Pembibitan dan Produksi

Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 205
  • Item
    SAPI POGASI AGRINAK
    (Loka Perakitan dan Pengujian Ruminansia Besar, 2026-04-13) DEWI SEPMAWATI
    Sapi Pogasi Agrinak adalah galur sapi lokal unggul hasil seleksi dari rumpun Sapi Peranakan Ongole (PO) yang diseleksi di Grati, Pasuruan. Singkatan POGASI adalah PO Grati Hasil Seleksi, dan Agrinak merujuk pada kegiatan seleksi yang dilakukan di Agrinak. Sapi ini dikembangkan untuk tumbuh optimal pada kondisi pakan yang minimal dan telah ditetapkan oleh Kementerian Pertanian melalui Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 05/KPTS/PK.040/M/1/2020.
  • Item
    SAPI PESISIR
    (2026-04-10) DEWI SEPMAWATI
    Sapi pesisir merupakan salah satu rumpun sapi lokal Indonesia yang telah ditetapkan Menteri melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian nomor 2908/Kpts/OT.140/6/2011 dengan sebaranasli geografis di Sumatera Barat
  • Item
    SAPI MADURA
    (Loka Perakitan dan Pengujian Ruminasia Besar, 2026-04-10) DEWI SEPMAWATI
    Sapi madura merupakan sapi lokal dari Pulau Madura yang ditetapkan oleh Kementan melalui surat keputusan Menteri Pertanian RI nomor 3735/Kpts/HK.040/11/2010 Mempunyai sebaran asli geografis di Pulau Madura dan sekitarnya
  • Item
    SAPI BRAHMAN
    (Loka Perakitan dan Pengujian Ruminasia Besar, 2026-04-10) DEWI SEPMAWATI
    Sapi Brahman Indonesia adalah sapi lokal Indonesia yang telah menyebar disebagian wilayah Indonesia dan merupakan kekayaan sumberdaya genetik ternak lokal Indonesia
  • Item
    Pemanfaatan Dan Analisis Ekonomi Usaha Ternak Kelinci Di Pedesaan
    (Balai Penelitian Ternak, 2005) Broto Wibowo; Sumanto; E. Juarini
    Pengembangan ternak kelinci sudah dimulai sejak tahun 80an dan mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan masyarakat maupun pejabat pemerintah dalam mengatasi pemenuhan gizi. Namun saat ini jumlah populasinya tampak kurang berkembang dan belum merata, hanya jumlahnya terbatas pada wilayah sentra pariwisata. Kendala utama dalam pengembangannya adalah masih adanya pengaruh psychologis antara manusia dengan ternak kelinci dalam hal memotong dan sekaligus untuk dimakan. Kendala lainnya adalah angka kematian yang cukup tinggi dan masih perlu adanya sosialisasi mengkonsumsi daging dan penyediaan produk daging olahan yang menarik konsumen. Disisi lain ternak kelinci bersifat prolifik dan jarak beranak yang pendek sehingga mampu menghasilkan jumlah anak yang cukup tinggi pada satuan waktu yang singkat (per tahun) sehingga dikenal sebagai penyedia daging yang handal. Manfaat lainnya adalah sebagai penghasil kulit bulu, kotoran (feces) dan sebagai ternak kesayangan. Semua manfaat tersebut dapat menjadi tambahan pendapatan peternak. Usaha peternakan kelinci selain sebagai pemenuhan gizi (subsisten) perlu adanya dukungan untuk mengarah pada usaha komersil-berorientasi pasar. Telah dicoba dilakukan analisis terhadap usaha kelinci intensif yang berskala 20 ekor induk dan 5 ekor pejantan sebagai usaha penghasil daging dan kulit bulu selama satu tahun. Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa keuntungan pada skala usaha tersebut adalah sebesar Rp 9.206.200/tahun atau Rp 767.183/bulan (dalam perhitungan ini dilakukan penilaian terhadap sisa kelinci yang belum berumur potong, karena dalam kas opnam masih tersisa sejumlah ternak muda).