Pembibitan dan Produksi

Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 201
  • Item
    Pemanfaatan Dan Analisis Ekonomi Usaha Ternak Kelinci Di Pedesaan
    (Balai Penelitian Ternak, 2005) Broto Wibowo; Sumanto; E. Juarini
    Pengembangan ternak kelinci sudah dimulai sejak tahun 80an dan mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan masyarakat maupun pejabat pemerintah dalam mengatasi pemenuhan gizi. Namun saat ini jumlah populasinya tampak kurang berkembang dan belum merata, hanya jumlahnya terbatas pada wilayah sentra pariwisata. Kendala utama dalam pengembangannya adalah masih adanya pengaruh psychologis antara manusia dengan ternak kelinci dalam hal memotong dan sekaligus untuk dimakan. Kendala lainnya adalah angka kematian yang cukup tinggi dan masih perlu adanya sosialisasi mengkonsumsi daging dan penyediaan produk daging olahan yang menarik konsumen. Disisi lain ternak kelinci bersifat prolifik dan jarak beranak yang pendek sehingga mampu menghasilkan jumlah anak yang cukup tinggi pada satuan waktu yang singkat (per tahun) sehingga dikenal sebagai penyedia daging yang handal. Manfaat lainnya adalah sebagai penghasil kulit bulu, kotoran (feces) dan sebagai ternak kesayangan. Semua manfaat tersebut dapat menjadi tambahan pendapatan peternak. Usaha peternakan kelinci selain sebagai pemenuhan gizi (subsisten) perlu adanya dukungan untuk mengarah pada usaha komersil-berorientasi pasar. Telah dicoba dilakukan analisis terhadap usaha kelinci intensif yang berskala 20 ekor induk dan 5 ekor pejantan sebagai usaha penghasil daging dan kulit bulu selama satu tahun. Hasil analisis ekonomi menunjukkan bahwa keuntungan pada skala usaha tersebut adalah sebesar Rp 9.206.200/tahun atau Rp 767.183/bulan (dalam perhitungan ini dilakukan penilaian terhadap sisa kelinci yang belum berumur potong, karena dalam kas opnam masih tersisa sejumlah ternak muda).
  • Item
    Ketersediaan Teknologi Dalam Menunjang Pengembangan Kelinci Di Indonesia
    (Balai Penelitian Ternak, 2005) E. Juarini; Sumanto; B.Wibowo
    Kelinci termasuk hewan prolifik karena mampu memproduksi anak dalam jumlah tinggi dalam waktu relatif singkat dalam setahun bisa melahirkan 8 sampai 10 kali dengan jumlah cukup banyak perkelahiran (6 sampai 8 per litter). Idealnya seekor induk mampu menghasilkan 80 kg. daging pertahun. Pengembangan kelinci sudah dimulai sejak tahun 80an tetapi dinilai gagal karena masih sulitnya pemasaran produk kelinci, tingkat kematian yang tinggi (>40%) dan mahalnya harga pakan serta kurang diterimanya produk tersebut oleh masyarakat meskipun dagingnya menyerupai daging ayam. Untuk mendukung pengembangan kelinci dan mengatasi masalah pakan tersebut telah dilakukan banyak penelitian dengan menggunakan limbah pertanian. Penggunaan daun rami sampai 30% dan tepung rami 40% dalam ransum kelinci tidak berpengaruh negatif pada pertumbuhan kelinci; begitu pula penyertaan dalam ransum 40% ampas teh, 20% onggok fermentasi, 15% ampas tahu non fermentasi dan 20% ampas tahu fermentasi meningkatkan bobot badan lebih baik dibanding kontrol, namun pemberian 10% ampas bir dalam ransum menurunkan bobot badan kelinci, begitu pula penyertaan 10% onggok dalam ransum kelinci berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan. Dari aspek reproduksi pengaturan kawin paska partus menyimpulkan perkawinan 14 hari setelah beranak memberikan performan paling baik untuk kelinci. Sementara pengayaan manure dan urin kelinci dengan probiotik untuk pupuk tanaman menunjukkan superioritas manure kelinci dari pada domba.
  • Item
    Tatalaksana Perkembangbiakan Untuk Menunjang Agribisnis Ternak Kelinci
    (Balai Penelitian Ternak, 2005) Wayan Pasek; Dedi Muslih; Rossuartini; Bram Brahmantiyo
    Pengusahaan pertanian dan peternakan (agribisnis) yang berorientasi ekonomis menuntut efektivitas dan efisiensi usaha yang tinggi. Tatalaksana perkembangbiakan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap tingkat produktivitas ternak kelinci. Tatalaksana perkembangbiakan meliputi pemilihan bibit, pengaturan perkawinan, pemeriksaan kebuntingan, penanganan menjelang kelahiran, perawatan anak baru lahir, dan penyapihan. Bibit yang baik dan memenuhi syarat antara lain bibit berasal dari keturunan yang memiliki produktivitas tinggi, sehat, tidak cacat, tidak kerdil, memiliki sifat keindukan yang baik dan tidak kanibal. Saat yang tepat untuk mengawinkan ternak kelinci adalah pada umur 5-6 bulan. Cara mengawinkan ternak kelinci dilakukan dengan membawa betina ke kandang pejantan. Kelinci yang tidak mau kawin sendiri dapat dibantu dengan kawin sodor. Untuk melihat efektifitas hasil perkawinan dilakukan pemeriksaan kebuntingan 10-14 hari setelah induk dikawinkan. Kotak beranak disediakan pada hari ke 25-28 setelah perkawinan. Anak baru lahir dijaga dari segala gangguan, anak-anak kelinci yang mati lahir segera dipindahkan dari kotak beranak dan anak-anak yang dikhawatirkan akan mati atau ditinggal mati oleh induknya dapat dititipkan pada induk lain pada umur > 3 hari. Penyapihan dan sexing dilakukan pada saat anak berumur 4-5 minggu dengan bobot hidup 500-800 g. Melalui penerapan tatalaksana perkembangbiakan yang meliputi pemilihan bibit, pengaturan perkawinan, pemeriksaan kebuntingan, penanganan menjelang kelahiran, perawatan anak baru lahir, penyapihan secara tepat, produktivitas ternak kelinci dapat dioptimalkan guna menunjang agribisnis ternak kelinci yang menguntungkan.
  • Item
    Strategi Pemuliaan Sebagai Alternatif Peningkatan Produktivitas Kelinci Pedaging
    (Balai Penelitian Ternak, 2005) Tike Sartika
    Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia, kebutuhan protein hewani pun akan semakin meningkat pula. Oleh karena itu, diperlukan diversifikasi penyediaan sumber protein hewani selain dari ternak besar maupun unggas. Apalagi saat ini masyarakat panik dengan adanya wabah flu burung, sehingga mengurangi untuk mengkonsumsi daging unggas. Kelinci merupakan ternak alternatif yang mempunyai peluang sebagai penyedia sumber protein hewani yang sehat dan berkualitas tinggi. Namun demikian untuk meningkatkan penyediaan daging kelinci diperlukan perbaikan mutu genetiknya. Dalam makalah ini dikemukakan konsep untuk meningkatkan produktivitas kelinci khususnya kelinci pedaging, dengan melakukan kawin silang (Cross breeding) antara kelinci pejantan unggul yang mempunyai pertumbuhan cepat dan bobot potong yang tinggi dalam waktu relatif singkat sebagai terminal sire breed dengan induk-induk kelinci hasil crossbred (F1). Seleksi sederhana juga dilakukan terhadap masing-masing breed (Straight bred) pada kelinci lokal dan kelinci pedaging yang telah didatangkan di Indonesia seperti kelinci New Zealand White, Flemish Giant dan Californian yang akan disilangkan untuk menghasilkan calon induk (F1). Dari hasil silangan tersebut, induk kelinci crossbred F1 dikawinkan dengan pejantan unggul untuk menghasilkan kelinci potong F2 Hybrid umur 10 minggu yang siap dipasarkan
  • Item
    Pengembangan Pembibitan Kelinci Di Pedesaan Dalam Menunjang Potensi Dan Prospek Agribisnis Kelinci
    (Balai Penelitian Ternak, 2005) Bram Brahmantiyo; Y.C. Raharjo
    Kelinci yang berkembang di Indonesia merupakan hasil penyebarluasan program pemerintah tahun 1980-an yang bertujuan untuk mencukupi kebutuhan protein hewani. Kini, perkembangannya sangat beragam sesuai dengan tujuan produksinya, yaitu dikembangkan sebagai ternak laboratorium, ternak kesayangan, ternak penghasil kulit/fur dan ternak penghasil daging. Bangsa kelinci yang umum dipelihara adalah jenis New Zealand White, Rex, Angora, Lion, Flemish Giant, dan Deutch. Sebagian besar ternak kelinci dikenal sebagai penghasil daging. Daging kelinci banyak diperjualbelikan sebagai produk sate, gulai, nugget, sosis, dan abon. Ada pula yang mengusahakan ternak kelinci sebagai kelinci hias/kesayangan dengan produknya adalah anak-anak kelinci lepas sapih bahkan sebelum sapih. Produk daging dan anakan kelinci ini pemasarannya masih terbatas di daerah-daerah kunjungan wisata dengan volume yang berfluktuasi menurut hari-hari libur. Produk lain seperti kulit/fur masih terbatas pemanfaatannya, yaitu dibuat sebagai cenderamata seperti gantungan kunci, tas tangan wanita dan topi. Pembibitan merupakan tindakan yang belum menjadi perhatian utama pemeliharaan kelinci di pedesaan. Peternak melakukan seleksi hanya berdasarkan penampilan tanpa memperhatikan sistem perkawinan dalam kelompok ternaknya sehingga banyak ditemui kelinci dengan produktivitas yang rendah. Persilangan juga kerap dilakukan dikarenakan ketiadaan pejantan atau keinginan memperoleh karakter gabungan dari dua atau lebih bangsa kelinci yang dipelihara seorang peternak. Melalui makalah ini diharapkan dapat diperoleh penjelasan detail mengenai pembibitan sehingga pada suatu ketika akan terbentuk pembibitan terakreditasi yang menghasilkan bibit-bibit kelinci sesuai dengan tujuan pemeliharaannya, apakah sebagai penghasil daging, kulit/fur, hias atau kombinasinya.