor. Hasil menunjukkan bahwa pemberian imbuhan pakan berupa antibiotik, tepung kunyit, tepung temulawak maupun campuran kunyit dan temulawak tidak nyata (P>0,05) menyebabkan perubahan terhadap pertumbuhan, efisiensi pengunaan pakan, mortalitas, daya cerna zat gizi pakan dan persentase karkas ayam broiler.
  • Item
    Performans Ayam yang Diberi Bungkil Biji Jarak Pagar (Jatropha curcas) Hasil Olahan Secara Fisik dan Kimiawi
    (Balai Penelitian Ternak, 2009) Tiurma Pasaribu; E. Wina; B. Tangendjaja; S. Iskandar
    Bungkil biji jarak yang merupakan limbah biofuel mempunyai kandungan proteinnya tinggi. Pemanfaatannya sebagai bahan baku pakan dibatasi adanya kandungan senyawa antinutrisi dan racun. Penelitian telah dilakukan di Balitnak, Ciawi-Bogor untuk mengetahui efek bungkil biji jarak terhadap performans ayam broiler. Bungkil biji jarak diberi perlakuan secara fisik dan kimiawi maupun gabungannya untuk mengurangi kandungan senyawa anti nutrisi dan toksin. Kemudian, pemberian bungkil biji jarak (BBJ) tersebut sebanyak 4% di dalam campuran pakan dievaluasi terhadap performans ayam. Penelitian dibuat dalam Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan pakan yaitu: 1) Kontrol (pakan tanpa BBJ), 2) pakan yang mengandung BBJ tanpa perlakuan (OO), 3) pakan yang mengandung BBJ dengan perlakuan fisik (OTO), 4) pakan yang mengandung BBJ dengan perlakuan kimiawi (EHM), dan 5) pakan yang mengandung BBJ dengan perlakuan gabungan kimiawi-fisik (EHMO). Setiap perlakuan terdiri dari 7 ulangan, masing-masing 5 ekor ayam untuk tiap ulangan. Ransum diberikan pada ayam umur 7 hari selama 14 hari. Parameter yang diamati adalah konsumsi ransum, pertambahan bobot hidup, nilai konversi ransum dan mortalitas. Hasil menunjukkan bahwa bungkil biji jarak pagar tanpa perlakuan (OO) mengakibatkan pertumbuhan yang terhambat, konsumsi pakan terendah dan kematian. Performans ayam broiler yang mengkonsumsi pakan EHMO lebih baik dari perlakuan fisik (OTO) atau kimia (EHM) (751,1; 731,2; 498,8 g untuk bobot hidup dari masing-masing perlakuan EHMO, EHM, OTO tetapi masih dibawah kontrol 856,3 g (kontrol/tanpa BBJ). Rasio konversi pakan dari perlakuan EHM dan EHMO tidak berbeda nyata dengan kontrol (1,868, 1, 813 vs 1,707) tetapi nyata lebih rendah dari perlakuan OO (2,532) dan OTO (2,249). Mortalitas ayam menjadi 0 pada perlakuan EHMO dibanding dengan perlakuan OO yang mencapai 34,29%. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa teknologi pengolahan secara fisik-kimiawi (EHMO) pada bungkil biji jarak merupakan perlakuan yang terbaik dibandingkan dengan perlakuan lain terhadap performans dan tidak menyebabkan kematian ayam.
  • Item
    Karakteristik Morfologi Tanaman Pakan Indigofera zollingeriana pada Berbagai Taraf Stres Kekeringan dan Interval Pemangkasan
    (Balai Penelitian Ternak, 2012) Iwan Herdiawan; L. Abdullah; D. Sopandie; P.D.M.H.Karti; N. Hidayati
    Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh stres kekeringan dan interval pemangkasan terhadap karakteristik morfologi tajuk dan akar tanaman Indigofera zollingeriana. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 3 x 3, terdiri atas 2 faktor dengan 4 ulangan. Faktor pertama adalah 3 taraf stres kekeringan yaitu 100% kapasitas lapang (KL), 50% KL, dan 25% KL. Faktor kedua 3 taraf interval pemangkasan yaitu interval pemangkasan 60, 90, dan 120 hari. Peubah yang diamati adalah berat kering tajuk dan akar, nisbah akar/tajuk, dan panjang akar. Data dianalisis dengan ANOVA dan perbedaan antar perlakuan di uji dengan LSD. Hasil penelitian menunjukkan, terdapat interaksi (P < 0,05) antara stres kekeringan dan interval pemangkasan terhadap berat kering tajuk, namun terhadap berat kering akar, nisbah akar/tajuk, dan panjang akar tidak. Stres kekeringan berpengaruh nyata (P < 0,05) terhadap penurunan berat kering tajuk, dan akar, akan tetapi nisbah akar/tajuk, dan panjang akar mengalami peningkatan. Interval pemangkasan berpengaruh nyata terhadap berat kering tajuk, akan tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap berat kering akar, nisbah akar/tajuk, dan panjang akar.
  • Item
    Produktivitas Tanaman Pakan Indigofera sp. pada Tingkat Cekaman Kekeringan dan Interval Pemangkasan Berbeda
    (Balai Penelitian Ternak, 2012) Iwan Herdiawan; E. Sutedi
    Penelitian bertujuan untuk mengetahui sejauh mana interaksi antara cekaman kekeringan dan interval pemangkasan terhadap produktivitas tanaman pakan Indigofera sp. Rancangan penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 3 x 2, faktor pertama adalah tanpa cekaman (100% KL), cekaman sedang (50% KL), dan cekaman berat (25% KL), dan faktor kedua adalah interval pemangkasan 60 hari dan 90 hari, masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Peubah yang diamati adalah produksi biomasa, dan nisbah daun dengan ranting. Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi yang nyata (P < 0,05) antara cekaman kekeringan dan interval pemangkasan terhadap produktivitas tanaman pakan Indigofera sp. Produksi biomasa Indigofera sp. tertinggi (424,47 g/pot), dicapai pada kombinasi perlakuan tanpa cekaman kekeringan 100% KL dan interval pemangkasan 90 hari, sedangkan terendah (184,55 g/pot) dicapai pada kombiasi perlakuan cekaman kekeringan berat 25% KL dan interval pemangkasan 60 hari. Nisbah daun dan ranting tertinggi (1,47) dicapai pada kombinasi perlakuan cekaman kekeringan berat 25% KL dan interval pemangkasan 60 hari dan terendah (1,05) dicapai pada kombinasi perlakuan tanpa cekaman 100% KL dan interval pemangkasan 90 hari. Pemangkasan dengan interval 90 hari menghasilkan produksi biomasa lebih tinggi dibandingkan dengan interval pemangkasan 60 hari.
  • Item
    Pengaruh Berbagai Pengolahan terhadap Nilai Nutrisi Tongkol Jagung: Komposisi Kimia dan Kecernaan In Vitro
    (Balai Penelitian Ternak, 2012) Dwi Yulistiani; W. Puastuti; E. Wina; Supriati
    Tidak tersedianya pakan berkualitas secara berkelanjutan merupakan salah satu penyebab rendahnya produktivitas ternak ruminansia di Indonesia. Tongkol jagung merupakan produk samping pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan alternatif yang dapat tersedia sepanjang tahun. Nilai nutrisinya masih rendah, dan oleh karena itu perlu diupayakan pengolahan yang dapat meningkatkan nilai nutrisinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan teknologi yang dapat meningkatkan nilai nutrisi tongkol jagung. Penelitian dilakukan pada skala laboratorium. Tongkol jagung utuh digiling untuk mendapat ukuran sebesar biji jagung, kemudian diberi perlakuan: (1) urea 3%; (2) difermentasi dengan menggunakan kapang Trichoderma viridae; (3) Perlakuan 2 ditambah dengan urea 0,5%; (4) difermentasi dengan menggunakan kapang Aspergilus niger; (5) perlakuan 4 ditambah dengan urea 0,5%, (6) tongkol jagung disilase. Semua contoh tongkol jagung yang telah diolah dikeringkan dalam oven untuk kemudian digiling dan dianalisa komposisi kimianya dan diuji kecernaannya secara in vitro. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap dan data yang diperoleh dianalisa dengan menggunakan program SAS v6.1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tongkol jagung mempunyai kualitas rendah dengan kandungan protein 2,9% dan kecernaan in vitro 42,5%. Pengolahan tongkol jagung dapat meningkatkan kandungan protein. Peningkatan kandungan protein tertinggi pada perlakuan urea 3% dan fermentasi menggunakan A. niger yang disuplementasi urea 0,5% (masing-masing secara berurutan adalah 210 dan 172%). Peningkatan kecernaan in vitro bahan kering dan bahan organik secara nyata hanya terjadi pada pengolahan menggunakan perlakuan urea dimana terjadi peningkatan kecernaan sebesar 43%, sedangkan pengolahan dengan fermentasi menggunakan kapang A. niger baik dengan disuplementasi atau tanpa suplementasi meningkatkan kecernaan serat deterjen netral. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengolahan dengan urea 3% atau fermentasi dengan A. Niger nilai nutrisi tongkol jagung dapat ditingkatkan.