Pembibitan dan Produksi

Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 211
  • Item
    Potensi Kotoran Kelinci Sebagai Pupuk Organik Dan Pemanfaatannya Pada Tanaman Pakan Dan Sayuran
    (Balai Penelitian Ternak, 2005) Sajimin; Yono C. Rahardjo; Nurhayati D. Purwantari
    Pupuk organik yang umum digunakan untuk tanaman adalah dari kotoran sapi, domba dan ayam, tapi ketersediaannya semakin sulit diperoleh. Pemanfaatan kotoran kelinci salah satu alternatif untuk pemenuhan pupuk organik untuk daerah sentra produksi sayuran. Ternak kelinci telah tersebar diberbagai wilayah terutama daerah dataran tinggi atau sentra produksi sayuran namun pemanfaatannya belum optimal. Pupuk kelinci yang memiliki kandungan bahan organik C/N : (10–12%), P (2,20–2,76%), K (1,86%), Ca (2,08%), dan pH 6,47–7,52, kandungan tersebut telah memenuhi standar kompos untuk tanaman sayuran dan tanaman pakan. Hasil pemanfaatan pada tanaman kentang dan kubis rata-rata meningkatkan produksi sebesar 23,5% dibanding pupuk domba, namun masih lebih rendah dengan perlakuan petani yang menggunakan pupuk kimia dan pupuk ayam sebesar 39,7%. Pada tanaman pakan jenis rumput Panicum maximum cv Riversdale dan Stylosanthes hamata penggunaan kotoran kelinci setelah pemotongan ke III hingga ke V dicapai produksi stabil dan optimal. Untuk menjaga produksi tetap optimal setiap 4 kali panen (interval panen 6 minggu) perlu dilakukan pemberian pupuk kelinci. Tulisan ini menguraikan peluang dan potensi kotoran kelinci untuk produksi tanaman.
  • Item
    Pemanfaatan Dan Analisis Ekonomi Usaha Ternak Kelinci Di Pedesaan
    (Balai Penelitian Ternak, 2005) Broto Wibowo; Sumanto; E. Juarini
    Pengembangan ternak kelinci sudah dimulai sejak tahun 80an dan mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan masyarakat maupun pejabat pemerintah dalam mengatasi pemenuhan gizi. Namun saat ini jumlah populasinya tampak kurang berkembang dan belum merata, hanya jumlahnya terbatas pada wilayah sentra pariwisata. Kendala utama dalam pengembangannya adalah masih adanya pengaruh psychologis antara manusia dengan ternak kelinci dalam hal memotong dan sekaligus untuk dimakan. Kendala lainnya adalah angka kematian yang cukup tinggi dan masih perlu adanya sosialisasi mengkonsumsi daging dan penyediaan produk daging olahan yang menarik konsumen. Disisi lain ternak kelinci bersifat prolifik dan jarak beranak yang pendek sehingga mampu menghasilkan jumlah anak yang cukup tinggi pada satuan waktu yang singkat (per tahun) sehingga dikenal sebagai penyedia daging yang handal. Manfaat lainnya adalah sebagai penghasil kulit bulu, kotoran (feces) dan sebagai ternak kesayangan. Semua manfaat tersebut dapat menjadi tambahan pendapatan peternak. Usaha peternakan kelinci selain sebagai pemenuhan gizi (subsisten) perlu adanya dukungan untuk mengarah pada usaha komersil-berorientasi pasar. Telah dicoba dilakukan analisis terhadap usaha kelinci intensif yang berskala 20 ekor induk dan 5 ekor pejantan sebagai usaha penghasil daging dan kulit bulu selama satu tahun. Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa keuntungan pada skala usaha tersebut adalah sebesar Rp 9.206.200/tahun atau Rp 767.183/bulan (dalam perhitungan ini dilakukan penilaian terhadap sisa kelinci yang belum berumur potong, karena dalam kas opnam masih tersisa sejumlah ternak muda).
  • Item
    Teknologi Tepat Guna Ayam Buras
    (Balai Penelitian Ternak, 1991) Sofjan Iskandar; Elizabeth Juarini; Desmayati Zainuddin; Heti Resnawati; Broto Wibowo; Sumanto
    Dalam rangka meningkatkan gizi dan pendapatan masyarakat, maka salah satu usaha Pemerintah di bidang petemakan adalah melaksanakan program Intensifikasi Ayam Buras. Program ini perlu didulaing oleh berbagai usaha dengan memperbaiki sistem pemeliharaannya serta inening.katkan keterampilan dan pengetahuan petani-temak. Usaha penyusunan "Teknologi Tepat Guna Ayam Buras" dapat dipakai sebagai suniber informasi mengenai cara betemak ayam buras. Buku ini disusun berdasarkan hasil-hasil penelitian di laboratorium dan bekerja sama dengan petani-temak di pedesaan. Mudah-mudahan buku ini dapat memberikan sumbangan yang bermanfaat dan mendorong minat petani-temak serta masyarakat dalam niengeinbangkan usaha betemak ayam buras.
  • Item
    Sistem Pembibitan Itik Mojosari Alabio Di Kabupaten Blitar: Sistem Pembibitan Masa Depan
    (Balai Penelitian Ternak, 2006) Broto Wibowo; E. Juarini; M. Purba
    Suatu usaha peternakan itik akan memperoleh hasil dan optimal dengan mempertimbangkan sumberdaya bibit, lingkungan, aspek manajemen. Rendahnya produksi telur di tingkat petani disebabkan salah satunya oleh penggunaan bibit dengan kualitas yang belum terkontrol. Beberapa tahun terakhir, telah dirintis suatu model kerjasama antara Balai Penelitian Ternak dengan UD Majujaya di Blitar untuk menangkarkan bibit itik hasil seleksi (Mojosari dan Alabio) sebagai tetua yang akan disilangkan sehingga menghasilkan itik MA sebagai itik niaga. UD Majujaya yang berperan sebagai inti telah melakukan model kemitraan dengan masyarakat dengan pola inti-plasma, dengan peternak sebagai plasma. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penangkaran itik Mojosari dan Alabio dilakukan dengan pemeliharaan secara intensif. Pola pemeliharaan ini didukung antara lain: (1) pengembangan jumlah areal perkandangan dengan daya tampung mencapai 12.000 ekor yang terdiri dari 3 lokasi bangunan kandang, (2) penyediaan sarana pakan yang memadai dan (3) pembangunan penetasan telur oleh inti, sebanyak 90 buah mesin tetas dengan kapasitas tampung 27.000 butir telur setiap bulan. Ternak itik hasil penetasan (itik MA) sebagai itik niaga penghasil telur dikembangkan oleh peternak dan sebagian dipelihara langsung oleh inti dengan maksud sebagai kontrol terhadap pengembangan itik MA ditengah-tengah masyarakat. Proporsi populasi itik MA dari itik lokal (Mojosari) dalam suatu kepemilikan cenderung semakin meningkat, bahkan sejumlah peternak termasuk inti telah memelihara seluruhnya itik MA. Hal ini menunjukkan bahwa itik MA betul-betul diperlukan ditengah-tengah usaha peternakan itik penghasil telur secara intensif dan komersial di Blitar.
  • Item
    Peluang Budidaya Ayam Buras Di Pedesaan Sebagai Penyangga Industri Boga
    (Balai Penelitian Ternak, 2006) Sri Nastiti Jarmani
    Ayam buras atau lebih dikenal masyarakat dengan sebutan ayam kampung, memiliki rasa yang khas terutama dalam masakan citarasa asli Indonesia. Hal ini dimungkinkan oleh cara budidaya ekstensif, diumbar, sehingga kandungan lemaknya lebih rendah dan perototan lebih liat dibandingkan dengan ayam ras. Namun, dengan budidaya ekstensif produktivitasnya rendah sehingga dikhawatirkan tidak mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat yang semakin meningkat, yang terbukti dengan berkembangnya usaha rumah makan dengan menu utama ayam buras. Harga yang lebih tinggi dari harga ayam ras, merupakan peluang usaha bagi masyarakat terutama di pedesaan. Program Pemberdayaan dan Pengembangan Masyarakat Pedesaan (rural development programe) melalui inovasi teknologi budidaya ayam buras secara intensif berwawasan lingkungan, perlu dipertimbangkan sebagai sarana pendidikan kepada masyarakat untuk lebih produktif dan memacu kreatifitasnya dalam peningkatan pendapatan melalui penyediaan bakalan industri boga rumah makan ayam buras dengan harapan ayam buras dapat menjadi primadona boga di negeri sendiri.