Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 1785
  • Item
    Kisaran Inang Pseudomonas Solana Cearum Pada Beberapa Jenis Temu - Temuan
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1995-10) M. Hadad, E.A , Agus Nurwan , S. Danimihardja, dan S. Nurhayati
    Kisaran inang Pseudomonase solanacearum pada bebe- rapa jenis temu-temuan (Zingiberaceae) diteliti di rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor dari bulan Januari sampai Agustus 1991. Bibit beberapa jenis temu- temuan yang meliputi jahe, temu putih, temulawak, temu- mangga, temukunci, kencur, kunyit dan lempuyang ditanam dalam polybag yang berisi campuran tanah dan pupuk kandang steril (1:1). Biakan P. solanacearum (dalam Nutrient Agar) yang berumur satu hari dengan konsentrasi 10³ cfu/ml, disiramkan pada tanaman yang berumur satu bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan P. solanacearum untuk menyerang berbagai jenis tanaman berbeda-beda. Pada umur 124 hari setelah inokulasi, serangan bakteri tertinggi ter- dapat pada tanaman temukunci, temuputih dan temumangga (80-90%), sedang serangan terendah (0%) terdapat pada lempuyang. Pada kencur, jahe dan temulawak serangan bakteri masing-masing mencapai 36.67, 48.33 dan 53.33
  • Item
    Jumlah Pemberian air , Pengolahan Tanah dan Penggunaan Mulsa Pada Kapas di Lahan Sawah Sesudah Padi
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1995-10) Asmin, M. Zain Karo dan Muhammad Basir Nappu
    Penelitian dilakukan pada lahan sawah sesudah padi di Bontolangkasa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, dari bu- lan Mei sampai Oktober 1991, dengan tujuan untuk mengeta- hui pengaruh jumlah pemberian air, cara pengolahan tanah dan penggunaan mulsa terhadap pertumbuhan dan produksi kapas Percobaan dirancang secara strip-split plot dengan tiga ulang- an. Faktor-faktor yang diuji adalah jumlah pemberian air (300, 420 dan 540 ml/ha), cara pengolahan tanah (intensif, minimum dan tanpa pengolahan) serta penggunaan mulsa (dengan dan tanpa mulsa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian air serta interaksi dengan faktor-faktor lainnya tidak mempengaruhi pertumbuhan. Terhadap produksi kapas berbiji terdapat pengaruh interaksi antara pemberian air dan pemberian mulsa. Pemberian air sebanyak 300 mm/ha dengan pemberian mulsa menghasilkan kapas berbiji paling tinggi (1 678 kg/ha). Pengolahan tanah intensif dan minimum menghasilkan tanaman yang lebih tinggi dari pada tanpa pengolahan tanah. Namun terhadap produksi kapas berbiji, pengolahan minimum tidak berbeda hasilnya dengan tanpa pengolahan tanah, sama-sama lebih rendah dari produksi dengan pengolahan tanah intensif. Terdapat pengaruh interaksi antara pengolahan tanah dengan pemberian mulsa terhadap jumlah buah. Pada pengolahan tanah intensif, pemberian mulsa menghasilkan buah yang lebih banyak dari pada tanpa mulsa, sedang pada perlakuan tanpa pengolahan tanah, pemberian mulsa tidak berpengaruh terhadap jumlah buah. Secara tunggal, pemberian mulsa hanya berpengaruh terhadap tinggi tanaman pada umur 120 hari setelah tanam.
  • Item
    Pengaruh Nitrogen Terhadap Kerusakan Badan Buah Beberpa Verietas Kapas Oleh Ulat Merah Jingga
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1995-10) Gatot Kartono, Igaa. Indrayani dan Subiakto
    Pengaruh nitrogen terhadap kerusakan badan buah kapas oleh ulat merah jingga (Pectinophora gossypiella) pada bebe- rapa varietas kapas, diteliti di Asembagus dari bulan Desember 1992 sampai dengan Juni 1993. Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak terbagi dengan empat ulangan. Petak utama adalah varietas kapas (Kanesia 1, 87002/7/6/1 (337 x 193), KI 379, LRA 5166, Stoneville 825, dan GM 5 U/2/4), dan anak petak adalah dosis nitrogen (20 kg N dan 40 kg N/ha. Sumber N yang diuji adalah urea. Pupuk dasar yang digunakan adalah 40 kg P2O5 (100 kg TSP) dan 20 kg N (100 kg ZA) tiap ha yang diberikan pada saat tanam, sedang pemupukan nitro- gen sebagai perlakuan diberikan pada tanaman umur 30 hari setelah tanam (hst). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua tidak terdapat pengaruh interaksi antara varietas dan dosis N terhadap semua parameter yang diamati. Dari enam varietas yang diuji, KI 379 menunjukkan tingkat kerusakan badan buah relatif rendah. Namun demikian, hasil kapas berbiji tidak ber- beda pada semua varietas. Perlakuan nitrogen dengan dosis tinggi (40 kg N/ha) berpengaruh terhadap peningkatan prefe- rensi serangga hama P. gossypiella, sehingga berpengaruh terhadap tingginya tingkat kerusakan badan buah.
  • Item
    Hubungan Antara Produksi Benih dengan Komponen Produksinya Pada Tanaman Yute
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1995-10) Bambang Heliayanto ,R.S. Hartati dan D.I. Kangeden
    Hubungan antara produksi benih dengan komponen pro- duksinya dipelajari pada enam varietas yute dengan menggu- nakan korelasi dan analisis koefisien lintasan. Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Muktiharjo, Pati dari bulan December 1987 sampai Juli 1988, untuk mencari kriteria seleksi yang andal untuk meningkatkan produktivitas benih yute. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok yang diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah buah per pohon menunjukkan korelasi yang erat dengan produksi benih, dengan nilai koefisien sebessar 0.81. Berdasarkan analisis koefisien lintasan, bobot 1000 butir, jumlah buah dan diameter batang disarankan untuk digunakan secara bersama-sama sebagai kriteria seleksi. 8. pengaruh nitrogen
  • Item
    Antagonisme Aktinomisetes Terhadap Pseudomonas Solana Cearum dan D. Syzigii Secara in Vitro
    (Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 1995-10) Supardi dan D. Febriyanti
    Sifat antagonisme dua isolat aktinomisetes (T785 dan T786) yang berasal dari tanah telah diuji pada beberapa isolat Pseudomonas solanacearum dan P. syzigii secara in vitro. Percobaan dilakukan di Laboratorium Penyakit, Balai Pene- litian Tanaman Rempah dan Obat. Kedua isolat aktinomisetes tersebut mampu menghambat pertumbuhan bakteri lainnya, yaitu 16 dari 17 isolat P. solanacearum yang berasal dari beberapa tanaman inang yang berbeda, 5 isolat P. syzygii dari cengkeh, dan P. flourescens dan Bacillus cereus masing- masing satu isolat. Mekanisme penghambatan diyakini karena antibiotik yang dihasilkan oleh isolat aktinomisetes. Berdasar- kan sifat-sifat pertumbuhan dan biokimiawinya, maka kedua isolat aktinomisetes tersebut termasuk dalam genus Streptomy- ces. Pertumbuhan kedua isolat aktinomisetes tersebut tidak berbeda pada empat jenis media agar yang diuji, dan tumbuh baik pada medium albumin agar dengan kisaran pH 5-8.