Buletin Plasma Nutfah

Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 298
  • Item
    Karakterisasi dan Pemurnian Padi Lokal, Pegagan (Siputih) pada Agroekosistem Rawa Lebak Sumatra Selatan
    (Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, 2018-12-02) Kodir ...[at al], Kiagus A.; Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
    The Pegagan rice (Siputih) is one of local rice lowland specific in South Sumatra. This rice is rarely grown by farmers and could no longer pure. Identification was carried out at lowland agroecosystem in Ogan Komering Ilir Distric of South Sumatra Province. The purpose of this study were to characterize on morphological and agronomic characters and doing on purification activities. The study was conducted by planting and observing the local rice Pegagan (Siputih) which collected from five different districts (Tanjung Raja, Indralaya, Jejawi, SP Padang, and Kayuagung). All materials were tested using Randomized Block Design Complete with four replications. Each plot size 5 m × 5 m, number of seeds/holes 2–3 rod, a spacing of 25 cm × 25 cm. The characterization was done based on Rice Characterization and Evaluation Guide of the National Commission for Rice Germplasm. Morphological characters were presented in qualitative data and analyzed by mode (Mo) analysis, while the agronomic characters were showed on quantitative data and analyzed by analysis of variance (ANOVA). The observation and analysis were indicated that the five local rice Pegagan (Siputih) which collected from 5 different district were showed no diversity, both on morphology and agronomic characters. Purity analysis by roughing showed 0.15% mixed with others varieties and 1.85% plant have the deviation characters. The result of variety purification activity was obtained 98% pure. Keywords: Characterization, purification, lowland local rice, Pegagan Siputih.
  • Item
    Sistem Akses SDG Tanaman dan Pembagian Keuntungan Hasil Pemanfaatannya
    (Sekretariat Komisi Nasional Plasma Nutfah, 2018) Sabran ...[at al], Muhamad; Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
    Dua rezim intenasional yang mengatur akses terhadap sumber daya genetik tanaman dan pembagian keuntungan dari pemanfaatannya adalah Protokol Nagoya dari konvensi PBB tentang keanekaragaman hayati dan Perjanjian Internasional tentang Sumber Daya Genetik Tanaman untuk Pangan dan Pertanian. Meskipun kedua rezim ini sudah diharmonisasikan, impelementasinya masih menghadapi beberapa kesulitan. Kemunculan teknologi baru sekuen genom dan pengeditan genom serta biologi sintetis menambah kompleksitas tersebut karena aturan-aturan tentang pembagian keuntungan yang sekarang ada bisa diabaikan. Diskusi terkini tentang akses dan pembagian keuntungan terutama pada Perjanjian Internasional tentang Sumber Daya Genetik untuk Pangan dan Pertanian juga dibahas.
  • Item
    Karakterisasi Kadar Antosianin Varietas Lokal Padi Warna Sebagai SDG Pangan Fungsional
    (Sekretariat Komisi Nasional Plasma Nutfah, 2018) Dwiatmini ...[at al], Kristina; Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
    Varietas lokal padi warna merupakan plasma nutfah berharga yang dapat berperan sebagai pangan fungsional di masa depan. Padi warna memiliki kandungan antosianin yang berfungsi sebagai komponen nutrien bioaktif, yang dinamakan antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengarakterisasi kadar antosianin 27 aksesi varietas lokal padi warna Indonesia dan 2 varietas unggul padi merah hasil pemuliaan (Aek Sibundong dan Inpari 24), serta 1 varietas padi beras putih (Ciherang) sebagai kontrol. Analisis dilakukan dengan metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC), menggunakan standar sianidin-3-glukosida. Hasil analisis laboratorium, varietas Aen Metan dan Melik mengandung bahan aktif antosianin tertinggi, yaitu 0,7953 mg/g dan 0,7806 mg/g. Kedua varietas lokal ini merupakan padi hitam yang sering digunakan sebagai tetua dalam persilangan. Aek Sibundong dan Inpari 24 memiliki kadar antosianin sebesar 0,6496 mg/g dan 0,4423 mg/g, secara berturut-turut. Kandungan antosianin terendah terdapat pada varietas Ciherang yang merupakan varietas unggul padi beras putih. Empat varietas lokal padi beras merah yaitu Baliman Putih, Sari Kuning, Karamanting, dan Iden memiliki kandungan antosianin yang lebih tinggi daripada padi varietas unggul beras merah hasil pemuliaan.
  • Item
    Karakterisasi Morfologi Durian (Durio zhibetinus) Lokal Asal Kabupaten Katingan
    (Sekretariat Komisi Nasional Plasma Nutfah, 2018) Susilawati ...[at al]; Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
    Katingan adalah salah satu kabupaten di Kalimantan Tengah yang terkenal dengan keragaman durian (Durio zibethinus) lokalnya. Untuk mengetahui potensi keragaman durian di Katingan telah dilakukan karakterisasi pohon induk durian potensial yang dikenal di masyarakat, yang populer dengan nama durian Kasongan. Enam jenis durian lokal asal Kabupaten Katingan tersebut yaitu Ubuyu, Lagas, Belimbing, Susu, Bukit Lime, dan Kalasi telah dikarakterisasi pada bulan Juni–November 2013 dan September–Desember 2014. Karakterisasi dilakukan dengan mengacu pada panduan penyusunan deskripsi durian. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan principal component analysis (PCA) untuk mengurangi jumlah peubah yang digunakan dalam analisis kemiripan genetik/analisis klaster. Hasil analisis menunjukkan bahwa morfologi daun memiliki kontribusi terhadap keragaman kumulatif sebesar 98,4%. Selain itu, berdasarkan hasil analisis gerombol, keenam jenis durian Katingan memiliki tingkat kemiripan antara 44,90–72,45%. Nilai kemiripan tertinggi terdapat pada durian Lagas dan Susu (72,45%).
  • Item
    Inventarisasi dan Karakterisasi Sumber Daya Genetik Talas Lokal di Kabupaten Toraja Utara
    (Sekretariat Komisi Nasional Plasma Nutfah, 2018) Septianti ...[at al], Erina; Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian
    Talas (Colocasia esculenta (L.) Schott) sudah lama dibudidayakan dan digunakan sebagai sumber pangan alternatif di Toraja. Keragaman genetik talas yang ditemukan di Toraja Utara belum banyak diinventarisasi dan dikarakterisasi dengan lengkap. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi dan mendeskripsikan karakter sifat-sifat morfologi talas lokal Toraja Utara, sehingga dapat didaftarkan sebagai kekayaan sumber daya genetik lokal yang harus dilestarikan. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Toraja Utara yang meliputi daerah dataran tinggi di Desa Baruppu’ Parodo, Kecamatan Baruppu’ dan daerah dataran rendah di Kelurahan Mantirotiku, Kecamatan Rantepao. Masing-masing daerah dipilih berdasarkan survei pendahuluan yang menandakan bahwa daerah tersebut merupakan daerah budi daya talas. Penelitian dilakukan pada bulan April-Juni 2016. Pengamatan dilakukan secara deskriptif dengan pengambilan sampel secara purposive sampling. Karakter morfologi diamati secara in situ pada tanaman di lapang, tanpa melakukan penanaman khusus pada tanaman yang optimal. Dari hasil survei ditemukan lima jenis talas lokal yaitu talas Upe Ungu, Upe Kuning, Upe Putih, Monggo, dan Bite. Karakter morfologis talas tersebut bervariasi dari tipe tanaman, daun, tangkai, umbi, dan akarnya. Kemiripan ditemukan dalam karakter bentuk dan warna daun, tetapi keragaman ditemukan pada karakter ukuran dan warna serat cormus. Talas lokal di Toraja Utara banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai pengganti nasi, camilan, maupun sayur. Keunggulannya adalah selain mudah dibudidayakan juga mempunyai rasa cormus yang gurih, pulen, aroma harum, kulit cormus setelah direbus sangat mudah terkelupas, dan tektur daging cormus halus. Harga jual talas lokal ini cukup mahal karena masih sulit ditemukan dan belum banyak dibudidayakan.