Pakan

Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 125
  • Item
    Onggok Terfermentasi Sebagai Bahan Baku Pakan Ayam Kampung Petelur
    (Balai Penelitian Ternak, 2006) Supriyati; D. Zainuddin; I P. Kompiang; P. Soekamto
    Dalam rangka meningkatkan ketersediaan bahan pakan ternak yang berkualitas, serta mendukung peningkatan produksi peternakan untuk memenuhi kebutuhan akan protein khewani, serta meningkatkan ketahanan pangan nasional dengan meningkatnya populasi dan nutrisi yang lebih baik, suatu upaya dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas hasil ikutan agro-industri seperti onggok. Teknologi peningkatan mutu limbah ubikayu melalui fermentasi secara substrat padat menggunakan Aspergillus niger sebagai inokulum dan urea/ZA sebagai sumber nitrogen anorganik, yang telah dikembangkan di laboratorium Balitnak selanjutnya diterapkan di peternak, bekerjasama dengan Kelompok Peternak Unggas Padamukti, Malangbong. Hasil aplikasi ternyata teknik peningkatan mutu bahan baku onggok dengan mudah dapat diadopsi dan diaplikasikan ke peternak. Setelah fermentasi kadar protein onggok meningkat dari sekitar 1,85 menjadi sekitar 15%. Produk yang dihasilkan diujicobakan pada ayam kampung petelur. Hasil ujicoba pada ayam kampung petelur menunjukkan bahwa onggok terfermentasi pada ransum ayam petelur meningkatkan produksi telur sebesar 32,20 dan 26,06% masing-masing untuk ayam yang dipelihara secara individu dan kelompok. Bobot telur meningkat dari 39,6 menjadi 42,8 g (7,95%).
  • Item
    Inovasi Teknologi Pakan Menuju Kemandirian Usaha Ternak Unggas
    (Balai Penelitian Ternak, 2006) Budi Tangendjaja
    Produksi unggas Indonesia telah dapat memenuhi kebutuhan daging ayam dan telur dan produk ini dihasilkan terutama dari ayam ras modern dibandingkan dengan ayam lokal. Biaya pakan unggas bisa mencapai 70% dari biaya produksi. Ransum unggas disusun dari bahan baku lokal dan impor dengan menggunakan teknik formulasi pakan dengan biaya terendah untuk memenuhi kebutuhan gizi unggas. Bahan baku dikelompokkan kedalam sumber energi, protein, hasil samping industri pertanian, mineral dan suplemen gizi; seringkali imbuhan pakan yang terdiri dari antibiotika, enzim, bahan pengawet dan lain-lain ditambahkan untuk meningkatkan penampilan produksi. Pada tahun 2005, produksi industri pakan di Indonesia hampir mencapai 7 juta ton, yang terdiri dari 85% pakan unggas sedangkan sisanya untuk pakan ikan, babi dan ternak lainya. Ransum unggas umumnya menggunakan jagung dan bungkil kedelai sebagai bahan utama dan masing-masing bisa mencapai 55 dan 23% dari total ransum unggas. Kebutuhan bahan baku bisa dihitung dari produksi pakan yang akan dicapai seiring dengan meningkatnya pendapatan masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan bahan pakan, tahun ini diperkirakan Indonesia akan mengimpor jagung >800.000 ton jagung dari Argentina, US dan China, serta >1.5 juta ton sumber protein, karena ketidak cukupan produksi dalam negeri. Permasalahan dalam produksi pakan adalah suplai bahan baku, fluktuasi kualitas, harga dan keterbatasan informasi. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menggali bahan baku inkonvensional sumber protein seperti kacang-kacangan, biji-bijian, protein daun, limbah hewan dan sebagainya, tetapi terbatas dalam ketersediaannya. Penelitian untuk meningkatkan protein dari sumber karbohidrat dan juga hasil samping pertanian tidak layak untuk dikembangkan dalam industri pakan. Dimasa mendatang inovasi teknologi sebaiknya dikembangkan untuk menjawab permasalahan yang ada di industri pakan termasuk meningkatkan efisiensi, mengendalikan kualitas, pengolahan pakan dan mengembangkan imbuhan pakan. Skenario apa yang akan terjadi dengan industri unggas pada tahun 2020 dikemukakan dalam makalah ini.
  • Item
    Peningkatan Produktivitas Hijauan Dengan Pupuk Organik
    (BPTP Jatim, 2002) EFFENDI, A.R.; Didik E.W; Uum Umiyasih
  • Item
    Pengkajian Model Pengembangan Hijauan Pakan Dengan Pendekatan Wilayah Kawasan
    (BPTP Jatim, 2002) AINUR, Aryogi; Uum Umiyahsih